Mommy, My Angel

Mommy, My Angel
bab 41



"Kita harus bagaimana? Tidak mungkin kita menyerah, begitu saja dengan keadaan putri kita." Tatapan kesedihan terlihat jelas di mata seorang ibu, saat melihat putri terkasihnya sedang terbaring lemah di atas ranjang pasien.


Pria di sebelahnya terdengar menarik nafas berat, ia juga begitu terpukul mendengar fakta tentang kesehatan putri kesayangan kedua keluarga berpengaruh itu.


"Kita hanya bisa berharap, semoga mereka segera mendapatkan donor sumsum belakang, yang cocok untuk putri kita." Kendrick berkata dengan tatapan nanar ke arah putrinya.


Stella memeluk pinggang suaminya dan meletakkan kepalanya di pundak sang suami. Mereka tidak bisa berbuat apa-apa lagi, selain menunggu donor sumsum tulang belakang untuk putri mereka.


Tatapan kesedihan terlihat jelas di kedua mata pasangan itu, mereka semua hanya bisa pasrah, menunggu keajaiban.


Meskipun kedua pasangan itu berkelimpahan materi dan kekuasaan, namun mereka tidak bisa berbuat apa-apa selain sabar menunggu.


Sudah beberapa negara mereka mencari sumsum tulang belakang yang cocok untuk putri mereka, tapi hasilnya nihil. Mereka bahkan rela mengeluarkan tawaran imbalan yang begitu banyak.


Tapi semua hanya menjadi sia-sia, hingga dua tahun terakhir ini, putri mereka semakin kritis. Hidup putrinya pun lebih banyak dihabiskan di rumah sakit guna melakukan berbagai rangkaian terapi dan pengobatan.


"Apa kalian sudah menemukannya?" Nyonya Louis kini sedang berada di salah satu ruangan tertutup di rumah sakit mewah itu.


Kedua anak buah paling mereka andalkan, hanya menunduk kepala. Nyonya Louis pun semakin frustasi. Ia menjatuhkan tubuhnya di atas sofa dan memijit salah satu pelipisnya.


Tuan Louis sejak tadi hanya bisa diam dengan wajah datar, pria yang memasuki usia paruh baya itu, seakan tidak acuh dengan kondisi cucunya.


"Keluarlah!" Perintah nyonya Louis.


Wanita yang terlihat kacau itu, mengusir anak buahnya. Sekarang tinggal pasangan suami-istri di dalam ruangan tersebut.


"Bagaimana ini sayang?" Tanya nyonya Louis kepada suaminya.


Wanita berdandan anggun, begitu cemas dan panik. Bukan mengkhawatirkan keadaan cucunya, melainkan mengkhawatirkan posisi putranya.


Nyonya Louis begitu bahagia, saat memiliki seorang cucu sempurna dan cantik. Wanita itu begitu bangga, mempromosi wajah cantik cucunya kepada semua teman sosialitanya.


Ia juga begitu diberkati dengan kehadiran sang cucu, karena kedudukan keluarga Loius sebagai penguasa di negara itu semakin kokoh.


Kehadiran cucunya yang merupakan generasi dari keluarga Louis dan Wingston, membuat putranya semakin dikenal juga disegani dari kalangan pebisnis.


Tapi … hari ini ketakutannya terjadi, sang cucu yang memberikan pengaruh besar untuk kedudukan keluarganya, dalam keadaan kritis.


Tuan Wingston memberikan ancaman nyata. Pengusaha sukses itu memberikan ancaman untuk memutuskan hubungan kekerabatan keduanya.


Nyonya Louis pun semakin takut, ia pun akhirnya memerintahkan anak buahnya untuk mencari, keberadaan cucu pertama. Karena cucu pertama memiliki darah yang sama dengan cucu kaya.


"Kenapa, kau begitu takut?" Tanya tuan besar Louis.


"Suamiku!" Sentak nyonya Loius tidak menerima perkataan suaminya.


Tuan Louis hanya menampilkan senyum miring dan melangkah pergi, meninggalkan istrinya.


"Suamiku!" Panggil nyonya Loius.


Wanita anggun itu begitu geram dengan sikap suaminya yang begitu tidak peduli dengan ancaman dari tuan Wingston.


"Berhentilah mencarinya," timpal tuan Louis. Pria itu berhenti di ampang pintu dan berkata tanpa melihat istrinya.


Nyonya Louis tercengang dengan apa yang suaminya itu katakan, ia pun berjalan mendekati sang suami.


