
"Mommy, tidak ingin dia berada di lingkungan Mansion, Loius." Seorang wanita anggun dengan penampilan berkelas, berkata kepada — putranya yang masih terdiam, sambil memandangi sosok bayi mungil di inkubator dengan beberapa alat medis terlihat menempel di bagian tubuh tertentu.
Kendrick Louis menatap nanar darah dagingnya itu dengan kedua mata berkaca-kaca. ia menoleh sejenak ke arah sang — mommy. Saat melayangkan perkataan titah, yang begitu membuatnya tidak berdaya sebagai seorang — ayah.
"Tapi, mom," sela Kendrick dengan wajah sendu juga, tatapan berbinar kesedihan.
Nyonya besar Louis hanya menampilkan wajah arogannya dan enggan menatap sang cucu yang, sedang berjuang dengan maut.
"Mommy, tidak akan mengakuinya. Dia, tidak pantas berada di tengah-tengah keluarga sempurna kita," ucap nyonya Louis dengan segala sikap sombongnya.
Kendrick hanya bisa mengatupkan bibir rapat, ia hanya bisa menahan gejolak emosi untuk melawan sang — mommy, yang terkenal tidak akan mentoleransi segala bentuk keburukan juga derajat rendah.
"Dia anakku, mom! Darah dagingku!" Seru Kendrick dengan nada lirih yang seakan tenggorokannya terhimpit sesuatu yang begitu menyakitkan.
Ia tidak menduga, kalau sosok wanita yang merupakan ibunya, begitu kejam juga egois.
"Kau, bisa menyimpannya di salah satu panti asuhan. Atau kau bisa memberikan kepada orang lain dan memberikan mereka uang. Mudah bukan?" Pungkas nyonya Louis dengan arogannya.
"Mom!" Sentak Kendrick dengan wajah marah.
"Dia cucumu,"
"Dia bukan, cucuku," hardik nyonya Louis.
"Aku, tidak akan pernah mengakuinya. Dia, pantas menjadi keturunan dari salah satu hewan,"
"Mommy!" Bentak Kendrick tidak terima, darah dagingnya di hina seperti itu.
Nyonya Louis hanya memasang wajah datar juga tatapan dingin, tanpa menghiraukan ekspresi sang putra, ia segera berjalan keluar dari ruangan tersebut.
Kedua orang tua Cindy, hanya bisa membeku di depan pintu, saat mendengar perkataan besan mereka yang begitu — arogan.
Bagaimanapun mereka harus, membuat posisi putri mereka aman, agar bisa selalu menjadi, bagian dari anggota keluarga — terhormat seperti keluarga, besar Louis.
"Kami, setuju dengan rencana anda, nyonya," sela ibu Cindy.
Nyonya Louis hanya melirik mereka sebentar, dan melanjutkan langkah.
"Kami, juga tidak akan terima bayi itu,"
"Kami, akan berusaha membuangnya," lanjut ibu Cindy dengan ekspresi yakin.
"Hm! Lakukan malam ini. Sebelum, semuanya tahu dan menjadi bahan, gunjingan buruk untuk keluargaku," sahut, nyonya Louis kemudian melanjutkan langkahnya dengan wajah — anggun.
"Aku juga menolak, mendapatkan cucu pertama sepertinya," timpal pria setengah baya yang — merupakan ayah kandung Cindy.
"Kau benar, sayang. Bayi itu akan membuat kita malu," sahut mommy, Cindy.
"Kita, harus membuangnya segera. Sebelum, Cindy menyadarinya," timpal daddy — Cindy.
"Hum! Kita tunggu menantu, kita keluar." Mommy Cindy, mengiyakan rencana sang suami.
Sementara, Kendrick masih menatap sendu kepada bayinya yang terlahir lebih awal dari perkiraan dokter. Cindy seharusnya menunggu dua bulan lagi. Namun, kecelakaan naas di dalam kamar mandi, membuat bayi, wanita itu segera dikeluarkan, agar tidak berakibat fatal kepada, keselamatan sang istri.
Entah, nasib buruk apa yang menimpanya, atau mungkin ini adalah kutukan untuknya, karena membuat wanita masa lalunya menderita juga tidak mengakui darah dagingnya sendiri, dari wanita masa lalu.
Bayi yang dilahirkan sang istri dalam kondisi begitu memilukan dan juga membuatnya terluka, saat mengetahui, kondisi sang bayi yang terlahir sebagai — putra itu, dalam hidup juga mati.
Belum lagi, kondisi fisik bayi laki-lakinya yang jauh dari kata sempurna. Yang begitu membuat perasaan, Kendrick bertambah pilu.
"Maafkan, aku," ucapnya dengan halus. Masih menatap putranya dengan iringan air mata.
"Mungkin, ini hukuman untukku, karena sudah membuatmu kesulitan juga … menderita. Aku, berharap, kau masih memaafkanku." Pria dengan tampilan berantakan itu, begitu terlihat kacau.
Ia merasa seperti, pria pecundang yang terus-menerus dikendalikan oleh kedua orang tuanya. Ia merasa hidupnya tidak lah' berguna baginya. Seakan hidup dan nyawanya berada dalam tekanan, kedua orang tua egois.
Kendrick menghapus air matanya dan berniat, untuk meninggalkan tempat perawatan, putranya.
Tapi… pintu ruangan itu terbuka paksa, ia bisa melihat wajah pucat istrinya yang duduk di kursi roda, tersenyum ke arahnya.
Kendrick kembali merasakan kepiluan yang begitu menyakitkan, saat melihat wajah pucat istrinya dengan senyuman indah.
