
"Brak!" Suara keluhan terdengar di mulut seorang gadis kecil yang sedang berjalan bersama kedua sahabatnya.
Terlihat gadis kecil lainnya berdiri di hadapan sosok gadis cantik yang tadi ia dorong.
Charlotte sengaja mendorong kedua dada Aurora, saat melintas di hadapannya menuju aula sekolah.
Gadis kecil arogan itu, tidak Terima sudah dipermalukan di dalam kelas juga sangat membenci Aurora berada di sekolah.
"Charlotte! Apa yang kamu lakukan!" Natasya membantu Aurora berdiri dan mendekati Charlotte dan membalas mendorongnya.
"Kau!" Sentak gadis berpenampilan begitu elegan itu.
"Apa masalahmu, hah!" Hardik Natasya. Gadis bermata sipit itu, tidak akan terima sahabatnya di perlakukan semena-mena.
"Jangan ikut campur urusanku," teriak Charlotte dengan raut wajah peringatan.
"Kau, mengganggu sahabatku," balas Natasya sengit.
Charlotte dan Natasya saling melempar, tatapan permusuhan. Namun, Charlotte tidak bisa melepaskan Aurora begitu saja. Entah mengapa gadis itu begitu membenci auroraku.
Gadis kecil itu merasa, Aurora adalah ancaman buatnya untuk bisa memenangkan penyeleksian, itu karena Aurora lebih unggul darinya dalam memainkan berbagai musik biola.
Charlotte pun merencanakan sesuatu untuk bisa menghalangi Aurora untuk mengikuti lomba penyeleksian.
"Kau!" Kini Charlotte menunjuk wajah Aurora dengan raut wajah iri.
Natasya menepis jari Charlotte dan menyembunyikan Aurora di belakangnya.
Aurora sendiri hanya bisa diam dan bingung harus melakukan apa? Ia hanya bisa menajamkan pendengarannya untuk mendengar perdebatan sahabatnya dan Charlotte.
"Aku minta maaf, kalau memiliki salah," sela Aurora. Natasya dan Charlotte mengalihkan pandangannya ke arah Aurora.
"Cih! Kau tidak boleh mengikuti acara ini," sentak Charlotte. Gadis berambut blonde pirang itu kembali mendorong pundak — Aurora.
"Charlotte!" Hardik Natasya.
"Kau tidak punya hak, melqrnqg Aurora untuk mengikuti kesempatan untuk sukses ini. Semua murid punya hak mengikutinya," pungkas Natasya tegas.
"Cih!" Charlotte mendesak kasar dan memindai penampilan Aurora.
"Apa kau ingin sekolah kita malu? Mengikutsertakan seorang murid cacat. Apa penilaian orang-orang kalau sekolah semewah ini menerima murid cacat dan miskin. Sekolah ini akan tercemar juga dipandang kumuh." Charlotte mencoba mempengaruhi murid-murid lainnya, agar mereka menolak Aurora mengikuti lomba seleksi pencarian bakat.
Murid-murid yang ada di sana berbisik-bisik, masing-masing dengan penilaian mereka. Namun kebanyakan dari mereka menolak, Aurora ikut dalam lomba tersebut.
"Katakan saja, kalau kamu takut," sahut Jastin tiba-tiba.
"Apa maksud kamu!" Hardik Charlotte dengan wajah sombongnya.
Jastin dan Natasya saling memandang dan melemparkan senyum penuh rencana.
"Kamu takut kalau Aurora mengalahkan mu, bukankah itu sama saja dengan payah?" Celetuk Natasya.
Mendengar itu, Charlotte tidak terima. Ia tidak ingin diremehkan seperti ini. Ia pun melemparkan tatapan tajam ke arah Aurora.
"TIDAK! Aku tidak pernah takut bersaing dengannya," pekik Charlotte.
"Benarkah? Lalu kenapa kau begitu antusias Aurora tidak mengikuti lomba ini? Apa karena Aurora yang terbaik dan menjadi ancaman buat kamu?" Jastin berkata dan tersenyum remeh.
"Tutup mulutmu, anak miskin!" Gertak Charlotte.
"Terus… masalah kamu hanya Aurora yang kamu cegah mengikuti lomba ini, apa?" Sahut Natasya. Membuat wajah Charlotte semakin merah karena menahan amarah, terus di sudutkan.
Niat hati ingin memberikan pelajaran kepada Aurora, namun lagi-lagi ia harus menanggung semua perlakuan nya.
"Jelas saja dia sangat ketakutan dan payah." Lanjut Natasya, menekan kalimat terakhirnya.
Wajah Charlotte semakin merah padam, tatapannya pun kian sengit menatap ketiga rivalnya yang berdiri di hadapan dengan gaya menantang.
