
Suasana sunyi mencekam, begitu terasa di area sel tahanan wanita. Cahaya remang-remang dan pengapnya ruangan sel tahanan, tidak membuat para tahanan wanita di sana terganggu. Mereka sudah terbiasa berbaur dengan keadaan sel tersebut.
Ruangan kecil yang hanya di beruntungkan dua orang saja, terlihat di huni oleh beberapa tahapan wanita, hingga ranjang susun yang ada di sana hanya bisa mengisi empat orang saja. Sisanya mereka tidur di lantai dingin juga kotor.
Belum lagi bau menyengat dari air kemih juga kotoran mereka yang hanya memiliki aliran air terbatas, hingga apabila air di toilet disana habis, mereka terkadang tidak membersihkannya. Atau mereka juga tidak membersihkan tubuh selama beberapa hari.
Bintang tikus dan kecoa, terlihat berlalu lalang di area itu, bahkan melewati para tahanan yang tertidur di lantai.
…..
Begitu juga yang kini Sandra rasakan, ia bergerak gelisah di atas ranjang saat indera penciumannya disajikan oleh aroma begitu menyengat. Entah, itu berasal dari toilet di sana atau dari bau badan dari penghuni lain di tempatnya.
Sandra mencoba memejamkan mata, ia tidak boleh tidur tengah malam, ia harus menjaga kesehatan janinnya, Sandra terus menutup erat hidungnya, agar terhindar dari bau tersebut.
Ia terlihat memunggungi rekan satu selnya, sambil berusaha memejamkan mata untuk bisa mengundang rasa ngantuk.
Baru saja ia akan terbuai oleh rasa ngantuk, indera pendengaran Sandra yang peka dengan suara sekecil apapun, mendengar pergerakan di belakangnya.
Sandra bisa mengetahui, ada beberapa orang yang kini mencoba mendekatinya. Sandra membuka matanya, rasa ngantuk yang tadi melandasinya kini hilang.
Kini ia sedang bersikap waspada dengan diam, sambil menghitung langkah kaki mendekat kepadanya.
Sandra menampilkan senyum seringainya, saat melihat pantulan bayangan seseorang yang sedang mengarahkan sebuah pemukul kearahnya, melalui dinding.
Sandra hanya bisa memeluk perutnya sendiri, mencoba melindungi janinnya yang tenang di dalam sana.
Sedangkan beberapa orang yang berada di belakang, Sandra, mencoba melayangkan sebuah pukulan tepat ditujukan di perut wanita hamil — di depan mereka.
"Rasakan, ini wanita sialan!" Seru salah satu dari mereka di balik pencahayaan remang-remang di sel tersebut.
Bayangkan orang itu pun kini mulai melayangkan sebuah balok lumayan besar ke arah perut Sandra.
"Bugh" balok itu pun kini melayang di atas ranjang yang digunakan Sandra dengan sempurna.
Ketiga orang yang ingin mencelakai Sandra, tercengang, saat melihat gerakan gesit Sandra yang menghindari serangan — mereka.
Sedangkan Sandra yang segera bangkit dan bergerak lincah menghindari serangan dengan menggeser tubuhnya ke arah samping. Ia kini memandang, ketiga wanita itu dengan tatapan kelam juga wajah menyeramkan.
"Sialan!" Geram salah satu wanita bertubuh tinggi besar dengan kulit hitam itu, saat melihat Sandra berhasil lolos dari serangannya.
"Dasar wanita murahan! Rasakan ini," sela salah satu dari ketiga wanita di depan Sandra, lantas maju untuk menyerang Sandra kembali.
Wanita itu mencoba menyerang Sandra dengan menggunakan sebuah benda tajam yang berada di tangan, wanita kurus itu.
Sandra hanya diam dengan wajah dinginnya, tangannya pun terus melindungi perutnya.
Wanita itu ingin menusukkan benda itu — tepat, di perut Sandra. Namun dengan gerakan lincahnya, Sandra menahan tangan wanita itu dan meremasnya kuat, bukan itu saja, Sandra juga, melayangkan kepalan kuat tangan lainnya, tepat di ulu hati — wanita tersebut.
