Mommy, My Angel

Mommy, My Angel
bab 40



"Berhenti!" Pekik Sandra.


Wanita itu berjalan dengan wajah marah ke arah kerumunan gadis remaja sekolah menengah atas. Terlihat para gadis remaja itu, mengerumuni seorang gadis mungil.


Semuanya terkejut, melihat kedatangan Sandra. Lantas buru-buru meninggalkan gadis yang terduduk di atas tanah dengan penampilan berantakan.


"Hey, mau kemana kalian, hah!" Bentak Sandra.


Kini wanita satu anak itu berdiri di hadapan gadis mungil berwajah manis itu dengan … kedua tangan di pinggang. Wajahnya pun terlihat marah dengan tatapan tajam.


Gadis yang terduduk di tanah segera berdiri sembari membersihkan, kotoran tanah di bagian belakang celananya.


"Kakak!" Seru gadis berusia 18 tahun itu dengan nyengir.


Sandra semakin menatapnya tajam, membuat gadis itu secara perlahan menggeser tubuhnya, agar bisa kabur.


……


"Apa begini yang kau lakukan selama ini?" Tanya Sandra kepada Gracia.


Mereka sekarang sudah berada di dalam toko, dengan Sandra mencoba mengintrogasi gadis di hadapannya ini.


Gracia hanya bisa menundukkan kepalanya, sesekali melirik ke arah Micky. Pria gemulai itu sengaja mengolok-olok dirinya.


"Gracia," sentak Sandra.


Gracia pun menjadi kelabakan, ia pun menjawab dengan gugup dan tubuh membekukan.


Gadis yang terkenal tomboy, ceria dan ceroboh itu, sudah melakukan kesalahan lagi. Kali ini gadis berwajah manis itu sedang melakukan adu kekuatan dengan teman sekolahnya.


"Mereka menantangku," sahut Garcia pelan.


"Ilmu bela diri bukan untuk ajang pamer kekuatan, Gracia," erang Sandra.


"Seharusnya aku tidak mengajarimu," gumam Sandra. Wanita itu berkali-kali menghela nafas panjang.


"Aku tidak pamer kak. Mereka yang terlebih dahulu menyerang aku, tidak terima dengan kelakuan mereka, aku pun membalasnya," jelas Gracia.


Sandra memijat keningnya yang terasa berat. Wanita itu pun akhirnya terdiam. Gracia yang melihat itu segera berjalan pelan ke arah pintu untuk memasuki rumah.


"Kau mau ke mana!" Teriak Sandra.


"Aku mau menemui Aurora," sahut Gracia.


Sandra hanya memutar bola matanya jengah, ia kembali mendekati Micky yang terlihat menerima telepon.


"Siapa?" Tanya Sandra saat berada di samping — Micky.


"Tuan Rocky," jawab Micky.


Sandra menghentikan pergerakan tangannya, lalu menatap Micky penuh curiga.


"Yap, dia memesan buket mawar merah 20. Masing-masing 100 tangkai bunga mawar merah." Micky segera menjawab tatapan curiga Sandra dengan mimik wajah santai.


Sandra terlihat menganga dengan wajah syok. Kenapa dia harus menerima pelanggan seperti tuan Rocky?


"B-bukankah, dia sudah memesannya tadi pagi?" Tanya Sandra sedikit terbata.


"Dia pria yang begitu menyukai bunga dan begitu rajin memesan bunga di toko kita, seharusnya kita memberikan dia apresiasi atas kegemaran nya memesan bunga di toko kita, sehari 10 kali. Dan … yah, hadiahnya adalah makan malam romantis bersama anda." Cerotos Micky, nada bicara begitu riang diselingi tawa lepas.


Sandra mengidikkan kedua bahunya seakan geli mendengar perkataan terakhir — Micky.


"Satu lagi," sela Micky sambil menatap Sandra dengan penuh arti.


Sandra pun mendadak lemas, ia tahu apa arti tatapan Micky. Dirinya lah' yang harus mengantarkan pesanan pelanggan setianya itu.


"Baiklah, segera siapkan pesanan pria menggelikan itu," ucap Sandra kesal.


