
"Sempurna!" Wanita cantik kini menatap penampilannya di depan cermin.
Malam ini Sandra sengaja berpenampilan sedikit liar untuk memberikan kejutan kepada suami tercinta.
Apalagi malam ini bertepatan hari ulang tahun suaminya itu dan ia akan memberikan kejutan lebih membahagiakan nantinya.
Setelah terbangun dari pasca koma dua tahun lalu, kini wanita itu telah sembuh sempurna.
Kebahagiaan tidak hentinya ia dapat dari sosok pria yang begitu menyayanginya juga tulus mencintainya itu. Dalam satu tahun belakang, Sandra begitu tak berdaya, saat belum juga di karunia seorang bayi lagi. Padahal wanita itu begitu berharap untuk memberikan keturunan untuk suami tercintanya.
Sosok pria yang begitu penuh kehangatan selama ini, selalu melindungi juga sabar dalam merawatnya. Sosok pasangan hidup yang tidak pernah mengeluh dan menekannya.
Austin bahkan selalu memberikan dukungan dan menenangkannya. Tapi Sandra begitu ingin memberikan kebahagiaan itu, dan memberikan kebahagiaan sempurna untuk suaminya.
Bunyi getaran yang berasal dari ponselnya yang berada di atas meja rias, mengalihkan perhatiannya, Sandra tersenyum dan wanita itu segera mendekati balkon kamar.
Wanita itu melihat sang suami baru saja turun dari mobil mewahnya dan membawa karangan bunga indah kesukaannya.
Sandra sudah berpesan kepada kepala pelayan di kediaman mereka, agar memberitahukan apabila sang suami sudah kembali.
Sandra segera kembali masuk ke dalam kamar, saat melihat pria terkasihnya memasuki Mansion.
Sandra terlihat gugup dan tegang, ia membuka piyama tidurnya dan kini wanita itu hanya mengenakan gaun malam tipis dan menerawang. Gaun yang warnanya kontras dengan kulit putihnya yang berkilau.
Sandra kini berdiri tepat di depan pintu kamar mereka, menunggu suaminya dengan jantung berdebar-debar.
Hal ini baru pertama kali Sandra lakukan, setelah mendapatkan informasi dari Cindy. Wanita itu sengaja memanas-manasi dirinya, kalau Austin adalah pria sempurna, pasti begitu banyak kaum wanita yang menginginkan suaminya itu.
Mendengar perkataan Cindy, sifat posesif Sandra muncul, beberapa Minggu belakangan ini, wanita itu begitu posesif kepada suaminya, ia akan selalu ikut kemanapun suaminya itu pergi.
Sandra tentu tidak akan memberikan kesempatan wanita lain, mengganggu suami terbaiknya.
Terdengar gagang pintu akan terbuka, membuat Sandra menarik nafas panjang dan mencoba mengontrol perasaan gugupnya.
…..
"Honey, aku pu …." Austin baru saja membuka pintu kamar dan menyapa istri tercinta, namun ia begitu terkejut saat melihat pemandangan yang membuatnya terdiam dengan mulut menganga.
Pria itu melihat istrinya dalam mode menggoda dan penampilan yang seketika membuat aliran darahnya mendidih begitu cepat.
"Kau tidak ingin memelukku?" Suara manja itu, yang lagi-lagi membuatnya Austin tidak bisa menahan diri untuk segera mendekati istri tercinta.
Pria itu pun berjalan mendekati istrinya yang kini membuka kedua tangannya, menyambut dirinya untuk masuk ke dalam pelukan sang istri.
"I love you." Bisik manja tepat di telinganya itu, sukses membuat Austin segera mengangkat tubuh istrinya dan membawanya ke atas ranjang.
"Kau tidak membalas ucapan ku, sayang?" Sela Sandra yang nada bicaranya begitu manja dan sedikit merajuk.
Austin yang sedang membuka helaian kain yang melekat di tubuhnya kini, menatap penuh cinta ke arah Sandra yang sudah terbaring di ranjang.
Austin segera menindih tubuh ramping istrinya itu, pria itu segera mengecup leher panjang sang istri.
"Sayang!" Seru Sandra kembali saat tidak mendapat balasan ucapan cinta dari sang suami.
Mendengar istri dalam mode manja, Austin menghentikan kecupannya di leher Sandra.
Pria itu memposisikan tubuhnya miring dengan sebelah tangan menyanggah kepalanya.
Sandra pun mengubah posisinya menjadi miring dan wajah kini terlihat di tekuk, menatap sinis sang suami.
Melihat wajah istrinya yang begitu lucu, Austin hanya terkekeh dan menarik hidung mancung Sandra.
"Meskipun aku tidak membalasnya, kau pasti tahu jawabannya honey," ucap Austin sambil memainkan rambut istrinya, sesekali mengecupi wajah cantik Sandra.
"Tapi aku ingin mendengarnya," timpal Sandra, yang bibirnya semakin mengerucut, membuat Austin begitu gemas. Pria itu ingin menarik bibir monyong istrinya itu, namun Sandra menghalanginya dengan menggigit.
Lagi-lagi Austin terkekeh dan bahkan tertawa lepas, melihat tingkah sang istri seperti anak kecil.
