Mommy, My Angel

Mommy, My Angel
bab 12



Tatapan Sandra kini terlihat kosong, namun air mata terus mengalir membasahi wajahnya. Kini pandangan teduh itu — hanya tertuju kepada bayi mungil di depannya.


Bayi berwajah cantik itu begitu terlihat damai, suci tak berdosa. Bayi yang terlihat sempurna, namun memiliki kekurangan yang begitu memilukan.


Sandra tidak dapat memikirkan masa depan bayinya kelak, jika tumbuh dewasa. Bagaimana kehidupan bayinya, apakah ia akan menderita sama seperti hidupnya.


Belum lagi masyarakat yang akan menggunjing keadaan putrinya, bagaimana dan dengan siapa sang putri akan berteman.


Sudah dipastikan sang bayi akan hidup terkucilkan. Membayangkan itu saja, membuat perasaan Sandra teramat sakit.


Ia kini menyembunyikan wajah sembabnya, di atas kedua lutut yang ia peluk dengan suara tangisan lirih.


Sandra begitu tidak mengerti, kenapa kehidupan menyedihkan harus menerpa putrinya. Tidak cukupkah' hanya dirinya saja yang hidup serba menderita? Kenapa harus terjadi kepada — putrinya.


Sandra masih bersyukur menjalani penderita dengan kondisi fisik sempurna, bagaimana dengan putrinya yang memiliki kekurangan yang begitu amat — menyedihkan.


"Buta, putriku buta," gumam Sandra dengan lirih.


"Belum, usai kah penderita yang engkau memberikan, kepadaku? Sehingga engkau, juga membuat putriku hidup dengan keadaan seperti, ini." Sandra masih terus terisak-isak dengan gumam lirih yang begitu menyedihkan.


Nenek Grace yang mendengarnya, tidak bisa menyembunyikan perasaannya yang ikut terluka.


"Aku mohon, berikan putriku kebahagiaan, jauhkan putri dari kehidupan berat juga kesulitan. Dia pantas bahagia, pantas mendapatkan kehidupan yang layak," emosional Sandra pun keluar, bersamaan tangisan pilu yang semakin terdengar menyayat hati.


"Maaf, maaf… atas kesalahan-kesalahan yang telah aku perbuat di masa lalu, sehingga, engkau memberikan hukuman kepada putriku," ucapnya lirih yang kini, dengan kepala menengadah ke atas.


"Aku mohon berikan kehidupan bahagia kepada, putriku. Doa tulus seorang ibu penuh luka ini, memohon, semoga engkau membiarkan hidup putri ku bahagia."


"Aku mohon, kabulkan lah' doa seorang, ibu rapuh ini," ungkapnya lagi yang diiringi oleh perasaan begitu hancur.


Lebih hancur saat menyaksikan sendiri kekasih tercinta, bersanding dengan wanita lain.


"Aku, mohon, berikanlah kehidupan indah kepada, putriku," ucapnya lagi dengan tangisan perih yang membuat seseorang ikut sesak saat mendengar tangisan wanita itu.


Nenek Grace tidak dapat menahan, rasa sedihnya, hingga ia pun ikut sesegukan menangis, mendengar ungkapan perasaan Sandra yang begitu tulus.


Bayi berusia satu bulan itu, melenguh halus, memalingkan wajah Sandra yang sejak tadi menunduk dengan tubuh berguncang. Sandra tersenyum lirih, melihat tatapan suci putrinya. Sandra terkekeh pilu, saat melihat senyum putrinya itu.


Bayi mungil itu, sudah mulai menangkap suara di sekitarnya, pandangnya hanya terlihat baik-baik saja, namun siapa yang akan menduga kalau bayi perempuan — cantik itu mengalami kebutaan.


Sandra pun semakin terluka dan hancur, melihat tatapan putrinya yang begitu bersih dan suci hanya tertuju padanya, dengan senyum indah.


"Mommy, tidak apa-apa nak. Mommy, baik-baik saja,"


"Kamu, harus hidup bahagia nak. Kamu harus bisa melihat," ucapnya sambil mengusap pipi kemerahan putrinya itu.


"Kamu, harus mendapatkan perawatan, yang bisa membuat penglihatan mu kembali."


Sandra kembali termenung, dengan tatapan menerawang ke depan. Ia mengingat, perkataan dokter yang merawatnya dengan sang bayi.


Yang mengatakan, sang putri harus mendapatkan perawatan khusus agar memulihkan penglihatannya, agar tidak terjadi kebutaan permanen. Agar tidak menjadi penyakit yang akan menyerang organ tubuh putrinya yang lain.


Mendengar penjelasan sang dokter, Sandra terus berusaha mendapatkan pekerjaan, agar bisa mengumpulkan uang untuk perawatan khusus sang putri.


Tapi tidak satupun yang menerima dirinya. Para warga di pulau itu, beranggapan, Sandra, melahirkan seorang bayi yang terkena kutukan dan pembawa sial.


Sebagai seorang ibu, Sandra tidak terima, ia pun mengamuk dan memperlihatkan, sikap ngerinya saat — sang putri mendapatkan hinaan.