"S-sayang!" Serunya dengan nada bergetar menahan, sesak di dada.
Cindy memerintahkan, perawat wanita yang mendorongnya untuk lebih dekat kepada sang suami juga — bayi yang dilahirkannya secara sesar itu, dengan senyum bahagia.
"Kau di sini rupanya," timpal Cindy. Wajahnya masih terlihat pucat dan tubuh masih lemah seakan menahan rasa sakit.
"Kenapa, kau berada di sini sayang," sela Kendrick.
Wajah tampannya terlihat panik juga was-was akan reaksi sang istri, saat melihat kondisi putra mereka.
Cindy mengerutkan dahinya heran dengan tatapan bingung.
"Aku ingin, melihat wajah tampan putraku," lanjut wanita itu dengan bibir mencebik kesal.
"Aku yakin, dia begitu sangat tampan. Karena dia terlahir, dari rahim seorang wanita sempurna seperti ku. Juga, merupakan keturunan sempurna, sepertimu," ucap Cindy dengan antusias juga wajah bangga.
Kendrick hanya bisa terpaku di tempatnya dengan mata berkaca-kaca, ia tidak sanggup melihat kebahagiaan istrinya menjadi kesedihan.
Sementara perawat di belakangnya hanya bisa tersenyum sinis dalam hati.
"Dia begitu bersemangat melihat, bayi buruk rupanya," monolog perawat itu.
"Cepat, bawa kesini bayiku!" Titah Cindy. Suaranya begitu kasar juga sombong.
Kendrick menggeleng samar, kepada sang perawat. Ia seakan memberikan perintah untuk tidak menyerahkan bayi mereka.
"Cepatlah!" Bentak Cindy dengan nada kasar.
Ia juga menoleh ke belakang sambil memperlihatkan wajah arogannya.
"Kau digaji untuk menuruti perintahku, apa kau tahu itu," sentak Cindy penuh penekanan.
"Sayang!" Seru Kendrick tiba-tiba.
Cindy segera melemparkan pandangan ke arah suaminya dengan dahi mengkerut bingung juga penuh curiga.
"Sebaiknya, kau melihatnya nanti saja. Setelah, kondisimu membaik," ujar Kendrick. Mencoba untuk bersikap biasa saja.
Agar istrinya tidak curiga dengan… gelagatnya yang menyembunyikan fakta sesungguhnya soal – putra mereka.
"Ada apa? Apa, kau menyembunyikan sesuatu dariku?" Tanya Cindy diiringi tatapan penuh — curiga.
Kendrick tidak menjawab, ia hanya membuang pandangannya ke samping. Menyembunyikan kesedihannya.
"Ada apa?" Tanya Cindy dengan begitu penasaran. Perasaannya pun tiba-tiba begitu tidak, nyaman.
"Apa yang kalian sembunyikan dariku?" Tanyanya lagi.
Kali ini ia mendorong sendiri kursi rodanya dengan wajah panik dan ketakutan.
"Sayang!" Tegur Kendrick dan berusaha menahan sang istri untuk tidak mendekat.
"Lepaskan! Biar aku melihatnya," pekik Cindy.
Wanita itu berusaha menyingkirkan suaminya dengan tubuh lemah. Ia begitu penasaran dengan keadaan putranya itu.
"Menyingkirlah!" Bentaknya dan berhasil mendorong suaminya menjauh dari hadapannya.
Kini Cindy mendorong kursi rodanya menghadap kaca inkubator di depannya.
Seketika tatapannya melotot sempurna dengan wajah pias. Tubuhnya mendadak tegang dengan mulut terbuka sempurna.
Jantungnya pun berdetak kencang dengan tubuh tiba-tiba bergetar saat ingin menyentuh kaca di depannya.
Mengusap kaca tersebut, berharap pandangan sedang keliru. Namun,. Berulang kali ia mengusap kaca itu dengan kasar, tetap saja wajah putranya tetap sama.
Seluruh tubuh mulai lemas, kakinya pun tidak dapat digerakkan. Air mata dengan wajah shock begitu nampak terlihat.
Antara tidak percaya dan terpukul atas kondisi fisik putranya. Wanita itu tiba-tiba bereaksi berlebihan.
Ia menggeleng kasar dan memegang kedua sisi kepalanya, menarik rambutnya dan terus berteriak — histeris.
"Tidak!
"Ini tidak mungkin!"
"D-dia … d-dia … bukan putraku, moster itu bukan putraku." Cindy bereaksi berlebihan dengan teriakan histeris seakan mengalami penyakit kejiwaan.
"Dia bukan bayiku!" Pekik wanita itu sambil memukul-mukul kaca inkubator tersebut.
"Dia bukan bayiku. Bayiku, pasti sangat tampan. Bukan."
"Dia, monster. Aku bukan ibu dari monster sialan ini!"
Kendrick yang melihat reaksi istrinya hanya bisa terduduk lemas dengan tubuh bersandar di dinding.
Begitu pahit kenyataan yang mereka alami. Mendapatkan keturunan dengan mengalami kecacatan bawaan lahir.
Putra mereka didiagnosa mengalami kecacatan, Down syndrome, bibir bayi mereka mengalami gejala, bibir sumbing dan kedua kaki bayi mengalami kelainan, clubfoot, dimana kedua pergelangan kaki bayi itu berbentuk tidak sempurna. Ditambah kondisi jantung bayi mereka berdetak lemah.
Kendrick hanya bisa menangisi nasib putranya. Ia begitu terpukul dan juga merasa tidak sempurna. Ia mengabaikan sang istri yang terus berteriak histeris dan berakhir jatuh pingsan.