Mommy, My Angel

Mommy, My Angel
bonus bab



Flashback on


Sosok gadis bertubuh mungil, kini duduk


seorang diri di sebuah kursi taman yang tersedia di salah satu rumah sakit.


Punggung gadis berusia 10 tahun itu, tampak, bergetar hebat dan terdengar suara isakan lirih yang mampu menyayat perasaan yang mendengar.


Begitu juga, sosok pria dewasa yang sejak tadi memperhatikan gadis kecil itu sedih.


Pria yang sejak tadi berdiri di balik pohon, ia kebetulan berada di rumah sakit untuk menjaga istrinya yang sedang melakukan perawatan serius.


Melihat gadis yang berjalan seorang diri ke arah taman dengan mengandalkan sebuah tongkat, ia terus mengikuti, memantau dari jarak 5 langkah.


Gadis yang ia ketahui dalam kebutaan, namun mampu mengetahui arah menuju taman yang ada di belakang rumah sakit.


Pria itu ikut sesak, mendengar ucapan lirih gadis tersebut, seketika rasa penyesalan juga bersalah kini menyentil hati yang paling dalam.


Sudah beberapa bulan belakangan ia memikirkan semua kesalahannya, terutama mengabaikan sosok yang dahulu ia cintai, hingga menolak kehadiran darah dagingnya sendiri.


Mungkin saatnya ia memberanikan diri untuk mendekati darah dagingnya yang sedang membutuhkan sandaran itu.


mungkin ini lah, saatnya ia melakukannya, memberikan pelukan seorang ayah kepada putri biologisnya itu.


Kendrick kini berperang dengan batinnya, antara mengabaikan putrinya atau memberikan figur seorang ayah yang seharusnya ia lakukan sejak dulu.


Hingga kini kekuatan batin seorang ayah membuatnya kalah dengan ego-nya. Kendrick berusaha untuk memberanikan diri untuk mendekati Aurora, yang masih terlihat bersedih.


Pria dengan penampilan biasa dan tidak lagi terlihat sosok yang penuh kharisma dan kemewahan. Kini ia hanya mengenakan pakaian biasa juga celana kain yang warnanya sudah lusuh.


Demi bertahan hidup dengan istrinya, Stella, Kendrick bekerja sebagai  kuli bangunan di beberapa pembangunan infrastruktur yang ada di kota-nya.


Kendrick terpaksa menahan rasa malu, saat bertemu dengan mantan pegawainya yang dulu bekerja dengannya untuk sebuah proyek, pembangunan. Semua ia lakukan semata-mata untuk bertahan hidup di negara yang begitu sangat keras. juga untuk pengobatan istrinya yang mengalami depresi, setelah kehilangan putri mereka.


Kendrick pun merenung semua kejadian yang ia alami. hati dan pikirannya pun tersadar, mungkin semua ini timbal balik dari perbuatan yang  ia lakukan dahulu.


Kini pria itu semakin dekat, dengan Aurora yang masih memunggunginya. Langkahnya untuk lebih dekat begitu berat, seakan sesuatu menimpa kedua kakinya itu.


Juga suaranya begitu sulit untuk dikeluarkan, hanya sekedar menyapa putri biologisnya.


Wajahnya pun semakin tegang dengan dada berdebar-debar, entah mengapa ia begitu takut untuk lebih dekat dengan Aurora.


Ia merasa malu dan tidak pantas, berada di samping putrinya itu.


"Anda membutuhkan sesuatu tuan?" Kendrick mendadak tegang dengan tubuh membatu, mendengar teguran — Aurora.


"Anda bisa duduk di sebelah saya," lanjut Aurora dengan wajah yang sembab, masih terlihat sisa-sisa tangisan di wajah cantik itu.


Kendrick masih diam, ia berpikir, darimana Aurora mengetahui dia ada di sekitarnya?


Aku memang tidak bisa melihat apapun, namun kedua telinga juga penciumanku berfungsi dengan begitu peka." Ucap Aurora, mengerti dengan keadaan yang terlihat membingungkan.


