Mommy, My Angel

Mommy, My Angel
bab 42



Aurora dan Sandra telah tiba di sebuah gedung sekolah mewah. Bisa dikatakan sekolah tersebut merupakan tempat para keturunan orang kaya berkumpul untuk mendapatkan pendidikan.


Aurora bisa berada di sini, karena kecerdasan gadis kecil itu. juga kegigihan Aurora yang membuktikan kalau dia bisa menuntut ilmu di sekolah tersebut dengan memperlihatkan, bakatnya bermain biola.


Akhirnya salah satu pendidik di sekolah itu, tersentuh oleh semangat dan kegigihan Aurora. Ia pun membantu Aurora bisa menuntut ilmu di sekolah bertaraf internasional itu dengan mengambil kelas musik.


Sandra hanya bisa mengantarkan putrinya sampai di depan gerbang sekolah, mobil mewah dan mahal, sudah berjejer rapi di parkiran untuk mengantar anak-anak mereka. Hanya beberapa orang tua yang seperti Sandra mengantar anak mereka dengan menaiki bus kota.


Sandra berjongkok di depan putrinya, memindahkan tas biola putrinya di lengan — Aurora.


Biola yang begitu tidak layak lagi digunakan, Sandra mendapatkan biola bekas itu, kepada penjual barang bekas, ia pun membayarnya dengan setengah gajinya di restoran.


Sandra hanya ingin membuat putrinya bahagia dan ia rela bekerja lembur selama satu bulan untuk memberikan benda yang sangat dibutuhkan oleh putranya.


Gadis kecil itu tidak pernah sekalipun merengek untuk meminta sesuatu yang diluar kebiasaan sang mommy. Ia hanya perlu memainkan biolanya di tengah-tengah keramaian dan ia akan mendapatkan uang. Tentu saja, tanpa sepengetahuan sang mommy.


Sandra memanjangkan tongkat putrinya untuk membantunya menuntun jalan. Aurora meraihnya dan tersenyum ceria.


"Ingat, berhentilah memainkan biola di keramaian. Mommy masih bisa memenuhi kebutuhan kamu sayang," pungkas Sandra, memberikan peringatan kepada putrinya.


Aurora terdiam, ia hanya menatap kosong ke arah sang mommy dengan kedua kelopak matanya berkedip-kedip lucu.


"Sayang," tegur Sandra. Saat putrinya hanya terdiam.


"Aku tidak berjanji, mom," sahut Aurora.


Sandra menghela nafas panjang, ia bisa mengetahui perbuatan putrinya itu. Saat tidak sengaja melihat dengan kepala matanya sendiri putrinya memainkan musik biola di pinggir jalan keramaian, sebagai seorang ibu, Sandra begitu sedih.


Putrinya begitu tangguh, di saat memiliki kekurangan, gadis kecil itu tidak merasakan keterpurukan, putrinya bahkan memperlihatkan kepada semua orang akan kekurangannya namun mampu melakukan hal-hal orang normal lakukan.


"Honey!" Seru Sandra dengan wajah frustasi.


"Aku akan baik-baik saja, mom. Jangan khawatir," sahut Aurora dengan sangat yakin.


"Bibi Gracia akan menjemputmu," sela Sandra. Melihat jam tangannya dan ia segera bangkit.


"Baiklah," sahut Aurora.


"Ingat, pesan mommy," pinta Sandra.


Mencium seluruh wajah putrinya dan memeluknya penuh kehangatan.


"Aku menyayangimu, mom," bisik Aurora.


"Hum, mommy juga menyayangimu sayang," balas Sandra yang sekali lagi mengecup kening putrinya itu.


"Aurora!" Panggil seorang bocah laki-laki bertubuh kurus dan memakai kacamata.


Bocah laki-laki itu berlari ke arah Aurora dan sosok wanita berjalan menyusul bocah itu di belakang.


"Selamat pagi, nona Sandra." Wanita itu menyapa dengan ramah.


"Selamat pagi juga, nyonya Agustin," balas Sandra.


"Hay, Aurora!" Sapa bocah laki-laki itu kepada Aurora.


"Hay juga Jastin," balas Aurora.


"Mom, kami masuk dulu," pamit bocah laki-laki itu sambil membantu Aurora berjalan.


"Mommy, aku mencintaimu!" Seru Aurora sambil berjalan.


"Mommy juga mencintaimu, nak." Sandra membalas ucapan putrinya sambil terus memandangi Aurora yang berjalan sambil dituntun oleh bocah laki-laki itu.


