
Sandra kini berjalan menuju parkiran yang berada di lantai dua. Sedangkan dirinya mendapatkan tugas melayani pelanggan dan pengunjung di lantai 5 tepatnya di kelas elite.
Ia berjalan dengan tergesa-gesa, sambil mencoba menghubungi Gracia. Ia akan menyampaikan, tidak akan pulang esok pagi. Setelah menghubungi Gracia, Sandra bisa bernafas lega dan bermaksud melanjutkan langkahnya.
Sandra menghentikan pergerakan kakinya, ketika merasakan seseorang mengikutinya dari belakang. Sandra melirik kebelakang dan mendapati tiga sosok pria dengan tubuh tinggi besar.
Sandra hanya menampilkan senyum seringainya dan tetap berjalan menuju parkiran.
"Apa salahnya memulai pemanasan terlebih dahulu," gumam Sandra.
Wanita itu berjalan ke arah lain. Tepatnya ia memasuki sebuah gudang yang tidak terpakai di gedung tinggi itu.
Sementara ketiga pria yang diperintahkan untuk memberikan pelajaran kepada — Sandra, terus mengikuti wanita itu dan mereka terdengar memasuki ruangan gelap tersebut sambil tertawa puas.
"Apa kamu sengaja membawa kami ke sini?" Tanya salah satu di antara pria itu dengan memasang senyum jahat.
Sandra yang bersembunyi di balik tumpukan kardus, hanya menatap dingin ketiga pria itu.
"Hey, wanita malam. keluarlah, mari kita bersenang-senang!" Seru pria yang lebih bersemangat.
Ketiganya kembali tertawa dan masing-masing membuka kancing kemeja mereka dan mencari keberadaan — Sandra.
Sandra kini menajamkan tatapannya dengan begitu mengerikan. Ia bahkan tidak merasa terancam sedikitpun.
"Hey, keluarlah. Kami ingin bersenang-senang dengan mu!" Pekik salah satu pria.
"Hey, ****** keluarlah!" Gertak pria lainnya yang sudah jengah. Pria itu bahkan membongkar susunan kardus di sana.
Sandra pun keluar dari persembunyiannya dan kini berdiri dengan wajah datar. Kedua tangannya terlipat dan di letakkan di depan dada.
Sandra bahkan menatap remeh ketiga pria brengsek di depannya. Sandra menarik nafas sebelum menghadapi ketiga pria ini.
"Aku disini!" Seru Sandra dengan raut tenang.
Ketiga pria itu berbalik, dan dapat melihat sosok Sandra di sana. Dengan tawa dan tatapan kurang ajar. Ketiganya mendekati Sandra.
"Lihatlah kawan, sepertinya dia begitu berhasrat," ujar salah satu pria.
"Bersiaplah, nona. Kita akan bersenang-senang. Dan kamu harus melayani kami," pinta salah satu pria dan bersiap ingin menyentuh Sandra.
"Malam ini kami akan, membuatmu berteriak kenikmatan," sela pria lainnya.
"Kamu pasti akan merasakan kepuasan, nona," timpal pria lainnya dengan wajah kurang ajar.
"Kamu tidak akan bisa kemana-mana," timpal yang lain dan kembali tertawa puas.
Pria yang terlihat lebih bergairah melihat Sandra terlebih dahulu ingin menyentuh tubuh — Sandra. Dengan wajah mesumnya sambil membuka kemeja yang ia kenakan, pria itu pun memberanikan untuk menarik Sandra ke pelukannya.
Namun sebelum tangan pria itu menyentuh kulit Sandra. Wanita itu terlihat dahulu meraih pergelangan tangan pria mesum dan memelintirnya, hingga terdengar suara teriakan pria itu.
Bukan hanya itu, Sandra menarik tangan pria itu, ke arahnya dan meraih leher pria tersebut lantas membantingnya dengan mudah.
Terdengar suara keras terjatuh di atas lantai, pria itu meringis dan merintih kesakitan.
"Hey!" Seru pria yang lain.
"Dasar wanita sialan!" Pekik pria yang memiliki tato di lengannya.
