Mommy, My Angel

Mommy, My Angel
bab 91



Austin terlihat melangkah ke arah kamar pribadi miliknya bersama istri tercintanya.


Pria itu berjalan ke arah lemari untuk mencari sesuatu penting. Lama ia kesana-kemari mencari sesuatu penting, namun ia begitu sulit untuk menemukannya.


Membuat pria itu terlihat menghela nafas panjang, ia melupakan, dimana meletakkan berkas tersebut.


"Di mana aku meletakkannya?" Gumam Austin, sambil membuka satu persatu laci yang ada di dalam kamar mewahnya.


Namun kini tatapannya kini tertuju ke arah laci meja rias milik istrinya.


Austin terdiam sesaat, untuk mengingat-ingat sesuatu.


"OH astaga, aku meletakkannya di sana. Setelah memeluk istriku tersayang," ucap pria rupawan itu sambil terkekeh.


Mengingat begitu manjanya istrinya beberapa Minggu terakhir ini, membuatnya begitu menyukainya.


Austin berdiri di hadapan meja rias sang istri, menatap sejenak wajahnya di depan cermin dan menerbitkan senyum miring, mengagumi ketampanannya.


Tangan kekar itu, lalu menarik laci tersebut sambil masih menatap wajah di depan cermin.


"Aku terlihat semakin tampan, apa karena itu ia selalu bersikap manja?" Pria itu terkekeh dan menundukkan kepalanya, menengok isi di dalam laci.


Salah satu tangannya mencoba meraba isi di dalam laci itu, melihat, beberapa kotak perhiasan milik istrinya itu dan terus mencoba mencari berkas tersebut.


Dan kedua kelopak matanya kini, melihat berkas yang sejak tadi ia cari berada di paling bawah, tertindih buku-buku milik sang istri.


"Ini dia," gumam pria tampan itu sambil tersenyum lega.


Ia pun berniat mengambilnya, namun ia menghentikan niatnya, saat sadar dan memperhatikan botol obat yang ia pegang.


Austin mengernyit heran, dengan botol obat asing di tangannya. Pria itu lantas meneliti lebih lekat botol tersebut.


Seketika, ia menjatuhkan botol itu dengan mata melotot terkejut. Dan wajahnya begitu syok.


Austin begitu mengenali obat macam apa yang baru saja ia pegang. Sebagai seorang yang menempuh pendidikan di perguruan kedokteran dan ia memiliki perusahaan farmasi terbesar di negaranya, Austin begitu tahu obat tersebutlah.


Dengan wajah syok dan panik, ia membungkuk dan mengambil kembali botol berwarna hitam itu. Ia juga bisa membaca, nama sang pemilik yang tertera di botol itu.


Seketika dadanya berdebar-debar dan khawatir. "Tidak, ini tidak mungkin," gumamnya lirih dan kini berusaha untuk menghubungi seseorang.


"Bawa dokter Charles kemari!" Teriak Austin, ia kini begitu ketakutan. Pria itu tidak bisa menyembunyikan rasa ketakutan dan kepanikannya.


Dadanya masih berdegup kencang saat ini. Seluruh tubuhnya akan lemah. Mendapati sesuatu hal penting yang disembunyikan istrinya.


"Sayang," tiba-tiba ia tersentak dan segera bangkit. Meskipun begitu sulit. Austin berlari mencari keberadaan istrinya itu.


Dengan wajah ketakutan dan khawatir, ia menuruni anak tangga. Austin tidak memperdulikan keselamatannya sendiri, hingga ia pun harus berguling-guling di beberapa anak tangga.


Pelayan yang melihat ingin membantu, namun pria itu terlihat menolak dan segera kembali untuk menuruni anak tangga yang tersisa.


"Di mana istriku?" Tanyanya dengan suara bergetar kepada Gracia yang kebetulan melintas di depannya.


"Kakak, bersama Aurora," sahut Gracia yang begitu bingung, melihat raut ketakutan Austin.


"Tuan ke …." Belum selesai gadis itu bertanya, Austin sudah berlari kembali ke arah halaman belakang.


Gracia mengikuti, ia begitu penasaran dengan raut wajah Austin yang begitu panik.


Sedangkan, Sandra kini sedang bersama putrinya. Keduanya kini berada sedikit jauh dari kemeriahan, pesta ulang tahun sang putri.


Sandra membawa putrinya ke sebuah bangku di tepi danau buatan yang di hias begitu menarik. Membuat suasana begitu sejuk dan damai.


Wajah pucat Sandra, semakin terlihat begitu memperhatikan. Wajah yang menyimpan rasa sakit seorang diri juga penderitaan.


Sedangkan Aurora meletakkan, kepalanya di atas pangkuan sang mommy, sambil memejamkan mata, menikmati usapan hangat dari tangan lembut — mommynya.


Wajah gadis cantik itu begitu bahagia, dan Sandra bisa melihat itu semua. Tidak terasa, air matanya menetes dan Sandra berusaha untuk menutupinya.


Wanita itu mendongakkan kepalanya agar genangan air mata tidak jatuh hingga mengenai wajah bahagia putrinya.


