Mommy, My Angel

Mommy, My Angel
bab 9



Suara derap sepatu yang memiliki hak tinggi, menggema di atas lantai. Sosok wanita dengan penampilan dramatisnya, berjalan ke arah sudut bangunan gelap. Dimana terlihat tiga orang wanita dengan tubuh tinggi besar dan mengenakan seragam khusus petugas sel tahanan — menunggu dirinya.


Wanita dengan dandanan full di wajah itu, tersenyum sinis ke arah ketiga wanita itu, yang menyambut dirinya dengan wajah berseri-seri.


"Cih! Dasar penjilat," Hina wanita itu dan melemparkan segepok uang di hadapan ketiganya.


"Karena, kami sangat menyukai ini, nyonya!" Seru salah satu dari ketiga wanita itu, sambil menunjuk uang yang berada di tangan.


"Ck!" Wanita dengan senyum liciknya berdecak sinis dan melayangkan tatapan tajam kepada ketiga wanita yang, sedang membagi hasil tugas, yang mereka lakukan dari — nyonya, belleza.


"Apa, kalian yakin, wanita itu akan mati malam ini?" Tanya nyonya belleza.


"Kami sangat yakin, karena di dalam penjagaan sel tahanan hanya tersisa kami saja," Jawab wanita yang memiliki jabatan tinggi di antara ketiga petugas sel tersebut.


"Iya, nyonya. Kami sudah memasuk kan, wanita itu di dalam tahanan khusus. Kami yakin, tidak ada yang mengetahuinya di dalam sana." Terang petugas tersebut dengan sangat yakin, juga tawa lepas.


Nyonya Belleza pun ikut tertawa puas, akhirnya ia bisa membalaskan rasa sakit hatinya kepada, Sandra.


"Bagus! Ini, bonus untuk kalian," sela nyonya Belleza sambil, melemparkan segepok uang lagi ke arah ketiga petugas tahanan tersebut. Membuat ketiganya terlihat begitu bahagia.


"Rasakan, pembalasanku wanita, murahan," gumam wanita itu dan segera meninggalkan tempat kotor yang sangat membuatnya ingin muntah.


Ketiga petugas tahanan itu pun tertawa lepas sambil mengibaskan uang hasil kelicikan mereka, untuk menyingkirkan — Sandra.


……..


Sementara Sandra kini sedang berjuang melawan rasa sakit yang tidak bisa dijelaskan.


Kontraksi kuat sekarang ini Sandra ia rasakan, itu disebabkan, otot-otot rahim juga tekanan pada mulut rahim, membuat Sandra —


merasakan kram perut begitu kuat, sel*ngkangan dan punggungnya terasa pegal.


Sandra merasa janinnya kini semakin kebawa dan mulut rahimnya seakan terbuka lebar.


Kini wanita yang sedang berjuang seorang diri dalam melahirkan buah hatinya, dengan bertaruh nyawa antara hidup juga mati itu, terus mengerang kuat dengan suara tertahan.


Sandra mengatupkan gigi atas dan bawahnya, sambil berusaha mendorong kuat bayinya, yang segera ingin keluar.


Seluruh tubuh wanita tangguh itu basah dengan keringat, air mata pun tidak hentinya mengalir. Sandra tidak memperdulikan rasa sakitnya, ia hanya memikirkan buah hatinya.


Sandra harus segera mengeluarkan sang buah hati, agar tidak terjadi hal serius.


Sekuat tenaga Sandra mencoba mengeluarkan anaknya, dengan caranya sendiri, sekarang posisi Sandra tengah berjongkok dengan sebelah tangan berpegang di dinding dan sebelah tangan lain, bersiap di bawah s*langkangan.


"Ayo Sandra kamu pasti bisa," gumam wanita itu yang menyemangati dirinya sendiri dengan iringan tangisan.


"Ayo baby, bantu mommy nak," ucapnya sekali lagi dengan suara lirih dengan wajah menahan geramannya.


"Akhh!" Sandra mengeluarkan suara saat merasa kini sang bayi berada di ujung mulut rahimnya itu.


Setelah itu, Sandra kembali mengatur nafas sejenak, lalu mengerang kembali, saat rasa sakit ingin melahirkan datang kembali. Begitu terus, Sandra lakukan sampai ia kini, merasakan sakit yang tidak sanggup ia tahan.


Sandra mengangkat sedikit tubuhnya, hingga posisi kini setengah membungkuk dengan kedua tangannya siap untuk menangkap sang — bayi.


"Ayo, baby. Kita berjuang bersama," ucap Sandra dengan nafas tersengal-sengal.


Sandra pun menarik nafas dan menghembuskannya secara perlahan dengan sambil mengejan kuat.


"AKHHH!" Sandra mengeluarkan segala rasa sakit itu dengan suara begitu kuat, membuat para tahanan lain terkejut juga terbangun.


Beberapa petugas yang baru datang, juga ikut terkejut dan segera berlari mencari asal suara teriakan kesakitan itu.


"Ayo Sandra, kau harus kuat demi bayimu," ucapnya dengan tangis yang begitu memilukan.