"Aku juga bisa merasakan kehadiran seseorang di sekitarku," sambung Aurora sambil mengusap kedua matanya itu.


Kendrick terdiam, ia masih membeku di tempatnya. Bingung harus berbuat apa.


"Apa aku boleh duduk di sini?" Akhirnya Kendrick memberanikan diri untuk mendekati putrinya dan duduk di samping, Aurora.


Giliran Aurora yang tertegun, mendengar suara pria di sampingnya, yang masih ia ingat benar dengan suara pria ini.


Tiba-tiba mimik wajah gadis berwajah cantik itu ketakutan dan ia sedikit menggeser tubuhnya.


Aurora hendak berdiri dan melangkah, namun naas, ia tersandung dan hampir terjatuh, beruntung, Kendrick segera menahan kedua pundak putrinya itu.


"Lepaskan!" Pinta gadis kecil itu sambil melepaskan kedua tangan Kendrick yang berada di pundak.


Kendrick menerbitkan senyum miris, mendapat penolakan dari putrinya sendiri.


"Izinkan aku mengatakan sesuatu kepadamu." Kendrick kini mengutarakan tujuannya untuk mendekati putrinya itu.


"Maaf, aku tidak bisa," tolak Aurora yang kembali ia melangkah, namun lagi-lagi kakinya terasa lemas ketakutan yang membuatnya kini merosot di atas tanah berumput hijau itu.


"Jangan menyentuhku!" Sentak Aurora yang menolak, saat ia merasakan Kendrick kini menggendongnya dan kembali mendudukkannya di kursi taman. 


Memandangi wajah putrinya yang dulu ia abaikan begitukah saja. Kendrick mencoba menyentuh telapak tangan Aurora yang mulai tenang itu.


Aurora tidak menolak, namun pandangan gelapnya kini terarah ke samping. Kendrick hanya bisa menerbitkan senyum pahit.


"Maaf, atas semua perbuatan yang dahulu aku lakukan kepada kalian, maaf sudah mengabaikan dan meragukan keberadaanmu. Aku benar-benar minta maaf," suara Kendrick begitu terdengar tercekat tertahan, menahan rasa perih di dalam dadanya itu.


Ia begitu menghangat bisa berdekatan dengan putrinya ini. Meskipun ia harus mendapat penolakan dari — Aurora.


"Aku sudah berdosa kepada kalian, hingga kini aku ikhlas menerima balasan atas semua kesalahan yang telah membuatmu menderita," lanjut Kendrick. Pria itu juga meneteskan air matanya dan Aurora merasakan itu, saat telapak tangannya terasa tetesan air mata pria di depannya.


"Maaf, maaf, maaf atas semua kesalahan kami kepada kalian, aku berjanji akan melakukan apapun untuk menebus semua kesalahanku, meskipun aku harus mengorbankan nyawa untuk menebus dosa-dosaku." Kendrick begitu terlihat melankolis di hadapan putrinya.


Aurora hanya bisa terdiam, nyatanya ia juga ikut menitikkan air mata. Mengingat pengorbanan juga perjuangan sang mommy untuk membesarkan dirinya.


"Anda seharusnya meminta maaf kepada wanita yang sudah memperjuangkan aku, hingga sampai ketitik ini." Aurora begitu tegas dalam mengutarakan kekecewaan, kepada pria yang merupakan ayah biologisnya. Yang seharusnya ia benci, namun hati seorang anak tidak dapat membohongi, kalau dia juga begitu menyayangi pria ini.


Sejahat-jahatnya seorang ayah, seorang anak tidak akan begitu saja membenci, karena darah lebih kental daripada air. Dan ia kini merasakan itu. 


Kerinduan kepada ayah biologisnya masih ada dan mengalahkan benih kebencian itu.


Kendrick menundukkan kepalanya dan ia tersenyum getir. Yang dikatakan putrinya benar, seharusnya ia meminta maaf kepada Sandra, atas kehidupan sulit yang sudah ia berikan kepada wanita itu.