"Sayang, aku ingin mendengar kau mengucapkannya," rengek Sandra sambil menendang-nendang ranjang mereka.
"Baiklah," sahut Austin yang menghentikan kelakuan istrinya itu, yang terlihat aneh beberapa Minggu belakangan ini.
"I love you too. Bagaimana sudah kan?" Ujar pria tampan itu.
Austin tersenyum dan segera memeluk istrinya dari belakang dan membisikkan kata-kata cinta tepat di telinga Sandra.
"I love you, honey," bisik Austin, tidak lupa pria itu meninggalkan kecupan di pundak terbuka istrinya.
"Aku begitu mencintaimu, sayang. Sangat … sangat mencintaimu." Lanjut Austin yang mengeratkan pelukannya.
"Aku juga begitu mencintaimu, sayang. Maaf kalau sikapku belakangan ini membuatmu tidak nyaman." Sandra mengatakannya begitu lembut, ia juga mengecup punggung tangan suaminya itu.
"Mungkin ini efek kehadirannya," ucap Sandra, sambil mengarahkan telapak tangan Austin ke perutnya, ia seakan memberikan sebuah berita membahagiakan.
Austin yang belum paham dengan ucapan Sandra mengikuti gerakan tangan istrinya, namun detik berikutnya, ia menghentikan telapak tangannya dan membalikkan badan Sandra.
"Really?! Ucapnya dengan wajah tidak percaya dan kedua matanya mulai berkaca-kaca.
Sandra bangkit dan duduk, diikuti oleh Austin. Keduanya kini saling berhadapan dan Sandra segera memeluk suaminya itu.
"Selamat, sebentar lagi kau akan mendapatkan baby." Sandra berkata dengan berbisik.
Austin tentu saja terkejut, ia terdiam untuk sesaat, melepaskan pelukan sang istri dan menatap wajah Sandra dengan intens, ia juga menatap perut istrinya.
"Kau serius dan tidak sedang bercanda?" Tandasnya dengan wajah syok.
Sandra mengangguk, ia segera mengambil sesuatu di bawah bantal, sebuah amplop putih yang terdapat stempel rumah sakit di lembaran amplop di sana.
"Kejutan!" Seru Sandra menyerahkan amplop itu kepada suaminya.
Austin mengambilnya, pria itu membuka isi amplop dan ia menemukan sebuah alat tes kehamilan, ia melihat dia garis merah di sana. Membuat mulut pria itu terbuka dan tatapan tidak percaya.
Ia kini membaca laporan pemeriksaan istrinya, yang tertulis positif hamil yang sudah memasuki 6 Minggu.
Tiba-tiba Austin terisak dengan kepala menunduk sambil menutup wajahnya dengan lembaran laporan pemeriksaan istrinya.
Tubuh pria itu berguncang, saking bahagianya mendapat kabar kehamilan istrinya.
"Hey, kenapa kau menangis?" Sandra menarik leher suaminya lembut dan merangkulnya, ia juga mengecup kepala suaminya berulang kali.
Merasakan tubuh pria terbaiknya itu berguncang hebat, Austin segera memeluk Sandra dan tangisan pria itu semakin menjadi.
"Seharusnya kau bahagia, kenapa kau begitu cengeng," komentar Sandra yang terkekeh, namun ia ikut menitikkan air mata bahagia.
Keduanya pun kini saling berpelukan atas kabar membahagiakan yang mereka dapat. Pasangan yang saling menjaga dan mencintai itu, begitu berharap akan mendapat berita kehamilannya dan akhirnya penantian keduanya kini terkabulkan juga.
_____
"Selamat ulang tahun." Sandra mengucap selamat kepada suaminya. Ia melirik jarum jam yang sudah menunjukkan angka 12 malam, dan saatnya Sandra mengucapkan selamat kepada suaminya itu.
Austin yang masih setia mengusap perut rata istrinya tersenyumlah. "Terimakasih!" Ucapnya sambil mencium kening Sandra begitu tulus.
"Terimakasih juga kado tahun ini yang kau berikan, honey," ucap pria itu sambil memeluk istrinya itu dengan hangat.
"Aku yang harus berterima kasih, karena kau begitu mencintaiku dan selalu setia selama ini." Tutur Sandra lembut.
"Itu karena kau wanita yang begitu spesial untukku," sahut Austin.
"Kau juga begitu spesial untukku," timpal Sandra.
"Benarkah?! Ujar Austin yang kembali terkekeh.
Sandra menganggukkan kepalanya dan kini ia mendekati tubuh suaminya dan memeluk erat.
"Bolehkah aku melakukannya malam ini?" Austin meminta persetujuan istrinya untuk melakukan kehangatan di atas ranjang.
"Hm," balas Sandra dengan bergumam.
"Bagaimana dengannya?" Austin kini mengusap perut istrinya yang terdapat calon buah hatinya.
"Tidak masalah katakan dokter, asal kau melakukannya dengan hati-hati," jelas Sandra dengan wajah merona.
Austin pun tidak menunggu lama, lantas segera membaringkan Sandra dan bersiap akan melakukan hubungan pasangan suami-istri itu.