
Gadis cantik berpenampilan anggun itu kini sedang memainkan biolanya di atas panggung. Mata terpejam untuk menikmati irama musik yang dihasilkan oleh gesekan biola tuanya itu.
Mimik wajah gadis cantik itu terlihat menjiwai setiap arti irama musik yang terdengar. Sebuah irama musik yang terdengar melankolis dan mampu melelahkan hati setiap mendengarnya.
Terbukti semua orang yang ada di aula terdiam. Mereka seakan terhipnotis dengan Irama musik petikan biola Aurora.
Bahkan ada yang melelehkan air matanya ikut merasakan Alunan musik syahdu itu. para juri pun saling berbisik dan menilai Aurora dengan kagum.
Gadis yang memiliki kekurangan itu, begitu piyawai dalam memainkan alat musiknya. Hingga membuat seseorang merasa ikut terbuai.
Sandra hanya bisa menikmati air matanya dan tanoa ia sadari, wanita itu kini membalas pelukan pria yang berada di sampingnya.
Sandra sangat memahami arti lagu yang di mainkan putrinya itu, sebuah lagu yang mengingatkan mereka pada saat-saat sulit.
Austin dengan lembut menenangkan wanita pujaannya, ia tidak hentinya mengusap punggung bergetar Sandra.
"Hey, kenapa kamu menangis?" Tanya pria itu berbisik.
Sandra mengangkat kepalanya dan menatap Austin dengan mata berair, wanita itu begitu terlihat sedih.
"Aku hanya terharu," sahut Sandra yang ingin melepaskan diri dari pelukan Austin. Tapi pria itu menahannya dan lebih mengeratkan pelukan.
"Diamlah, jadikan dadaku ini sebagai sandaranmu," bisik Austin.
Benar saja, Sandra kini memeluk tubuh kekar pria itu dengan erat, terisak di dada bidang Austin dan menjadikan tempat hangat untuk menenangkan jiwanya yang sudah lama rapuh.
"Menangis lah." Austin kembali berbisik.
"Tidak, bagaimana aku bisa menyaksikan putriku," sahut Sandra.
Austin pun tersenyum dan mengecup kening Sandra penuh cinta tulus. Ia juga kini memeluk tubuh Sandra dari belakang. Melingkar kan salah satu tangannya di punggung Sandra hingga depan dada.
Pria itu juga sesekali mengecup puncak kepala Sandra yang menatap kagum penuh keharuan kepada putrinya.
"Sebentar," bisik Austin melepaskan pelukannya. Ia sedang menerima sebuah panggilan penting.
Sandra mengangkuk kepalanya dan tersenyum. "Tetap lah' disini jangan kemana-mana!" Pinta Austin dan tidak lupa meninggalkan kecupan di kening Sandra.
Sandra hanya terdiam dan mengakukkan kepalanya kembali. Setelah itu melihat putrinya di atas panggung. Gracia berada di depannya yang sejak tadi tidak hentinya mengambil rekaman video.
……
"Jangan biarkan satu orang pun, menyebarkan video acara ini. Apalagi video gadisku!" Titah seorang pria remaja yang kini berada di paling pojokan ruangan aula.
"Baik, yang mulia." Sang pengawal pun mengiyakan dengan sikap hormat.
Erland tidak ingin dari pihak keluarga ayah biologis Aurora mengetahui, keberadaan gadisnya. Ia tidak ingin hidup gadis yang begitu berarti untuknya kembali terusik.
Hampir saja Sandra dan putrinya ketahuan saat melakukan pertarungan ring. Seseorang yang menjadi klien Kendrick dan tuan Wingston menyebarkan video Sandra saat bertarung secara diam-diam.
Beruntung, Erland segera mengetahuinya. karena saat itu ia sedang melakukan pertemuan bisnis dengan orang tersebut.
Demi keamanan gadisnya, Erland rela menghabisi nyawa orang itu dan membuang jauh tentang keberadaan gadisnya.
Sekarang Erland kembali mengawasi Aurora dari kejauhan dan menyakini keamanannya.
"Anda tidak menemuinya?" Tanya pengawal setia.
"Tidak! Terlalu berbahaya untuk nyawanya. Kamu tahu sendiri para musuh di luar sana yang terus mencari tahu kelemahanku." Erland berkata dengan wajah datar dan tatapan tajam ke arah panggung.
Namun tatapannya melembut saat melihat senyum Aurora. Remaja itu bahkan mengabadikan wajah cantik gadis itu di ponselnya.
"Apa seluruh anggota kamu sudah berada di sini?" Erland bertanya tanpa melihat wajah pengawalnya.
"Sudah, yang mulia," sahut pria yang selalu setia mengikutinya.
Erland diam dan terus memindai wajah Aurora dari jarak beberapa meter. Remaja itu begitu gemas melihat wajah Aurora yang terlihat begitu mengemaskan.
…..
Sandra mendongak ke atas untuk menghalangi air matanya agar tidak terjatuh. Namun hal ganjil membuatnya mengeryit heran.
Wanita itu kini menatap sesuatu hal yang berbahaya yang akan di alami putrinya. Alarm insting keibuannya memberikan sinyal bahaya. Sandra pun terus melihat keanehan itu.
