
"Karena ulahmu, pelanggan kaya kita pergi!" Hardik seorang pria kepada Sandra. Pria yang bersetelan rapi yang dikenal, manajer klub malam tempatnya bekerja.
"Saya, minta maaf," ucap Sandra. Wanita itu hanya bisa menundukkan kepalanya dengan kedua tangannya mengepal erat.
"Aku sudah memperingatimu untuk tidak, mengambil pekerjaan ini," sahut manajer tersebut dengan menghela nafas.
Pria itu hanya bisa menghela nafas panjang, ia sudah menduga ini semua. Pria itu sudah tahu dengan watak Sandra yang keras dan tidak mudah untuk tergoda.
"Maaf!" Sela Sandra dengan sedikit menyesal.
"Kembali ke tempatmu," pinta pria itu. Ia tidak mungkin memecat Sandra yang sudah lama bekerja di klub malam tersebut.
Rekan Sandra yang sejak tadi menenangkan wanita itu, membawa Sandra keluar dari ruangan manajer dan berjalan ke arah meja bartender.
"Melakukan ini lebih baik." Gumam Sandra sambil menghela nafas dan.
"Tenanglah, kamu pasti mendapatkan uangnya," wanita berpakaian seksi mencoba menghibur Sandra.
Sandra menatap temannya itu dan tersenyum, ia memulai melakukan tugasnya melayani pengunjung dan pelanggan klub malam itu.
Kini Sandra sedang melayani salah satu pelanggan setia di sana, pria itu terus memandangi Sandra dengan nakal.
"Jaga tatapanmu, kalau kau masih ingin melihat para ****** disini," sela Sandra penuh peringatan.
Pria itu tertawa lepas, ia sudah kenal dengan watak Sandra yang tidak mudah luluh. Pria itu terus tertawa tanpa, terasa terancam dengan tatapan tajam Sandra.
"Apa kamu tidak menginginkan pekerjaan baru?" Tanya pria itu kepada Sandra yang sibuk mengolah minuman.
"Apa ada pekerjaan yang bisa, memberikanku upah 1 juta dollar dalam semalam?" Sandra balik bertanya tanpa menatap pria itu.
Pria yang sedang menyesap minuman di tangannya tersedak hingga terbatuk. Sandra yang melihatnya hanya berdecak sinis.
Pria itu terlihat berpikir dan ia kembali menatap penampilan Sandra yang terlihat tangguh dan kuat.
"Aku rasa tidak akan cocok denganmu," sahut pria itu.
Sandra menghentikan gerakan tangannya dan memandangi serius pria di hadapannya itu.
"Apa maksud kamu?" Tanya Sandra penasaran.
"Kamu bahkan bisa mendapatkan lebih," ujar pria tersebut sambil kembali menyesap minumannya.
"Tapi sepertinya …."
"Katakan, apa yang harus aku lakukan?" Potong Sandra dengan wajah serius.
Pria itu sekali lagi menatap Sandra dengan sangat intens dan ia bisa melihat keseriusan di raut wajah wanita itu.
"Apa kamu yakin bisa melakukannya? Kamu harus mempertaruhkan nyawamu," terang pria itu.
"Bisa kamu jelaskan, apa yang harus aku lakukan?" Tanya Sandra tidak sabar.
"Pertarungan di atas ring." Pria itu berkata dengan wajah serius.
"Pertarungan?! Sandra membeo, dan menatap pria di depannya dengan begitu lekat.
"Hum! Dan malam ini mereka mengadakan pertarungan dengan hadiah yang cukup menggiurkan," pungkas pria itu.
"Tapi aku tidak yakin, mereka bisa, mengalahkan ratu ring," celoteh pria itu di depan Sandra yang sedang berpikir keras.
"Di mana aku bisa menemukan tempat itu?" Sandra tiba-tiba bertanya dan lagi-lagi pria itu terkejut.
Lama pria itu terdiam, dengan tatapan lekat kepada Sandra. Ia tidak mungkin menjerumuskan wanita yang cukup lama ia kenal.
"Tidak! Kamu tidak akan mungkin bisa melakukannya, ingat kamu mempunyai seorang putri," ujar pria itu mencoba mengurungkan niat Sandra.
"Katakan saja padaku!" Sandra terdengar menaikkan nada suaranya.
"Tidak! Terlalu bahaya berada di sana. Kamu bahkan tidak tahu bisa keluar dalam keadaan hidup," tandas pria itu lagi.
"Aku membutuhkannya," sahut Sandra bersikeras untuk mengikuti tantangan berbahaya itu.
"Tapi …."
"Katakan saja, dimana lokasinya," potong Sandra kembali.
