
Sandra kini berada di taman kota. Membawa putrinya menikmati suasana sore hari. Kini, ibu dan anak itu duduk di sebuah bangku di pinggir danau buatan. Sandra memeluk penuh kasih sayang tubuh putrinya dan mengecup berulang kali puncak kepala — putrinya.
Aurora hanya menikmati kehangatan pelukan sang mommy, juga menikmati suasana sejuk di sekitar danau buatan.
"Apa ini masih sakit?" Sandra bertanya sambil memperhatikan telapak tangan putrinya yang terluka.
Aurora merubah posisinya menghadap sang mommy, gadis kecil itu menggelengkan kepala dan tersenyum.
"Kamu serius?" Tanya Sandra kembali. Ia tidak ingin putrinya terluka sedikitpun.
"Tidak mom. Ini hanya luka kecil, percaya padaku aku bisa menahannya," sahut auroraku.
Sandra pun menghela nafas panjang, ia kembali memeluk putrinya dengan begitu eratnya.
"Kamu tidak keberatan tidak mengikuti sekolah selama dua hari?" Tanya Sandra hati-hati.
Sandra merasakan gelengan lirih sang putri di balik pelukannya, namun Sandra tahu, putrinya saat ini sedang bersedih.
"Hanya dua hari, mommy janji kamu pasti akan kembali ke sekolah lagi," bisik Sandra.
Aurora kembali menganggukkan kepalanya, ia juga berpikir tidak akan membuat sang mommy kesulitan.
"Apa kamu begitu menyukai musik?"
"Hum! Aku sangat menyukainya, dengan musik aku bisa menggambarkan kehidupan di sekitarku," jawab Aurora yang melepaskan pelukan sang mommy dan menampilkan wajah riang.
Sandra pun tersenyum lirih, mana mungkin ia akan mengubur impian putrinya, ia berjanji akan mendapat uang dengan cepat. Entah ia harus melakukan apapun.
"Kau tahu sayang, hari ini cuaca begitu cerah," ujar Sandra saat melihat langit sore yang begitu cerah mengenai tempat duduk mereka.
"Hum! Aku juga bisa merasakannya," sahut Aurora yang memejamkan matanya dan menghirup udara di sekitarnya dan menikmati kehangatan cahaya sore cerah menerpa kulitnya.
"Maaf, mommy tidak bisa memberikan kehidupan layak kepadamu, juga memberikan penglihatan untukmu. Mommy begitu tidak berdaya,"bisik Sandra tepat di telinga putrinya.
Aurora yang memejamkan matanya segera terbuka, hingga manik coklat itu terlihat begitu berkilau.
Ia segera mengalihkan wajahnya kepada sang mommy dan membawa telapak tangan mungilnya di wajah — Sandra. Membelai lembut setiap inci wajah basah sang mommy.
"No mom, jangan berbicara seperti itu, aku sangat bersyukur bisa terlahir dari rahim mommy dan menjadi anak mommy yang begitu menyayangi ku. Aku rela tidak melihat dunia, yang terpenting, mommy bersamaku." Gadis cantik itu berkata penuh bijak dan terdengar begitu menyayangi sang mommy.
Sandra hanya bisa terharu mendengar ucapan putrinya, bersyukur bisa memiliki putri yang begitu pengertian.
"Mommy berjanji, akan selalu menjaga dan melindungimu. Memberikan warna di setiap langkahmu, menemanimu di setiap menuju impian yang kau inginkan. Bisik Sandra.
"Aku percaya dan akan selalu menyayangimu, mom," sahut Aurora dan segera memeluk sang mommy.
Ibu dan anak itu pun kembali saling berpelukan. Menikmati kebersamaan dengan penuh kehangatan di bawah langit sore yang begitu cerah.
Lama mereka di sana, akhirnya Sandra memutuskan mengajak Aurora kembali ke rumah. Hari mulai memasuki senja dan ia harus kembali bekerja paruh waktu di sebuah klub malam.
"Sebaiknya, kita pulang. Hari mulai gelap," ujar Sandra.
"Hum!" Gumam Aurora dengan senyuman cerah.
"Kau begitu bahagia, sayang," ucap Sandra, sambil menggandeng tangan mungil putrinya.
"Karena hari ini aku menghabiskan waktu bersama, mommy," sahut Aurora.
Sandra tersenyum dan terus berjalan menuju halte bus yang berada di seberang jalan. Keduanya begitu terlihat bahagia. Aurora bahkan terus berceloteh dengan riang dan sambil menari-nari.
Namun di tengah keceriaan mereka, tiba-tiba hal terduga terjadi. Saat ingin menyebrang jalan, sebuah mobil melaju dari arah berlawanan.
Mobil mewah itu terlihat kehilangan kendali, terdengar klakson mobil terus berbunyi dan mendesak orang-orang agar segera menjauh.
Sandra segera menyingkir dan menarik putrinya, Sandra terus memandangi mobil itu dengan begitu lekat. Ia menyuruh Aurora menunggunya di sana dan berpesan kepada putrinya agar tidak kemana-mana.
Aurora yang tidak mengetahui apa yang terjadi hanya bisa menuruti perkataan sang mommy.
Sandra sendiri kini berlari mengikuti mobil mewah itu yang terus melaju dan hampir menabrak pembatas jalan.
