
Hiruk pikuk keramaian kota metropolitan pada malam hari begitu terlihat jelas. Gedung-gedung tinggi terlihat indah dengan berbagai macam warna lampu.
Lampu-lampu di jalan kota besar itu menyala dan patung-patung yang terdapat di sana pun terlihat memberikan warna-warni yang menarik.
Kendaraan di jalan kini mulai dipadati oleh pengendara mobil. Pejalan kaki pun tak kalah ramainya untuk menikmati suasana malam hari di kota itu.
Disisi lain, tepatnya di sebuah bangunan tinggi merupakan klub malam terbesar di kota itu, tampak diramaikan oleh pengunjung.
Mobil-mobil mewah kini terparkir di area parkiran khusus. Suasana tampak ramai saat memasuki klub tersebut.
Suara musik nyaring menyambut sang pengunjung saat memasuki klub mewah itu. Klub yang menyiapkan beberapa kelas khusus dan kamar-kamar untuk menghabiskan malam panas dengan teman wanita.
Semakin malam maka klub itu semakin ramai, itu terlihat di lantai dansa sudah dipadati oleh pengunjung yang menikmati musik yang di mainkan oleh seorang DJ.
…….
Seorang wanita kini memandangi penampilannya di depan cermin toilet. Sandra merasa jijik melihat penampilannya sendiri.
Bagaimana tidak, untuk bisa mendapatkan akses untuk melayani para tamu VVIP, ia harus mengenakan pakaian serba terbuka. Seperti yang ia kenakan sekarang.
Gaun berwarna hitam dan mencetak tubuh semampainya yang ia dapat dari manajer klub. Gaun yang memperlihatkan lekuk tubuhnya yang indah. Yang selama ini ia tutupi dengan penampilan serba sederhana.
Wajah cantiknya kini dihiasi semanarik mungkin. Meskipun ia begitu berat, untuk melakukannya, namun Sandra tidak memiliki pilihan lain.
Sandra merapikan rambut sebahunya sebelum, keluar dari toilet. Saat keluar, ia sudah disambut oleh rekannya yang profesi sebagai wanita malam di sana, di mana ia akan melayani para tamu VVIP.
"Wow!" Seru wanita super seksi itu melihat penampilan Sandra.
"Kau begitu memukau darling. Lihatlah, tubuhmu begitu seksi dan wajahmu begitu cantik," sorak wanita itu begitu antusias.
Sandra hanya bisa tersenyum kikuk, ia bergerak gelisah dengan penampilan terbukanya. Beberapa kali ia mengusap lengan yang terekspos itu.
"Tenanglah, kau harus rileks, jangan tegang. Ingat, tamu yang akan kau layani bukan tamu sembarang," bisik wanita seksi itu. Ia harus berbicara dengan tubuh mendekat, agar ucapan bisa mendengar jelas.
"Hum, baiklah," sahut Sandra sambil menarik nafas.
"Ingat, kau harus melayani tamu di kamar 109," ujar wanita itu mengingatkan.
"Okeh!" Sahut Sandra lagi.
Wanita seksi itu sekali lagi memindai penampilan menarik Sandra. Jujur, ia begitu mengagumi tubuh Sandra yang terbilang indah itu.
"Seharusnya, kau mau bekerja sepertiku agar bisa lebih menghasilkan banyak uang dan kau tidak repot bekerja siang malam. Kau hanya perlu membuka kedua pahamu di atas ranjang." Wanita itu berkata sambil menggoda Sandra.
Sandra hanya terdiam sambil mengikuti wanita itu menyiapkan minum untuk tamu spesial mereka malam ini.
"Tidak! Aku sudah bersyukur bekerja sebagai paruh waktu. Aku harus menjaga nama baik putriku. Aku tidak ingin memberikan warna gelap di kehidupan putriku nantinya. Aku hanya ingin putriku bangga kepadaku dan menyimpan banyak arti berharga untuknya." Sandra menjawab pertanyaan rekannya itu dengan tersenyum ramah.
"Kau benar, kau harus menjaga perasaan dan masa depan putrimu. Jangan biarkan putrimu tumbuh sepertiku yang sering mendapatkan cacian dari orang-orang karena aku terlahir dari seorang wanita malam." Rekannya menghargai keputusan Sandra. Karena ia juga pernah merasakan di posisi itu.