Wajah yang selama ini ia harapkan sebagai seorang ibu dan ia sudah membuatnya turut bahagia dan lega.


"Apa kamu bahagia, sayang?" Nada lirih dan lemah itu, menyapa Indera pendengaran Aurora.


Gadis itu bangkit dari pangkuan mommynya dan kini duduk di samping sang mommy, pandangannya hanya tertuju kepada wanita yang sudah melahirkannya itu.


Meskipun ia tidak bisa melihat wajah mommynya, namun instingnya begitu peka, kalau sang mommy sedang tidak baik-baik saja.


Kedua tangan mungil itu meraba-raba wajah sang mommy dan ia merasa wajah mommynya basah.


Sandra tersenyum, ternyata putrinya begitu peka dan begitu mengkhawatirkannya, ia tahu kalau dirinya sedang tidak baik-baik saja.


"Mommy menangis? Apa mommy menyembunyikan sesuatu kepadaku?" Cerca gadis sepuluh tahun itu, dengan nada khawatir.


Ia masih terus meraba wajah sang mommy, hingga kini ia merasakan kedua kelopak mata mommynya sembab.


Sandra meraih kedua tangan putrinya, membawanya ke depan bibirnya dan memberikan kecupan penuh kasih sayang.


"Ini adalah sebuah rasa syukur juga kebahagiaan. Mommy begitu bahagia bisa melihat wajah ceria juga bahagiamu, nak. Hanya itu lah, yang mampu membuat mommy lega." Sandra kembali membawa tubuh putrinya ke pelukan dan mengecup kening putrinya itu.


"Apa mommy yakin? Aku merasa sesuatu yang lain." Ucap Aurora, yang entah mengapa perasaannya begitu tidak nyaman.


"Hm, mommy begitu baik sayang," sahut Sandra, meskipun kini ia seperti seorang yang menahan sesuatu.


Matanya mulai sayup dengan wajah semakin pucat dan itu tidak bisa lagi di sembunyikan oleh apapun.


"Sayang!" Seru Sandra dengan suara yang semakin lirih dan berat.


"Ya, mom," sahut Aurora yang mengetatkan pelukannya di tubuh hangat mommynya itu, ia juga baru sadar, kalau tubuh mommynya semakin kurus.


"Maafkan, mommy. Apabila dahulu pernah berniat menghilangkanmu, namun itu semua karena kondisi mommy sedang kacau, mommy melakukan tindakan bodoh dengan ingin mengakhiri hidup dan membawamu bersama raga mommy.


"Percayalah, semua itu mommy lakukan hanya tidak ingin membuatmu menderita lahir ke dunia, namun takdir berkata lain, kau lahir dan mommy berjanji akan menjagamu dan menjadi mata untukmu." Sandra menghentikan perkataannya, saat merasakan tubuhnya semakin tidak berdaya, namun sekuat tenaga ia mencoba menahannya.


Begitu tulus dan penuh perjuangan berat, untuk bisa menuju sampai tahap kebahagiaan yang didapatkannya sekarang. Gadis itu terdengar terisak dan semakin memeluk tubuh mommynya.


"Percayalah, mommy begitu menyayangimu nak. Mommy hanya ingin memberikan kehidupan yang layak untukmu, hingga kamu tidak akan merasakan kehidupan sulit seperti yang mommy alami."


"Mommy tidak bisa membayangkan itu semua, mommy merasa menjadi seorang mommy yang gagal, apabila semua itu terjadi kepada dirimu," pungkasnya dengan linangan air mata yang berusaha ia sembunyikan.


Suara yang terdengar tercekat pilu dan menyakitkan, mampu Aurora rasakan.


Begitu tangguhnya mommynya ini, hingga kesedihan yang begitu menyakitkan mampu ia sembunyikan dan menahannya.


"Mommy adalah, mommy terhebat. Aku begitu bersyukur bisa menjadi bagian dari hidup seorang wanita sekuat dan sehebat, mommy," sahut Aurora.


Sandra tersenyum, ia juga merasakan hidupnya tidak akan lama lagi. Ia merasa jiwanya akan segera berpisah dengan raganya.


— — —


"Mommy berjanji, akan selalu menjadi penerang untukmu, memberikan warna dan keindahan yang tidak akan pernah kamu, lihat. Hingga kelak, mommy tiada, kita akan selalu bersama?" Sandra tiba-tiba berkata dengan suara tercekat dan terbata-bata. Wanita itu sekuat tenaga menahan sesuatu di dalam dirinya.


"Benarkah, itu mom! Mommy akan selalu bersamaku?" Sahut Aurora menjauhkan dirinya dari pelukan sang mommy dan menghadap ke arah depan mommynya.


Tiba-tiba Sandra meletakkan kepalanya di atas bahu mungil putrinya, sambil merangkul lembut pundak sang putri.


Aurora dengan lembut, bergantian mengusap kepala mommynya, meninggalkan kecupan berulang kali di sana.


"Iya, sayang. mommy akan selalu bersamamu, walaupun mommy tiada, mommy akan selalu berada bersamamu dan menunjukkan indahnya dunia ini."


