
Suasana tegang kini terlihat di koridor rumah sakit. Saat kedua wanita jahat itu tetap mengakui bayi yang berada di gendongan Sandra, adalah milik mereka.
Orang-orang yang berada di sana pun, percaya. Bahkan menggunjing Sandra sebagai wanita yang memiliki keterbelakangan mental.
Perawat yang bertugas di ruangan perawatan bayi, mendekat, dengan wajah penasaran dengan keributan di area koridor rumah sakit.
Sandra sendiri masih memeluk erat bayinya, dengan wajah penuh amarah juga dada berdegup kencang saat tidak mendengar suara ataupun pergerakan bayinya.
"Apa anda… yakin, dia bayi nyonya?" Tanya pria rupawan yah berdiri tidak jauh dari — Sandra.
Pria itu menatap lekat Sandra juga kedua wanita jahat itu bergantian. Kini pertanyaan ia tujukan kepada wanita jahat yang duduk di kursi roda.
"Tentu saja dia bayinya," sela salah satu orang yang berkumpul di sana.
"Karena tidak mungkin, seorang wanita kurang sehat melahirkan keturunan," lanjutnya dengan sarkas.
"Semua pria akan berpikir dua kali untuk, menggauli wanita kurang sehat sepertinya," timpal yang lain penuh cibiran.
Sandra hanya mampu terdiam dengan perasaan campur aduk, ia berusaha menulikan semua ucapan orang-orang terhadap dirinya.
"Yah, dia adalah bayiku. Aku baru melahirkannya dua hari yang lalu," sahut wanita jahat yang duduk di kursi roda.
"Tapi… wanita ini!" Menujuk kearah Sandra dengan wajah dramatis.
"Merebut dariku. Aku mohon, tolong kembalikan anakku. Aku tahu kau begitu terpukul atas kehilangan bayimu, tapi … jangan ambil, bayiku," sambungnya dengan drama penuh dramatis ia coba lakukan, untuk menyudutkan — Sandra.
"Tidak! Dia Aurora putriku," sentak Sandra dengan lantang juga tatapan mengintimidasi kedua wanita jahat itu.
"OH Tuhan, tolonglah putriku dari wanita ini," sela wanita jahat itu yang begitu menampilkan wajah kesedihan penuh palsu.
"Hey! Wanita gila, kembalikan bayinya," hardik seorang pria dewasa yang berusaha mendekati Sandra dan mencoba merebut — Aurora.
"Bugh!" Dengan satu kali tendangan, pria itu terhempas ke belakang saat dengan jiwa begis Sandra menendang pria itu.
"Aku tidak akan membiarkan kalian, menyentuhnya," tandas Sandra dengan aura mengerikan.
Semua orang begitu terkejut dengan serangan brutal Sandra. Kedua wanita jahat itu, hanya bisa melongo melihat kebengisan — Sandra.
"Kenapa tuan diam saja," pekik salah satu orang yang ikut mengerumuni.
Ia menatap ke arah sang pemilik rumah sakit dengan wajah protes. "Seharusnya, anda menghentikan wanita itu. Atau menangkapnya dan membawanya ke rumah sakit jiwa," lanjut wanita itu dengan wajah emosi.
Suara keributan pun terdengar, semua orang-orang meneriaki Sandra dan mencoba menenangkan sang pelaku kejahatan.
Sosok pria rupawan itu masih mencoba membaca keadaan juga kebenaran sebenarnya.
"Diam!" Bentak pria penuh kharisma itu dengan wajah datar.
Semuanya pun lantas terdiam saat, mendengar bentakan dari salah satu, pria terkaya di kota mereka.
Kini pria yang sering di panggil, tuan muda Cooper itu, menatap Sandra juga bayinya.
Sedangkan yang ditatap masih dengan ekspresi dinginnya yang begitu mengerikan.
"Apa benar dia, putri anda?" Tanyanya dengan nada dingin.
Sandra membalas tatapan mata tajam pria di sampingnya dengan ekspresi datar.
"Dia, bayiku," jawab Sandra singkat.