Kedua pria itu membantu rekannya bangkit. Namun belum juga berdiri, Sandra sudah menghajar pria itu dengan tendangan berkali-kali dengan bergantian.
Sandra mengambil balok kayu yang ia temukan di balik tumpukan kardus dan segera menghantamkan di wajah, perut dan bagian titik lemah ketiga pria tersebut.
Setelah yakin ketiga pria itu sudah tidak berdaya, Sandra meninggalkan mereka dengan senyum sinis dan remeh.
Saat Sandra ingin membuka pintu gudang, terdengar deringan ponsel salah satu pria yang kini tak sadarkan diri itu.
Sandra mendekat dan mengambil ponsel pria itu di saku depan celana jeans nya. Sandra tersenyum miring, melihat nama sang pemanggil.
"Halo, kalian sudah melakukannya? Apa wanita sialan itu sudah kalian bereskan? Aku ingin wanita itu menjadi gila. Buang dia ke jalanan dalam keadaan telanjang!" Suara wanita di balik ponsel, memerintahkan untuk menghancurkan Sandra.
"Anda tenang saja, nyonya. Mereka sudah saya lenyapkan dan sekarang giliran anda." Ucap Sandra dengan nada suara penuh ancaman.
Tiba-tiba wanita di seberang sana terkejut dan terdiam. Ia segera mematikan panggil.
Melihat itu Sandra hanya berdecak sinis dan melempar ponsel pria itu dan kembali melanjutkan langkahnya.
……..
"Ck!" Pria yang menunggu Sandra kini berdecak kesal.
"Maaf, aku harus melakukan hal penting terlebih dahulu," ujar Sandra dengan ekspresi wajah datar.
Pria itu hanya terdiam dan mulai menghidupkan mesin mobil dan bergerak menuju pintu gerbang klub mewah itu.
"Apa kamu yakin ingin melakukannya?" Sebelum mereka bergerak jauh, pria itu sekali lagi menyakinkan Sandra.
"Hum!" Gumam Sandra yang terus menatap keluar.
"Kamu hanya memiliki dua kesempatan untuk bisa keluar dari sana. Dalam keadaan selamat dan mati." Pria itu menekan pada kalimat terakhirnya.
"Jangan khawatir, aku pernah berada di posisi antara hidup dan mati." Sandra berkata dengan entengnya.
Seakan nyawanya tidak begitu berarti, semua ia lakukan hanya untuk kebahagiaan putrinya tercinta.
Sandra sangat, menghindari yang namanya meminta bantuan dengan memohon kepada orang lain.
Ia sudah cukup memohon dan merendahkan harga dirinya dahulu. Kini Sandra akan membuktikan kalau dirinya sanggup mendapat uang tersebut.
Pria bernama Steven pun hanya bisa terdiam dan terus melakukan mobilnya. Mereka memerlukan perjalanan selama 3 jam.
Sandra masih terdiam, menatap keluar jendela yang mulai terlihat rintik hujan. Setiap memejamkan mata, ia bisa melihat wajah bahagia putrinya dan keceriaan putri tersayangnya.
Mana mungkin Sandra, membiarkan senyum dan kebahagiaan itu sirna begitu saja di raut wajah sang putri.
Tiga jam berlalu, mereka sudah tiba di sebuah lokasi tanah luas dan terlihat sebuah bangunan tua. Sandra hanya terdiam dengan pandangan menyipit. Ketika Steven melajukan mobilnya ke arah bangunan tua.
Mobil terus bergerak hingga memasuki sebuah terowongan gelap dan panjang. Sandra hanya diam sambil mengawasi sekitarnya.
Ternyata tempat ini begitu tersembunyi dari orang-orang, wajah Sandra tidak hentinya merasa heran. Semakin melewati terowongan akan menemukan keunikan, terowongan yang layaknya di jadikan kesenangan.
Terdapat berbagai macam tempat terlarang di sana. Mobil steven tiba di parkiran dan di sana berjejer rapi mobil super mewah.
