
"Tidak …!" Sosok seorang ibu kini berteriak histeris, mendapati kondisi putrinya sudah tiada.
"Putriku belum meninggal, kalian semua pembohong, dia hanya sedang tertidur. Putri tercantikku, hanya tertidur." Selena begitu terlihat kacau dengan suara raungan terdengar hingga di luar kamar pasien.
Wanita itu, memeluk tubuh dingin putrinya dan menangis histeris. Menolak kenyataan akan kehilangan buah hatinya itu.
"Dia masih hidup, dia masih hidup. Putriku, belum meninggal!" Stella meracau dengan tangisan pilu yang begitu kehilangan.
Kendrick hanya bisa terduduk lesu di sudut ruangan, memandangi istri dan putrinya yang kini telah pergi untuk selamanya.
Tubuh ringkih nan dingin itu terlihat begitu tidak berdaya, wajah pucat tanpa aliran darah terlihat jelas. Kendrick hanya bisa tersendak-sendak dalam tangisan pilu.
Kondisi pria itu terlihat begitu kacau dan berantakan. Kendrick terlihat seperti pria gelandang, yang tidak memiliki apapun tersisa.
Ini semua kesalahannya yang tidak mampu melakukan apapun, hingga sang putri harus mendapatkan perawatan medis dalam golongan biasa dan pengobatan mewah pun terpaksa diberhentikan.
Karena keterbatasan biaya yang harus ditanggung pria itu, jumlahnya pun tidak sedikit, ia harus menggadaikan semua barang-barang miliknya, hanya untuk satu kali pengobatan atau terapi.
Harapan yang mereka inginkan, hingga membuat kehancuran kini, hanya menjadi sia-siakan.
Saat menerima penolakan kasar dari Sandra, akan keinginannya untuk menjadikan Aurora sebagai pendonor.
Keduanya bahkan harus terusir dengan kasar dan dilemparkan keluar dari area kediaman, mantan kekasihnya itu.
Stella dan Kendrick pun kembali dengan perasaan bercampur aduk, namun saat memasuki kamar pasien yang biasa, putrinya tempati, keduanya terkejut, pasalnya sang putri tidak terdapat di dalam sana.
Mereka lebih terkejut, mendengar informasi dari dokter yang biasa menangani putri mereka.
Sang dokter mengatakan, terpaksa harus memberhentikan pengobatan khusus untuk putrinya, itu karena biaya yang terdahulu belum terlunasi.
Dan tidak lama kemudian, mereka harus di tampar oleh kenyataan, kalau putri semata wayang pasangan itu kini sudah tiada.
…..
Kendrick, berjalan mendekati istrinya yang masih menangis histeris. pria itu mencoba menyentuh istrinya itu. Namun segera ditepis, oleh Stella dan mendapat makian.
"Jangan menyentuhku, ini semua salahmu yang begitu pengecut dan tidak becus untuk melakukan semuanya. Hingga kini, aku harus kehilangan putriku." Selena berkata dengan sendu.
Air mata tidak hentinya mengalir di dari kedua matanya. Stella masih menatap tajam suaminya itu yang sama dengan dirinya, begitu kehilangan.
"Tenanglah, sayang. Semuanya sudah takdir putri kita," sela Kendrick dengan wajah begitu terlihat sedih.
Stella menolehkan wajahnya ke samping, menatap Kendrick dengan tajam.
"Ini semua karena wanita itu. Hingga aku harus kehilangan putriku, aku bersumpah, akan membuat kehidupan mereka hancur. Semoga arwah putri tidak tenang, hingga aku bisa membalas semuanya. Stella kembali meraung dan mengatakan sumpah, yang akan membuat putri menderitanya di alam lain.
Kendrick hanya bisa diam, ia juga kini memeluk istrinya yang masih begitu terpukul dan kehilangan.
Proses pun terus berjalan, sampai akhirnya tubuh ringkih dan lemah putri mereka kini, kembali ke dasar tanah.
Stella dan Kendrick, meratapi kuburan putri mereka, dengan wajah begitu berduka.
Tidak ada satupun, keluarga yang mau membantu mereka untuk bisa membiayai pengobatan putrinya.
Semuanya telah berubah bagi keduanya. Entah, setelah ini nasib mereka harus berubah seperti apa.
Sedangkan, tuan Winston sendiri kini dalam kondisi begitu memperhatikan. Pria yang dahulu terlihat gagah dan arogan itu, harus kehilangan kedua kakinya.
