Mommy, My Angel

Mommy, My Angel
bab 16



Sebuah mobil taksi berhenti tepat di depan pagar tinggi menjulang juga kokoh. pagar yang dilengkapi kecanggihan teknologi itu, melindungi Mansion mewah juga megah di dalamnya


Mansion mewah dengan cat warna putih gading dengan gaya Eropa klasik itu, terlihat begitu mewah dan elegan.


Seorang wanita dengan tampilan lusuh nya turun dari taksi tersebut, dengan bayi berusia 1 bulan berada di gendongannya.


"Terimakasih!" Ucapnya saat memberikan ongkos taksi dengan beberapa lebar dollar.


Kini wanita itu berdiri di depan pagar tinggi menjulang dengan kepala mendongak sedikit menatap ujung pagar di depannya.


Dengan wajah kusut juga penampilan lusuh, mantel tebal yang ia gunakan pun terdapat bekas sobekan akibat benda tajam. Bekas cairan merah masih terlihat di lengan mantelnya.


Wanita itu seakan cuek dengan penampilannya sekarang. Niat ingin menyerahkan putrinya, bukan untuk mendapatkan perhatian dengan memamerkan penampilan mencolok.


Tatapan wanita itu menerawang ke depan, di mana ingatannya kembali ke 7 bulan yang lalu.


Dimana ia harus menerima kenyataan pahit juga terluka dalam akibat — pengkhianat juga perbuatan diskriminasi mantan kekasihnya.


Ia dikhianati, di cemoohan, di gunjing dan dipermalukan. Bayang-bayang, kejadian 7 bulan yang lalu kini menari-nari di ingatan — Sandra.


Tiba-tiba rasa sesak itu menyeruak dan membuat air mata kini kembali mengalir. Sungguh, ini begitu menyakitkan. Luka lama kini kembali menganga tanpa setetes darah, namun rasa sakitnya mengalahkan luka robekan akibat benda tajam.


Belum lagi menahan rasa sesak di tenggorokan hingga turun ke dada, sungguh rasanya tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.


Sandra menarik nafas dalam-dalam, ingin rasanya Sandra menangis meraung di sana, tapi ia harus menahan segala gejolak emosi di dalam dadanya sekarang.


Sandra harus mengenyampingkan ego-nya demi — masa depan putrinya, ia harus menghadapi orang-orang di masa lalunya sekarang.


Sandra harus bisa mengontrol perasaannya juga amarahnya saat menghadapi — orang-orang masa lalunya itu.


Ia harus berjuang untuk tidak mengeluarkan amarahnya, Sandra bahkan rela berlutut ataupun bersujud di hadapan mereka demi sang putri. Demi masa depan cerah juga kehidupan bahagia putrinya.


"Aku pasti bisa," monolognya saat membuang nafas secara perlahan.


Ditatapnya sekali lagi bangunan megah di dalam sana melalui celah-celah pagar besi yang terdapat lapisan perak murni.


"Ayo nak! Kita pasti bisa menghadapinya, demi kehidupan normalmu juga kebahagiaanmu," bisik Sandra kepada bayinya yang ia peluk dengan erat. Cuaca dingin juga salju yang mulai berguguran di kota itu membuat Sandra membungkus sang dengan tiga lapis pakaian juga sebuah selimut bayi berbahan seadanya yang terpenting bagi Sandra, putrinya terhindar dari cuaca dingin.


Sandra sendiri tidak memperdulikan keadaannya yang wajah lusuhnya mulai memucat kedinginan.


Lama ia berdiri di depan pagar besi menjulang itu, untuk menunggu seseorang membuka pagar untuknya.


Berulangkali Sandra memencet sebuah alat di sana juga memperlihatkan wajah yang tampak lusuh.


Beruntung, si kecil Aurora begitu tenang berada di gendongan sang mommy.


Tatapan Sandra menelisik kiri dan kanan, ia juga terkadang mengintip kedalam, berharap seseorang muncul dan mempersilahkan dirinya masuk.


Cuaca pun semakin dingin, membuat Sandra mulai menggigil samar. Salju pun mulai turun bagaikan hujan deras.


Sandra yang malang hanya mengkhawatirkan bayinya, ia bahkan membuka mantelnya dan membungkuskan ke tubuh putrinya.


Wanita itu masih setia menunggu di depan pagar tinggi itu dengan sabar sambil menahan rasa dingin yang kini menusuk seluruh tulang-tulangnya.


……


1 jam sudah Sandra menunggu di sana. Ia kini berjongkok di sudut pagar, di mana terdapat sebuah patung binatang buas raksasa. Sandra menyembunyikan dirinya disana, melindungi bayinya dari salju. Ia juga kini terlihat semakin kedinginan.


Sandra berusaha menahan rasa dingin itu dengan memeluk sang putri yang baru saja ia beri asi.


Tidak lama kemudian, pagar kokoh itu terbuka, Sandra yang melihatnya segera berdiri dan mendekat dengan wajah penuh antusias juga lega.


Wanita dengan bayi di gendongannya itu, kini berdiri di depan pagar dengan wajah penuh harapan.


Sandra bisa melihat sebuah mobil mewah berjalan keluar, tiba-tiba jantung Sandra berdetak kencang. Ia sangat mengenali mobil yang sedang berjalan ke arahnya.


Mobil itu adalah milik mantan kekasihnya juga merupakan ayah biologis — putrinya.


Sandra terpaku dengan mata berkaca-kaca, hingga mobil mewah itu kini berada di depannya dan melewatinya begitu saja.


