Mommy, My Angel

Mommy, My Angel
bab 58



Aurora meraba wajah sosok pria tampan di hadapannya. Gadis kecil itu, begitu terkejut saat mendengar pengakuan Austin. Tubuh gadis cantik itu begitu membeku. 


Ada rasa bahagia bercampur takut. Bahagia karena ia masih bisa merasakan kehadiran seorang daddy dan takut, saat terbayang di pikirannya akan berpisah dengan sang — mommy.


"Anda bukan lah' pria itu," ucap Aurora dengan nada lirih. Ia semakin menundukkan kepalanya saat mengatakan pria itu. Entah mengapa ia begitu berat untuk mengucapkan kata — daddy.


Austin dan Sandra menautkan alis mendengar perkataan Aurora, yang seakan menatap serius wajah tampan Austin.


"Hidungnya tidak sama denganku. Begitu juga garis wajahnya," sahut Aurora. Wajah gadis cerdas itu terlihat sendu.


"Kamu begitu hebat, baby. Bisa mengenali seseorang hanya dengan sentuhan." Austin meraih pundak Aurora dan mengecup salah satu pipi lembut itu.


"Paman siapa?" Tanya Aurora. Wajah gadis itu begitu penasaran.


Austin tersenyum dan segera menggendong tubuh mungil Aurora dan menggenggamnya begitu penuh kasih sayang.


"Panggil daddy. Mulai sekarang aku akan menjadi daddy kamu." Austin menyahuti pertanyaan Aurora dengan wajah puas.


"Tuan!" Seru Sandra yang keberatan dengan apa yang Austin katakan.


Austin hanya tersenyum menawan dan mengedipkan matanya, tanpa memperdulikan wajah Sandra yang tidak suka dengan perkataannya.


"Aku tidak peduli dengan penolakanmu, yang terpenting, aku akan terus mengejarmu dan berada di sisimu," bisik Austin tepat di telinga Sandra.


Refleks Sandra menghindar dengan menjauhkan kepalanya, menatap wajah Austin yang begitu bahagia.


"Princess, mau kah kamu membantuku untuk meluluhkan hati mommymu?" Kali ini Austin, berbisik di telinga Aurora.


Gadis itu mengakukkan kepalanya dan tersenyum begitu cerah dan bahagia. Gadis itu bahkan memeluk tubuh Austin dengan begitu erat. 


Gadis itu begitu bahagia bisa merasakan pelukan seorang daddy dan itu membuatnya terus memamerkan senyum indah.


"Ternyata begini rasanya di peluk oleh sosok daddy. Begitu nyaman dan hangat. Meskipun bukan daddy sebenarnya, namun aku begitu menginginkan terus kehangatan ini." Aurora berkata dalam hati sambil terus memeluk leher Austin dengan begitu eratnya.


Sandra yang melihat ekspresi putrinya yang terlihat begitu bahagia, merasakan sesak. Tenyata putrinya begitu merindukan sosok seorang daddy. Hanya saja, putrinya diam dan menjaga perasaaannya.


Sandra merasa egois, harus membuat putrinya memahami keadaannya dan selalu menjaga perasaannya.


"Maafkan, mommy," ucap Sandra lirih dan menghapus air matanya diam-diam.


Austin yang melihat air mata Sandra mengalir, segera mendekati wanitanya itu dan merangkul pundak Sandra.


"T-tuan!" Sentak Sandra terkejut.


"Diamlah, sebaiknya kita masuk. Lihatlah, semua orang memandangi kita yang terlihat seperti keluarga bahagia," seloroh Austin tanpa memperdulikan tatapan protes Sandra.


"Ayo kita masuk dan buktikan kepada mereka, kalau putri cantik daddy yang terhebat!" Seru Austin, memberikan semangat kepada Aurora.


"Yes, aku pasti bisa," sorak Aurora dengan wajah bahagia. 


Sandra yang ketinggalan di belakang, begitu tidak berdaya menghilangkan senyum kebahagiaan putrinya.


Austin menghentikan langkahnya dan berjalan kembali ke arah Sandra. Pria itu segera meraih telapak tangan Sandra lalu, menautkan jari-jari mereka dan menariknya lembut untuk masuk ke dalam aula.


……


"Maaf, tuan, nyonya. Kami tidak bisa melakukannya, Charlotte harus keluar dari sekolah ini. Putri anda terlapor sebagai murid yang selalu melakukan tindakan rasis kepada murid lainnya." Kepala sekolah, menolak keinginan orang tua Charlotte agar putri mereka bisa sekolah di sana.


