
Sandra dan Aurora kini sedang bersiap untuk berangkat ke sebuah gedung pertunjukan. Cindy dan Gracia dengan senang hati membantu Sandra dan Aurora.
Sedangkan gadis kecil itu kini bermain bersama saudaranya, Lewis bahkan tidak ingin melepaskan pelukannya kepada, Aurora.
Sikap bocah laki-laki itu tidak luput, dari perhatian Cindy. Wanita itu tahu, insting putranya begitu kuat kepada orang yang di sayangi.
"Apa kamu tidak ingin memikirkan semuanya kembali?" Tanya Cindy yang terlihat khawatir dan terus menatap raut wajah putranya.
"Tidak," sahut Sandra dengan senyuman.
Sandra menghentikan gerakan tangannya saat mempersiapkan sesuatu untuk keperluan Aurora dan mendekati Cindy.
Wanita itu memegang pundak lesu Cindy dan tersenyum.
"Aku hanya menanggapi hal buruk dari raut putraku," tukas Cindy yang menatap Sandra lekat.
"Dia mempunyai insting kuat tentang, hal buruk," lanjutnya khawatir.
Sandra melirik ke arah Aurora dan Lewis. Di mana pria kecil itu memeluk Aurora dengan eratnya.
Entah mengapa Sandra juga merasa khawatir, Sandra pun menjadi bimbang. Tidak mungkin ia membatalkan pertunjukan putrinya.
Aurora sudah mengharapkan acara pertunjukan tunggalnya terjadi, Sandra tidak ingin membuat Aurora bersedih.
"Semuanya akan baik-baik saja," ujar Sandra, dengan tatapan menerawang ke arah putrinya.
"Apa kalian sudah siap?" Gracia bertanya sambil melirik jam tangannya.
"Semua kru sudah menunggu," lanjutnya sambil mengambil tas yang sudah siap di kamar Aurora.
"Ayo!" Ajak Sandra kepada Cindy.
Kedua wanita itu segera mendekati Aurora dan Lewis. Lantas berjalan ke luar apartemen dengan membawa sebuah koper berisi perlengkapan Aurora.
Sandra mengernyit heran, saat tidak melihat keberadaan kedua bodyguard Austin di luar apartemen.
Namun Sandra mengacuhkannya, ia berpikir kedua pria bertubuh kekar itu sedang istirahat.
Kelimanya sudah berjalan menyusuri lorong apartemen mewah itu untuk menuju lift yang ada di sudut sana.
Mereka berjalan sambil diiringi canda tawa, untuk mengurangi persaaan gugup mereka.
Seorang pria yang memakai pakaian petugas kebersihan, terus mengawasi mereka sejak keluar apartemen.
Pria itu menghubungi rekannya dengan alat yang menempel di salah satu telinganya.
"Target menuju ke bawah," ujar pria itu.
Terlihat senyum miring di sudut bibir pria tersebut, saat tidak melihat kelima orang itu, pria itu pun melepas pakaiannya dan kini terlihat penampilan pria seperti seorang tim, pembunuh bayaran.
…
"Aneh!" Seru Gracia.
Gadis itu merasa aneh saat tidak menemukan sopir juga keempat bodyguard yang selalu mengawasi mereka layaknya seorang bangsawan.
"Kemana mereka?" Tanya Cindy, ia juga merasa heran.
"Entahlah, mungkin mereka kelelahan dan sedang beristirahat," sela Sandra dan ia kini duduk dibalik kemudi.
"Bukankah, ini aneh? Seharusnya mereka tidak meninggalkan tugasnya," ketus Gracia yang menyusul Sandra masuk ke dalam mobil.
Cindy dan kedua anak kecil itu pun kini sudah duduk di kursi belakang dengan senyum Aurora terlihat begitu bahagia.
Sandra pun mulai melajukan mobilnya dengan doa yang selalu ia uraikan dalam hati, semoga putrinya selalu bersamanya dan sehat juga selamat.
Tanpa mereka sadari, Lima mobil sedan berwarna hitam mengikuti mobil mereka. Sandra yang melihat melalui kaca spion, tidak menaruh curiga. Dia pikir mungkin hanya pengendara lain.
Hingga tiba di jalan sepi, Sandra pun mulai waspada. Saat kelima mobil hitam itu terus mengikuti mereka.
Sandra menatap putrinya yang sedang bercanda, melalui kaca spion di atas kepalanya dan melirik Gracia.
"Ada apa?" Tanya gadis itu saat melihat kegelisahan Sandra.
Sandra tidak menjawab, ia hanya melirik kaca spion di sampingnya, diikuti oleh Gracia. Gadis itu berubah panik, ketika merasakan bahaya.
Cindy pun ikut panik ketika kelima mobil hitam itu semakin mendekati mobil yang mereka.
Sandra berusaha tenang, agar bisa berkonsentrasi untuk bisa melalui ancaman yang sedang dihadapinya.
