Mommy, My Angel

Mommy, My Angel
bab 53



"Selamat, semoga kita bisa bertemu kembali." Pemilik tempat hiburan gelap, mengucapkan selamat kepada Sandra, sambil menyerahkan sejumlah uang di dalam amplop coklat. Pria berwajah sangar, sangat mendambakan Sandra bisa menjadi bintang di tempat hiburannya.


"Terimakasih, tapi ini yang terakhir bagiku." Sandra hanya menanggapi dengan wajah datar dan tidak tergiur dengan ajakan pria di hadapannya.


Pria itu hanya tersenyum melihat sikap Sandra yang dingin terhadapnya. Baru kali ini ia melihat seorang petarung yang menolak tips dari para pemenang taruhan. Bisa saja Sandra mendapatkan kekayaan dengan cara mendadak.


Seseorang pemenang taruhan bahkan, memberikan kunci mobil mewahnya, tapi … Sandra menolak semuanya.


"Bukankah, itu sama saja aku menjual nyawaku dan kejahatanku." Jawaban Sandra mampu membuat para pengagumnya terdiam.


"Tempat ini dengan senang hati menerima kedatanganmu kembali." Pria itu berkata dengan penuh harap.


Sandra hanya menerima uang dengan jumlah yang disepakati dan segera meninggalkan tempat terlarang itu.


Tanpa memperdulikan ucapan sang pemilik tempat terlarang tersebut. Jam di dalam mobil steven sudah menunjukkan pukul 4 pagi. Hari pun masih gelap dan membuat Sandra terlelap sejenak di dalam mobil.


……


Hari mulai terang, saat Sandra dan Steven tiba di klub malam tempatnya bekerja. Sandra terlihat menunggu seseorang. Dengan Steven setia menemani temannya itu.


"Apa kamu serius ingin memberikan sebagian untuknya?" Lama mereka terdiam, Steven melayangkan pertanyaan.


Sandra yang masih memejamkan mata hanya menganggukkan kepalanya. membuat Steven hanya menghela nafas panjang.


"Tapi … kamu sudah mempertaruhkan nyawamu dan dengan mudahnya kamu menyerahkan kepadanya," lanjut Steven dengan nada protes.


"Dia lebih membutuhkannya," sela Sandra dingin.


Tidak lama, wanita dengan penampilan seksi mendekati mobil steven yang berada di parkiran.


Wanita itu segera masuk kedalam mobil steven di bagian belakang dan ia begitu terkejut, melihat wajah Sandra.


"Oh Tuhan, apa yang terjadi dengan wajahmu!" Pekik wanita seksi itu yang merupakan rekan Sandra yang bekerja sebagai wanita malam.


Wanita itu meraih wajah Sandra dan memandangnya lekat, ia juga menyentuh luka di sudut bibir Sandra. Membuat ibu satu anak itu meringis.


"Maaf!" Ucap wanita itu menyesal.


Sandra tersenyum hangat dan mengeluarkan sesuatu dari tas lusuhnya. Sandra menyerahkan sejumlah uang kepada rekannya baiknya itu.


Wanita itu tercengang dan menatap Sandra juga amplop di tangan Sandra.


"A-apa ini?" Tanyanya dengan wajah terkejut, melihat sejumlah uang di dalam amplop itu.


"Gunakanlah, bukankah kamu memerlukannya untuk menyembuhkan putramu?" Sandra berkata dengan sangat lembut sambil mengusap lengan rekannya itu.


"Tapi kamu juga memerlukannya," terang wanita tersebut.


"Pakailah, nyawa putramu lebih penting." Sandra menyahuti ucapan wanita itu dengan bijaksana.


Wanita berwajah cantik itu pun, tidak dapat menahan rasa haru nya. Di saat dirinya memerlukan bantuan untuk pengobatan putranya dan harus bekerja keras untuk mengumpulkan biaya operasi, ia kini mendapatkannya dari rekan kerjanya.


"Terimakasih!" Wanita itu berkata dan segera memeluk Sandra.