Keduanya pun saling berbincang sambil bersiap untuk menyambut tamu VVIP mereka.
Dari kejauhan, seorang wanita berpenampilan kacau menatap Sandra penuh dendam. Mata wanita itu begitu nyalang menatap Sandra.
Ia begitu dendam atas apa yang Sandra lakukan kepadanya, Karena Sandra, ia harus hidup melarat dan dihina. Dijauhi oleh sahabatnya sendiri. Ia juga kehilangan pria yang selama ini menanggung kehidupan mewahnya.
"Aku harus membalaskan dendam kepada wanita itu. Ternyata dia hanya wanita ******," ujar wanita itu dan tersenyum licik.
Wanita itu pun memanggil seorang pelayan dan membisikkan sesuatu. Setelah mengobrol lama dengan pelayanan itu, kini wanita licik itu, membagikan beberapa dollar kepada tiga pria bayaran.
Wanita itu memerintahkan untuk memberikan pelajaran kepada Sandra dan membuat Sandra hancur.
"Bersiaplah, tamu kita sebentar lagi akan datang." Bisik rekan Sandra.
Sandra pun hanya bisa mengangguk dengan perasaan berdebar. Ia tidak takut dengan para tamu. Yang ditakutkan tidak bisa mengenali emosinya.
"Baik Sandra, kamu harus menjaga sikapmu juga amarahmu," monolognya sendiri.
Di parkiran kini sebuah mobil mewah sudah terparkir di area parkiran khusus. Sosok pria dewasa turun dari mobil dan disusul oleh pria lainnya.
Pria itu berjalan menuju lift yang ada di parkiran itu untuk segera membawanya ke kamar khusus untuknya.
Diikuti beberapa bodyguard juga sahabatnya, pria itu terus melangkah dengan raut wajah datar dan dingin.
"Di kamar berapa!" Tanya pria dingin itu.
"108 tuan!" Sahut asistennya.
Pria itu tidak menjawab, ia memasuki lift dengan wajah datar juga dingin. Lift transparan itu sudah mulai bergerak ke atas. Pria itu menatap ke arah bawah, di mana para kerumunan pengunjung menikmati malam mereka.
Pria itu hanya tersenyum sinis dan melempar senyum ke arah samping, di mana lift lainnya juga sedang bergerak ke bawah. Tiba-tiba kedua kelopak matanya terbuka lebar dan wajahnya berubah tegang. Ia bahkan mengusap kasar dinding kaca lift itu.
"Sandra!" Gumamnya dengan ekspresi terkejut.
"Hentikan!" Perintahnya.
"Ada apa Austin?" Seorang pria rupawan yang sejak tadi sibuk dengan ponselnya bertanya.
"Aku bilang hentikan lift nya!" Teriak Austin di dalam sana dan masih mengikuti arah lift yang bergerak ke bawah.
"Sandra, aku melihatnya," ujarnya dengan raut wajah tidak bisa terbaca.
"Apa?! Sahabat Austin dan anak buahnya terlihat bingung.
Austin segera keluar, saat lift itu terbuka. Ia berlari ke arah lift yang akan membawanya turun ke lantai dasar.
"Austin, kau mau kemana?" Teriak sahabat Austin.
Namun sayangnya, Austin sudah memasuki lift dan kini sudah bergerak ke bawah.
"Akhirnya, aku menemukanmu," batinnya.
Ia sangat yakin, wanita yang ia lihat adalah Sandra. Wanita yang berdiri menghadap dirinya dengan tatapan kosong adalah — Sandra.
…….
1 jam yang lalu.
Sandra kini berdiri di depan sebuah kamar khusus tamu VVIP. Dengan sebuah nampan di tangannya dan beberapa botol minuman mahal.
Sandra berulang kali menarik nafas dan mempersiapkan diri untuk memulai pekerjaan menjijikkan baginya. Namun mengingat kebahagia dan keceriaan putrinya saat memainkan biola, membuat Sandra gundah.
Akhirnya ia memilih mengetuk pintu kamar itu dan setelah mendapatkan izin untuk masuk, ia pun membuka pintu kamar itu dengan hati-hati. Sandra menurunkan sedikit gaun yang ia kenakan dan menutupi pundak polosnya dengan sebuah syal lembut.
