Mommy, My Angel

Mommy, My Angel
bab 10



Suara lenguhan halus samar-samar pasangan suami-istri itu dengar dari arah ranjang pasien.


Nenek Grace lantas segera mendekati, Sandra yang mulai mengerjapkan kedua kelopak matanya. Disusul kakek Ben dengan ekspresi wajah penuh kegelisahan.


Sandra kini, merotasi tatapannya keseluruhan ruang yang — diberi cat putih bersih. Juga langit-langit kamar yang berwarna coklat tua.


"Kau sudah sadar, nak?" Tanya nenek Grace.


Wajah wanita tua itu terlihat begitu khawatir, ia juga mulai lega saat — melihat Sandra keluar dari masih kritisnya.


"Hati-hati, sayang," sela kakek Benjamin.


Pria berusia 60 tahun keatas itu, membantu Sandra yang ingin bangkit seorang diri.


"Aku, tidak apa-apa, kek," jawab Sandra dengan suara lirih.


Wajahnya terlihat menahan rasa perih menusuk di bagian perut bagian bawah hingga ke area privasinya.


"Apa, masih sakit?" Timpal sang nenek yang segera membantu Sandra minum.


"Sedikit!" Sahut Sandra yang berusaha menampilkan senyum baik-baik saja.


Sandra tidak mungkin menambah rasa khawatir kepada pasangan suami-istri yang baik itu.


Sandra mampu menahan rasa ngilu di bagian jalan lahirnya juga perut, bagian bawah.


"Berbaringlah lagi, nak," pinta sang nenek yang sungguh terlihat khawatir.


Sandra menyandarkan punggungnya, ia menggigit bibir bawahnya saat — merasakan teramat sakit di bagian area, privasinya.


"Aku lelah berbaring, nek," jawab Sandra.


Nenek Grace tersenyum sambil mengusap telapak tangan lemah — Shandra. "Wanita sehabis melahirkan butuh istirahat yang cukup, agar nantinya kamu akan memiliki tenaga untuk, merawat, bayi mu," jelas nenek Grace.


Mendengar, kata bayi, Sandra lantas menegakkan punggungnya, ia menatap sang nenek dengan wajah — penuh khawatir. Sandra juga berusaha menahan rasa perih di bawah sana.


"Jangan, khawatir. Dia sekarang dalam masa perawatan," ucap nenek Grace yang mengetahui tatapan mata — Sandra.


Wanita dengan tampilan lesu dan tidak terawat itu, menghela nafas lega, mendengar ucapan, sang nenek.


"Aku, ingin melihatnya," sahut Sandra dengan lembut.


"Sabarlah, mereka masih perlu melakukan sesuatu dengan putrimu," tandas nenek Grace.


"Dia sangat cantik!" Timpal kakek Benjamin.


"Cantik sepertimu," sambung nenek Grace.


Sandra tersenyum bersamaan dengan jatuhnya air mata yang sejak tadi ia tahan.


"Berhentilah, membuang air matamu nak. Sekarang, kau harus menyembunyikan dari putrimu. Karena kelemahan seorang anak, adalah kesedihan orang tuanya," terang, nenek Grace.


"Ini air mata bahagia nenek. Aku, tidak percaya bisa melahirkan putriku," jawab Sandra, suaranya pun terdengar bergetar juga sanggau.


Kakek Ben, mendekati Sandra. Merangkul wanita yang sudah ia anggap cucu itu dengan kehangatan. Ia juga meninggalkan kecupan kasih sayang di kening — Sandra. Seakan memberikan semangat untuk selalu kuat dan jauh dari perasaan rapuh.


"Kau wanita kuat juga begitu tangguh, nak. Kau mampu melahirkan, putri mu seorang diri dengan penuh perjuangan mempertaruhkan nyawa. Apalagi, ini adalah hal asing yang kau rasakan. Tidak semua wanita sekuat dan setangguh dirimu, sayang. Kakek dan nenek, bangga kepadamu. Kau wanita luar biasa," ucap kakek Benjamin dengan pujian tulus ia utarakan untuk — Sandra.


"Kakekmu benar, nak. Kau wanita hebat. Kami yakin, kau akan sukses dalam membesarkan, putrimu." Sela nenek Grace yang ikut merangkul pundak Sandra.


Ketiganya pun terlihat saling mendukung, dengan berpelukan penuh kehangatan dan kasih sayang.


"Aku, berjanji nek. Akan menjadikan dia prioritas ku yang berharga. Aku … mengikrarkan hidup ku hanya untuk putriku," ucapnya dengan suara halus.