Aurora terlihat terdiam, dadanya tiba-tiba berdegup kencang, merasakan suasana aneh di sekitarnya.


"Really?" Ucapnya dengan nada bergetar, ia menggenggam kuat salah satu telapak tangan mommynya yang terasa begitu dingin.


"Iya, sayang." Sahut Sandra, suaranya semakin lirih dan senyumannya begitu terlihat menyakitkan. Mata yang seakan berat dan ingin sekali segera terpejam. Namun ia masih mampu menahan semuanya.


"Ingatlah' pesan mommy. Jadilah, wanita kuat, mandiri dan jaga lah' selalu kehormatan yang berharga dalam diri kamu, hingga kelak seorang pria memintanya dengan sebuah perjanjian dengan menyebut nama Tuhan. Apa, kamu mengerti?" Wanita itu berpesan dengan kata-kata bijak namun suaranya semakin terdengar berat, hingga membuatnya terbata-bata.


"Iya, mom." Aurora mengiyakan pesan mommynya dengan perasaan semakin aneh.


"Aku, menyayangi, mom." Bisik gadis itu saat merasakan telapak tangan mommynya semakin dingin dan lemah


"Mommy juga menyayangi, sayang," balas Sandra yang suaranya menyerupai bisikan.


"Mommy, adalah malaikat pelindungku. I love you mommy." Bisik Aurora kembali dengan linangan air mata, entah mengapa perasaannya begitu kehilangan.


Sedangkan Sandra tidak mampu menahannya lagi dan ia masih mampu membalas ucapan putrinya.


"Love you too." Ucapan itu pun menjadi akhir dari Sandra, yang akhirnya ia menutup mata di atas pangkuan putrinya sendiri.


Aurora refleks terdiam dengan wajah syok dengan kedua matanya sudah di penuhi cairan bening.


Ia menyentuh wajah pucat mommynya itu, menyentuhnya begitu lembut sambil meracau.


"Mommy, mommy, mommy," ucap gadis itu dengan suara tertahan sambil menepuk wajah mommynya. Meraih telapak tangan lemah dan dingin, wanita yang sudah melahirkannya itu.


"Tidak, tidak, mom … mommy, bangun, mom!" Pinta gadis itu mulai tak terkendali.


"Mommy!" Teriaknya.


Austin yang baru menemukan istrinya, kini hanya membeku di tempatnya, melihat tubuh istrinya di depannya begitu tidak berdaya.


Pria itu terjatuh di atas tanah dengan wajah kesedihan, ia baru saja mendengar perkataan dokter yang menangani istrinya. Dokter itu mengatakan kepadanya, kalau istrinya tidak memiliki waktu lagi untuk hidup.


Dan kini ia mendapati istrinya sudah menutup matanya dengan wajah terlihat begitu damai.


Gracia dan Cindy terdiam, sambil menutup mulut mereka, keduanya tidak percaya. Melihat keadaan Sandra dari jarak Lima langkah.


"Mommy!"


_______


"Mommy, kau sudah bangun!" Seorang gadis berseru dengan suara bahagia, mendapati sang mommy terbangun dari tidur panjangnya.


Wanita yang berada di ranjang pasien membuka sempurna kedua kelopak matanya dan mendapati seorang wanita remaja di depannya.


"Mommy!" Seru remaja berusia 15 tahun itu dengan air mata kebahagiaan membasahi wajah cantiknya.


"Aurora?! Ucap wanita itu dengan suara pelan dan tertahan. Tenggorokannya begitu sakit dan kering.


Aurora menganggukkan kepalanya dan segera memeluk mommynya itu. Ia begitu bersyukur, masih bisa diberikan kesempatan untuk bersama sang mommy.


Sandra yang baru tersadar dari masa koma selama Lima tahun lamanya, begitu kebingungan sambil mengerutkan wajahnya.


Ia melepaskan pelukan putrinya yang kini sudah menjadi remaja cantik.


Ia berusaha untuk bangun, namun tubuhnya begitu berat hanya untuk sekedar bergerak sedikitpun.


"Mommy, jangan terlalu banyak bergerak," sela remaja di sampingnya.


Sandra masih terdiam sambil memandangi lekat remaja yang terlihat begitu cantik dan anggun.


Ia juga bisa melihat, putrinya berjalan normal dan mampu menemukan benda. Sandra semakin heran.


Aurora membantu mommynya untuk minum dan Sandra pun menerima, sambil menatap lekat putrinya itu.


"Apa kamu benar, putriku?" Tanya Sandra lemah, dengan wajah penasaran.


Aurora tersenyum dan mengangguk, ia mengerti dan memahami pertanyaan mommynya itu. Karena ada perubahan dalam dirinya.


Sedangkan Sandra kini menatap lebih lekat, wajah putrinya. Tubuh wanita itu terlihat ringkih, namun wajahnya masih tersimpan kecantikan alami.


Kini Sandra saling beradu pandang dengan putrinya, ia pun membuka sempurna kedua kelopak matanya, saat melihat perubahan dari kedua kelopak mata putrinya itu.


"Tidak, ini tidak mungkin!"