Mommy, My Angel

Mommy, My Angel
bab 73



"Saya harap, anda tidak mengganggu atau membahayakan nyawa putri saya, nyonya." Lama saling menatap sengit, akhirnya Sandra mengatakan sebuah peringatan tegas kepada — nyonya Louis.


Sedangkan nyonya Louis begitu angkuh, menanggapi peringatan Sandra. Dengan bergaya arogan, wanita itu, memangku tangannya yang terlipat di depan dada dan memandang Sandra remeh.


"Kau hanya wanita murahan dan miskin, tidak pantas membesarkan keturunan dari kami, lihatlah, gadis kecil itu terkena kutukan karena terlahir dari rahim wanita sepertimu." Nyonya Louis berkata dengan sarkas dan wajah mencibir.


Mendengar ucapan nyonya Louis, Sandra tersenyum sinis dan menanggapi ucapan wanita angkuh itu dengan sengit.


"Bagaimana dengan menantu anda yang lain? Hingga akhirnya dia melahirkan anak gadis yang sedang sekarat." Sandra pun membalas dengan telak ucapan nyonya Louis.


Jelas saja wanita itu menjadi meradang. Kedua tangannya yang bertengger di depan dada kini, berkacak pinggang dengan wajah sombongnya.


"Kau, tidak pantas menghina menantuku yang jauh derajatnya dengan dirimu yang hanya dari golongan sampah!" Nyonya Louis berteriak murka di hadapan Sandra.


Sandra hanya menampilkan wajah tenangnya, sambil mata tajamnya m menelisik sekitar, di mana terdapat beberapa orang suruhan, Austin dan Erland.


Sandra memberi mereka sebuah larangan, saat nyonya Louis ingin menyakiti Aurora.


Wanita itu memberikan kode, kalau dia bisa menghadapinya sendiri. Jadilah, para pengawal bayangan Austin dan Erland mengawasi dari jarak beberapa meter.


"Setidaknya, saya bisa membesarkan putriku dengan baik," sela Sandra.


"Cih!" Nyonya Louis berdecak kasar ke arah samping. Ia begitu muak dengan Sandra saat ini. Nyonya Louis ingin sekali memberikan peringatan keras kepada Sandra.


"Merawat darimana? Dia tetap menjadi gadis buta," ejek nyonya Louis.


"Setidaknya, dia tidak sekarat dan menghabiskan hari-harinya di rumah sakit," timpal Sandra diiringi senyum miring.


Mendengar itu, nyonya Louis semakin murka. Hingga raut wajahnya begitu merah dengan mata melotot tajam.


"Dasar wanita murahan!" Bentak nyonya Louis dan ingin sekali lagi menampar wajah — Sandra.


Namun wanita muda di depannya segera menangkis, menahan tangan nyonya Louis di udara dan menghempaskan kasar, membuat tubuh nyonya Louis ikut ke bergerak kasar ke samping.


Wanita sombong itu mengangkat kepalanya, matanya begitu tajam menatap Sandra yang terlihat begitu tenang.


"Selama saya masih menghargai anda. Maka jangan mengusik kami," ujar Sandra dengan wajah dingin dan datar.


Mendengar perkataan Sandra, nyonya Louis semakin memendam emosinya saat ini. Ia tidak menyerah, wanita berpenampilan berkelas itu, berusaha untuk mengambil Aurora dari Sandra, bagaimanapun caranya.


Wanita itu bertepuk tangan untuk memanggil para pembunuh bayaran untuk menghabisi nyawa Sandra dan wanita itu bisa membawa — Aurora.


Tidak lama, terlihat beberapa pria berotot, mendekati mereka. Nyonya Louis tersenyum puas dan ia memandangi wajah Sandra dengan senyum remeh.


"Kamu bisa melayani mereka dan kamu pasti bisa mendapat keturunan dari mereka," bisik nyonya Louis pongah dan wanita itu tertawa lepas. Wajahnya begitu bahagia dan penuh kesombongan.


Mendengar perkataan wanita yang seumuran ibu yang membesarkannya ini, membangkitkan amarah ngeri di dalam diri Sandra.


Tanpa melihat usia dan etikanya, Sandra melayangkan satu tamparan di wajah, nyonya Loius.


Seketika wanita sombong itu terjatuh di atas rumput hijau dengan wajah merah, bekas telapak tangan Sandra. Sudut bibir nyonya Louis mengeluarkan cairan merah.


Wanita itu begitu terkejut merasakan panasnya dan nyerinya, kipasan telapak tangan Sandra.


Wanita angkuh itu bangkit dengan wajah marah, ia sekali lagi mencoba untuk menampar Sandra, namun lagi-lagi, Sandra memberikan tamparan di pipi lain, nyonya Louis.


"Hey!" Pekik nyonya Louis begitu murka.


"Apa yang kalian lihat, hancurkan wanita murahan ini. Terserah, kalian ingin melakukan apa." Titah nyonya Louis yang segera menyingkir dan membiarkan anak buahnya yang ia bawa untuk membuat Sandra tidak berkutik.