"Semoga, kebahagiaan selalu mengikuti langkah kalian," doa nenek Grace dan diaminkan oleh — Sandra juga kakek Benjamin.


Di tengah suasana haru mereka, tiba-tiba… pintu kamar pasien terbuka kasar. Memperlihatkan, seorang wanita dengan gaya arogannya berjalan memasuki kamar dengan ukuran kecil itu. Memperlihatkan wajah sinis.


"Nyonya, Belleza?! Seru kakek juga nenek bersamaan.


Sedangkan, Sandra hanya menampilkan wajah datar dengan tatapan tajam penuh permusuhan.


Nenek Grace yang sudah berdiri kembali begitu juga dengan, kakek Benjamin, segera menenangkan Sandra. Kedua pasangan itu, tahu perasaan wanita yang baru beberapa jam — menjadi seorang ibu.


"Kenapa, anda kesini nyonya?" Tanya kakek Benjamin. Raut wajahnya pun terlihat gelisah.


Shandra hanya diam dengan wajah datar terus ia perlihatkan di hadapan, wanita sombong itu.


"Cih! Siapa yang akan ke tempat kumuh dan kotor ini, kalau aku tidak mempunyai, kepentingan kepada kalian," ujar nyonya Belleza dengan wajah jijik diberikan kepada — Sandra juga pasangan itu.


Nyonya Belleza menengadah tangannya ke samping. Di mana seorang pria bertubuh kekar yang merupakan — bodyguardnya. Pria berwajah sangar itu pun menyerahkan sebuah berkas kepadanya.


Lantas wanita dengan dandan mewah itu, melemparkan berkas coklat di tangannya ke arah ranjang pasien dan tepat berada di atas kedua kaki — Sandra.


"Tandatangani, agar aku bisa bernafas. Aku sangat membenci tempat kotor juga kumuh ini," timpal nyonya Belleza dengan ekspresi menjijikkan.


"Seharusnya, anda tidak perlu kesini nyonya, biar kami yang mendatangi, anda." Sahut kakek Benjamin. Ia melirik Sandra yang terlihat menatap lekat, berkas yang ada di atas kakinya.


"Cih! Apa aku percaya dengan kalian, hah!" Hardik nyonya Belleza.


Sandra pun refleks mengangkat kepalanya dan semakin menatap nyonya Belleza dengan tajam.


Wanita dengan gaun menyala di tengah musim panas itu, menciut dan segera bersembunyi dibalik tubuh kekar — bodyguardnya.


"Cepatlah, lakukan yang aku perintahkan. Aku sudah begitu sesak nafas berada di sini," pekik nyonya Belleza dengan nada getar.


"Apa anda sudah melakukan yang kami pinta?" Lanjut kakek Benjamin.


"Akh! Sudah tandatangani saja, bedebah. Aku sudah melakukan semuanya, dasar pria tua menjijikkan." Bentak nyonya Belleza.


Tanpa wanita itu sadari, kini tatapan kelam Sandra terus tertuju padanya, Sandra tidak akan menerima hinaan nyonya Belleza kepada, kakek juga nenek angkatnya itu. Sandra meraih gelas kaca di sampingnya yang masih tersisa sedikit air putih di dalamnya.


Sandra pun melemparkan gelas itu ke arah, nyonya Belleza. "Prang" bunyi benda kaca itu pun begitu nyaring, membuat, nenek, Kakek, nyonya Belleza juga bodyguardnya, terkejut.


Nyonya Belleza bahkan mendapatkan, luka sobek di kakinya, membuat wanita — berlagak elegan itu, berteriak kesakitan.


"Aku! Dasar wanita brengsek!" Pekik nyonya Belleza.


Ia pun menyuruh bodyguardnya untuk menyerang Sandra, tapi … segera kakek Benjamin dengan wajah panik menghentikan, pria berwajah garang itu, mendekati Sandra.


"Hentikan, nyonya Belleza," sela kakek Benjamin.


"Cepat, tandatangani!" Sentak wanita itu dengan wajah sok — berani.


Tangan bergetar kakek Benjamin, segera mengambil berkas tersebut. Namun dengan cepat, Sandra merampasnya. Tatapan matanya pun semakin dingin kepada… nyonya Belleza.


Wanita bersurai panjang digulung ke atas itu pun, membaca berkas tersebut dengan raut wajah berubah-ubah. Detik berikutnya, Sandra menatap, kakek juga nenek Grace dengan wajah sulit diartikan.


"Apa ini?" Tanya Sandra.


Wajahnya tersirat ketidaksetujuan atas isi di dalam berkas itu. "Kenapa, kalian melakukannya?" Tanya Sandra, kembali.