"Brak!" Suara benda keras yang bertabrakan pun terdengar. Semua orang-orang begitu terkejut dan hanya bisa membeku di tempat mereka.
Sandra yang sudah berada di sana segera mendekati mobil mewah itu yang kini dalam posisi terbalik.
Sandra menelisik mobil mewah itu yang sudah rusak parah dan hancur bagian belakang.
"Tolong!" Terdengar suara dari dalam mobil. Sandra mendekiti mobil tersebut.
"Astaga!" Pekik Sandra saat melihat remaja laki-laki di dalam sana dalam keadaan sulit. Remaja itu terlihat terhimpit di bagian punggung hingga ujung kakinya.
"Bertahanlah, aku akan menolongmu!" Teriak Sandra yang mengintip di balik pintu.
"Tolong, di dalam bahaya!" Teriak Sandra.
"Kenapa kalian hanya menyaksikan saja," Sandra begitu marah.
Begitu banyak orang di sana namun tak satupun yang berani mendekat.
"Tolong bantu aku mengeluarkannya dari sana!" Kembali Sandra berteriak.
"Setidaknya, minta bantuan kepada keamanan atau ambulance!" Pekik Sandra emosi.
"Akh! Kalian semua tidak berguna!" Maki Sandra.
Ia kembali mendekati remaja itu, ia hanya melakukan hal sia-sia dengan berteriak kepada mereka semua.
"Hay, anak muda!" Seru Sandra yang bertiarap di dekat pintu yang terbalik dan mengintip kedalam.
"T-tolong," ucap remaja berusia 16 tahun itu di dalam sana. Suaranya begitu terdengar lirih dan kesakitan.
"Bersabarlah, aku pasti akan menolongmu," ujar Sandra.
Wanita tangguh itu mulai membuka paksa pintu mobil. Berulang kali Sandra mencoba dan begitu sulit. Tangannya bahkan terlihat terluka oleh serpihan kaca mobil dan serpihan badan mobil yang runcing.
Berhasil, Sandra berhasil membuka pintu mobil tersebut dengan menggunakan kekuatan ekstra nya. Ia segera mengarahkan tangannya ke dalam untuk menarik remaja tersebut.
"Kemari lagi, genggam tanganku!" Pinta Sandra.
"Ayo, kemarikan tanganmu!" Perintahnya lagi.
Remaja itu membuka matanya sedikit demi sedikit, ia bisa melihat wanita yang ia kenal berada di depannya.
"Bibi!" Serunya dengan tangan yang terulur di hadapan Sandra.
Sandra memasuki mobil yang terbalik itu dengan posisi tiarap dan menarik tubuhnya mendekati remaja tersebut.
Ia meraih tangan remaja itu dan menariknya untuk keluar, Sandra terus berusaha menarik remaja itu.
Berhasil, Sandra sudah berada di luar dengan remaja pria itu masih setengah tubuhnya yang berada di luar.
Sandra pun bisa bernafas lega dan tiba-tiba ia tersedak, saat melihat bahan bakar mobil mewah itu berceceran di luar. Juga sebuah percikan api berasal dari mesin mobil.
Sandra pun melebarkan kedua kelopak matanya, saat itu Sandra berusaha tidak panik dan kembali segera membantu remaja itu keluar, sebelum mobil mewah itu meledak.
"Tolong, tolong, bantu aku menyelamatkan remaja ini," teriak Sandra sekali lagi kepada orang-orang yang ada di sana.
"Bantu aku untuk membantumu keluar," ucap Sandra lirih.
Di sisa kesadarannya remaja berwajah tampan itu mengangguk dan berusaha menarik kedua kakinya yang terjepit.
Sandra terus berusaha membantu menyelamatkan remaja itu dengan sekuat tenaga, akhir ia pun berhasil mengeluarkan remaja laki-laki itu.
Bertepatan, serpihan api mulai menyambar bahan bakar yang berceceran di atas aspal.
Sandra segera menarik kedua lengan remaja tersebut menjauh, saat melangkah tiga langkah, tiba-tiba mobil mewah itu meledak dan membuat orang-orang yang berkumpul menjauh.
Suara ledakan itu terdengar nyaring, Sandra dan remaja itu terlempar berpisah dan jauh.
"Mommy!" Teriak Aurora yang tetap di tempatnya.
Sandra yang mendengar teriakkan putrinya mengangkat kepalanya dan melihat putrinya di sana.
Sandra mendapatkan luka di keningnya. Tidak memperdulikan luka dan rasa sakit di sekujur tubuhnya, Sandra bangkit dan mendekati remaja itu yang masih tersadar.
"Bersabarlah, aku akan membawamu ke rumah sakit," ujar Sandra.
"Bibi!" Sebut remaja itu pelan dan kesadarannya pun hilang.
Bertepatan ambulance datang dan segera membantu remaja tersebut dan Sandra. Sebuah mobil pemadam juga pihak kepolisian datang.
Sandra kini berada di ambulance bersama Aurora, Sandra masih menemani remaja laki-laki rupawan itu.
"Mommy tidak apa-apa?" Tanya Aurora.
"Tidak sayang," jawab Sandra.
Aurora pun memeluk tubuh berantakan sang mommy, wajahnya bahkan terdapat noda merah dan hitam.
Namun Sandra nampak, mengkhawatirkan remaja di depannya. Ia tidak habis pikir, kenapa remaja seusianya diperbolehkan menyetir mobil sendiri?