Sandra hanya bisa mengikuti gerakan mobil itu dengan perasaan perih. Tiba-tiba mobil itu berhenti, dan terlihat sebuah tangan terulur keluar, salah satu penjaga segera mendekat dan mengambil uang tersebut.


Sandra masih terdiam dengan tatapan nanar mobil mewah itu hingga jauh dari pandangannya.


"Maaf, nona!" Seru sang penjaga.


Mengejutkan Sandra dari lamunannya, ia menoleh ke arah pria berusia muda itu dan berusaha tersenyum.


"Ini ambillah, tuan muda menitipkan ini kepada nyonya," lanjut penjaga itu, sambil menyerahkan beberapa uang kepada Sandra.


"Uang ini cukup untuk, menyewa sebuah penginapan di daerah pinggiran," sambung penjaga itu lagi.


Sandra begitu terpukul mendengar perkataan pria di depannya, dan lebih membuatnya teriris pilu, saat melihat uang di tangan penjaga itu yang ternyata dari ayah biologis putrinya.


Sandra hanya mampu terpaku dengan tatapan pilu kepada lembaran uang yang berada di tangan sang penjaga.


Apa mantan kekasihnya itu tidak mengenalnya lagi? Hingga ia menganggap dirinya seorang pengemis menyedihkan.


Air mata Sandra luruh kembali, ia semakin memeluk tubuh putrinya erat, seakan menjadikan sebuah kekuatan atas keberadaan sang putri.


"Nyonya!" Seru penjaga yang masih setia menunggu Sandra mengambil lembaran uang di tangannya.


Sandra tersendak dan segera menghapus air matanya, ia menggelengkan kepalanya dan menatap wajah sang penjaga itu dengan tatapan memohon.


"Aku, hanya ingin bertemu dengan keluarga, Louis," ungkap Sandra dengan tatapan memohon.


Sang penjaga itu hanya bisa melongo tidak percaya, ia juga dapat melihat keseriusan di mata Sandra yang sembab.


"T-tapi …."


"Aku mohon,"


"Aku hanya ingin menyampaikan sesuatu hal penting," sela Sandra dengan wajah menghibah sambil tetap memeluk putrinya.


Menjaga itu menelisik penampilan Sandra dan ia merasa tersentuh, saat melihat Aurora dalam gendongan Sandra.


"Aku mohon, tuan," ucap Sandra.


Sang penjaga pun terlihat berpikir sambil menatap bayi Sandra yang berada di gendongannya.


….


Pria tampan nan rupawan, terlihat menuntut seorang wanita cantik dengan penampilan anggun juga kondisi tubuh yang perutnya terlihat membesar.


Pria itu dengan penuh kehati-hatian menuntut wanita cantik itu untuk berjalan ke arah mobil mewah mereka.


Setelah menyakinkan wanitanya aman dan posisi nyaman, sang pria dengan tampilan sempurna itu beralih ke pintu kemudi.


"Apa masih sakit?" Tanya pria itu dengan nada lembut sambil mengusap perut wanita di sampingnya.


"Sudah tidak lagi," sahut wanita berwajah cantik dengan tampilan elagan.


"Syukurlah!" Timpal sang pria.


Setelah mengetahui keadaan wanita di sampingnya, pria itu lantas menghidupkan mesin mobil dan mulai menggerakkan perlahan menuju pintu gerbang.


Sesekali pria itu menatap wajah istrinya dengan senyum tampan, sebelah tangannya juga menggenggam telapak tangan istrinya.


Sang wanita pun menggelayut manja di pundak kekar suaminya dengan wajah bahagia.


Pria itu terus menjalankan mobilnya hingga tiba di depan gerbang yang terbuka. Kening pria itu mengkerut heran juga penasaran, saat melihat sosok wanita dengan tampilan lusuh sambil memegang sesuatu di gendongannya.


Kendrick menajamkan pandangannya, ia merasa tidak asing dengan sosok di depan sana.


Suasana salju turun membuat pandangan Kendrick tidak terlalu jelas. Ia pun menggelengkan kepalanya dan terus bergerak melalui pintu gerbang begitu saja.


Istri Kendrick yang melihat sosok wanita lusuh di luar sana menjadi, kesal. "Kenapa seorang pengemis berada di kawasan kita?" Tanya istri Kendrick dengan wajah jijik.


"Mungkin ia hanya beristirahat," sahut Kendrick dan menghentikan sejenak mobilnya, ia juga memanggil sang menjaga.


"Kendrick mengeluarkan dompetnya, ia mengambil semua uang yang ada di dalam dompetnya itu dan ingin memberikan kepada penjaga Mansionnya.


Namun istrinya segera mencegah tangannya dan berkata ketus, "ini terlalu banyak sayang. Jangan terlalu mengasihani seorang pengemis, dia nanti terbiasa dan terus berada di kawasan elite kita," cetus istri Kendrick dengan nada protes.


"Ini, berikan kepadanya dan suruh dia pergi! Aku tidak mau seorang pengemis berada di sekitarku yang bisa mempengaruhi calon bayiku," tandas istri Kendrick dengan nada angkuh.


Ia juga hanya memberikan beberapa lembar uang saja kepada sang penjaga dengan gaya jijik apabila bersentuhan dengan kaum — rendah.


Kendrick hanya menggelengkan kepalanya, ia juga terus menatap ke belakang melalui kaca spion, ia tiba-tiba merasakan hal aneh.


"Tidak mungkin," batin Kendrick dan kembali melaju meninggalkan kawasan Mansion mewah keluarga Louis.