"Apa kami boleh mencicipinya, nyonya? Wanita ini terlihat begitu menggoda," ujar salah satu orang suruhan nyonya Louis.


Wanita angkuh itu hanya tersenyum licik dengan pandangan begitu puas, melihat Sandra di keliling oleh pria-pria mengerikan.


"Kalian bebas melakukan apapun kepadanya. Yang terpenting, hancurkan wanita itu hingga ia memilih mengakhiri hidupnya sendiri," ujar nyonya Louis dan wanita itu pun tertawa lepas.


Memandangi Sandra yang dikelilingi pria berotot dan berwajah sangar, dengan tatapan remeh dan mengolok-olok Sandra.


"Wah, bro. Hari ini kita akan berpesta!" Seru salah satu penjahat yang tersenyum mesum kepada — Sandra.


Sedangkan, Sandra memasang wajah dingin dan datarnya. Tatapan tajam wanita itu, memindai satu persatu pria-pria berotot tersebut.


Pria-pria berotot itu tertawa puas dan nyonya Louis sengaja merekam dan menyambungkan kepada putranya juga menantunya.


Salah satu dari pria berotot, berwajah sangar, mendekati Sandra dengan tatapan mesum. Pandangan kurang ajar pria itu terus menelisik penampilan Sandra yang terlihat begitu menggoda hari ini.


Pria berkulit hitam itu, bersiul juga semakin mendekati Sandra. Dengan lancang, pria itu ingin menyentuh wajah Sandra. Tapi geraknya kalah gesit dengan Sandra yang langsung, meraih tangan pria bertubuh besar di antara tubuh Sandra.


Wanita itu memelintir tangan keras pria hitam itu dan mematahkannya dengan menghantam kuat di atas pahanya. Jelas saja pria itu berteriak kesakitan, tapi kesakitan itu belum berakhir, saat Sandra memutar kuat tangannya kebelakang, terdengar tulang patah bersamaan pria itu kembali berteriak kencang.


Tidak ingin menunggu lama, Sandra meraih leher pria itu dan memutarnya dengan mudah, seketika pria hitam, merungut nyawa dengan mata melotot.


Melihat aksi Sandra yang begitu mudah melenyapkan rekan mereka, para penjahat suruhan nyonya Louis, begitu tercengang.


Nyonya Louis bahkan menjatuhkan ponselnya dan menganga tidak percaya.


Niat hati ingin memamerkan kehancuran Sandra, kepada putranya, nyonya Louis dibuat terkejut dengan kekuatan dan kebengisan Sandra.


Kini para pria berotot dan berbadan besar itu mulai menyerang Sandra, tapi sebuah peluru satu persatu mengenai mereka semua. Sebuah tembakan tanpa suara itu, membuat nyonya Louis semakin tercengang.


Darimana peluru-peluru itu datang dan menghabisi para anak buahnya. Sedangkan Sandra hanya bisa menatap nyonya Louis dengan begitu mencekam.


Kini pria-pria bayaran nyonya Louis sudah terkapar dengan luka tembakan, masing-masing di kepala dan di dada mereka.


Nyonya Louis menjadi panik dan ketakutan, melihat orang suruhannya terkapar tidak bernyawa di hadapannya itu.


Wanita bergaya elegan itu, semakin bergetar hebat ketika Sandra mendekatinya dengan pandangan mengerikan.


Sandra mengambil, ponsel mahal nyonya Louis yang terjatuh. sementara, panggil video call masih berlangsung, Sandra bisa mendengar suara tawa penuh kebahagiaan di seberang sana.


Sandra tersenyum miring dan mengarahkan kamera ponsel nyonya Louis ke arah, wanita setengah baya itu yang memperlihatkan wajah pucat ketakutan.


Sandra berjalan pelan dengan seringai licik mendekati nyonya Louis sambil terus mengambil wajah ketakutan nyonya — arogan itu.


"Jangan, jangan mendekat, menjauhlah sialan!" Teriak nyonya Louis ketakutan dan ekspresi wajah nyonya Louis, terlihat jelas di kamera ponselnya.


Terdengar seruan di seberang sana dengan nada panik, tawa mereka kini berganti panik, melihat wajah ketakutan nyonya Louis.


Sandra mendekati wajah wanita arogan itu, membisikkan sesuatu yang semakin membuat tubuh, nyonya Louis bergetar hebat.


"Apa anda ingin merasakan begitu tajamnya benda ini?" Sandra mengusapkan benda tajam yang ia ambil dari saku para penjahat itu.


Nyonya Louis bungkam dan ia bisa merasakan sejuknya permukaan benda tajam di wajahnya.


"Lepas!" Pinta nyonya Louis dengan wajah ketakutan dan seluruh tubuhnya bergetar hebat.


"Akh!" Wanita itu berteriak dan mendesis, ketika dengan sengaja Sandra, menggores wajah wanita angkuh itu.