"Bohong!" Sentak wanita jahat itu.
Pria itu semakin menatap Sandra lekat, juga bayi yang berada di gendongnya.
"Beruntung, aku tidak memiliki senjata. Percayalah, seandainya aku memilikinya, maka kedua wanita itu akan kehilangan, nyawa," pungkas Sandra, nada ucapan begitu dingin juga tatapan mata kelam.
Ucapnya membuat orang-orang ketakutan, termasuk kedua wanita jahat itu.
"Apakah, anda memilikinya?" Tanya Shandra tanpa ekspresi kepada — pria rupawan.
"Boleh aku melihat bayinya!" Pinta pria tersebut.
Dengan ragu, Sandra memberikan bayinya kepada pria tampan di sampingnya itu.
Sendang pria itu segera memeriksakan seluruh tubuh Aurora, ia pun segera menatap kedua wanita jahat dengan tatapan sulit diartikan.
"Nyonya, Sandra!" Seru perawat senior.
"Kenapa, anda membawanya keluar? Dia masih sensitif dengan udara luar ruangan," lanjut wanita itu lagi.
"Sejak tadi kami mencari, anda," ucapnya lagi. Tanpa mengetahui suasana tegang.
Perawat itu menatap sekitarnya dengan wajah mengkerut kebingungan, ia kini menyipitkan matanya ke arah, wanita jahat yang memakai setelan perawat.
"Bukankah, kau harusnya menjaga di ruangan perawatan bayi?" Tanyanya kepada wanita itu yang — wajahnya mendadak pucat.
"Lalu kenapa kau disini?" Tanyanya lagi sambil menatap rekan wanita jahat itu yang duduk di kursi roda.
"Dia siapa?" Tanyanya heran.
"Dia wanita yang habis melahirkan," sela salah satu kerumunan di sana.
"Melahirkan?! Tanyanya bingung.
"Apa dia melakukan kelahiran disini?" Pria rupawan itu bertanya, dengan tatapan curiga ke arah kedua wanita jahat.
"Tidak, tuan. Semalam aku mengurus beberapa wanita hendak melahirkan, tapi … aku tidak mengenali wanita ini," sahutnya bingung.
"Benarkah?! Tanya pria itu kembali. Tatapannya pun kian mengerikan.
"Apa dia ibu dari bayi ini?" Kini ia mengarahkan bayi yang ia pegang dan menunjuk ke arah — Sandra.
"Benar tuan. Dia bayi, nyonya Sandra. Dia berada sejak kemarin malam," terangnya dengan sangat yakin.
"Bohong! Pasti mereka mencoba, memanipulasi semuanya dan bersekongkol," sentak wanita jahat yang masih berusaha mendapatkan bayi — Aurora.
"Ingat, begitu banyak penculikan anak di bawah umur saat ini, di rumah sakit ini. Dan pasti yang melakukannya orang dalam yang bekerja sama dengan penjahat." Wanita itu mencoba melakukan panning victim kepada orang-orang di sana.
Berhasil, terdengar kebisingan orang-orang dengan wajah panik mereka. Sedangkan sang pemilik rumah sakit menampilkan senyum miring.
Pria itu menghentikan ucapan karyawannya saat ingin membela diri. Ia kini mengembalikan bayi di gendongannya kepada — Sandra.
….
"Benarkah!" Seru pria rupawan dengan senyum mencemooh.
"Iya! Sudah beberapa bayi yang menjadi kor …."
"Korban kalian." Pria itu memotong perkataan salah satu wanita jahat, tatapan matanya pun semakin terlihat mengerikan.
"A-apa maksud, anda?" Tanya wanita yang masih duduk di kursi roda. Wajahnya kian pucat dengan tubuh menegang.
"Kenapa kalian bisa mengetahui tentang semua itu? Apakah, kalian tahu? Kalau kami dari pihak rumah sakit, menjaga serius tentang berita tersebut," tandas sang pria, pemilik rumah sakit.
"Terus, dari mana kalian mengetahui semuanya?" Tanyanya dengan wajah serius.
