
Tungkai kaki itu melangkah lemah di sepanjang koridor, rumah sakit. Kesedihan juga kecewa, terlihat begitu jelas di raut wajah sang pria.
Tatapannya begitu kosong dengan mimik wajah linglung, ia pun melangkah entah kemana. Pria itu hanya ingin menumpahkan perasaan bersalah, kecewa, juga terluka saat — harus terpaksa merelakan putranya pergi dengan kedua orang tua sewaan.
Kendrick tidak dapat berbuat ataupun memikirkan cara, agar putranya bisa berada dalam lingkungan hidupnya. Namun semua dalam kendali sang mommy juga kemauan sang istri.
Wanita itu menolak, untuk mengakui bayinya sendiri, padahal dia lah' yang menjaga juga melahirkannya. Tapi … wanita itu begitu tega membuang bayinya, hanya perkara fisik sang putra yang tidak sempurna.
Kendrick seakan Dejavu dengan apa yang ia alami sekarang, tiba-tiba ingatnya tertuju kepada — mantan kekasih juga bayi yang ia tolak.
Seakan ia mendapatkan sebuah kutukan, kini Kendrick bisa merasakan apa yang wanita itu rasakan.
Ternyata begitu menyakitkan dan menyesakkan. Menolak mengakui darah daging sendiri.
"Maaf!" Gumamnya pelan.
Pria itu kini berhenti di depan sebuah ruangan khusus pasien VVIP. Tanpa ia ketahui, pasien di dalam sana adalah — mantan kekasihnya, yang sedang terbaring dengan infus terpasang di salah satu pergelangan tangannya.
Kendrick menyatukan belakang kepala ke dinding, mata almond itu terus menitikkan air mata, punggung lebar pria itu berguncang kuat dan terdengar tangisan lirih.
Setiap pria itu menitikkan air mata, maka sang pasien di dalam sana menggerakkan jari-jarinya. Seakan merasakan kesakitan pria itu dan ingin merayakannya.
Kendrick meluruh di atas lantai marmer, ia tidak bisa menahan perasaannya saat ini, hingga ia menolak untuk menjaga wibawanya sebagai seorang, pewaris.
Pria itu terus menangis terisak di sana, di depan kamar pasien yang ditempati, wanita masa lalunya.
Kendrick tidak menghiraukan, tatapan aneh orang-orang yang melintasinya. Ia terus menyembunyikan wajah rupawannya di balik dengan menunduk.
………..
Kendrick melanjutkan langkahnya, setelah puas menumpahkan perasaan sedihnya. Raut wajah tampan itu masih terlihat menyedihkan. Ia hanya bisa terdiam membisu dengan tatapan kosong.
Sapaan dari orang-orang yang mengenalnya, ia hiraukan dan memilih diam seribu bahasa. Kendrick ingin menenangkan pikiran terpuruknya terlebih dahulu, setelah itu ia akan kembali berbicara kepada — istrinya.
Langkah panjang pria itu berhenti tiba-tiba di depan pintu kokoh berwarna putih. Tubuh jangkung itu terpaku dengan mimik wajah tegang, saat… mendengar suara rengekan manja seorang bayi.
Suaranya begitu menggemaskan, membuat perasaan Kendrick tiba-tiba menghangat. Pintu terbuka, seorang perawat wanita keluar dengan perlengkapan bayi di tangan.
Kendrick mengintip di celah pintu yang tidak begitu tertutup sempurna, ia menerbitkan senyum tampannya, saat melihat bayi itu dari jauh.
Tampak tubuh mungil kemerahan itu menggeliat menggemaskan dengan suara lenguhan manja. Kendrick semakin merasakan kehangatan.
Seakan ada sebuah magnet yang menarik perhatiannya untuk terus menatap bayi mungil itu.
"Dia, begitu menggemaskan," monolognya dengan iringan senyum bersahaja.
"Seandainya, aku menerimanya, mungkin aku bisa menggendongnya," lanjut pria itu dengan tatapan nanar juga suaranya lirih.
Kendrick tersentak, saat mendengar tangisan bayi itu mulai terdengar kencang. Kendrick menatap kesana-kemari untuk memantau seorang perawat melewatinya.
"Kasihan, dia akan kelelahan menangis," batin Kendrick.
Pria itu ingin membuka lebar pintu ruangan tersebut, Kendrick hanya ingin membantu bayi itu, ia merasa tidak tega mendengar bayi itu menangis terus menerus.
Kendrick memberanikan diri untuk membuka pintu tersebut, tapi… gerakannya terhenti, saat mendengar seruan dari punggungnya.
"Maaf, tuan!" Seru perawat wanita dengan tatapan curiga.
"Apa yang anda lakukan, disini?" Tanya perawat itu lagi.
Kendrick pun mendadak gugup dan berkeringat dingin, ia lantas berdehem guna menetralisir perasaan terkejutnya.
"A-aku, hanya ingin melihat bayi, itu," jawab Kendrick sambil menatap ke arah dalam.
Sang perawat mengikuti arah pandangan Kendrick, tidak lama, perawat wanita itu berubah waspada.
Bayi di dalam ruangan mewah itu adalah — tanggung jawab pemimpin mereka di rumah sakit. Jadi… wanita itu hanya bisa diam sambil memberikan tatapan — curiga.
"Maaf! Tapi bayi di dalam sana begitu, spesial buat pemimpin kami. Jadi, tidak ada yang bisa memasuki ruangan ini, selain petugas khusus." Perawat itu menjelaskan dengan nada menyindir, agar Kendrick segera menjauh.
