
"Plak, plak, plak." Wanita dengan penampilan anggun, tampak murka terhadap anak buahnya yang ia perintahkan untuk mengambil paksa putri Sandra.
Karena ketiga pria itu tidak, berhasil membawa pulang bayi milik — Sandra, dengan emosi wanita itu memberikan tamparan ketiga anak buahnya.
"Kalian semua tidak berguna!" Pekik wanita anggun berkelas itu dengan raut wajah marah.
Niat hati ingin membuat hidup Sandra semakin menderita, nyonya Loius harus mendapatkan kabar tentang kehilangan wanita itu.
Sudah beberapa hari anak buahnya mencari keberadaan Sandra, namun hasilnya nihil. Wanita itu hilang tanpa jejak.
"Akh!" Nyonya Louis begitu kacau hingga membuatnya hilang kendali. Ia menghancurkan semua fasilitas barang mewah di dalam ruangannya itu.
"Aku pasti akan menemukanmu," batin nyonya Loius, tatapannya begitu tersirat kebencian.
…
Bukan hanya nyonya Loius yang berusaha mencari keberadaan — Sandra. Pria yang sudah menyimpan perasaan kepadanya kini terlihat gundah dan kehilangan. Raut frustasi begitu terlihat jelas di wajah tampannya.
Sudah beberapa hari ini dirinya bersama anak buahnya, mencari keberadaan, Sandra dan Aurora.
Tuan muda Cooper, seakan kehilangan orang terkasih nya. Padahal ia baru saja menyimpan perasaan kagum juga tertarik kepada — Sandra.
"Bersabarlah bro. Kalau dia ditakdirkan menjadi milikmu, kalian pasti akan bertemu lagi," hibur sahabat Austin.
Pria dengan tatapan tajam itu, begitu kebingungan harus melakukan apa agar mood sahabatnya kembali normal.
"Ayolah, kau terlihat mengelikan seperti ini," geram sahabat Austin.
"Aku merindukannya," Austin terdengar berkata lirih.
"What?! Sang sahabat terkejut mendengar perkataan pria yang terkenal dingin dan arogan itu.
"Aku merindukannya," Austin mengulangi ucapannya.
Sang sahabat hanya bisa menganga mendengar Ungkapan perasaan tuan muda Cooper.
"Kau menyukainya?" Tanya pria berwajah latin itu.
"Entahlah, tapi aku begitu terbayang dengan wajahnya," balas Austin dengan punggung terlihat lemas.
"Bukankah, itu sama saja kau menyukainya?" Sahut pria tampan itu lagi.
"Mungkin, aku juga masih bingung dengan perasaanku," jawab Austin.
"Kalau begitu, bersabarlah. Dia pasti akan kembali kalau di memang jodohmu." Pria rupawan itu pun bangkit dari duduknya, ia lantas menepuk pundak kekar Austin dan berjalan ke arah pintu.
"Mau, bersenang-senang dengan!" Ajaknya sambil menaik-turunkan alisnya.
Austin pun kembali termenung, mengingat semua tentang Sandra. Ia mengusap seluruh wajahnya kasar dan mengerang kesal.
"Kau dimana?" Gumamnya dengan kepala menengadah keatas.
"Kau dimana Sandra." Pria itu kembali berkata lirih sambil mengacak rambutnya frustasi.
…….
"Apa kau yakin mereka tidak akan menemukannya?" Pria berusia 45 tahun dengan tampilan formal, bertanya kepada anak buahnya.
"Tidak tuan." Sahut sang anak buah yakin.
"Hum! Gumam pria yang masih terlihat gagah di usianya tidak muda lagi.
"Kami sudah menghilangkan jejaknya. Tidak satupun orang yang akan mengetahui keberadaan nona …."
"Bagaimana dengan nyonya Loius?" Tanya pria itu memotong perkataan sang anak buah.
"Mereka tidak berhasil menemukannya," pungkas anak buahnya itu dengan posisi tubuh tegak dengan mimik wajah datar.
"Bagus. Jangan sampai mereka menemukannya," timpal pria itu dengan tampilan rambutnya yang sudah mulai berwarna putih itu, tertata dengan sangat rapi. Memperlihatkan, pesona ketampanan pria itu di usianya memasuki menua.
"Baik tuan," sahut sang anak buah.
"Hum, terus awasi mereka!" Titah pria gagah dengan postur tubuh tegap nya yang begitu mempesona.
"Siap!" Ucap sang anak buah.
"Anda tidak ingin melihatnya?" Dengan penuh keberanian, anak buah itu mencoba bertanya kepada — tuannya.
Pria itu menajamkan tatapannya dengan iris mata coklatnya yang begitu terlihat jelas. Ia segera membuang pandangannya saat menangkap potret wajah wanita di atas meja kerjanya.
"Keluarlah!" Perintahnya dingin.
Dengan patuh, anak buahnya pun keluar setelah memberikan penghormatan kepadanya.
"Aku hanya ingin melindunginya sedikit saja, sayang. Bagaimanapun dia …." Ucapan pria itu tiba-tiba terhenti saat merasakan sesak di dadanya. Ingatannya kembali ke 24 tahun yang lalu.
Di mana ia harus kehilangan istri tercintanya karena sebuah kesalahan yang sudah ia lakukan bersama sahabat baik istrinya sendiri.
Kesalahan yang membuat sebuah janin terlahir di dunia tanpa adanya tanggung jawab. Membuat sang bayi harus terlantar di sebuah rumah sakit seorang diri. Hingga akhirnya pasangan suami-istri datang dan membawanya bersama mereka.
Bayi yang tidak pernah diinginkan keberadaannya di dunia dan berakhir hidup terlantar dan menderita.
"Maaf, hanya ini yang bisa aku lakukan."