Tidak tahan mendengar bisik-bisik para murid lain, tentang dirinya. Charlotte maju ke depan, dan kembali mendorong Aurora.
"Aku tidak takut dengannya dan aku bisa mengalahkan si buta, menyedihkan ini. Dia hanya gadis yang terlahir dari seorang ibu murahan yang menjual diri!" Charlotte berteriak lantang di halaman belakang gedung sekolah.
Aurora yang mendapatkan perlakuan kasar hanya bisa mendesis kesakitan, Jastin dan Natasya membantu berdiri. Tapi Aurora berubah marah, saat mommynya di hina.
Dengan wajah berubah seratus persen dari sebelumnya, Aurora melangkah ke depan dan berbalik mendorong tubuh Charlotte.
"Mommy ku bukan wanita seperti itu, mommyku wanita terhormat dan baik-baik." Aurora berteriak tak kalah lantangnya dan wajah gadis kecil itu sangat terlihat berbeda.
Para murid yang ada di sana terkejut melihat, berubah wajah Aurora yang semula lembut, kini berubah sangat mengerikan.
Charlotte bahkan terlihat terkejut dan melongo. Begitu juga dengan Jastin dan Natasya.
"Hey!" Terdengar seruan lantang dari arah belakang Aurora dan kedua sahabatnya.
Terlihat beberapa orang berjalan ke arah mereka dengan wajah marah. Salah satu dari mereka yang merupakan ibu dari Charlotte berjalan lebih cepat. Ketika melihat putrinya di perlakukan kasar.
"Mommy!" Panggil Charlotte, tiba-tiba gadis licik itu menangisi.
"Dia sudah berani melawan dan melukaiku," gadis itu mengadu kepada mommynya yang sudah berada di dekatnya.
"Plak, lancang kamu, dasar anak murahan. Kamu hanya anak haram yang tidak memiliki seorang ayah, kamu hanya anak dari hasil ibumu menjual diri." Maki dan hardik nyonya anggun itu tanpa merasa kasihan melihat wajah Aurora.
Jastin dan Natasya membantu Aurora bangun dan memeluk Aurora yang meringis kesakitan di wajahnya yang tampak membekas telapak tangan nyonya kaya itu.
"Mommy bukan wanita seperti itu, mommy adalah wanita terbaik bagiku. Aku memiliki seorang daddy." Aurora menangis sambil meracau.
Wanita itu dan anggota keluarganya hanya memandang sinis kearah Aurora. Mereka bahkan berdecih di depan gadis itu.
"Cih! Ibumu hanya wanita malam. Dia setiap malam berada di klub dan menjajakan tubuhnya kepada pria mesum," lanjut nyonya kaya dengan wajah jijik.
"Mommyku tidak seperti itu. Kalian semua tidak mengenal, mommyku!" Teriak Aurora di depan anggota keluarga kaya itu.
Nyonya dengan wajah penuh make up tebal itu, menjadi berang, melihat Aurora berani memekik di hadapannya.
"Dasar anak murahan dan cacat!" Wanita itu memaki dan menghina Aurora dengan suara lantang.
Wanita itu juga ingin melayangkan satu tamparan lagi di wajah mungil Aurora. Namun saat hampir saja telapak tangan mulus wanita itu mengenai wajah Aurora, tiba-tiba tangannya tercekal oleh seseorang.
Bukan itu saja, cekalan tangan itu memutar pergelangan tangannya hingga menghasilkan bunyi tulang retak.
"Akh!" Wanita itu hanya bisa berteriak kesakitan saat tulang pergelangan tangannya terasa terlepas.
Bukan itu saja, ia juga mendapatkan tamparan kuat di wajah, berulang kali membuat wajah sombong, wanita itu meninggalkan tanda memar. Sudut bibirnya mengeluarkan cairan merah begitu juga dengan hidung wanita itu.
Sandra yang melihat dengan mata kepalanya sendiri, putrinya di hina dan diperlakukan semena-mena, layaknya seorang hina, merasa berang.
Sandra bagaikan seekor ibu predator buas mematikan yang sedang mengamuk saat anaknya dalam bahaya.
Tatapan wanita itu, begitu mengerikan. Mampu membuat orang-orang ketakutan. Terbukti, nyonya arogan itu beringsut ketakutan juga keluarganya. Bahkan, Charlotte bersembunyi di pelukan daddynya.
Sandra mendekati nyonya arogan yang sudah menyakiti putrinya secara fisik dan batin. Sandra meraih rambut panjang wanita itu dan menariknya kuat. Wanita itu hanya bisa berteriak kesakitan dan meminta tolong kepada suaminya.
"Bugh." Sandra menghantamkan kepala wanita itu di dinding gedung tersebut dan melemparkan ke sisi pria yang berusaha menghentikan amukannya.