Sandra lantas menuju ke arah pintu yang dilalui Garcia. Wanita itu akan meluangkan waktu sejenak dengan putrinya — Aurora.


"Aurora!" Panggilnya, ketika berada di kamar putrinya itu. Kini usia Aurora sudah memasuki 18 bulan. Bayi mungil itu sudah terlihat berdiri dan melangkah pelan.


Penglihatannya pun masih gelap, jadi terkadang baby Aurora sering kali terjatuh ataupun terbentur.


Bayi itu juga tampak begitu gelisah saat hanya kegelapan yang ia lihat. Sebagai seorang ibu, hati Sandra begitu pilu melihat perkembangan putrinya yang terbilang cepat dan aktif, namun tidak dapat melihat warna di sekitarnya.


"Baby!" Panggilnya lagi.


Baby Aurora yang sedang bermain-main dengan Gracia terhenti. Bayi itu terdiam sejenak, seakan mencari tahu letak keberadaan sang mommy.


Sandra terus berseru, saat buah hatinya itu kini berjalan tertatih ke arahnya. Tidak ada yang bisa Sandra lakukan selain menitik air matanya.


Mata indah itu seharusnya sudah bisa melihat, namun karena kekurangan biaya terapis yang begitu mahal, membuat Sandra menyerah.


Biarlah putrinya seperti ini, dirinya akan selalu ada dan melindungi buah hati terkasihnya ini.


"Mom … mom … mom!" Seru Aurora saat sudah mulai mendekat ke arah Sandra.


"Dikit lagi baby, mommy disini," ucap Sandra lirih, mencoba menahan perasaan terluka.


"Mom!" Seru bayi menggemaskan itu saat sudah berada di pelukan sang mommy.


"Yes baby, mommy disini nak," sahut Sandra, memeluk erat tubuh mungil putrinya.


"M-mo … m-mom," racau Aurora.


Sandra membawa salah satu tangan putrinya, membawanya ke wajah lembabnya. Mengajari putrinya itu — untuk mengenali wajahnya dengan meraba.


Sandra memejamkan matanya, saat tangan mungil bocah itu mulai mengikuti arahnya.


Aurora terlihat bahagia, ia terus melakukan apa yang sang mommy ajarkan. Hingga tangan mungil itu kini berubah bentuk menjadi lebih besar.


Kini bayi kecil yang berdiri di hadapan Sandra, berubah menjadi sosok gadis kecil cantik jelita.


Mata Sandra terbuka, ia tersenyum cerah memandangi wajah putrinya yang semakin cantik. Putrinya yang kini berusia 6 tahun.


"Mommy!" Panggil gadis kecil itu dengan nada suara lembut.


Wajahnya begitu sempurna dengan warna rambut yang menyerupai warna rambut ayah begitu juga dengan kulit putih pucatnya.


Siapa yang menduga, di balik wajah Sempurna itu tersimpan kekurangan yang begitu berat.


Sebagian anak seusianya mungkin akan menikmati warna-warni di dunia dengan wajah ceria, namun tidak dengan Aurora yang hanya bisa melihat kegelapan semata.


Gadis kecil cantik yang tidak pernah mengeluh dengan kekurangannya. Ia adalah, gadis kecil yang tangguh, sabar, ceria dan memiliki hati begitu lembut.


Meskipun ia selalu mendapatkan perlakuan semena-mena dari teman sebayanya, Aurora hanya bisa menerima dengan hati yang lapang.


Ia tidak pernah menyalahkan orang yang mengejeknya, karena apa yang di katakan tentang dirinya adalah benar, dia hanya gadis buta.


"Selamat pagi, putri mommy," bisik Sandra. Ia menahan air matanya agar tidak membasih wajah yang kini sedang di raba oleh tangan lembut


putrinya.


"Pagi juga mommy," satu gadis itu dengan wajah ceria.


"Menangislah, mom," ucap Aurora.


"Tidak, mommy tidak menahan tangis sayang," balas Sandra.


Aurora terlihat tersenyum dan jari kecilnya mengarah ke ujung kelopak mata sang — mommy.