Para warga semakin yakin, kalau putri Sandra adalah bayi pembawa sial dan di kutuk, ketika, kakek Benjamin mengalami kecelakaan perahu ketika melakukan perjalanan ke pulau seberang, membuat kakek Benjamin meninggal dan jasadnya ditemukan di lautan dalam.


Sandra pun, mulai menyerah dengan kehidupannya, namun masih tersirat sebuah bisikan kata hatinya, untuk bertahan demi sang putri. Ia selalu berkata dalam hati, bahwa akan terbit cahaya kebahagiaan dalam dirinya, saat gelapnya penderitaan akan hilang, berganti kebahagiaan.


… …


"Kamu, harus hidup normal, nak," Bisik Sandra, masih terdapat sisa tangisan.


Sandra kini membawa sang buah hati ke dekat dadanya, sang bayi pun menikmati sumber makanannya sambil tangan mungil itu, menggenggam jari telunjuk sang — mommy.


Sandra tersenyum, hanya wajah cantik putrinya lah' kini menjadi penyemangat terbesar dalam hidupnya saat ini.


Kini pikiran Sandra tertuju kepada ayah biologis putrinya. Pikirannya kini, sedang berperang.


"Aku, harus melakukannya. Demi putriku. Dia, akan hidup bahagia dengan kehidupan terjamin. Putriku juga, akan mendapatkan perawatan dengan membawa nama besar, daddynya." Sandra berkata dengan lirih dan tekad yang sudah sangat yakin.


Meskipun berat, Shandra harus melakukannya, demi sang putri. Ia harus rela berpisah dengan buah hatinya. Shandra tidak ingin mengikuti keegoisannya, ia harus berdamai dengan perasaan yang masih terdapat luka hati.


Demi putrinya, Shandra rela menjatuhkan harga dirinya. Ia akan melakukan apapun untuk, memberikan kehidupan bahagia dan terjamin kepada sang putri, yang akan didapatkan kepada — daddynya.


"Mommy, rela nak, melepaskanmu dengan mereka," bisik wanita itu dengan wajah yang begitu menyedihkan.


"Demi, kebahagiaanmu, mommy harus melakukannya. Meskipun begitu menyiksa, mommy rela hidup menderita asal kamu, bahagia," ucapnya lagi yang tangisannya semakin terdengar pilu.


Tiada hentinya wanita itu, terus menangis memikirkan nasib putrinya. Hingga membuat kondisi fisiknya sendiri tidak terawat lagi. Wajah cantik dahulu, kini berubah kusam dengan hiasan kesedihan. Tubuh indah kini berubah kurus dengan lapisan kulit berwarna kecoklatan.


Rambut pirang yang sering terurai indah, kini terlihat berantakan yang tak terawat lagi.


Sandra yang menjadi wanita pujaan para kaum lelaki dahulu, kini berubah menjadi wanita berbeda. Kecantikan itu kini luntur oleh tekad dan perjuang mendapatkan kebahagiaan untuk — putrinya yang mengalami kebutaan.


Sandra membuang jauh perasaan minder nya saat akan bertemu dengan mantan kekasihnya, ia tidak memikirkan tanggapan ayah biologis putrinya itu tentang berubah fisik yang dahulu ia puja setiap saat.


Sandra tidak memikirkan itu semua, sekarang yang menjadi prioritas utamanya adalah — putrinya.


"Kamu, harus berada di lingkungan daddy mu, agar kamu bisa hidup layak juga normal." Sandra berucap sambil menghapus air matanya.


Ia pun meletakkan putrinya kembali di atas ranjang. Bersiap untuk mendatangi kediaman besar, ayah biologis putrinya itu.


Putrinya harus mendapatkan hak dari ayah biologis. Dan Sandra akan berjuang untuk mendapatkan hak putrinya, kepada keluarga sang --- ayah biologis.


Bagaimanapun, pria itu harus bertanggung jawab atas kehidupan darah dagingnya sendiri.


Meskipun berat dan harus menjatuhkan harga dirinya, Sandra rela juga ikhlas melakukannya.


"Apa, kau yakin ingin melakukannya, nak?" Nenek Grace tiba-tiba masuk dengan kondisi lemah. Ia terbatuk-batuk memasuki kamar sederhana yang ditempati Shandra juga anaknya.


Ibu satu anak itu, menghentikan gerakan tangannya yang sedang memakai baju, ia terlihat termenung dengan tatapan nanar kepada — nenek Grace.


"Aku sangat yakin, nek," sahut Shandra lirih.


"Demi, Aurora, anakku. Dia berhak mendapatkan kebahagiaan," lanjutnya yang lagi-lagi menitikkan air mata.


"Bagaimana denganmu, nak?" Tanya nenek Grace yang kini duduk di dekat, Aurora, putri — Sandra.


"Kau akan lebih terluka," sambung nenek Grace yang juga menitikkan air mata.


Pertahanan wanita itu pun kembali runtuh, Shandra kembali menangis, hingga luruh di atas lantai. Sekuat apapun pertahanannya, ia hanya lah' seorang wanita juga ibu yang penuh luka juga rapuh. Apalagi ia harus kehilangan putrinya, yang lebih membuatnya terluka dan menderita.