Pria itu pun segera menjauh, namun ia masih melirik bayi mungil itu. Meskipun perasaannya begitu aneh, namun Kendrick tidak ingin menimbulkan masalah, baru.
"Perasaan apa ini," katanya dalam hati.
"Kenapa seakan aku memiliki ikatan batin dengannya," lanjutnya yang diiringi wajah mengkerut penasaran.
Kendrick pun mengabaikan perasaan dan terus melangkah menuju mobil mewahnya. Ia akan mengunjungi salah satu tempat istimewa. Tempat yang … menyimpan begitu banyak kenangan indah.
…….
"Nyonya besar Louis!" Seru seorang wanita setengah baya, kepada wanita lain yang kini berdiri dengan wajah — arogan.
"Saya mohon, berikan putri kami kesempatan untuk melahirkan, keturunan, anda," pinta wanita yang kini berlutut di depan — wanita penuh kehormatan di depannya.
"Cih! Kesempatan apa yang harus aku berikan kepada, wanita tidak sempurna seperti dia," sahutnya sambil memandang remeh ke arah menantu perempuannya.
"Dia, hanya wanita terkutuk. Yang , akan melahirkan keturunan cacat," sambungnya dengan nada sarkas.
"Atau … keluarga kalian yang begitu payah dan mendapatkan kutukan," lanjutnya lagi yang perkataannya semakin menyakinkan.
Pria yang berada di samping wanita yang berlutut, mengenggam erat kedua telapak tangannya dengan menahan gejolak amarah dalam diri.
Ia merasa direndahkan, sebagai seorang pria terhormat. Hanya karena, derajat wanita di hadapan ini lebih tinggi, hingga harga dirinya begitu diremehkan.
Pria berwajah tegang itu, ingin membalas perkataan, nyonya arogan itu, namun salah satu tangan istrinya menghentikan niatnya.
"Mom!" Tiba-tiba wanita cantik yang masih terlihat lemah itu berseru dan berusaha turun dari ranjang.
"Cindy!" Pekik sang daddy, melihat putrinya merangkak ke arah, nyonya angkuh itu.
"Apa yang kau, lakukan nak," sela sang mommy.
Segera meraih tubuh lemah putrinya yang kini bersujud di kedua telapak kaki — wanita anggun dan sombong.
Cindy mengeraskan tubuhnya, saat sang mommy mencoba meraihnya dan membawanya kembali ke ranjang.
Wanita yang baru saja melahirkan bayi tidak sempurna itu, menolak dipisahkan dari sang suami.
Bagaimanapun, ia harus tetap menjadi nyonya kedua dari keluarga terkaya itu, agar bisa mempertahankan hidup mewahnya dan bergaul dengan kalangan berkelas.
Cindy rela merendahkan harga dirinya, agar bisa mempertahankan posisinya sebagai menantu penguasa di negara mereka.
Wanita itu bahkan rela membuang darah dagingnya sendiri, demi menyelamatkan posisinya sebagai menantu dari keluarga konglomerat — Louis.
"Mom! Aku mohon, jangan pisahkan aku dengan suamiku. Aku … begitu mencintainya, kami saling mencintai. Berikan aku kesempatan untuk melahirkan keturunan untuk keluarga — Louis. Aku, yakin, kali ini bayinya akan terlahir sempurna." Cindy masih terus bersujud dengan perkataan sedih ia lontarkan kepada wanita berkelas itu. Berharap mertuanya bisa tersentuh.
"Cih!" Nyonya besar Louis hanya berdecih sinis dan menyentakkan kakinya saat — menantunya memegang lutut kakinya yang terbalut dengan kain berharga.
Sang menantu terhempas ke belakang dan nyonya Loius hanya memandangnya jijik.
Kedua orang tua Cindy begitu marah, melihat putri semata wayang mereka di berlakukan hina, di depan mata keduanya.
"Nyonya!" Sentak daddy Cindy dengan wajah penuh amarah.
Nyonya Louis hanya menatap remah ke arah besannya, ia begitu muak melihat keluarga menantunya itu yang hidup bagaikan benalu kepada — keluarganya.
"Baiklah, kamu akan tetap menjadi istri putraku, tapi… jangan menghalanginya saat mempunyai istri lain. Karena aku sudah merencanakan pernikahan baru untuk, putraku dengan salah satu keluarga bangsawan di, negeri ini." Penuturan nyonya Loius, bagaikan pukulan keras yang di berikan kepadanya.
Cindy hanya bisa termangu dengan wajah shock. Mana ada seorang istri rela membagi suami dengan wanita lain.
"Tidak! Aku, harus menjadi nyonya Louis muda satu-satunya," batin Cindy dengan wajah terpukul.
Begitu juga dengan kedua orang tuanya yang begitu terpukul melihat nasib putri mereka.
Tanpa mereka sadari, semua perbuatan yang mereka alami sama persis dengan yang — Sandra alami. Berlutut dan bersujud di depan mereka semua. Dan hanya perlakuan kasar yang mereka berikan. Juga tatapan tidak acuh, saat tangisan kesedihan Sandra terdengar jelas di hadapan semua orang, waktu itu.
Apakah ini, timbal balik dari perbuatan mereka? Apakah, nyonya Louis juga akan mendapatkan hukuman akan perbuatan semena-mena nya?