
"Brak!" Suara benda keras terdengar terjatuh. Semua orang yang ada di dalam kelas terkejut dan memindai perhatian mereka kepada anak perempuan yang berada di ujung ruangan.
"Akh!" Anak perempuan itu berteriak dan meringis sakit. Telapak, tangannya mengeluarkan cairan merah, akibat terkena serpihan runcing benda yang terjatuh.
"Aurora!" Salah satu murid di dalam kelas itu berteriak dan segera mendekati sahabatnya.
"Tidak, biolaku!" Teriak salah satu anak perempuan lainnya.
Seketika ketenangan ruangan yang semula terdengar iringan musik syahdu, kini berubah keriuhan para anak murid.
Mereka berkumpul dan membentuk lingkaran untuk memandang anak perempuan yang kini terduduk dengan tangan terluka.
"Kamu tidak apa-apa, Aurora?" Natasya dan Jastin mendekiti Aurora dan membantunya untuk berdiri.
Namun gadis kecil datang dan kembali mendorong Aurora. Hingga Aurora kembali terduduk bersama kedua sahabatnya.
"Charlotte!" Seru Natasya.
"Apa, hah!" Bentak Charlotte. Gadis dengan penampilan mewah itu menatap nyalang ke arah Aurora yang hanya bisa terdiam dengan wajah bingung.
"Lihat!" Charlotte berteriak dan menunjuk benda yang terjatuh, yang ternyata adalah biola yang terukir indah, kini hancur di atas lantai.
Dengan wajah marah, gadis berambut pirang dengan diikat elegan itu, terlihat begitu marah, hingga wajahnya begitu merah.
"Gadis buta ini sudah merusak biolaku! Sentak Charlotte dengan wajah menggebu-gebu.
"Dasar gadis buta!" Hardik Charlotte dan menyentakkan kakinya di lantai, hampir saja ia menginjak tangan kecil Aurora, beruntung, Natasya segera menarik tangan Aurora yang terlihat terluka.
"Charlotte!" Pekik Natasya. Gadis bermata sipit itu bangkit dan berusaha membela sahabatnya.
"Aurora pasti tidak sengaja," jelas Natasya. Mencoba membela Aurora.
"Tidak sengaja? Lihatlah, dia menghancurkan biolaku. Dan ini adalah hadiah dari kakek." Charlotte begitu berapi-api mengatakan kepada Natasya.
"Salahmu, karena kamu menyimpannya di dekat Aurora," balas Natasya.
"Apa katamu? Salahku?" Charlotte yang tidak terima terus menentang Natasya.
Sementara Aurora kini berada di samping Jastin. Pria kecil berkacamata itu, membalut luka Aurora dengan sapu tangannya yang berada di saku celana.
"Salahnya karena dia buta dan ingin berada disini," bentak Charlotte tidak terima disalahkan.
"Iya, salahnya yang tetap bersekolah di sekolah normal. Seharusnya dia memasuki sekolah khusus orang cacat." Timpal salah satu murid yang juga tidak menyukai Aurora.
Kembali keriuhan terdengar di kelas musik, para siswa kini menyalahkan Aurora dan menunjuk gadis malang itu.
Dan para murid pun setuju dan mereka bahkan, melempari Aurora dengan sisa bekal mereka.
"Cepat keluar dari sini anak buta dan miskin!" Teriak Charlotte.
"Keluar, keluar, keluar." Murid-murid pun berseru semuanya, kecuali Natasya dan Jastin, untuk menyuruh Aurora keluar.
"Berhenti!" Bentak Natasya. Gadis bertubuh mungil itu, menatap tajam ke arah Charlotte dan murid lainnya.
"Kami tidak mau, gadis miskin dan buta ini berada di kelas ini!" Seru Charlotte dengan wajah cantik mungilnya terlihat arogan.
Aurora hanya bisa beringsut di belakang tubuh kurus Jastin. Ia terlihat keyakinan mendengar suara para murid yang berteriak.
"A-aku tidak sengaja!" Seru Aurora, nada bicara terdengar bergetar gugup. Wajahnya begitu pias dan menahan rasa perih luka di telapak tangannya.
"Aku bersumpah, tidak sengaja menjatuhkan biola milik Charlotte." Aurora mencoba menjelaskan dengan suara tercekat.
"Aku hanya ingin membantu, Charlotte," jelas Aurora kembali.
"Maaf, aku tidak mengetahui kalau biolamu berada di atas meja." Aurora mencoba menjelaskan dengan wajah sedih.
"Aku bersumpah, tidak mengetahuinya," ucap Aurora sambil mengarahkan kedua tangannya di hadapan, Natasya.
Para murid terdiam mendengar penjelasan Aurora. Namun Charlotte terlihat tidak terima dan tidak akan membiarkan, Aurora lepas begitu saja.
"Aku tidak peduli. Kamu harus menggantinya!" Pekik Charlotte.
"Dia tidak sengaja. Ini juga kesalahanmu, meminta bantuan kepada Aurora," sela Jastin, berusaha membela sahabat baiknya — Aurora.
"Diam kamu anak miskin!" Hardik Charlotte dengan wajah arogan.
"Charlotte!" Bentak Natasya kembali. Dia tidak terima kedua sahabatnya di bentak.
"Aku tidak peduli, dia harus menggantinya," ujar Charlotte. Wajah gadis kaya itu begitu penuh kebencian kepada — Aurora.
"Kita harus meminta kepada, Ms. Karry, untuk mengeluarkan gadis miskin dan buta ini dari sekolah." Seorang murid kembali menjela.
"Iya benar. Aku begitu alergi dengan anak miskin seperti mereka," sela murid lainnya dengan sombong nya.
Murid-murid pun kembali berbisik-bisik dan menimbulkan suara keributan. Aurora dan kedua sahabatnya hanya bisa terdiam di tengah-tengah kumpulan anak murid lainnya.
Guru musik pun datang, setelah pamit sebentar kepada anak muridnya untuk ke toilet. Wanita dengan penampilan formal itu begitu terkejut melihat murid-muridnya menimbulkan keributan dan kekacauan di dalam kelas.
"APA-APA INI!"