"Semoga anak-anak kita bisa betah dan sabar dari tindakan semena-mena mereka." Wanita yang seusia Sandra berkata dengan tatapan nanar.


"Mereka pasti bisa. Mereka anak-anak yang pandai. Dengan memperlihatkan kemampuan mereka, semua orang-orang kaya itu akan terdiam." Ucap Sandra.


Wanita itu hanya mengangguk dan bisa tersenyum lega. Keduanya adalah orang tua murid yang tidak memiliki apa-apa, hanya mengandalkan kemampuan anak mereka bisa masuk di sekolah mewah dan internasional itu.


Keduanya berbincang-bincang sambil berjalan, tidak lama kemudian. sebuah mobil mewah berwarna hitam berjalan di belakang keduanya.


Sandra dan nyonya Agustin begitu menikmati perbincangan mereka, hingga tidak menyadari mobil mewah itu.


Akhirnya pemilik mobil mewah membunyikan klakson dengan kencang, membuat semua orang yang ada di sana memperhatikan ke arah Sandra dan nyonya Agustin.


Jelas saja, Sandra terkejut dan nyonya Agustin sampai terjatuh. Tapi beruntung, Sandra segera menahan tangannya.


Sepasang sepatu hak tinggi terlihat keluar dari mobil mewah itu, seorang wanita berkelas yang berdandan penuh kemewahan, kini mendekati Sandra dan nyonya Agustin.


Disusul sebuah mobil mewah lainnya di belakang mobil wanita kaya itu. Mereka semua kini berdiri di depan — Sandra dan nyonya Agustin dengan wajah penuh keangkuhan.


"Wow, lihatlah. Ternyata di sekolah mewah ini terdapat sampah dan sedang menghalangi jalan kita." Wanita cantik dengan dandanan dramatis, kini berbicara sarkas kepada — Sandra.


Wanita itu dan geng sosialita terkenal di sekolah itu, memandang Sandra dan nyonya Agustin sinis.


"Mereka begitu menjijikkan," Seloroh yang lain.


"Sungguh, sangat disayangkan sekolah ini, menerima siswa sampah seperti anak-anak mereka" celetuk wanita lainnya lagi.


"Mungkin mereka berdua mengemis," komentar yang lain.


"Bisa saja mereka menjual diri untuk membayar harga, sekolah disini," celetuk wanita yang berpenampilan seksi.


Kelima geng wanita berkelas itu tertawa dan mengejek Sandra dan nyonya Agustin.


Sandra hanya diam mendengar hinaan kelima wanita di depannya, raut wajahnya bahkan terlihat dingin.


Sebagian orang tua yang mengantar anak mereka, menyaksikan para geng sosialita itu, menghina Sandra.


…..


"Lihatlah, dia sedang menantang kita!" Seru salah satu dari kelima wanita itu.


Kelimanya refleks mengalihkan pandangan kepada Sandra yang menatap mereka dengan dingin.


"Hey! Berani-beraninya kamu menantang kami. Ingat, kami adalah istri dari donatur di sekolah ini," hardik wanita bergaun merah.


"Kalian hanya, manusia beruntung bisa berada di sekolah ini. Hanya orang-orang yang memiliki materi dan kekuasaan bisa, sekolah disini. Dan … kalian dengan percaya dirinya berada disini dan merusak lingkungan sekolah mewah ini." Wanita berpakaian elegan maju kedepan, berbicara dengan lantang sambil menunjuk wajah — Sandra.


Sandra masih diam dengan ekspresi tenang, meski sudah hal biasa menghadapi tindakan diskriminasi mereka, Sandra masih tetap sabar dan mengacuhkan perbuatan para wanita berkelas di depannya.


"Cih, sungguh menjijikkan," sela wanita lainnya dengan menampilkan wajah jijik.


"Wanita penuh keburukan di setiap tubuhnya," Seloroh yang lain, menilai penampilan Sandra dan nyonya Agustin.


"Sama dengan putrinya yang buta," celetuk wanita lain dan tertawa puas.


"Kasihan sekali gadis buta itu, harus hidup begitu sulit."


Kelimanya kembali tertawa, tanpa melihat berubah wajah Sandra yang berubah sangar.


"Putrinya pasti, anak pembawa sial dan terkutuk." Seorang wanita lainnya menambahkan, bumbu kemarahan dalam diri Sandra.