"Nyonya!" Teriak suami dari wanita tersebut.
"Anda sudah melakukan tindakan kekerasan kepada istriku!" Pekik pria itu yang tidak terima melihat istrinya dihajar brutal.
"Terus apa yang istri anda lakukan kepada, putriku," sahut Sandra dingin.
"Apa menurut anda yang istri anda lakukan adalah tindakan terpuji? Melakukan diskriminasi kepada anak di bawah umur. Apa anda merasa, yang dilakukan istri anda adalah benar?" Lanjut Sandra. Wajahnya begitu mencekam dan suara penuh kengerian.
"Tapi anda melakukannya di depan anak-anak di bawah umur. Ini tidak baik untuk psikologi anak. Ini sungguh tidak baik dijadikan contoh. Anda adalah seorang ibu yang buruk. Memberikan contoh preman kepada anak anda. Pantas perlakuannya begitu brutal." Pria itu mengeluarkan kata-kata yang menurutnya adalah benar.
"Lalu bagaimana dengan istri anda? Bukankah dia melakukan diskriminasi di depan anak-anak dan mengeluarkan kata-kata kasar? Terus menurut anda dia pantas disebut wanita baik-baik dari kalangan terhormat, seperti keluarga anda?" Sandra membalas perkataan pria itu yang mampu membuat, suami-istri kaya terdiam. Seakan sedang menahan rasa malu.
Wanita arogan itu menunduk kepalanya saat mendapatkan tatapan tajam dari sang mertua. Begitupun dengan suaminya yang merasa tidak berkutik.
Pria itu berdehem, mencoba membuat Sandra tidak berkutik sepertinya.
"Istriku hanya membela putri kami, karena dia sangat menyayangi putri kami satu-satunya." Pria kaya itu terus membela istrinya.
Sandra tersenyum miring, melihat sikap arogan orang-orang di hadapannya. Ia menoleh ke samping, di mana putrinya terisak di pelukan kedua sahabatnya. Sandra menggertakkan giginya saat melihat bekas merah di wajah — Aurora.
"Apa menurut anda yang aku lakukan bukan untuk membela putriku? Yang mendapatkan tamparan dan hinaan?" Sahut Sandra yang berusaha menahan amarahnya.
"Seharusnya perlakuan anda lebih bijak dan bisa menjaga images, bukan bersikap layaknya seorang preman. Di mana letak pendidikan tinggi anda? Apabila tidak bisa menjaga sikap dan kehormatan kalian. Berkata kasar terhadap anak dibawah umur." Sandra mengucapkan kalimat yang mampu menampar kembali keluarga konglomerat terpandang di depannya.
Terlihat tetua mereka menahan rasa emosi dan menatap putranya dan wanita bergaya arogan itu.
"Apa begitu sikap dari keluarga konglomerat terpandang? Yang di sanjung orang-orang memiliki hati dermawan?" Lanjut Sandra dan tersenyum miring.
"Aku berjanji akan memenjarakanmu dan menuntut mu atas tindakan kekerasan!" Wanita arogan mengeluarkan kalimat ancaman.
"Aku pun akan menuntut anda kembali dengan tuduhan tindakan diskriminasi kepada anak dibawah umur. Aku yakin catatan nama buruk keluarga kalian akan bertambah," sahut Sandra yang lagi-lagi berhasil membuat keluarga kaya itu terdiam.
"Apa maksud kamu!" Wanita yang penampilannya kini berantakan berteriak lantang.
Sandra terlihat menyerigai kepada suami wanita arogan itu dan mengatakan sesuatu dengan lirih.
"Scandal tentang suamimu dengan beberapa orang terdekatnya. Salah satunya sekretarisnya," bisik Sandra di depan wajah wanita itu.
"Omong kosong!" Pekik pria berwajah tampan itu.
"Hentikan semua perkataan sampah mu itu, wanita murahan. Putrimu memang hanya anak haram dan buruk!" Maki pria itu menahan emosi sejak tadi.
Sandra yang lagi-lagi mendengar, putrinya dihina dengan sebutan anak haram, segera mendekati pria berwajah garang kepadanya.
"PLAK, PLAK." Sandra memberikan tamparan di wajah pria itu dengan tatapan dingin.
"Siapa yang anda maksud anak haram!" Teriak seorang pria dari punggung Sandra.
"Berani-beraninya kalian menggunjing putriku anak haram. Apa kalian tidak mengenalku, hah!" Bentak pria itu yang tidak lain adalah — Austin.
"T-tuan Cooper?! Keluarga konglomerat terpandang itu terkejut melihat tuan muda Cooper berada di hadapan mereka dan lebih membuat mereka terkejut, atas pengakuan — Austin.
"Daddy?! Aurora berkata lirih dengan wajah berubah pias.