"Akh!" Pekik Cindy.
Sandra membanting setir mobil saat dua mobil menghimpit mobilnya, tapi tiba-tiba sebuah hantaman mereka rasakan di bagian belakang mobil.
Aurora pun terjungkal ke depan, hampir saja ia terbentur sesuatu keras di dalam mobil, beruntung Cindy segera menahannya.
Sandra melirik putrinya yang terlihat ketakutan, ia juga merasa begitu panik dan tegang.
"Kamu tidak apa-apa, sayang?" Tanyanya kepada putrinya.
"Tidak mom," sahut Aurora yang nada suaranya terdengar ketakutan.
"Pasang sabuk pengamanmu, nak!" Pinta Sandra.
Wanita itu menambah laju mobilnya dan menghindari hantaman bertubi-tubi dari mobil musuh.
"Apa yang kau lakukan?" Gertak Sandra, saat melihat Gracia mengeluarkan sebuah pistol.
Gadis itu hanya terdiam dan membuka setengah kaca mobil, mengeluarkan pistol di tangannya dan menarik pelatuk lantas, menembakkan ke arah ban depan mobil musuh yang berada di samping mobil mereka.
"Dor, dor."
Gracia berhasil menembakkan dua peluru di masing-masing ban depan mobil musuh di samping mereka.
Membuat mobil sedan hitam itu oleng dan menghantam pembatas jalan tol yang sunyi.
"Cindy, lindungi mereka!" Pinta Sandra.
Cindy menganggukkan kepalanya dan memeluk kedua bocah itu yang terasa gemetar hebat.
Sandra kini melirik Gracia, gadis itu segera setuju saat melihat perintah Sandra. Keduanya pun kini saling bertukar tempat. Yang mana, Gracia yang sekarang berada di balik kemudi menggantikan Sandra yang kini mengambil alih pistol Gracia.
"Kamu siap?" Tanya Sandra kepada Gracia.
Gadis itu pun menganggukkan kepalanya dan menekan gas mobil. Gracia mengemudi mobil dengan begitu lihainya, ia bahkan dengan hebatnya menghindari setiap hantaman mobil di belakang mereka.
"Dor, dor."
Mobil mereka kini di serang oleh peluru dari arah belakang. Beruntung kaca mobil mereka anti peluru, membuat Sandra dapat sedikit bernafas lega.
Sandra kini membuka kembali kaca mobil hingga bawah, mengeluar kepalanya dan membidik sasaran pada salah satu mobil yang akan menyalip mereka.
"Dor," Sandra berhasil menembus kaca mobil musuh dan mengenai kepala pria yang ada di balik kemudi musuh.
Sandra kembali membidik membabi buta ketiga mobil yang tersisa di belakang. Sandra kini hanya membidik sasarannya yang mobil musuh yang di depan.
Sandra menempatkan sasaran di tangki mobil hitam tersebut, saat ketiga mobil itu saling berdekatan, Sandra pun membidik sasarannya hingga tepat.
Membuat mobil musuh meledak seketika dan mobil yang lain pun ikut meledak. Sandra memasukkan kembali kepalanya sambil menaikan kaca mobil.
Wanita itu menarik nafas panjang dengan wajah penuh keringat, ia menoleh ke sampingnya, dimana Gracia tersenyum. Beruntung ia memiliki gadis tangguh dan hebat seperti Gracia.
Yang mampu mengemudi dan menghadiri musuh, setiap ingin menyalipnya di bagian sisanya.
Sandra menoleh ke belakang, dimana putrinya terlihat ketakutan. "Tenanglah, nak. Semuanya akan baik-baik saja," ujar Sandra pelan.
Namun sepertinya, semuanya belum berakhir. Saat Gracia tiba-tiba menginjak rem mobil. Sandra bahkan terbentur dengan dasbor mobil membuat keningnya terluka.
"Sial!" Umpat Gracia, melihat begitu banyak pria di depan sana menghadang jalan mereka.
Sandra menatap nyalang para penjahat di depan sana. Yang terlihat begitu banyak.
Apakah ini semua rencana ayah biologisnya, pria itu kini meminta bantuan kepada kelompok gangster di kota itu.
"Bagaimana ini?" Cindy kini tampak ketakutan. Ia terus memeluk Aurora dan Lewis.
"Tetaplah, disini. Jangan membuka pintu, apapun yang terjad!" Pinta Sandra.
Cindy menganggukkan kepalanya dengan raut wajah pucat, begitu juga dengan kedua anak kecil itu. Yang begitu ketakutan.
Sandra keluar dan disusul oleh Gracia. Keduanya akan menghadapi para penjahat bayaran di hadapan mereka.
Para penjahat itu hanya memandang kedua wanita itu remeh dan memberikan tatapan mesum.
"Serahkan, gadis kecil itu kepada kami!" Titah pria yang merupakan ketua gengster itu.
"Itu tidak akan pernah terjadi," sahut Sandra dengan tatapan dingin.