Sandra menggenggam kuat kedua telapak tangannya, matanya menatap kelima wanita itu dengan nyalang. Giginya bahkan bergesekan kuat, hingga menghasilkan bunyi.


Kelima wanita itu berpaling ke arah Sandra, namun kelima-nya tidak merasa terancam, mereka bahkan semakin membuat amarah Sandra bangkit.


"Hey, wanita menyedihkan. Berani-beraninya kamu menatap kami seperti itu." Wanita bergaun merah membentak Sandra.


"Sepertinya dia harus diberikan pelajaran," sela wanita yang terlihat berpakaian santai.


Wanita itu ingin menampar wajah menantang Sandra, saat salah satu tangannya terangkat ke atas, tiba-tiba sebuah kaki kini terarah tepat di wajahnya.


Sandra yang emosi mengangkat salah satu kakinya dan ia arahkan ke wajah wanita di depannya itu.


Kelima wanita itu terdiam dengan tubuh tertegun, wajah mereka bahkan melongo melihat aksi Sandra.


Namun yang lebih membuat kelima-nya melongo, saat Sandra menghantam body depan mobil mewah merah itu, dengan begitu kuat hingga membuat mobil wanita itu lempeng.


"Akh!" Pekik kelima-nya.


Mendadak wajah mereka menjadi syok, melihat keadaan depan mobil salah satu dari mereka.


"Beruntung, diantara kalian tidak merasakannya. Aku yakin, wajah plastik kalian akan bergeser." Sandra menurunkan kakinya dan menatap wajah pias kelima wanita itu.


"Oh yah, aku seperti pernah melihat anda?" Sandra berucap sambil menatap wanita bergaya seksi.


"A-apa maksud kamu," ucap wanita itu setengah membentak.


Sandra seperti sedang berpikiran, membuat kelima wanita itu penasaran.


"Bukankah, nyonya kemarin keluar dari kamar sewa di salah satu klub? Dan bersama dengan suami, nyonya ini?" Ungkap Sandra sambil menunjuk wanita bergaun merah, yang merupakan ketua geng sosialita itu.


"Jaga ucapan kamu!" Pekik wanita seksi yang raut wajahnya berubah pucat, melihat tatapan keempat wanita lainnya.


"Apa yang kamu katakan benar?" Tanya wanita bergaun merah.


"Hum! Coba lihat, bukankah perhiasan di leher kalian sama?" Sahut Sandra. Membongkar semua yang selama ini ia simpan. Yang ia sangat yakin akan berguna nantinya.


Wanita bergaun merah itu pun memperhatikan perhiasan di leher temannya itu dan ternyata benar.


"Jadi kau yang menjadi wanita lain suamiku!" Pekik wanita itu.


"Tidak! Dia berbohong," wanita seksi mengelak dan membalik menyalahkan Sandra.


"Aku bisa memperlihatkan video panas mereka," potong Sandra, sambil mengambil ponselnya, mencari sebuah rekaman yang ia simpan.


Sandra memperlihatkan sebuah rekaman cctv di klub itu, dimana terlihat pria dan wanita sedang bercumbu panas.


Keempat wanita itu terkejut dan kini menatap wanita seksi itu dengan wajah marah.


"Dasar wanita murahan, ternyata kau sendiri yang menjadi wanita lain dari suamiku." Wanita bergaun merah itu berteriak sambil menarik rambut temannya.


"Sepertinya apa yang ada di tubuhnya hasil dari pemberian suami anda. Bisa saja, anaknya bersekolah di sini karena menjual tubuhnya kepada suami anda." Sandra sengaja menambahkan bumbu panas kepada para wanita itu.


Seketika kelima wanita itu pun saling berdebat dan menyakiti, lebih tepatnya wanita seksi itu kini, di hajar habis-habisan.


Sandra hanya tersenyum sinis dan segera pergi dari sana bersama nyonya Agustin, yang sejak tadi terdiam.


"Mereka hanya wanita menyedihkan," gumam Sandra, terus berjalan tanpa menoleh ke belakang.


Nyonya Agustin meringis ngeri melihat penampilan dan kondisi wanita seksi itu.


"Tidak perlu kasihan kepada mereka."


"Mereka hanya manusia sombong yang berlindung dari kemewahan dan kekuasaan. tapi ... saling melukai."


"Sungguh hidup mereka begitu, menyedihkan."


Sandra terus berucap sambil berjalan menuju halte bus. nyonya Agustin hanya bisa terdiam.