Kedua wanita itu saling berpelukan. Sandra juga menguatkan perasaan rekannya itu dan memberikan semangat. Meskipun ia juga saat ini perlu sebuah ketenangan jiwa.


Steven yang melihat ketulusan Sandra dalam membantu seseorang begitu tersentuh. Wanita itu dengan mudah menyerahkan hasil pertaruhan nyawanya kepada seseorang yang memerlukan.


Steven jelas-jelas begitu bangga dan malu dengan sosok wanita yang terlihat lemah, namun mampu berjuang untuk kebahagiaan putrinya dan orang lain.


"Tidak perlu mengantarku. Aku bisa kembali sendiri." Sandra menghentikan Stevan yang ingin melajukan kendaraannya. Ia tersenyum kepada pria di sampingnya dan segera keluar dari mobil mewah Steven.


"Tapi …."


"Terimakasih!" Sandra segera berlalu setelah mengucapkan terimakasih. Steven hanya bisa melongo dan menghela nafas panjang.


Ia melihat Sandra menaiki bus yang menuju rute apartemen sederhananya.


"Padahal, dia bisa memiliki segalanya apabila menerima pemberian para pria-pria kaya itu." Steven membatin dan menggelengkan kepalanya.


Sandra sendiri kini sedang berada di dalam bus. Menyadarkan kepalanya di kaca bus tersebut dan memejamkan matanya kembali. Rasa lelah baru ia rasakan dan ia membutuhkan istirahat sejenak, sebelum memulai pekerjaannya di sebuah restoran mewah.


Tidak lama kemudian Sandra pun tiba di lingkungan apartemen sederhana, yang terletak di pinggiran kota. Apartemen yang terlihat tidak terawat, namun yang tinggal di sana begitu ramah. membuat Sandra betah tinggal dan hidup di lingkungan tersebut.


Sandra menghentikan langkahnya, saat berada di depan pintu unit apartemen yang ada di lantai dua. Sandra mengetuk pintu berwarna putih itu. Dan tidak lama kemudian, pintu itu pun terbuka dan seorang wanita yang seumuran dengannya keluar.


"Nona Sandra!" Seru wanita itu terkejut, saat melihat Sandra sudah berada di depan apartemennya pagi-pagi.


Sontak membuat nyonya Agustin terkejut dan mengira sesuatu buruk terjadi kepada — Aurora. Apalagi melihat penampilan Sandra dan wajahnya yang lembab.


"Apa terjadi sesuatu?" Tanya nyonya Agustin dengan wajah panik.


Nyonya Agustin terlihat terkejut, melihat amplop yang di serahkan Sandra.


Sandra mengangguk kepalanya, agar nyonya Agustin menerima amplop pemberiannya itu.


"Ambillah!" Pinta Sandra.


"T-tapi ini untuk apa?" Tanya nyonya Agustin begitu terkejut dengan uang sangat banyak yang di berikan Sandra.


"Gunakan untuk keperluan kalian dan melunasi tagihan sekolah, Jastin." Sandra berkata penuh ketulusan.


"Tidak perlu, kamu lebih membutuhkannya untuk membayar tagihan yang diminta oleh pihak sekolah," nyonya Agustin terlihat menolak dengan halus.


"Simpanlah, semuanya sudah selesai," sahut Sandra sambil menolak uluran amplop yang dilakukan nyonya Agustin.


"Tapi …."


"Simpanlah, semuanya akan baik-baik saja," sela Sandra dan Segera meninggalkan unit apartemen nyonya Agustin.


Nyonya Agustin hanya bisa menatap punggung Sandra dengan kedua kelopak matanya berkaca-kaca. Ia begitu terharu atas kebaikan Sandra.


"Terimakasih!" Ucapnya sambil meneteskan air mata.


……


30 menit yang lalu, sebelum Sandra tiba di lingkungan apartemen, Aurora sudah meninggal apartemen mereka dan ditemani oleh Jastin sahabatnya.