"Aku menemukan air mata di sini, mom," ucap Aurora sambil menunjukkan air mata mommynya.


Sandra tidak bisa berkata apa-apa lagi, nyatanya, putrinya itu begitu peka dan cerdas. Entahlah benar atau tidak, tentang yang dikatakan oleh banyak orang, orang buta memiliki mata tersembunyi.


"Waktunya kamu ke sekolah, sayang," ucap Sandra. membantu putrinya bersiap.


Aurora mulai memasuki sekolah dasar, ia diterima di sekolah umum karena kecerdasan anak itu. Aurora mengambil sekolah musik. Gadis kecil itu sangat menyukai biola.


Gadis kecil cantik yang memiliki cita-cita untuk menjadi seniman terkenal, agar kelak bisa membanggakan sang mommy. Juga membuktikan kepada orang lain yang sering menghina, meremehjan dan merendahkannya, kalau ia bisa menjadi terkenal dengan kekurangannya.


Karena sejatinya, kekurangan bukanlah hal yang akan mengurai bakat yang kita miliki dan meraih cita-cita kita.


Anak istimewa bukan yang memiliki kesempurnaan wajah ataupun status sosial, anak istimewa sesungguhnya, disaat dirinya memiliki kekurangan, namun mampu membuktikan kepada semua orang dengan kesuksesan.


Kata-kata itu lah' yang sering Aurora ingat, kata-kata indah dari sang mommy.


"Kapan aku memiliki biola sendiri, mom?"


Mendengar pertanyaan putrinya, Sandra menghentikan langkahnya. Ia menarik sejenak nafas. sudah berulang kali sang putri menginginkan benda tersebut.


"Tidak sekarang sayang," sahut Sandra.


Aurora pun mengangguk mengerti, gadis kecil itu sudah memahami keadaan sang mommy.


"Selamat pagi semua," sapa Garcia.


Kini gadis itu sudah mulai tumbuh menjadi gadis mandiri dan dewasa. Gadis yang kini berusia 23 tahun itu sedang bersiap untuk bekerja.


5 tahun sudah berlalu. Sandra, Gracia dan Aurora kini tinggal di sebuah negara lain. Jauh dari negara asal Sandra.


Mereka terpaksa meninggalkan desa tempat nenek Grace, karena hidup putrinya terancam. Bukan itu saja, di tahun kedua tinggal di desa, berbagai cobaan datang kepada kehidupannya.


Di mulai ia dituduh menjadi simpanan pria yang menjadi langganannya, hingga ia mulai dibenci oleh penduduk desa. Toko bunga yang hangus terbakar, membuat Micky kehilangan nyawa.


Belum lagi teror yang membahayakan putrinya dan rasa trauma yang Sandra harus hindari. Hingga sampai saat ini, rasa trauma juga bersalah masih melekat di dalam benak Sandra.


Wanita itu tinggal di sebuah apartemen sederhana di pusat kota besar di Paris. Sandra bekerja di sebuah restoran pada pagi hari dan berlanjut bekerja sebagai pelayan di klub.


Sandra mengambil pekerjaan paruh waktu untuk memenuhi kebutuhan putrinya.


Apalagi, Aurora harus melakukan terapi rutin dan Sandra harus membayar biaya sekolah musik, putrinya yang lumayan mahal.


Sandra tidak pernah mengeluh atau melarang sang putri untuk melakukan hal di luar kemampuannya. Asalkan putrinya bahagia, Sandra rela banting tulang bekerja demi membahagiakan putri tercintanya.


…..


Sementara di belahan bumi lainnya.


Kini keluarga Louis sedang dilanda kesedihan teramat dalam. Putri Kendrick dan Stella kini dalam keadaan kritis.


Meskipun kali ini keturunan Louis terlahir normal dan sempurna, namun keturunannya kini dalam keadaan sekarat.


Keturunan Louis itu divonis mengidap penyakit leukimia. Membuat putri Kendrick dan Stella tumbuh dengan kondisi fisik lemah. Putrinya itu hanya menghabiskan waktu di dalam rumah dan beristirahat.


Keadaan yang membuat keluarga Louis dan Wingston berduka dan khawatir.