Dan kini ia harus meratapi nasibnya di sebuah yayasan panti jompo. Pria yang dahulu begitu berwibawa, tidak percaya nasibnya akan berakhir seperti ini. Beruntung, seseorang yang dahulu adalah bawahannya, bersedia membiayai dirinya di panti jompo tersebut.
Membuat perasaan bersalah dalam diri pria itu semakin besar. Mungkin ini adalah sebuah hukuman untuknya, menghabiskan hari-hari tuannya dengan penyesalan.
Sedangkan nyonya Melinda, kini berada di rumah sakit jiwa. Wanita itu mengalami depresi begitu berat, hingga ia harus mendapatkan penanganan dari dokter ahli kejiwaan.
Wanita yang begitu anggun dan sombong itu, kini terlihat begitu menyedihkan. Terkadang ia akan terisak juga tertawa.
Bahkan ia akan mengamuk dan mencoba menyakiti seseorang yang dianggap sudah mengambil semua kehidupan mewahnya.
…..
Lain halnya dengan kehidupan baru yang kini Sandra dapatkan dari hasil buah kesabaran juga perjuangannya.
Wanita itu tidak menyangka, akan mendapatkan kebahagiaan seperti ini. Dahulu ia hanya menginginkan kebahagiaan putrinya, siapa yang menebak, takdirnya kini berkata lain.
Ia mendapat sebuah kebahagiaan dari orang-orang yang begitu mencintainya.
Masa-masa sulit yang terdahulu kini, menjadi kebahagiaan sempurna. Dicintai putrinya dan kini mendapatkan cinta dari sosok pria yang menerima segala kekurangan juga masa lalu yang menyedihkan.
Pasangan yang baru saja mengikrarkan hubungan mereka, kini saling berciuman setelah saling menukar cincin.
Pancaran kebahagiaan begitu jelas terlihat di raut wajah keduanya, terlebih seorang Austin Cooper, yang sudah mengimpikan hubungi indah ini.
"Terimakasih, kau sudah bersedia menjadi pasanganku untuk selamanya," Austin berbisik di atas wajah istrinya yang matanya sedang terpejam.
Austin memandangi wajah istrinya yang terlihat begitu cantik dengan riasan tipis juga gaun sempurna yang melekat di tubuh ramping sang istri.
Sandra membuka matanya menatap lekat netra grey milik suaminya itu dan senyum yang begitu indah ia berikan kepada pria terbaiknya.
"Tidak, seharusnya aku yang begitu beruntung bisa memilikimu," balas Sandra sambil memainkan hidungnya di hidung Austin.
"Tidak semua orang mau menerima masa lalu menyedih pasangannya, namun kau begitu lapang, aku begitu beruntung, bisa dicintai pria hebat sepertimu. Aku juga harus waspada dengan ketampananmu ini, pasti begitu banyak yang mendambakanmu." Sandra mengaitkan kedua tangannya kini di leher suaminya dan merapatkan tubuh, sambil berbisik juga memasang wajah waspadai.
Mendengar ungkapan wanitanya, Austin tidak tahan untuk membalas pelukan istrinya itu.
Austin bahkan berulang kali mencium bibir lembut istrinya dan memindai Sandra dengan tatapan dalam penuh cinta.
"Aku mencintaimu," bisik Austin lembut. Mampu membuat seluruh tubuh Sandra meremang dan sesuai berdesir di dalam dadanya, perasaan hangat yang begitu menyenangkan.
"Aku juga mencintaimu," balas Sandra yang segera menempelkan kening keduanya. Wajahnya juga terlihat malu.
Austin tidak dapat menyembunyikan perasaan bahagianya, rasa cinta yang selalu setia menunggu Sandra, kini terbalaskan. Austin pun kembali menautkan bibir mereka dengan begitu lembut.
Suasana penuh kebahagiaan dan keromantisan terlihat jelas pesta pernikahan, Austin Cooper juga Sandra Matthew.
Aurora juga terlihat begitu bahagia bersama saudaranya. Gadis itu terus memasang wajah bahagia juga tawa ceria.
Kehidupan sulit ibu dan anak itu, kini berganti dengan kebahagiaan yang selalu mereka impikan.
Apalagi sosok gadis mungil itu, yang mendambakan keluarga sempurna, memiliki mommy, daddy, dan saudara. Juga hari-hari yang di selimuti kehangatan keluarga lengkap.
Aurora menuruti nasehat sang mommy, untuk tidak memikirkan lagi kehidupan sulit dan menyedihkan mereka. Sekarang Aurora harus memikirkan masa depannya agar tetap mendapat kebahagiaan.
mungkin, 2 bab lagi menuju tamat yah.
terimakasih, sudah setia membaca karya receh Uma☺️.