Sebuah lampu sorot di atas sana hampir terjatuh dan persis, berada di atas kepala putrinya
Sandra melihat putrinya yang masih memainkan musik biola dan bergantian menatap, bahaya di atas sana.
Wajah Sandra pun menjadi panik dan tegang. Ia kebingungan harus melakukan apa? Putrinya dalam keadaan serius dan dirinya harus segera menyelamatkan nyawanya.
Serok tepuk tangan membuat Sandra bertambah bingung, apalagi ia tidak mungkin memanggil Austin. Pasti pria itu tidak mendengarnya.
Hingga saat Sandra mendongak ke atas, Erland bisa melihat sesuatu bahaya di sana.
Ia pun segera bergerak, bersamaan Sandra juga mencoba segera bergerak untuk menyelamatkan Aurora.
….
Lampu yang berada di atas kepala Aurora sedikit demi sedikit akan segera terlepas dan jatuh kebawah.
Sedangkan Aurora masih memainkan biolanya dengan wajah menghayati. Tanpa mengetahui bahaya yang akan datang kepadanya.
Orang yang berada di sana terheran saat Sandra berlari dan naik keatas panggung.
Sandra yang berada di dekat putrinya, segera memindahkan tubuh Aurora dan saat ingin menjauh, lampu yang lumayan besar itu terjatuh dan akhirnya mengenai kepala Sandra.
Semua orang menahan nafas karena terkejut dan tegang, saat menyaksikan detik-detik Sandra berusaha menyelamatkan Aurora, putrinya.
Suara benda jatuh itu terdengar nyaring, membuat semua orang refleks ingin mengeluarkan teriakan. Namun dengan menahan rasa sakit di kepalanya, Sandra memberikan kode kepada mereka agar jangan ada yang megeluarkan suara kekacauan.
Sandra tidak ingin membuat putrinya gagal yang sekarang masih memainkan biolanya. Tanpa ia sadari sang mommy dalam keadaan terluka.
Gracia segera berlari ke atas panggung. Begitu juga dengan Austin yang begitu terkejut, mendengar suara nyaring dan ia semakin terkejut, melihat keadaan Sandra yang di penuhi cairan merah di kepala.
"Honey!" Panggil Austin pelan, segera meraih tubuh lemah Sandra.
"Honey," panggilannya lagi. Wajah pria itu begitu ketakutan.
Sandra meletakkan jari telunjuknya di bibir. Agar Austin dan Gracia terdiam. Sandra tidak ingin putrinya tahu.
Orang yang berada di aula begitu terharu atas kasih sayang juga perlindungan yang di berikan kepada putrinya.
Para juri pun begitu terharu melihat berjuang Sandra menahan rasa sakit hanya demi menyaksikan putrinya tercinta.
Tepuk tangan terdengar berserok. Kini Aurora sudah menyelesaikan lomba dengan hasil yang begitu memuaskan.
Namun sejak tadi persaaan gadis kecil itu terganggu saat menyadari keberadaan sang — mommy.
"Mommy!" Panggilnya.
Sandra, Austin dan Gracia terkejut. Sandra pun memberikan kode kepada Austin agar diam.
"Mommy!" Seru Aurora. Mencari letak sang mommy. Aurora bisa mengetahui letak keberadaan mommynya. Entah ia merasa tubuh mommynya mimikki magnet.
"Iya," sahut Sandra. Wanita itu mencoba menahan rasa sakit di kepalanya.
"Ada sesuatu yang terjadi?" Tanya Aurora kembali. Kini sudah berada di dekat mommynya. Sandra pun mencoba menyembunyikan luka di kepala.
"Tidak, hanya sedikit kejadian aneh," jawab Sandra.
"Aku mencium bau darah dan suara mommy terdengar kesakitan?" Cerca si cerdas Aurora.
"Tidak apa nak. Mommy baik," balas Sandra. Sekuat tenaga mencoba mempertahankan kesadarannya.
Austin bahkan mengingat punggung tangannya agar tidak mengeluarkan reaksi berlebihan.
"Sekarang, Aurora kembali ke barisan!" Pinta Gracia.
Gadis kecil itu pun menurut dan segera melangkah ke kumpulan murid yang ikut kempotensi ajang pencarian bakat.
"Aku akan membawamu ke rumah sakit!" Seru Austin. Mengendong tubuh Sandra.
"Tidak! Aurora pasti mencariku," sahut Sandra.
"Tidak akan, sebaiknya kita mengobati lukamu terlebih dahulu," Austin bersikeras membawa Sandra ke rumah sakit.
Melihat luka di kepala bagian depan Sandra, membuat Austin panik dan khawatir.
..
"Apa ini. Kenapa kalian bisa lalai menemukan bahaya sedikitpun!" Erland kini mengamuk kepada pengawal nya.
"Maaf, yang mulia. Semuanya murni kecelakaan," sahut pengawal pribadi.
"Aku tidak peduli. Yang jelas, gadisku hampir dalam bahaya." Erland memekik lantang.
"Yang mulia,"
"Cepat, cari semua sumber masalahnya dan bahaya. Perintahkan untuk mengganti semua fasilitas di sekolah ini untuk kenyamanan — gadisku.
"Baik, yang mulia," sahut para pengawalnya.