Tubuh wanita kurus itu, mundur ke belakang dan mengenai kedua rekannya. Wanita itu meringis sakit dan kedua rekannya begitu geram.
Karena gagal melukai — Sandra. Mereka juga tidak menyangka, kalau Sandra memiliki kemampuan bela diri yang sangat baik.
Mereka kini saling melemparkan tatapan mata tajam di suasana pencahayaan remang-remang juga mencekam.
Ketiga wanita itu masih saja menampilkan wajah — sombong juga remeh mereka. Ketiganya sangat yakin bisa melumpuhkan Sandra dengan — keadaan perut membesar.
"Cih! Lihatlah, dia ingin melawan kita dengan perut membesar," decak salah satu wanita itu yang merupakan pemimpin mereka. Ketiganya tertawa, termasuk, kedua wanita yang mendapatkan serangan Sandra tadi dan wajahnya tidak terlihat jera.
"Wajahnya sungguh membuatku, takut," celetuk wanita berkulit hitam dan terdengar tertawa mengejek, juga gerakan seakan begitu takut dengan tatapan — Sandra.
Sejurus kemudian, ekspresi wanita itu berubah mengerikan, ia meludah ke arah samping dan memandangi wajah Sandra — remeh.
"Kau, akan mati di tangan kami. Dan kami akan mendapatkan bayaran mahal," pungkas wanita itu dan kembali tertawa.
Sandra mengerutkan wajahnya bingung, tidak lama kemudian senyum tipis terlihat di wajah dinginnya itu.
"Jadi… dia yang mengirimkan kalian untuk membunuhku?" Tanya Sandra dengan nada suara dinginnya.
"Yah! Dan malam ini kami akan mengirim mu, kembali ke Tuhan," jawab salah satu wanita itu yang memiliki tato di seluruh tubuhnya.
Sandra terkekeh, mendengar ucapan wanita itu, meskipun dalam kehamilan tua, Sandra masih berusaha untuk melindungi bayinya agar tidak melukai calon buah hatinya di dalam perut.
"Aku tidak yakin, kalian bisa menghabisi ku? Asal kalian tahu, aku sudah pernah berada di posisi di ujung kematian dan itu sungguh menyakitkan juga menakutkan." Tandas Sandra yang kini duduk di atas ranjang dengan kedua tangannya berada di depan dada.
"Aku pastikan, ucapan kalian akan tertuju kepada kalian sendiri," lanjut Sandra dengan senyum sinis.
"Kau tidak akan melakukan itu, karena kau akan dihukum berat," jawab sang wanita bertubuh kurus yang mulai terlihat ketakutan.
Ketiganya tidak menyangka, ternyata wanita hamil, di depan mereka sungguh berbahaya.
"Aku sudah berada di sini," ujar Sandra dengan kedua tangannya terentang, menunjuk bahwa di tidak takut mendapatkan hukum, dirinya sudah berada di penjara, jadi sia-sia rasanya apabila ia tidak melukai sekaligus seseorang.
"Ternyata, kau wanita gila!" Bentak wanita berkulit hitam itu dengan pertahanan kakinya mulai gemetar.
"Bukan, hanya gila. Dia juga murahan dan sekarang telah hamil anak haram," seloroh wanita bertato.
Wajah Sandra kini semakin mencekam dengan tatapan tajam mengerikan menatap, satu persatu wanita di hadapannya. Ia mengambil benda tajam yang tergeletak di dekat kakinya, tidak menunggu lama, Sandra melemparkan benda itu ke arah ketiga wanita di depannya.
Benda itu pun mengenai lengan sang wanita yang tadi menghina janinnya.
Membuat ketiga wanita itu melebarkan kelopak mata mereka, melihat aksi brutal — Sandra.
"Aku! Kau wanita mengerikan!" Teriak wanita itu kesakitan.