Mata Sandra memindai kamar tidur yang hanya diterangi oleh pencahayaan remang-remang dan kini beberapa pria sudah menatap dirinya dengan tatapan sulit diartikan.
Sandra menetralisir sejenak perasaannya. baru mendapatkan tatapan kurang ajar, emosi Sandra mulai terpancing. Namun Sandra berusaha mengontrolnya.
"Selamat malam tuan-tuan!" Sapa Sandra. Ia berusaha menampilkan wajah menarik mungkin.
"Malam ini saya yang akan melayani anda," ujar Sandra yang masih setia berdiri.
Salah satu dari tamu itu memberikan perintah kepada Sandra untuk mulai, melayani mereka. Tatapan nakal ketiga pria itu membuat Sandra tidak nyaman.
"Kemarilah!" Perintah pria yang lebih menonjol dari ketiga pria di sana.
Sandra menatap pria berwajah tampan itu dan melihat tangan kekar pria itu menepuk pahanya.
"Tidak, terimakasih," tolak Sandra lembut.
Kedua pria yang lain terkejut, mendengar penolakan Sandra. Tidak pernah ada wanita yang menolak tuan mereka. Baru kali ini juga tuan mereka menginginkan wanita dekat dengannya.
Pria berwajah latin itu tersenyum penuh arti sambil menatap wajah tenang Sandra, namun kedua tangan wanita itu terkepal erat.
"Apa kamu baru disini?" Tanya pria itu dengan intonasi suara yang begitu berat.
"Tidak! Saya sudah enam tahun disini," jawab Sandra dengan wajah datar.
Pria itu memerintahkan Sandra untuk menuangkan minuman di gelasnya dan dengan patuh Sandra menuangkan minuman di gelas pria itu tanpa sedikitpun melirik.
"Aku baru melihatmu," pria itu berkata lagi. Namun Sandra hanya menanggapi dengan senyum tipis. Pria itu merasa tertantang dengan sikap Sandra.
Tidak biasanya wanita menolak pesonanya dan kharismanya, apalagi melihat wajah dingin Sandra. Yang biasanya pelayan yang melayani mereka berusaha menampilkan pose menggoda.
Saat Sandra ingin menjauh dengan membungkukkan badannya, pria yang berada di belakangnya begitu tertarik dengan tubuh indah Sandra.
Dengan kurang ajarnya, ia menyentuh tubuh bagian belakang Sandra dengan intens. Sandra tentu saja terkejut dan tidak terima.
Ia kini menatap pria itu dengan tajam, wajahnya bahkan sudah mengeras, kepalan tangannya kini siap untuk memberikan pukulan di wajah pria yang kini menatapnya penuh kurang ajar.
"Aku akan membayarmu lebih," bisik pria itu yang mengikuti gerakan Sandra.
"Bugh, bugh." Sandra yang sudah tidak bisa menahan amarahnya, segera menghantam wajah pria itu dengan kepalan tangannya.
Pria itu pun terhuyung ke belakang dan menghantam meja. "Pragg, serpihan kaca meja itu pun berserakan.
Pria rupawan itu hanya menyaksikan Sandra dengan tersenyum miring, sikap Sandra yang tangguh, semakin membuat pria itu tertarik.
Sandra meraih kerah pria itu dan Menariknya, ia membisikkan sesuatu di telinga pria itu.
"Aku bukan seorang ******, tuan. Tugasku hanya melayani anda semua minum. Bukan melayani nafsu bejat anda." Sandra berkata dengan nada penuh tekanan.
Sandra melepaskan pria itu yang terlihat kesakitan, kedua rekannya hanya bisa menyaksikan dengan raut wajah berbeda.
Setelah meninggal kamar mewah itu, Sandra kembali menyerang pria kurang ajar itu dengan menindih perut pria itu, dengan salah satu kakinya.
Pria itu kembali berteriak kesakitan. Sandra pun meninggalkan kamar itu dengan amarah yang menggebu. Biarlah dia gagal mendapatkan uang, yang penting harga dirinya bisa tetap ia jaga.
"Wanita unik," gumam pria rupawan itu sambil menyesap minumannya. Tanpa memperdulikan temannya yang kesakitan.