Tubuh kedua wanita itu semakin tegang juga ketakutan, mereka berdua tidak bisa mengelak lagi.
"Siapa yang membantu kalian, melakukan tindak kejahatan disini?" Tanya pria penuh serius.
"KATAKAN! hardiknya dengan wajah suram.
"Kalian semua, menuding wanita ini dengan memiliki penyakit kejiwaan. Tapi… yang aku lihat, kalian semua yang memiliki penyakit itu," bentak pria dengan sorot mata tajam itu ke arah semua orang dan menunjuk kepada — Sandra.
"Lihat!" Hadirnya lagi sambil menunjuk wanita jahat itu dan bayi Aurora.
"Apa, kalian tidak bisa membedakan, bayi yang baru lahir dan bayi yang berusia di atas satu bulan?! Tandasnya dengan nada berapi-api.
"Bukan, hanya seorang kalangan atas yang berhak memiliki seorang bayi. Bahkan yang memiliki kesakitan jiwa pun, masih bisa melahirkan keturunan." Lanjut pria itu.
"Janganlah, menilai seseorang dari penampilannya, yang akan membuat kalian terkecoh atau tertipu," lanjut pria itu dengan wajah muak, melihat orang-orang yang mudah sekali terkecoh oleh penampilan seseorang.
Tanpa mencari tahu kebenaran terlebih dahulu. Karena belum tentu seorang dengan segala barang mewah di tubuhnya adalah — manusia sempurna. Bisa saja ia adalah seorang yang memiliki kepribadian buruk, atau sering melakukan kejahatan.
Begitu juga sebaliknya, belum tentu dengan penampilan sederhana juga berantakan dari kalangan rendah atau memiliki penyakit mental. Bisa saja dia adalah — seorang yang sukses dengan segala kemewahan juga prestasi yang sengaja disembunyikan.
"Pergilah!" Perintah pria itu kepada kerumunan.
Yang segera dilakukan oleh orang-orang kerumunan itu dengan ekspresi wajah mereka masing-masing.
"Amankan, kedua wanita ini!" Perintahnya kepada salah satu keamanan di rumah sakit mewah itu.
"Cari tahu orang di balik semua ini," lanjutnya kembali.
Kedua wanita itu pun diamankan oleh para petugas keamanan dan akan dilakukan interogasi lebih dalam lagi soal — tindakan kejahatan yang mereka lakukan.
Kini pria itu melirik kearah Sandra yang tampak diam membatu di tempatnya tanpa — ekspresi.
"Bawa, bayinya kembali ke ruangan perawatan!" Titahnya kepada perawat senior.
"Tidak perlu!" Sela Sandra bernada dingin.
"Aku akan membawanya pulang," ucapnya tanpa menatap siapapun disana.
"Bayi, anda harus melakukan perawatan. Dia dalam bahaya," sela pria itu.
"Apa, maksud anda?" Tanya Sandra dengan wajah terkejut.
"Mereka memberikan, obat bius dengan dosis tinggi," jelas pria itu.
"Berikan kepadaku!" Pintanya saat melihat ekspresi panik — Sandra.
"Jangan, khawatir, aku akan berusaha menolongnya," ucapnya menghibur.
Sandra tidak menjawab, ia terus mengikuti langkah pria itu yang membawa bayinya kembali ke ruangan perawatan bayi.
Sandra hanya bisa menggigit kuku jarinya sambil bergerak gelisah di depan pintu ruangan itu.
Ia bahkan tidak menghiraukan keadaannya yang begitu mengkhawatirkan. Tubuh penuh luka dan tampak terlihat lemah. Namun wanita itu sekuat tenaga mempertahankan kesadarannya, hanya demi putrinya yang begitu dicintai.
Ia menolak para tenaga medis yang akan mengobati luka serius di beberapa anggota tubuhnya. Sandra hanya bisa tenang, saat berada di sisi sang putri.
"Aku harus kuat. Meskipun aku kini berada di titik terlemah ku yang paling dalam, tapi… aku harus tetap menjaga, kewarasan ku sebagai seorang ibu tunggal." Monolognya dengan tetesan air mata.