
Sandra kini duduk di hadapan kepala sekolah di ruangan petinggi sekolah tersebut. Aurora dan guru wanita juga berada di sana.
"Kami sudah mengambil keputusan, kalau …." Ucapan pria berusia 55 tahun itu terhenti, saat Sandra menyela ucapannya.
"Sayang!" Seru Sandra kepada Aurora yang berdiri di sampingnya.
"Iya, mommy," sahut gadis cantik itu. Nada suaranya begitu terdengar tegar.
Sandra tersenyum, meraih tubuh putrinya dan memeluk erat. Sandra membisik sesuatu di telinga putrinya.
"Bagaimana, kalau kamu menunggu mommy di luar," pinta Sandra dengan bisikan.
Aurora terlihat berat untuk mematuhi perintah sang mommy, ia ingin mendengar perkataan kepala sekolah.
"Sayang!" Seru Sandra lagi, mengusap pipi mulus putrinya.
"Baik, mom," sahut Aurora patuh.
Sandra pun tersenyum, ia melihat putrinya keluar dengan guru wanita. Tidak mungkin, Sandra membiarkan putrinya yang malang mendengar keputusan yang akan membuatnya kecewa.
Sandra tidak mau melihat wajah putrinya bersedih, sebagai seorang ibu ia ingin membuat putrinya selalu bahagia.
"Ehem" kepala sekolah berdehem. Sandra pun sadar dan kini menatap kepala sekolah dengan serius.
"Jadi, Aurora tidak dapat mengikuti kegiatan di sekolah ini lagi, sampai anda melunasi tagihan selama 5 bulan. Kami tidak bisa membantu anda lagi, kami takut akan menimbulkan masalah baru apabila memberikan anda bantuan lagi." Kepala sekolah dengan berat hati mengatakan kepada Sandra. Pria itu sudah berusaha membantu Aurora untuk tetap mengikuti pelajaran, namun ia juga harus mementingkan kehidupan keluarganya yang mendapatkan ancaman dari — keluarga kaya itu.
Sandra yang mendengar semuanya hanya bisa terdiam, ia juga mengerti dengan keadaan kepala sekolah.
"Tidak masalah, terimakasih selama ini anda sudah banyak membantu," sahut Sandra. Mimik wajahnya begitu ramah dan tenang, meskipun ia harus menghadapi pertanyaan putrinya.
"Berapa yang harus saya bayar?" Tanya Sandra dengan suara tenang.
Kepala sekolah memandangi Sandra, ia menarik nafas dalam-dalam sebelum mengatakan nilai yang harus ia bayar. Dengan ragu kepala sekolah mengatakan sejumlah tagihan yang harus, Sandra lunasin.
Sandra pun siap untuk mendengarkan dengan jantung berdebar-debar. Namun ia akan berusaha melunasi demi putrinya.
"Anda, harus melunasinya dalam waktu 2 hari kedepan," ujar kepala sekolah sambil memberikan salinan tagihan sekolah yang harus dibayar.
Sandra mengambil lembaran itu dan membacanya dengan wajah serius, detik, berikutnya wajahnya berubah tegang, saat melihat angka tagihan tersebut.
"A-ap aku harus membayar sebanyak ini?! Tanya Sandra dengan wajah pias dan gugup. Tiba-tiba tubuhnya menjadi lemas tidak berdaya.
"Iya nona, anda juga harus mengganti biola nona kecil Charles. Dan angka ini yang harus anda melunasinya," jelas kepala sekolah. Pria itu pun begitu tidak nyaman mengatakannya kepada — Sandra.
Tangan Sandra pun bergetar hebat, hingga kertas yang ada di tangannya bergerak. Keringat dingin pun kini membasahi wajahnya. Kedua bahu yang tadinya terlihat tangguh, kini berubah lemah.
" 1 juta dollar?! Sandra berkata lirih.
Dia harus membayar tagihan sebanyak ini dan dalam 2 hari. Uang sebanyak ini darimana Sandra mendapatkannya dalam waktu cepat. Uang yang mampu mencukupi kebutuhan sehari-hari mereka dalam beberapa bulan kedepannya.
"Kalau saya tidak melakukannya?" Tanya Sandra pelan, ia masih menatap kertas lembaran itu.
"Terpaksa, Aurora harus kehilangan kesempatan untuk mengikuti pelajaran. Dan anda harus menghadapi, tuntutan keluarga nona Charlotte." Kepala sekolah berkata dengan wajah tegas.
Sandra pun melemaskan kedua pundaknya, darimana ia harus mendapatkan uang? Ia tidak masalah untuk menghadapi hukuman, ia hanya memikirkan nasib putrinya.
"Bisikah, anda mengizinkan putriku tetap mengikuti pelajaran? Saya berjanji akan melunasi semuanya. Tapi … tolong, biarkan putriku mengikuti pelajaran," pinta Sandra sambil bermohon. Ia bahkan ingin bersimpuh di kedua kakj kepala sekolah itu.
"Jangan melakukan itu nona," cegah kepala sekolah, segera meraih tubuh Sandra yang terjatuh di depannya.
"Saya mohon, biarkan putriku mengikuti pelajaran, saya takut, ia akan kecewa," mohon Sandra. Wajahnya begitu mengibah, dengan air mata yang sudah meluruh di kedua pipinya.
"Maaf, kami tidak bisa," ujar kepala sekolah dengan wajah sedih.
Sandra pun hanya bisa terpaku, wanita itu mengusap wajahnya yang sudah basah oleh air mata. Sandra pun berpamitan untuk meninggalkan ruangan kepala sekolah dengan perasaan kacau.
Sandra berjalan di koridor sekolah mewah itu, ia memikirkan cara untuk segera mendapatkan uang. Saat sedang termenung sambil berjalan.
