
"Bagaimana, keadaan putriku?" Sandra segera menanyakan keadaan putrinya. Sejak tadi ia setia menunggu, di depan ruangan UGD khusus anak-anak. Ia menunggu dengan jantung berdebar-debar kuat, juga kepanikan menghantuinya.
Bibir pucatnya, tidak henti mengucapkan doa juga mengutuk dirinya yang merasa tidak becus menjadi seorang ibu.
"Katakan!" Sentak Sandra, wajah penuh ketakutan dan ketegangan.
Dokter wanita muda di hadapannya menghela nafas sejenak, sebelum mengatakan kondisi bayi yang ia periksa.
"Anda, masih beruntung memilikinya. Terlambat sedikit saja mendapatkan pertolongan putri anda tidak dapat tertolong. Suhu ekstrim di luar sana, sungguh tidak baik untuk bayi berusia 1 bulan, itu bisa mengakibatkan kematian mendadak terhadap, bayi," pungkas sang dokter dengan raut wajah serius dan sangat menyayangkan sikap Sandra yang, membawa putrinya keluar rumah dengan cuaca ekstrim.
"Berhati-hatilah dalam merawat bayi, anda," sela sang dokter penuh peringatan.
"Saya tahu anda masih muda, tapi … melakukan hal berbahaya kepada bayi sangat tidak pantas," lanjut sang dokter.
Sandra tampak tak menghiraukan peringatan sang dokter yang — menganggap dirinya tidak berguna dalam merawat bayi. Ia hanya terpaku di tempatnya, saat mendengar penuturan dokter wanita tersebut. Dengan wajah masih terlihat syok, Sandra bersandar di tembok. Kepala menengadah keatas langit-langit koridor rumah sakit.
Tiba-tiba rasa sesak di rongga dadanya begitu menyakitkan, ia meluruh di atas keramik putih. Kepala ia benturkan halus, untuk menghukum dirinya yang sudah membahayakan nyawa sang — bayi tercinta.
"Aku seorang mommy yang buruk. Benar, aku begitu tidak pantas merawat bayi," menolongnya dengan nada halus.
Wajah pucat dengan penampilan tidak terawat itu, mengundang perhatian para pengunjung rumah sakit itu. Mencibir juga memandang rendah Sandra yang terlihat seperti — wanita gelandangan.
"Maafkan mommy, nak. Maaf!" Gumamnya dengan bibir bergetar, menahan tangis yang menyakitkan.
"Aku tidak pantas menjadi seorang, mommy!" Gumamnya kembali dengan suara tertahan, bagaikan sebongkah batu mengganjal tenggorokannya. Sakit begitu menyakitkan.
"Apa pantas, putriku hidup bersama ku?"
"Aku tidak yakin mampu membesarnya dan memberikan kehidupan layak."
"Sekarang pun , aku hampir membahayakan nyawanya,"
"Apakah, aku masih pantas membereskannya?"
Sandra terus bermonolog, tiba-tiba ia merasa tidak pantas untuk merawat sang bayi. Keputusan asaan kini menghantuinya.
Masa depan yang akan ia lalui dengan sang putri, kini menghantui pikirannya dengan kelayakan dirinya menjadi Seorang — ibu tunggal.
"Mampukah, aku merawatnya? Membahagiakannya? Memberikan kehidupan layak? Melindunginya?" Batinnya dengan perasaan ragu.
Wajah lusuh ia sembunyikan di kedua lutut yang terlipat, dengan iringan isakan terdengar begitu pilu. Sandra mengangkat kepalanya dan memutar ke arah pintu ruangan khusus bayi.
Ia berdiri dengan gerakan gesit, ketika mendengar tangisan buah hatinya. Sandra berdiri di depan kaca besar. Ia bisa melihat bayinya menangis di dalam sana.
Wajah panik kembali terlihat, naruni sebagai ibu, mengatakan kalau saat ini, sang putri membutuhkannya.
Sandar ingin membuka pintu ruangan tersebut, namun seseorang menegurnya dari arah belakang.
"Maaf! Anda tidak diizinkan masuk, selain tenaga medis!" Seru seorang perawat dengan wajah ramah.
"Aku, hanya ingin menghampiri bayiku yang menangis," sahut Sandra lirih.
"Mungkin, dia kehausan," sambungnya dengan pandangan berkaca-kaca.
"Jangan khawatir, kami sudah menyiapkan kebutuhannya," jawab sang perawat dengan sebuah botol susu di tangannya.
"Kondisi bayi anda sangat sensitif, jadi… anda belum bisa menemuinya," terang perawat ramah itu.
Sandra pun mengangguk ragu dengan senyum penuh kesedihan.
"Anda, tidak perlu khawatir. Kami akan merawatnya dengan baik," timpal sang perawat sambil mengusap lengan rapuh — Sandra.
"Terima kasih," ucapnya tulus.
Sandra pun menatap lekat dengan mata berkaca-kaca sang putri, menikmati sebotol susu berukuran kecil di dalam sana.
Tangannya menyentuh kaca dan mengusapnya lembut, seakan menyentuh putrinya. Tangisnya si kecil Aurora tidak terdengar lagi, kini berganti tidur lelap di dalam sana.
Sandra menghela nafas lega. Ia bersyukur, keadaan putrinya baik-baik saja. Sekarang ia harus memikirkan masalah biaya rumah sakit.
……
Sandra kini terduduk di sebuah bangku taman rumah sakit. Ia menerawang jauh, memikirkan biaya yang akan ia bayarkan kepada pihak rumah sakit.
Dengan pakaian yang masih sama seperti kemarin, Sandra tampak begitu berantakan.