Tatapannya pun kini begitu lekat dengan mata berkaca-kaca, memandangi, nenek Grace juga kakek Benjamin.


"Kami, tidak tega melihatmu di dalam tahanan. Apalagi bersama, cicit kami," tandas kakek.


"Tapi …."


"Hey! cepatlah, tandatangani. Aku muak melihat drama menyedihkan kalian," sentak nyonya Belleza.


Menampilkan wajah jengahnya, dengan bibir mencebik sinis, ke arah — Sandra dan kakek Benjamin.


"Kakek!" Tegur Sandra dengan menggelengkan kepalanya. Mencoba menghentikan gerakan tangan kakek Benjamin untuk membubuhkan tanda tangannya di atas berkas surat pengalihan nama pemilik sebuah tanah luas yang berada di pulau seberang.


Pulau dengan distinas penuh keindahan. Kakek memiliki tanah yang terletak sangat dekat dengan destinasi laut indah itu.


Nyonya Belleza sudah lama mewanti-wanti, tanah kakek Benjamin, namun pria berusia 69 tahun itu, menolak menjualnya.


Kakek hanya tersenyum hangat dan mengedipkan mata, yang mengatakan — semuanya akan baik-baik saja.


Sandra pun hanya bisa menahan kesedihan dengan membuang pandangannya, ia merasa tidak berhak mendapatkan itu semua. Ia hanya orang asing yang baru beberapa bulan bertemu dengan pasangan baik hati di depannya.


"Tidak, mengapa nak," bisik nenek Grace lirih.


"Kami, tidak membutuhkannya. Kami, hanya menginginkan kalian," bisik nenek Grace kembali.


Sandra pun, segera memeluk tubuh hangat nenek Grace, dan menyembunyikan tangisannya disana.


Nyonya Belleza tersenyum puas, saat melihat surat kuasa kepemilikan tanah berharga ratusan dollar itu … kini menjadi miliknya.


Ia pun bersorak kegirangan sambil mencium, surat hak tanah tersebut. Ternyata sangat mudah memanipulasi semuanya, hingga rencana yang sudah tersusun rapi tercapai.


Ia tidak harus mengeluarkan uang untuk mendapatkan tanah berharga tersebut. Membuat rencana licik pun sudah membuatnya menjadi seorang jutawan dalam waktu dekat.


"Bagaimana dengan, cucu kami?" Sela kakek Benjamin.


"Ck!" Nyonya Belleza berdecak sinis.


Ia lantas menyerahkan surat tanah itu kepada bodyguardnya, dan meminta amplop lain yang berisi — berkas pencabutan laporan atas tindakan kekerasan yang dituduhkan kepada — Sandra.


"Ambillah'!" Cetus nyonya Belleza.


Wanita itu segera meninggalkan kamar pasien itu dengan langkah juga wajah bahagia.


Sandra hanya bisa menampilkan tatapan nanarnya kepada, kakek Benjamin juga nenek Grace.


"Berhentilah menangis, nak," pinta nenek Grace.


"Kalian, tidak berhak melakukannya hanya demi kebebasanku," sahut Sandra dengan air mata terus membasahi kedua pipinya.


"Ini demi kalian, sayang. Kami juga tidak membutuhkan semuanya, kami hanya membutuhkan sebuah keluarga. Kakek, bersyukur kau menjadi bagian dari hidup kami. Hingga tiba waktunya, kalau kakek pergi terlebih dahulu, kakek tidak akan merasa khawatir lagi meninggalkan, nenek. Karena sudah ada kau menemuinya," pungkas sang kakek dengan wajah bersahaja dengan sikap hangat.


"Kakek tidak akan kemana-mana, kakek akan selalu bersama kami," sela Sandra yang kini memeluk tubuh tua itu dengan penuh rasa syukur juga tersentuh.


Nenek Grace pun hanya bisa meneteskan air matanya, ia menatap sana suami dengan tatapan — nanar.


Suasana haru itu pun kembali terjeda, saat mendengar suara ketukan di susul seseorang membuka pintu kamar pasien dengan hati-hati.


Terlihat seorang wanita dengan jas putih masuk kedalam kamar pasien itu di iringi seorang perawat sambil mendorong, troli khusus bayi baru lahir masuk kedalam kamar pasien.


Sandra menatap penuh binar kebahagiaan juga kerinduan, saat melihat troli bayi mendekat kepadanya.


Kakek dan nenek, hanya fokus dengan raut wajah sang dokter yang terlihat, ingin menyampaikan sesuatu yang sangat penting.