"Bersiaplah, aku akan mengantarmu. Tidak mudah untuk memasuki wilayah gelap itu. Kamu memerlukan akses khusus," pungkas sang pria dan bersiap untuk meninggalkan klub.
"Aku menunggumu di parkiran," lanjut pria itu saat akan meninggalkan tempatnya.
Sandra hanya mengangguk, ia berjalan ke arah ruangan manajer untuk meminta izin terlebih dahulu.
……
Sedangkan Austin kini merasa frustasi, saat mencari keberadaan Sandra di klub mewah itu, ia kehilangan jejak Sandra.
Austin sudah mencari di segala penjuru klub, namun ia tidak menemukan keberadaan wanita itu.
Padahal sebelum mendapatkan telepon darurat dari kedua orang tuanya, Austin sudah sangat dekat dengan Sandra yang sedang berjalan menuju ruangan manajer. Karena posisi Austin membelakangi Sandra, ia pun tidak menyadari wanita itu. Saat membalikkan badannya, Sandra sudah memasuki ruangan manajer.
"Tuan!" Seru asistennya.
"Apa yang kamu temukan. Jangan katakan, kalau aku hanya berhalusinasi," cerca Austin. Sejak tadi tidak ada yang percaya kalau dirinya melihat keberadaan Sandra.
"Dugaan anda benar tuan, dia nona Sandra Matthew. Nona Sandra sudah enam tahun tinggal di kota ini dan bekerja di dua tempat. Ia juga tinggal bersama putrinya dan adiknya." Mendengar penjelasan asistennya, Austin bangkit dari duduknya dan tersenyum lebar.
Setelah meninggal klub malam karena keadaan mendesak, Austin memerintahkan asistennya untuk mencari tahu keberadaan Sandra di klub itu. Dan sangat mudah mendapatkan informasi tentang wanita itu yang sudah terkenal di kalangan pelanggan dan pengunjung klub.
"Kita kembali ke sana!" Perintah Austin segera berjalan menuju pintu kamar di Mansion milik sang — mommy.
"Tapi tuan …." Asisten Austin menghentikan ucapannya.
"Ada apa?" Tanya Austin dengan tatapan tajam ke arah asistennya.
"Nona Sandra saat ini …."
"Ada apa?" Austin bertanya dengan wajah penasaran.
"Nona …." Asisten Austin begitu ragu untuk mengatakan kepada atasannya itu.
"Katakan, brengsek!" Bentak Austin.
"Nona Sandra sedang menuju pasar gelap!" Ungkap asisten Austin dengan kedua mata terpejam.
"Pasar gelap?! Austin membeo dengan pandangan khawatir.
"Iya tuan. Ia membutuhkan uang sebanyak 1 juta dollar untuk membayar tagihan sekolah putrinya." Terang, asisten pribadi Austin.
Austin terdiam dan seketika, tatapan matanya begitu tajam ke arah asistennya itu.
"Lalu apa yang kamu lakukan, hah. Cepat antarkan aku ke sana, bodoh!" Pekik Austin yang segera melangkah lebar ke arah pintu kamar mewahnya.
Disusul asistennya dengan wajah pias dan tubuh gemetar. Austin bahkan tidak menghiraukan keberadaan orang tuanya yang terus memanggilnya yang sedang duduk dengan anggota keluarga wanita, yang akan dijodohkan dengannya.
……
"Apa ini alamat mereka?" Sementara di Mansion megah bak istana itu, remaja yang duduk di kursi roda kini menatap iPad mewah di tangannya.
Ia juga menatap foto gadis kecil cantik yang sedang memainkan biola dengan tatapan mata berbinar.
Remaja itu mengusap wajah gadis berusia 6 tahun itu dan seutas senyum tipis, sangat tipis, hingga tidak ada yang menyadarinya.
"Benar tuan. Nona kecil juga sekolah di salah satu sekolah mewah di sini," terang pria di depannya.
"Apa dia mendapatkan kesulitan?" Tanya Erland dingin.
"I-iya, yang mulia," sahut pria tegas itu dengan gugup.
"Selesaikan!" Titah Erland dengan suara beratnya.
"Baik, yang mulia."
Erland masih menatap gambar gadis berwajah cantik dan imut di iPad-nya. Entah mengapa ia begitu mengagumi wajah cantik gadis kecil itu. Yang sudah diikrarkan menjadi calon pendampingnya kelak.
Sejak bayi Erland sudah menyukai wajah cantik Aurora, hingga kini ia masih setia menunggu gadis kecil itu tumbuh dewasa.
Erland bahkan menentang keluarganya tentang perjodohan dirinya dengan seorang gadis yang berasal dari keluarga bangsawan lainnya.
"Dia hanya milikku. Milik, Erland Dallin Harrison." Gumam remaja tampan itu dengan wajah datarnya.