"Aku tidak pernah membenci anda, namun rasa kecewa itu mampu membuatku menyimpan kerinduan, aku bersyukur dan berterimakasih kepada anda, karena anda berperan penting, hingga aku bisa lahir di rahim seorang wanita hebat, seperti mommy." Aurora menghentikan ucapnya sejenak sambil mengusap air matanya. 


Kendrick pun menahan rasa sesak itu di dalam dadanya, yang tenyata begitu sakit.


Ia terus menatap wajah putrinya yang terlihat semakin sembab, juga suara yang serak dan sengau.


"Terima Kasih," ucap Aurora lirih.


Kendrick pun tidak bisa menahan dirinya untuk tidak memeluk putrinya ini, pria itu akhirnya mengeluarkan suara isakan juga tangis sesenggukan, mengeluarkan perasaan perih di rongga dada.


Aurora pun membalas pelukan sang daddy, bagaimanapun pria ini adalah daddy-nya, dan tidak sepantasnya ia membenci seorang ayah yang memiliki peran penting, hingga ia berada di muka bumi.


Kedua anak dan ayah itu, masih saling berpelukan, tanpa mereka sadari, sosok wanita kini menatap keduanya dengan marah.


Salah satu tangannya bahkan kini menyembunyikan gunting yang ia temukan di ruangan dokter.


Tatapannya begitu penuh kedengkian juga dendam, ia yang sedang mencoba keluar dari rumah sakit yang membuatnya semakin stres, tanpa sadar melihat Aurora dan Kendrick, suaminya.


Wanita itu pun, mencari sesuatu untuk digunakan agar dendam juga sakit hatinya terbalaskan.


Ia yang berada di lantai dua kini, berjalan untuk mendekati Aurora dan Kendrick.


__________


"Apa harapan kamu, nak?" Kendrick kini duduk di samping putrinya sambil merangkul penuh kasih sayang Aurora. Perasaannya begitu lega, bisa memeluk putrinya.


"Aku hanya mengharapkan bisa melihat, meskipun aku hanya di berikan waktu satu menit saja, aku ingin melihatnya," sahut Aurora dengan senyum miris terlihat di wajah cantik, gadis itu.


"Siapa yang ingin kau lihat? Dalam waktu sesingkat itu?" Tanya Kendrick kembali dan kini mengubah posisinya berada di depan — Aurora.


"Mommy, aku hanya ingin melihat wajah mommy. Wanita tangguh juga mandiri yang menjadi inspirasiku." Aurora berkata dengan wajah bahagia penuh harap. 


Menginginkan penglihatan meskipun hanya diberi waktu satu menit, untuk melihat sosok wanita terhebatnya itu.


Kendrick terdiam, perasaannya tersentil, dengan ucapan putrinya ini. Tiba-tiba wajah pria itu terkejut, saat melihat Stella kini berada di belakang Aurora dengan mencoba mengayunkan gunting ke arah putrinya itu.


"Aurora, awas!" Pekik Kendrick dan mendorong ke samping putrinya, dan kini ia menjadi tameng untuk melindungi Aurora dari perbuatan istrinya sendiri.


Gunting itu pun kini mengenai dada Kendrick, tepat di jantungnya. Stella menjadi syok dengan wajah tidak percaya, tangannya yang di penuhi darah kini bergetar hebat dengan wajah ketakutan.


Aurora yang terkejut dan mendengar suara Kendrick yang mencoba melindunginya dari bahaya.


Ia merasa kepala Kendrick kini tepat di kakinya. Segera Aurora membantu Kendrick.


Tidak lama terlihat beberapa perawat mendekat juga Gracia yang sejak tadi mencari keberadaan Aurora.


Gracia begitu terkejut melihat pemandangan memilukan di hadapannya itu.


Seorang ayah yang kini tersungkur di hadapan putrinya yang terus meraung.