Mata Sandra hanya bisa terbuka lebar. Ia mengikuti Steven ke pintu masuk. Di sana keduanya harus melakukan pemeriksaan ketat. Steven memperlihatkan sebuah kartu anggota berwarna emas.
Yang berarti, Steven adalah pengunjung tamu VVIP. Setelah melalui pemeriksaan, keduanya berjalan memasuki sebuah ruangan luas.
Sandra hanya bisa menganga, begitu banyak tempat permainan terlarang di sana.
"Ingat, kamu harus menjaga sikap. Jangan kemana-mana terus ikuti aku!" Bisik Steven.
Sandra hanya menganggukkan kepalanya dan terus mengikuti langkah Steven menyusuri terowongan kecil yang remang-remang. Sepanjang terowongan hal menjijikan yang Sandra lihat. Meskipun ia terbiasa di klub, namun ini begitu parah.
"Jangan terkejut, ini adalah tempat terlarang. Hal yang dilanggar akan kamu temukan di sini. Termaksud nyawa seseorang yang akan mati sia-sia," bisik Steven
"Apa kamu masih ingin melanjutkan nya?" Steven sekali lagi bertanya.
"Karena kamu hanya memiliki dua pilihan," lanjut Steven.
"Tempat ini bagaikan neraka dan kematian bagi yang ingin menantang maut," sambung Steven.
"Hum! Jangan khawatir." Sahut Sandra dengan tenang.
"Baiklah." Steven pun membawa Sandra ke sebuah pintu di ujung terowongan yang dijaga oleh beberapa pria berotot.
"Di sinilah, tempat para orang-orang kaya berkumpul. Memasang taruhan dengan nilai tinggi dengan nyawa seseorang tidak bersalah menjadi tumbal," pungkas Steven.
Sandra hanya bisa terdiam dan melihat sekitar tempat yang mereka masuki. Sebuah tempat luas dan begitu mengerikan.
Tempat yang sudah dipenuhi oleh orang-orang yang kebanyakan pria yang bersorak ramai, sambil menyaksikan pertarungan hidup dan mati di atas ring.
"Selamat malam, Mr." Steven menyapa seseorang yang duduk di meja paling depan dengan didampingi dua wanita berpakaian seksi.
Pria berwajah sangar itu menoleh ke arah Steven dan Sandra. Pria itu hanya memusatkan tatapan kepada Sandra. Menilai penampilan dan kepribadian wanita itu.
"Apa dia wanitanya?" Tanya pria dengan tubuh tinggi besar.
"Iya, Mr," sahut Steven.
Pria itu berdiri dan mendekati Sandra. Memindai sekali lagi seluruh tubuh Sandra sambil mengelilinginya.
"Apa kamu yakin ingin melakukannya, nona?" Tanya pria itu dingin.
"Sangat yakin," sahut Sandra dengan wajahnya yang datar.
"Peraturan mainnya adalah sampai mati." Pria itu berkata dengan penekanan seakan-akan ingin menggertak — Sandra.
"Saya siap," ungkap Sandra.
"Baiklah, malam ini kamu akan melawan … nona Alexis. Ratu ring di tempat ini," terang pria itu dengan tatapan mengintimidasi kepada Sandra.
"Baiklah!" Sandra hanya menjawab dengan wajah datar dan suara dingin.
"Kamu akan mendapatkan, 10 juta dollar. Apabila kamu dapat, mengalahkan nya," pungkas pria itu lagi.
"Saya hanya memerlukan 1 juta dollar," sahut Sandra.
Steven dan pria itu hanya bisa melongo dengan jawaban dingin Sandra. Apa dia mempertaruhkan nyawa hanya dengan harga, 1 juta dollar?
"Bersiaplah, 30 menit lagi pertandingan akan dimulai," ujar pria itu dan segera meninggalkan Sandra dan Steven.
"Kenapa kamu hanya menginginkan, 1 juta dollar?" Tanya Steven tidak mengerti pikiran — Sandra.
"Karena saya hanya memerlukan nilai tersebut," sahut Sandra.
"Terserah," ucap Steven dan membawa Sandra untuk bersiap-siap.