Kedua bocah berusia 6 tahun itu, akan memainkan musik di depan sebuah meseum. Dari kabar yang Jastin dengar, hari ini meseum tersebut sedang menyelenggarakan pameran. Dan tentu saja tempat itu akan di ramaikan oleh tamu undangan.


Aurora yang mendengar itu pun begitu antusias. Ia akan membantu mommynya untuk menghasilkan uang dan bisa membayar tagihan sekolah.


Aurora begitu kasihan dengan mommynya yang terus bekerja seharian hanya untuk masa depannya dan kebahagiaannya.


Aurora dan Jastin kini menaiki bus yang biasa mereka tumpangi, membuat Aurora mengenal sang supir.


"Selamat pagi, paman Lotus," sapa Aurora saat duduk di bangku depan. Ia mengandalkan tongkat yang ada di tangannya untuk naik ke dalam bus dan Jastin membawa biola Aurora.


"Selamat pagi, cantik," balas pria setengah baya itu.


"Paman terdengar sedang berbahagia?" Tanya Aurora yang bisa menilai seseorang dari cara ia berbicara.


"Dugaan kamu memang selalu benar, nak." Ujar sang supir membenarkan tebakan Aurora.


"Benarkah?! Sorak Aurora bersemangat.


"Hum, hari ini paman mendapatkan cucu pertama," seloroh sang sopir dengan bahagia.


Aurora dan Jastin yang mendengarnya ikut berbahagia. Mereka bertiga pun terlihat berbincang dengan hangat. Namun perbincangan mereka harus berhenti, saat para penumpang lain menaiki bus dan sang supir dilarang berbicara saat mengendara. Takut sang supir tidak fokus.


Selamat pagi, paman Leo!" Sapa Aurora kepada pria dewasa yang baru menaiki bus.


"Selamat pagi Aurora," sahut dengan senyum hangat.


"Kamu selalu tahu keberadaan ku," ujar pria dewasa itu, setiap Aurora bisa menebak, keberadaannya.


"Aku mengenal langkah paman," sahut Aurora dengan tatapan normal bagi yang pertama kali melihatnya, namun siapa yang menyangka gadis itu buta.


Aurora dan Jastin tidak menyadari, sejak tadi remaja tampan mengikuti mereka semenjak menaiki bus dengan penampilan serba hitam.


Erland mengubah penampilannya dengan memakai celana jeans biasa dan kaos polos sederhana dan dilapisi jaket Hoodie hitam. Remaja itu juga menutupi wajahnya dengan memakai masker dan kacamata bening.


Erland tidak bisa membuang pandangannya sedikitpun dari sosok mungil cantik dan ceria di depannya itu.


Merasa diperhatikan, Aurora menoleh kebelakang, Aurora sudah terlatih untuk menajamkan kepekaannya. Dan sekarang ia bisa membuktikan, kalau ia memiliki perasaan peka yang sangat tajam.


Tatapan mereka saling bertemu, Erland menatap kedua mata berkilau Aurora dengan tajam. Seakan mereka benar-benar saling menatap penuh intens. Namun Aurora hanya menangkap kegelapan saja dan hanya perasaannya yang mengatakan seseorang sedang memandangi nya.


"Ada apa?" Tanya Jastin mengejutkan Aurora.


"Tidak apa-apa, aku hanya merasa seseorang memperhatikan kita," bisik Aurora.


Jastin menoleh ke belakang, namun ia tidak menemukan seseorang di belakang sana.


"Tidak ada seorangpun di sana," bisik Jastin kembali.


"Benarkah?! Sahut Aurora dan ia juga menoleh ke belakang dan Erland berada di sana, menatap dirinya.


"Kamu terlihat begitu menggemaskan." Gumam Erland, senyum tipis terlihat di wajah datar remaja itu.


"Kamu hanya milikku, milik Erland Dallin Harrison. Aku akan menjemputmu saat, waktunya tiba." Remaja 16 tahun itu pun berkata dalam hati.