
Kendrick dan Stella kini, dihadapkan dengan cobaan yang begitu memilukan. Kesehatan putri kesayangan mereka dalam keadaan sekarat.
Gadis kecil itu didiagnosa memiliki waktu selama satu bulan, apabila dalam satu bulan mereka tidak menemukan pendonor sumsum tulang belakang, terpaksa pihak rumah sakit tidak memiliki pilihan lain selain mengangkat tangan dan menyerah.
Gadis berwajah cantik itu, kini dalam keadaan koma. Yang membuat kedua orang tuanya begitu berduka dan terpuruk.
Di mana mereka akan menemukan pendonor sum-sum tulang belakang untuk putri semata wayang mereka? Sudah berapa kali mereka mencoba dan mencari di berbagai belahan dunia, namun tidak satupun yang berhasil dan selalu mendapatkan kegagalan.
Tuan Jeremy dan nyonya Louis kini menatap sedih kepada cucu mereka. Terlihat Stella tidak berhentinya menangis di sisi putri kesayangan itu.
Kendrick pun hanya bisa menenangkan istrinya, walaupun ia juga kini sedang merasakan pilu teramat sakit dan menakutkan.
"Apa yang harus kita lakukan?" Nyonya Louis bertanya tanpa memandang besannya yang sejak tadi terdiam.
Tuan wiston terdengar menarik nafas sebatas dada dan mengeluarkan dengan dengusan kasar. Pria yang masih terlihat gagah dan kekar di usianya tidak muda lagi, terlihat menoleh ke samping, di mana nyonya Louis terdiam.
"Bukankah, anda memiliki cucu pria cacat yang cocok dengan DNA sumsum tulang belakang, Queen?" Tuan Winston berkata dengan wajah serius.
Segera nyonya Loius menoleh, memperlihatkan wajah kebingungan.
"Anak idiot itu?" Sela nyonya Louis. Wajah wanita itu terlihat semakin mengerut.
"Hum!" Tuan Winston hanya bergumam dan kembali menatap cucu kesayangan.
"Itu tidak mungkin, suamiku sangat menyayanginya," sahutnya DNA raut wajah terlihat kesal. Saat berulang kali ingin menyingkir kan, cucu cacatnya itu.
"Tapi sekarang kita tidak memiliki pilihan lain." Tuan Winston menimpali, wajah gagah yang tampak serius.
Nyonya Louis terlihat menimang perkataan besannya itu. Harus kah, dirinya membawa si cucu cacat jauh, setelah mengambil keputusan besar.
"Anda harus segera mengambil keputusan, agar nyawa cucu kita bisa terselamatkan." Tuan Winston berkata dengan nada dingin.
Nyonya Louis kembali terdiam, detik berikutnya ia pun melangkah terburu-buru ke arah —lift.
Wanita itu ingin membawa cucu cacatnya itu dan memaksa untuk melakukan operasi transplantasi sumsum tulang belakang.
Nyonya Louis tidak peduli dengan keadaan cucu cacat itu, yang terpenting cucu yang sempurna selamat.
"Kenapa aku harus mempertahankan cucu cacat dan membiarkan cucu kesayangan kesakitan." Nyonya Louis berkata dengan bermonolog.
Cindy melajukan kendaraannya dengan kencang, agar lebih dulu tiba di area Mansion mewah Loius.
Cindy tentu saja tidak akan membiarkan mereka menjadikan putranya sebagai tumbal dan alat uji coba keselamatan anak suaminya dengan wanita lain.
Cindy memarkirkan mobilnya asal, saat sudah berada di area Mansion. Cindy turun dengan terburu-buru. Tampak begitu jelas rasa takut di wajahnya, seluruh tubuhnya kini bergetar ketakutan dan panik.
Cindy berusaha untuk menetralisir perasaannya, ia hanya ingin segera menemui putranya yang berada di favuliun.
Saat tiba di kamar putranya, Cindy berusaha membangunkan putranya itu dengan lembut. Berbisik di telinga putranya yang terlihat begitu terlelap.
"Sayang, bangun." Cindy berbisik sambil menepuk kecil wajah putranya.
Tampak anak laki-laki dengan penyakit down sindrom, menggeliat kecil. Ia membuka matanya saat melihat sang— mommy.
"Bangunlah!" Pinta Cindy dan beralih ke arah lemari kecil, yang berada di sudut kamar.
Sungguh malang nasib sang putra, memiliki keluarga kaya namun hidup dengan dikucilkan oleh seluruh keluarga inti dan besar.
Lewis melayang kan pertanyaan kepada sang mommy dengan perkataan yang sulit dipahami.
Cindy bisa melihat gerakan tangan putranya dan detik berikutnya, wanita itu tersenyum, memahami apa yang ditanyakan putranya.
"Kita harus meninggalkan tempat ini, semua demi kamu nak," jelas Cindy. Membantu putranya bangkit dan berjalan ke luar.
Cindy menarik tangan putranya dengan sedikit kuat. Wanita itu begitu panik.
Saat ingin mendekati mobilnya, tiba-tiba, beberapa mobil masuk ke area Mansion. Cindy membulat dan semakin terlihat panik dan ketakutan.
Segera Cindy menarik putranya bersembunyi di balik pilar tinggi, saat Cindy sudah melihat nyonya Louis masuk ke dalam, segera Cindy mendekati mobilnya, dengan hati-hati. Wanita itu terus membawa putranya pergi, sejauh mungkin.
"Selamat tinggal," ucap Cindy dan segera menancap gas mobilnya untuk pergi menjauh dari keluarga besar Louis.
Wanita itu tidak memperdulikan dirinya lagi, ia hanya ingin membesarkan putranya dan memberikan kebahagiaan.
"Aku tidak mau tahu, kalian segera mencarinya dan bawa dia kepadaku!" Perintah nyonya Louis, untuk mencari cucu cacatnya.