"Tapi, keluarga kami yang memiliki saham terbesar di sini!" Pekik wanita arogan itu dengan wajah garang.


Kepala sekolah hanya tersenyum dan menatap suami wanita itu yang terlihat panik.


"Jadi … keluarga anda tidak memiliki akses dan keistimewaan lagi, di dalam lingkungan sekolah ini." Lanjut kepala sekolah lagi.


Wajah wanita arogan itu begitu terkejut bersama dengan wajah putrinya yang terkenal begitu sombong. Sang suami hanya bisa menundukkan kepalanya. Nyatanya, kondisi finisial mereka dalam keadaan tidak baik-baik saja. 


Hutang begitu banyak yang harus di lunaskan dan terpaksa menjual semua saham yang ada. Belum lagi pria itu harus mengeluarkan uang untuk gaya sosialita istrinya juga beberapa wanita simpanan.


"J-jadi si buta adalah … pemilik sah, sekolah ini?! Wajah wanita sombong itu begitu terkejut. Ia hanya bisa memperlihatkan wajah shock nya.


"Mommy, aku tidak mau si gadis buta itu lebih unggul dariku. Bagaimanapun, aku harus mengikuti seleksi perlombaan." Charlotte merengek kepada mommynya. Ia begitu keberatan dengan pengakuan kepala sekolah.


"Sayangnya, gadis buta itu sekarang adalah, nona muda disini. Putri Anda bisa saja masih sekolah di sini, apabila anda …." Kepala sekolah memberikan saran dan menyeda ucapannya.


"Apa?! Sahut ibu dan anak gadis itu.


"Kalian harus berlutut di kaki nona muda, Aurora." Pungkas kepala sekolah dengan wajah serius.


"What, apa anda sudah gila!" Pekik wanita arogan.


"Anda lupa siapa kami? Kami dari keluarga terpandang nomor satu di kota ini. Dan anda dengan lancang, mengotori nama baik keluarga dengan menyuruh kami berlutut di kaki bocah cacat." Nyonya arogan begitu berang. Ia pun mengeluarkan kata-kata kasarnya menggunakan intonasi suara membentak.


"Sayang!" Sang suami berseru, untuk menegur istrinya.


"Apa, hah!" Bentak wanita itu dengan kasar.


"Ingat, anda hanya mantan orang kaya. Nyatanya sekarang keluarga kalian dalam kebangkrutan dan memiliki banyak scandal." Kepala sekolah berkata dengan cemoohan.


"Kau!" Wanita itu menujuk wajah kepala sekolah dengan begisnya.


"Yang saya katakan benar, anda hanya mantan orang kaya yang sekarang ini akan melakukan terapi khusus.


"Tutup mulutmu!" Gertak wanita itu dengan wajah begitu kacau.


"Kalau tidak ada yang perlu di bicarakan lagi, silahkan keluar!" Perintah kepala sekolah dengan wajah ramah.


Pria berusia 50 tahun itu begitu lega, saat Saham di sekolah bukan lagi dalam kendali keluarga besar ini.


Yang membuatnya harus menghadapi sikap egois dan semena-mena pasangan suami-istri ini.


"Kau, berani mengusir kami!" Teriak wanita itu yang begitu tidak terima di permalukan.


"Ya, karena ini ruangan saya. Ingat, anda sudah tidak, memiliki kekuasaan disini." Kepala sekolah berkata sambil bangkit. Ia membuka pintu ruangannya dan mempersilahkan pasangan arogan itu untuk keluar.


Dengan wajah masam dan merah padam, keluarga itu meninggal ruangan kepala sekolah. Ketiganya berjalan menyusuri lorong sekolah.


Tatapan wanita itu semakin menajam, saat melihat kebahagiaan Aurora bersama sang mommy dan pria yang sekarang ia panggil — daddy.


"Mommy!" Seru Charlotte.


Kedua orang tuanya menunduk dan menatap wajah iri putrinya itu.


"Apa mommy, tega melihatku tersaingi oleh si buta itu," Charlotte mengadu dan menatap tajam ke arah Aurora.


"Tenanglah, mommy tidak akan membuat gadis buta itu menang." Wanita sombong, menatap penuh kebencian ke arah Sandra dan putrinya. Ia akan membuat perhitungan.


"Berhentilah melakukan masalah," sela suami wanita itu.


"Kalau begitu, kembali statusku menjadi wanita terhormat," sahut wanita itu dengan lantang.


"Aku akan mengganti statusmu menjadi janda, apabila kau membuat masalah baru." Suami wanita itu memberikan ancaman yang langsung membuat istrinya terdiam.