"Apa yang kau bicarakan, suamiku!" Pekik nyonya Louis.


"Berhentilah, mencarinya. Biarkan dia hidup damai di luar sana!" Pinta tuan Louis.


Pria itu menghela nafas panjang dan membuangnya dengan perlahan, ia melanjutkan perkataannya.


"Ingatlah, semua ini adalah kutukan untuk kita. Jadi … berhentilah, menerima kutukan lebih banyak lain." Tuan Louis berkata penuh peringatan kepada sang istri.


Entah kesalahan apa yang mereka lakukan, hingga mendapatkan kutukan sulit ini.


"Omong kosong. Aku tidak akan berhenti mencarinya, hanya dia satu-satunya harapan kita," ucap nyonya Louis dengan ucapan marah.


"Aku hanya mencoba mengingatkan. Jangan sampai kita akan menyesal nantinya," sela tuan Louis kembali.


Setelah itu, tuan Louis pun segera meninggalkan ruangan tersebut. Melangkah dengan bantuan tongkat di tangan kanannya.


Tuan Louis hanya ingin menikmati masa tuanya sekarang dengan hidup damai tanpa beban yang membuatnya frustasi.


"Aku tidak akan semudah itu menyerah, aku bersumpah, akan menemukan mereka." Nyonya Louis bermonolog penuh antusias.


……


Sementara wanita yang sejak tadi mendengarkan pembicaraan mereka tersenyum puas.


Cindy begitu bahagia, atas nasib menyedihkan putri suaminya itu. Cindy begitu puas melihat wajah rivalnya terlihat terpuruk.


"Begini lah' perasaan yang aku rasakan setiap hari," batin Cindy.


"Akhirnya, kalian pun merasakannya," lanjut wanita itu dan tertawa penuh bahagia.


"Baguslah, setidaknya. Putraku tidak memiliki saingan lagi." Ucap Cindy penuh kegirangan.


…..


"Kalian semua begitu payah!" Hardik, seorang tuan besar di dalam ruangannya.


"Menemukan mereka saja kalian, begitu payah." Lagi-lagi pria pemilik tubuh tegap itu menatap nyalang ke arah anak buahnya.


"Aku tidak peduli, kalian harus menemukan keduanya." Titah tuan besar Wingston.


"1 Minggu, aku mau mereka sudah ada dalam waktu yang aku minta. Apa kalian paham?" Tuan Wingston, sudah memberikan titah penting kepada anak buahnya itu.


Anak buah tuan Wingston pun paham dan segera meninggalkan tuan mereka.


Tuan Wingston sendiri kini terlihat kacau. Pria itu tidak terima kehilangan cucu kesayangannya. Jadi pria itu memberikan perintah untuk mencari keberadaan — Sandra dan putrinya.


"Walaupun berat, aku harus melakukannya. Demi cucuku Stevani." Gumam pria gagah itu.


…….


Sandra sendiri kini mengantar putrinya ke sekolah. Ia terus menggenggam tangan kecil putrinya. Mereka berjalan kaki dengan senyum terus terukir di wajah keduanya.


Aurora bahkan tersenyum begitu indahnya. Meskipun memiliki kekurangan, gadis cantik itu terus tersenyum bahagia.


Sandra yang melihat senyuman putrinya merasakan sakit. Sebagai seorang ibu, ia tahu isi hati putri tangguh nya itu.


Terlihat bahagia dalam tampilan luar, namun diam-diam putrinya menyimpan kesedihan. Gadis kecil itu tidak ingin membuat sang mommy khawatir.


Ia hanya bisa berkata, tidak apa-apa. Dia bisa melewatinya dengan lapang dada.


Ia juga sosok gadis kecil yang teguh dan sabar. Walaupun mendapatkan ejekan dan hinaan dari teman sekelasnya di kelas musik, Aurora hanya menampilkan senyumnya.


Gadis kecil yang berusaha mandiri di tengah kekurangannya, ia bahkan di remehkan oleh semua orang. Tapi gadis kecil itu, tidak pernah putus asa.


Ia selalu berusaha melakukan hal sendiri, saat sang ibu meninggal dirinya di dalam rumah sendirian, maka Aurora akan selalu sabar menunggu sang — mommy dan mengurus dirinya sendiri.


Gadis kecil malang yang seharusnya mendapatkan perhatian kepada keluarganya, namun dengan egois nya mereka menginginkan gadis kecil itu untuk berkorban demi — putri kecil lain yang mereka anggap lebih berharga.