Mommy, My Angel

Mommy, My Angel
bab 56



"Bukankah, aku harus libur dua hari mom?" Sandra dan Aurora kini berada di depan gerbang sekolah. Sandra hari ini berencana untuk membayar tagihan sekolah putrinya.


"Tapi hari ini kamu harus masuk, sayang. Bukankah, kamu mengatakan akan ada event musik?" Sandra merapikan penampilan putrinya yang terlihat menawan hari.


"Hum, aku lupa," sahut si cantik Aurora dengan cengiran imutnya.


Sandra tersenyum, melihat wajah bahagia putrinya. Baginya melihat, kebahagiaan sang putri sudah cukup buat Sandra.


"Sekarang, ayo kita masuk!" Ajak Sandra, menggenggam telapak tangan putrinya dan menuntunnya menuju kelas.


"Masuklah!" Pinta Sandra saat berada di depan kelas Aurora.


"Mommy, akan ke ruangan kepala sekolah," sambungnya dan meninggalkan kecupan di kedua pipi putrinya.


Aurora mengangguk dan ia segera memasuki kelas yang disambut gembira oleh kuda sahabatnya.


"Aurora!" Pekik Jastin dan Natasya.


Kedua bocah mungil itu berlari menghampiri Aurora dan memeluknya, terlihat wajah gembira ketiga bocah itu.


Namun tidak dengan murid yang lain, terutama Charlotte dan geng nya. Mereka menatap sinis kepada Aurora dan memindai penampilan anggun Aurora hari ini.


Gadis arogan itu lalu memulai aksinya untuk mengintimidasi Aurora. Ia berjalan menghampiri Aurora yang duduk di bangku paling belakang.


Gadis itu membawa sesuatu di tangannya dan itu sebuah jus kemasan di dalam kotak.


Gadis itu berjalan dengan arogan dan bermaksud menumpahkan jus tersebut di pakaian Aurora. Namun murid lain yang tiba-tiba berlari dari luar, menyenggol lengannya, hingga kini jus tersebut mengenai gaun.


"Akh, dasar kau!" Pekik Charlotte menunjuk dan menatap tajam murid laki-laki itu.


"M-maaf, saya tidak sengaja." Murid laki-laki itu berkata dengan nada gugup dan wajah ketakutan.


"Lihat! Gaunku kotor!" Pekik Charlotte. Mimik wajah gadis arogan itu begitu marah.


Natasya dan Jastin tertawa dan mengejek Charlotte. Sedangkan Aurora hanya terdiam dengan wajah bingung.


"Apa ini yang dinamakan senjata makan tuan," celetuk Natasya. Kedua sahabat baik Aurora itu, kembali tertawa.


Charlotte pun menjauh dari bangku Aurora dengan raut wajah kesal, diikuti keempat teman satu geng nya.


……


"Apa?! Ekspresi wajah Sandra begitu terkejut saat mendengar ucapan kepala sekolah, bahwa tagihan pembayaran sekolah Aurora sudah dilunasi juga tagihan lainnya.


Wajah Sandra begitu shock mendengarnya. Bukan masalah tagihan yang membuatnya tidak percaya. Tapi … sesuatu yang membuat Sandra hanya bisa melongo.


Bagaimana tidak, pemegang saham terbesar di sekolah mewah itu atas nama putrinya — Aurora.


"Selamat, nyonya!" Ucap kepala sekolah dengan wajah bahagia.


"Anda begitu rendah hati, saya tidak percaya, anda adalah orang terhormat," lanjut kepala sekolah, yang mengira Sandra seorang kaya yang sengaja menyembunyikan statusnya.


"Anda mampu mengalahkan keluarga konglomerat nomor satu di kota ini, anda mampu membeli saham mereka," celetuk kepala sekolah yang semakin membuat Sandra melongo.


"Apa yang anda bicarakan?" Sandra bertanya dengan suara pelan.


"Putri anda pemilik sah sekolah ini," ungkap kepala sekolah yang senyumannya tidak luntur.


"Ini tidak mungkin," Sandra berkata lirih dan wajah tidak percaya.


"Semuanya, mungkin saja terjadi nyonya. Lihatlah, berkas ini," terang sang kepala sekolah, menunjukkan kepada Sandra sebuah berkas yang merupakan surat kepemilikan saham terbesar.


Sandra menggelengkan kepalanya dengan wajah terkejut, ia bahkan menatap sangat lekat surat itu, memastikan penglihatannya salah tentang nama putrinya di sana juga sidik jari mungil putrinya.


"Tidak mungkin, siapa yang melakukan ini semua?" Gumam Sandra dengan wajah syok.


"Apa ini ulahnya?" Batin Sandra dan segera bangkit dari duduknya dan segera keluar dari ruangan kepala sekolah.


Kepala sekolah memandangi Sandra yang berlalu dari ruangannya dengan senyum mengembang. Ia sengaja tidak memberitahukan tentang seseorang di balik semua ini.


"Putri anda sungguh beruntung bisa memiliki hati, sosok penguasa." Batin pria itu.


…….


"Maaf, membuatmu lama menunggu." Austin kini duduk di depan Sandra. Mereka kini berada di sebuah kafe di dekat sekolah. Sandra sengaja mengajak Austin bertemu untuk menanyakan sesuatu.


"Apa maksud anda melakukannya?" Tanya Sandra langsung pada intinya.


Austin yang masih mengatur nafasnya yang tersengal-sengal, merasa aneh dengan ucapan wanita di depannya ini.


"Melakukan?! Austin membeo dan mengulang ucapan Sandra.


"Saya sudah mengatakan, kalau saya tidak akan membuka hati untuk pria manapun," pungkas Sandra, pandangan wanita itu begitu tajam ke arah Austin.


Austin menggaruk kepalanya yang tidak gatal, ia begitu bingung dengan perkataan Sandra.


"Bisa kau jelaskan, apa yang aku lakukan?" Austin begitu penasaran dan kebingungan saat ini.


"Apa maksud anda memberikan saham terbesar kepada putriku!" Sentak Sandra, tatapannya pun kian tajam.


"Saham?! Austin pun semakin kebingungan.


"Saham pemilik sekolah yang baru," sela Sandra.


Wajah Austin semakin kebingungan dan itu membuat Sandra juga heran.


"Jangan katakan bukan anda yang melakukannya?" Timpal Sandra.


"Aku belum melakukan apapun untuknya," sahut Austin.


"Kalau bukan anda, siapa yang melakukannya?" Sandra masih memandangi Austin, mencari kebohongan di wajah pria itu, namun hanya wajah konyol kebingungan yang Sandra lihat.


"Lupakan," ujar Sandra singkat. Ia segera berdiri dan meninggalkan Austin yang masih terlihat begitu bingung.


Pria itu tidak menyadari Sandra sudah menghilang di hadapannya.


"Apa seseorang dengan diam-diam mengagumimu? Lalu pria itu melakukan sesuatu yang bisa membuatmu tersentuh." Austin berkata dengan tatapan bermaksud kepada Sandra. Tapi … wanita itu sudah menghilang.


"Sial!" Geram Austin dan segera bangkit dari kursinya, lantas menyusul Sandra.


"Aku tidak mau orang lain mendapatkannya, Sandra hanya milikku." Austin menuju pintu gerbang sekolah sambil menggerutu.