Ketiga wanita itu kini memundurkan badan mereka, saat Sandra berjalan ke arah ketiganya dengan wajah — mencekam.
"Matilah, kau murahan!" Teriak wanita berkulit hitam itu, sambil menyerang Sandra dengan sebuah benda tajam.
Wanita itu ingin melukai dada Sandra, tapi… dengan gerakan terbaca oleh Sandra, ia dengar mudah menghindari dan memberikan wanita bertubuh tinggi besar itu pukulan di bawah dagunya dengan sekuat tenaga.
Cairan merah keluar dari mulut wanita itu, bahkan memuncrat keluar, gigi bawah wanita itu pun terlepas beberapa dan badan tinggi besar terjerembab di atas lantai ubin.
Dengan segera, Sandra mengiklankan kakinya di atas perut wanita itu dan menekannya kuat. Kedua rekan wanita berkulit hitam itu tidak tinggal diam, mereka menyerang bersama ke arah — Sandra.
Sandra yang masih menekan, perut wanita berkulit hitam itu hanya menatap keduanya dengan tajam.
Sandra kini menangkis pukul salah satu wanita itu yang selalu ingin menyerang perutnya, begitu juga dengan wanita kurus, yang melayang tendangannya. Namun lagi-lagi Sandra dapat menangkalnya dan kembali menyerang keduanya dengan sebuah pukulan kuat di perut keduanya.
Sandra hanya bisa mengandalkan kedua tangannya, karena ia sudah tidak mampu, mengangkat kakinya untuk melayangkan tendangannya.
Sandra kini meraih sebuah meja kecil di sana, tanpa banyak berkata-kata, ia memukulkan kepada ketiga wanita itu.
Bukan hanya itu, Sandra masih melampiaskan amarahnya dengan menghantam bertubi-tubi wajah sombong, wanita berkulit hitam itu, hingga wanita itu terkapar tidak berdaya.
Kedua rekannya, hanya bisa menarik kaki mereka mundur ke belakang dengan posisi terduduk di lantai dengan wajah ketakutan, melihat ke brigasan Sandra.
Salah satu dari mereka berteriak meminta pertolongan, saat Sandra mendekati keduanya dengan sebuah balok kayu di tangannya.
"Tolong, Tolo …." Sebelum melanjutkan teriakannya, sebuah hantaman keras mengenai kepalanya, membuat wanita bertato itu tumbang seketika.
Kini tatapan Sandra tertuju kepada wanita kurus, yang semakin pucat dan gemetaran. "Jangan, jangan lakukan itu kepadaku, aku mohon," ucapnya dengan nada terbata ketakutan.
Sandra hanya diam dengan tatapan mata begitu mengerikan dan wajahnya yang sungguh membuat seseorang yang melihat akan takut dan ngeri.
Sandra kini mengangkat tinggi balok kayu di tangannya dan bersiap untuk memukulkannya kepada wanita di depannya.
Namun tiba-tiba, pintu sel itu terbuka dan beberapa petugas penjaga sel masuk. "Turunkan, balok itu," bentak petugas sel tahanan dengan tegas.
Sandra masih diam dengan tatapan masih menajamkan kepada wanita kurus tersebut.
"Turunkan," sela petugas lain dan kini berusaha mendekati Sandra.
"Bawa mereka," titah sang petugas kepada beberapa anak buahnya, yang diperintahkan untuk membawa — ketiga wanita itu.
"Ternyata, wanita hamil bisa mengerikan seperti itu," batin petugas yang bergidik ngilu, melihat kondisi kedua wanita yang tergeletak di atas lantai.
"Bawa dia, ketahanan gelap," perintah wanita yang memiliki jabatan tinggi di tahanan wanita itu.
"Siap!" Sahut serempak beberapa petugas, yang kini menyeret Sandra keluar dari sel tersebut dan di pindahkan ke sel gelap, untuk diberikan hukuman.
Hay! semuanya, cuma mau bilang. kalau tiba-tiba karya ini hilang, Uma minta maaf, kemungkinan Uma hapus ☺️🙏