Tiba-tiba terdengar percakapan seseorang di balik pohon. Sandra tidak tertarik menyimak percakapan itu. Tapi … tiba-tiba tubuhnya membeku.
"Apa kau serius?! Seru seorang wanita di balik pohon besar itu.
"Hum! Kini bayi malang itu sudah tumbuh menjadi, gadis berkelas dan terkenal," sahut temannya dengan antusias.
"Padahal, dia bayi yang ditinggal oleh ibunya di rumah sakit ini," timpal wanita lainnya.
"Juga menemukan keluarga, kaya," lanjut suara wanita lainnya.
"Sekarang, wanita itu menikahi pria terpandang di negara ini."
"Hum!"
"Bukankah, rumah sakit ini menerima bayi terlantar dan membantu mencari keluarga layak untuk sang, bayi terlantar?"
"Yah, sudah banyak bayi yang diadopsi oleh keluarga kaya. Itu semua karena, rekomendasi dari pihak rumah sakit."
Begitulah percakapan yang Sandra dengar dengan tubuh membeku di tempatnya. Pikirannya seakan di pengaruhi oleh percakapan kedua wanita di balik pohon. Sandra tidak mengetahui kedua wanita itu, yang jelas Sandra melihat salah satu dari keduanya mengenakan seragam rumah sakit.
"Haruskah, aku melakukannya juga?" Batinnya yang sekarang sedang berperang dengan naluri keibuannya.
"Tidak!" Sandra berkata lirih dengan kepala menggeleng.
"Tapi, ini demi masa depan putriku," gumamnya lirih.
Ia pun terpengaruh oleh percakapan kedua wanita asing itu, untuk meninggalkan bayinya di rumah sakit ini. Ia terlalu di hantui keraguan akan kemampuannya kelak membesar sang buah hati.
Juga kondisi fisik putrinya yang memerlukan perawatan khusus di bagian kedua matanya.
Sandra menarik nafas dengan cepat, menahannya sejenak dan membuangnya perlahan.
"Aku harus melakukannya," monolognya lagi dengan raut wajah yakin.
"Maafkan, mommy nak."
"Mommy, terpaksa melakukannya," gumamnya sendu dan segera berdiri dari kursi taman tersebut dan melangkah dengan keraguan ke arah gerbang rumah sakit.
Sandra tidak akan menoleh kebelakang yang akan membuatnya merubah pikirannya. Ia terus melangkah dengan wajah terluka.
Saat berada di pagar gerbang rumah sakit, ia menghentikan langkahnya, ia bisa mendengar tangisan pilu bayinya di dalam sana.
"Maafkan, mommy."
"Maaf! Ini … demi masa depanmu, nak!" Sandra pun melanjutkan langkahnya dengan iringan air mata.
Di dalam ruangan khusus bayi di rawat, Aurora menangis dengan kencangnya. Ia seakan merasakan kepergian sang — mommy. Meninggalkannya sendiri di tempat asing baginya.
Para perawat pun kewalahan mencoba menenangkan, namun bayi itu tetap menangis. Setiap langkah Sandra menjauh dari area rumah sakit, maka tangisan si kecil Aurora semakin kencang dan terdengar pilu. Sang perawat pun ikut terisak mendengar tangisan bayi di gendongannya.
……
Sementara kedua wanita di balik pohon itu pun menerbitkan senyum licik mereka. Keduanya pun bertepuk kompak, berhasil mempengaruhi Sandra.
Kedua wanita yang merupakan, oknum yang sering melakukan penculikan bayi juga kejahatan lainnya. Kedua wanita yang berprofesi sebagai, perawat juga dokter pakis.
"Mari kita melakukan rencana, kita. Bukankah, kita menerima pesanan bayi perempuan lucu?" Tanya wanita yang berpakaian layaknya seorang dokter wanita — profesional.
"Yah! Dan kali ini bayarnya begitu fantastis," sahut rekannya yang berpakaian — perawat.
"Bersiaplah!" Ujar salah satu dari mereka dengan wajah — licik.
Kedua wanita itu sudah memantau keberadaan Sandra sejak tadi dan mencoba mencari tahu masalah yang dihadapi targetnya.
Setelah mengetahui masalah yang dihadapi, Sandra. Kedua wanita itu pun terus mengikuti pergerakan — Sandra.
Mereka juga begitu terpesona dengan kecantikan bayi miliki — Sandra.
Perawat palsu itu, mengambil foto Aurora tanpa sepengetahuan siapapun. Mengirimkannya kepada sang — Klein rahasianya. Dan — sang Klein pun, tertarik kepada bayi Aurora. bahkan Klein tersebut menawarkan harga begitu fantastik.
"Tidak! Aku tidak akan meninggalkan putriku. Aku sudah berjanji akan merawatnya dan membesarkannya."
Sandra kembali membalikkan badannya, kini ia terlihat, sudah melangkah jauh dari rumah sakit. Namun dengan keadaan lemah, Sandra berlari kembali ke rumah sakit. Di mana sang bayi terus menangis hingga tubuhnya pun membiru.
Di sisi lain, kedua wanita licik itu, mulai menjalankan aksi kejahatan keduanya.
Wajah mereka ditutupi oleh masker, mendorong beberapa keperluan bayi untuk mandi. Juga dokter palsu itu mengikuti di belakang dengan sebuah suntikan bius khusus bayi di salah satu tangannya.
Sandra masih terus berlari untuk segera sampai di rumah sakit, ia bahkan berulang kali terjatuh dan mendapatkan luka di kedua telapak tangan juga kedua lututnya.
"Maafkan, mommy!"
"Tunggu mommy, nak!"
"BERSAMBUNG"