Tiba-tiba langkahnya terhenti, kesedihan pun kembali menyeruak ke dalam rongga dadanya. Melihat putrinya kini berdiri di depan kelas sambil tetap mengikuti pelajaran. Aurora juga terlihat memainkan biola tua dan lusuhnya.
Dada Sandra begitu sakit melihat putrinya begitu bersemangat mengikuti pelajaran, wajahnya pun begitu bahagia.
Mana sanggup Sandra membiarkan wajah bahagia putrinya berubah kesedihan.
"Maafkan, mommy nak!" Ucap Sandra lirih. Ia terdiam sejenak di tempatnya. Menangis dalam diam sambil memandangi putri tercintanya.
Sandra menghela nafas dan mengusap kembali air matanya, ia berjalan mendekati Aurora.
"Sayang!" Panggil Sandra saat berada di dekat putrinya.
"Mommy!" Serunya bahagia.
Sandra kembali teriris pilu dan kesedihan, melihat wajah ceria putrinya. Ia sebisa mungkin mengontrol perasaannya. Putrinya ini sungguh pandai, ia bisa mengetahui sang mommy sedang menangis.
"Apa mommy habis menangis?" Tanyanya khawatir.
Sandra menarik nafas dan menghembuskannya secara perlahan.
"Tidak! Mommy hanya sedikit flu," jawab Sandra berbohong.
"Benarkah? Bolehkah, aku menyentuh wajah mommy," izin gadis itu untuk menyakinkan tebakannya.
"Mommy tidak apa-apa, nanti juga akan sembuh," Sandra mengelak.
Aurora pun hanya terdiam, pandangannya tepat di wajahnya sang mommy. Ia menatap lekat mommynya, seakan mencari kebenaran di mata sang mommy.
"Sayang!" Seru Sandra, meraih kedua pundak putrinya.
"Ya, mom," sahut Aurora lembut.
"Kamu harus pulang sekarang," ajak Sandra penuh hati-hati.
Terlihat wajah Aurora terkejut, ia meraba-raba udara di depannya untuk menemukan wajah sang mommy.
Sandra dengan segera meraih telapak tangan putrinya dan menggenggamnya.
"Tapi sekarang belum waktunya untuk kembali, mom," ujar Aurora.
"Katakan kepala sekolah, kamu harus istirahat di rumah selama dua hari. Lihat, telapak tangan kamu terluka dan kamu tidak akan bisa mengikuti pelajaran." Sandra memberikan alasan yang tepat kepada putrinya.
Tidak mungkin ia mengatakan kepada Aurora, kalau mereka harus melunasi tagihan terlebih dahulu. Putrinya pasti akan memilih berhenti dari sekolah.
"Ayo nak!" Ucap Sandra sambil mengajak putrinya, untuk meninggalkan sekolah tersebut.
Keduanya pun berjalan di setiap koridor sekolah, Sandra terus menggenggam tangan kecil putrinya dengan lembut.
Ia juga berpikir harus mendapatkan uang dari mana. Sedangkan Aurora terlihat merenung. Ia hari ini baru saja mendapatkan pelajaran baru untuk mengikuti sebuah konteks di sekolah.
Aurora bertekad untuk mengikuti kontes tersebut, kali ini kesempatannya untuk membuktikan kepada semua orang atas bakat yang ia miliki. Juga untuk membuat sang mommy bangga.
"Kakak!" Seru seorang gadis muda.
"Kau sudah datang?" Tanya Sandra kepada Gracia.
"Hum," sahut Gracia sambil mendekati Aurora.
"Hay, aunty!" Sapa Aurora.
"Hay cantik. Pulang sekarang?" Tanya Gracia.
Sandra yang mengetahui mood putrinya sedang tidak baik-baik saja, ia pun berencana membawa Aurora untuk menikmati suasana yang akan memasuki sore hari itu.
"Bagaimana, kalau kita ke taman kota," sela Sandra.
Benar saja, raut wajah Aurora berubah ceria dan ia terlihat bersorak. Ketiganya pun kembali melangkah menuju parkiran, hari ini Sandra mengemudi mobil rekan kerjanya di klub.
Sandra menghentikan langkahnya saat melihat nyonya kaya yang tadi menggertak putrinya. Sandra memberikan kode kepada Gracia untuk membawa Aurora terlebih dahulu ke mobil.
Setelah Aurora dan Gracia berjalan jauh darinya, Sandra mendekati mobil super mewah milik nyonya kaya tersebut.
Sandra melihat sebuah tongkat baseball tidak jauh darinya, wanita itu meraihnya dan menyeret tongkat baseball tersebut ke arah mobil mewah — nyonya kaya.
Kini Sandra berdiri di depan mobil super mewah, ia terus menatap tajam mobil tersebut dengan menyeringai.
"Hey, apa yang kamu lakukan di depan mobil saya!" Seru seorang wanita anggun yang muncul dari dalam mobil.
Sandra tidak menjawab, namun raut wajahnya terlihat mengerikan. Mendadak wajah wanita kaya itu pias, melihat tongkat kayu di tangan Sandra.
"A-apa yang akan kamu lakukan?" Tanya wanita itu dengan nada gemetar.
Sandra tidak menjawab, ia segera mengangkat tongkat di tangannya dan menghantamkan di kaca depan mobil mewah wanita itu dengan berkali-kali.
Wanita kaya yang ketakutan, segera masuk ke dalam mobil dan memeluk putrinya — Charlotte.
Ia berteriak ketakutan saat dengan sengitnya, Sandra menghancurkan mobil mewahnya. Wanita itu terus meminta bantuan dan putrinya menangis histeris di dalam sana.
"Itu balasan untuk seseorang yang berani, berlaku kasar kepada putriku." Ucap Sandra dingin.