Antara tangisan menahan rasa sakit juga perjuangan seorang ibu yang ingin menyelamatkan sang anak seorang diri.


Apalagi ia kini berada di tempat yang begitu buruk, untuk menyambut sang bayi.


"Ayolah, kamu pasti bisa," pekik Sandra sambil menampar wajahnya sendiri, agar terhindar dari kehilangan kesadaran.


Darah terus mengalirkan bercampur lendir yang kini membasahi lantai itu, wajahnya pun kian memucat dengan kondisi yang mulai melemah.


Namun ia tetap berjuang untuk melahirkan bayinya, menyelamatkan bayi yang selalu ia jaga selama beberapa bulan belakangan ini.


Sandra terus berusaha dan terus berusaha mengeluarkan sang bayi sesekali ia membantu mendorongnya dengan kedua tangannya. Apalagi ini adalah hal baru Sandra rasakan, melahirkan secara normal dan berada di sebuah tempat yang akan — Sandra kenang selamanya.


Meskipun begitu Sandra tidak akan menyerah untuk terus berjuang menyelamatkan sang bayi. Walaupun ia harus dihadapkan oleh kematian, Sandra sudah siap.


"AKHHH!" kembali Sandra berteriak sekencang mungkin, hingga akhirnya sang bayi pun keluar.


Sandra segera menahan kepala bayinya, saat ia merasa jalan lahirnya terbuka lebar dan merasa ada yang mengganjal.


Sandra kembali bersemangat, saat merasakan sesuatu dibawah sana ingin segera keluar. Hingga di teriak terakhir, bayi itu pun keluar dengan Sandra menariknya dengan perlahan.


Sandra menjatuhkan tubuhnya pelan di atas lantai dengan sang bayi di pelukannya, suara lirih sang bayi membuat tangis Sandra pecah.


Wanita itu segera meraih baju tahanan yang terdapat di sampingnya dan membungkuskan kepada anak bayi yang kini menangis kencang.


Membuat seluruh sel menggema dengan tangisan bayi Sandra. Para tahan berkumpul di depan jeruji besi dengan tatapan heran. Saat mendengar suara tangisan bayi juga tangisan pilu seorang wanita.


"Bayiku, bayiku, b-bayiku," racau Sandra dengan tatapan bahagia juga tangisan yang begitu pilu.


Tangannya gemetar membersihkan sang bayi dengan pakaian tahanan, dengan wajah tidak percaya, ia mampu melahirkan buah hatinya.


Penampilannya pun tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata, Sandra hanya ingin mengeluarkan semua perasaan emosi yang sekarang bercampur aduk.


"Anakku, kau anakku. Lihat, kau anakku," ucapnya dengan iringan tangisan.


Suara tangisan bayi itu pun masih terdengar, Sandra meletakkan bayinya di depan dada dan bayi itu dengan alamiah mencari sesuatu di dada sang mommy.


Sandra terus menciumi sang bayi penuh cinta dan rasa kepuasan tersendiri, ada sesuatu perasaan yang tidak mampu dijabarkan dengan kata-kata — saat sang bayi dalam proses keluar dari jalan lahir.


Tanpa wanita itu sadari, ia butuh pertolongan untuk mengeluarkan sesuatu yang masih tersisa di dalam perutnya, juga sang bayi yang harus mendapatkan pertolongan.


"Menangislah' nak, menangislah. Agar mommy bisa merasa aman. Maafkan mommy, harus menyambutmu di tempat seperti ini." Sandra berkata dengan bisikan juga isakan pilu. Ia menghapus air matanya yang menghalanginya untuk memandangi wajah sang bayi.


"Kau ternyata seorang putri!" Seru Sandra saat merasakan hangat membasahi perutnya dan ia meraba dan menyentuh sesuatu di antara tubuh mungil bayinya.


Sandra tertawa bahagia dengan iringan tangisan penuh penderitaan. Wanita itu terlihat menggelengkan kepalanya yang tiba-tiba pandangannya kabur.


Sandra menyadarkan punggungnya, ia masih merasakan sakit pada perutnya, juga rasa lelah kini tidak bisa ia tahan. Apalagi begitu banyak darah yang masih mengalir di bawah sana.


Sandra pun akhirnya menyerah dengan kesadaran yang kini redup menguasai dirinya, matanya kian meredup sedikit demi sedikit, suara tangisan sang bayi pun terdengar begitu jauh.


"Baby!" Gumamnya dengan mata terpejam sempurna dengan posisi masih memeluk sang bayi.


Bersamaan juga pintu ruangan pengap itu terbuka kasar dan terlihat beberapa petugas juga tenaga medis masuk dengan wajah — syok mereka.


"Nona, nona, nona!" Seru salah satu tenaga medis yang berusaha menyadarkan Sandra. Salah satu tenaga medis juga ... petugas tahanan, segera mengangkat Sandra menuju — Klinik terdekat.


Setelah tenaga medis yang terlebih dahulu mendekati — Sandra, segera melakukan tindakan di bawah sana, untuk mengeluarkan sesuatu dan juga melakukan tindakan darurat kepada bayi mungil — Sandra.