
"Kami ingin mengambil alih hak asuh anak ini!" Stella dengan sikap arogannya, langsung berkata dengan inti maksud kedatangan mereka menerobos masuk ke dalam kediaman mewah — Sandra.
Wanita itu begitu muak melihat wajah datar Sandra, oleh sebab itu ia segera mengutarakan niatnya dengan wajah sok berkuasa.
Sandra masih terdiam dengan wajah datar juga pandangan yang terlihat tajam, menghunus kepada pasangan suami-istri di hadapannya yang tidak memiliki perasaan malu.
"Apa hak kalian mengambil putriku," sahut Sandra yang kini berdiri di hadapan kedua orang yang tidak memiliki perasaan malu.
Stella berdecak lidah, ia juga tidak kalah sinisnya memandang sandra. Wanita yang sejak dulu ia benci dan sekarang rivalnya ini lebih unggul daripada dirinya.
"Di dalam tubuh putrimu, mengalir darah suamiku." Stella berkata dengan sentakan arogan. Ia melupakan sebuah tamparan yang di berikan Sandra kepadanya.
Sandra menatap Stella dengan lekat, mata Sandra terlihat begitu mengerikan.
"Apa anda yakin? Di dalam tubuh putriku mengalir darah pria ini?" Sandra menjawab sambil menunjuk, Kendrick yang sejak tadi terdiam.
"Dia memang …."
"Bukankah, kau menolaknya? Kau juga mencampakkannya, mr Kendrick." Sandra sengaja menekan perkataannya di hadapan pria pengecut ini. Membuat Kendrick hanya bisa diam.
"Apa aku perlu mengulang perkataan anda? Atau mengulang perbuatan kalian, kepadaku juga bayi yang masih merah? Dia, gadis yang kau tolak, harus kedinginan di luar dan nyawanya nyaris terancam bahaya, apakah kau masih memiliki malu untuk kesini dan mengakuinya?" Sandra berkata dengan perasaan sedikit menyesak, mengingat masa-masa sulitnya bersama sang putri, di saat keluarga Lewis merayakan kebahagiaan dan dirinya berselimut kedinginan di luar badai salju.
Sandra berusaha menahan rasa sesaknya, ia tidak akan semudah itu menitikkan air mata di hadapan kedua orang yang tidak tahu malu ini.
Stella mengambil sebuah berkas di tangan pria setengah baya di belakangnya, pria yang merupakan, pengacara pribadi keluarga Winston.
Dengan sombongnya, wanita itu melemparkan kepada Sandra dan menatap Sandra sinis.
"Baca!" Pinta Stella sarkas.
Sandra menatap berkas tersebut dan menampilkan senyum miring, Sandra juga menginjak berkas itu hingga menjadi kusut.
"Kau!" Sentak Stella yang tanpa sadar ingin kembali melayangkan tamparannya, namun gerakan Sandra terlihat gesit untuk menghindar. Malahan Sandra lagi-lagi melayangkan tamparan kuat di wajah wanita itu.
Stella tersungkur di atas tanah dengan keadaan yang begitu berantakan, ia juga mengusap sudut bibirnya yang berdarah.
"Sandra! Apa yang kau lakukan kepada istriku!" Pekik Kendrick, segera membantu istrinya untuk berdiri.
Namun tiba-tiba Stella tersenyum dan tertawa detik berikutnya, ia juga berdiri dan kembali menatap Sandra dengan senyum miring.
"Dengan begini, kami akan lebih mudah mengambil putrimu," Stella berkata dengan berbisik dan menepuk tangannya tiga kali.
Sandra hanya diam dengan pandangan datar, tidak lama kemudian, ia melihat seorang wanita yang sedang memegang kamera.
"Apa kamu mengambil gambarnya begitu jelas?" Tanya Stella, kepada wanita yang ia sewa untuk mengambil gambarnya saat mendapatkan perlakuan buruk dari Sandra. Agar ia lebih mudah mengambil hak asuh Aurora dengan sikap Sandra yang kasar.
Sandra masih terdiam, Kendrick pun mendekati istrinya dan ia ikut tersenyum, melihat hasil gambar yang mereka inginkan.
"Dengan bukti ini, kami akan segera mengambil alih hak asuh putrimu," pungkas Stella dengan wajah pongah.
Stella mengalihkan pandangannya kepada sang pengajaran untuk mendekati Sandra dan segera mengambil Aurora.
"Maaf, nona Sandra. Kami sudah memiliki bukti kalau putri anda adalah, anak biologis tuan muda Louis, kami juga mendapatkan laporan dengan perilaku kasar anda dan juga anda hanya lah' seorang single mom. Yang mana perilaku anda juga status anda, sangat mempengaruhi psikologis putri anda kelak." Pengacara Stella menyerahkan sebuah surat tes DNA, saat diam-diam, tuan Winston melakukan tes DNA terhadap Aurora dan Kendrick.
Sandra masih diam, ia seakan tidak terancam sedikitpun, ia bahkan mengambil sebuah berkas juga barang bukti yang diperlihatkan kepadanya.
Dengan wajah datar, Sandra merobek dan merusak semua berkas itu dan membuangnya begitu saja.
"Seberapa banyak kalian memilikinya, aku tidak peduli. Bagiku, kalian orang asing untuk putriku." Sandra berkata dengan nada dingin.
Stella dan Kendrick berubah raut wajahnya menjadi geram.
"Kami akan membawa ini ke jalur hukum dan aku akan memenjarakanmu apabila melakukan perlawanan." Stella mengancam dengan wajah remeh kepada Sandra.
"Sebelum kalian melakukan itu, aku pastikan, nyawa kalian menghilang dan itu lebih baik bagiku," sahut Sandra dengan nada ancaman yang lebih mengerikan.
Stella dan Kendrick seketika menjadi diam, apalagi Sandra mengeluarkan sebuah senjata api dan mengarahkan kepada pasangan di depannya.
"Kami semakin yakin, untuk mengambil alih hak asuh putri anda, nona." Pengacara Stella menimpali dan berusaha membuat suasana mencekam itu berhenti.
"Kami akan melanjutkan ini ke pengadilan dan membuat anda mendapat hukuman," lanjut pria setengah baya itu dengan, wajah tidak ramah.
"Kalian, tidak akan bisa melakukan itu!" Sebuah suara berat dan dingin, terdengar dari arah belakang.
Semua orang pun berpaling, begitu juga dengan Aurora.
"Daddy!" Panggil gadis kecil itu dan ingin berlari mendatangi — Austin.
Stella dan Kendrick, begitu juga pengacaranya terkejut, melihat keberadaan seorang penguasa di kota itu datang dengan wajah yang tidak ramah.
"Daddy?! Gumam Kendrick dengan perasaan tidak nyaman.
"Jangan sekali-kali kalian mendekati keluargaku!" Pinta Austin dengan nada peringatan.
"Anda memiliki hubungan apa dengan nona ini?" Pengacara Stella menimpali dengan bertanya.
Austin terlihat bungkam, sambil berjalan mendekati Sandra yang masih memegang senjata api. Pria itu segera menurunkan senjata api di tangan wanitanya dan membawa Sandra ke dalam pelukannya.
Melihat itu, Kendrick merasa tidak terima dan ia menajamkan pandangannya kepada, Sandra dan Austin yang sedang berpelukan.
"Dia istriku." Sentak Austin yang menatap ketiga orang di hadapannya dengan tajam.
Sandra pun ikut terkejut dan segera melepaskan pelukan mereka, lantas Sandra menatap Austin dengan tatapan penasaran.
Austin tersenyum dan mencium kening juga bibir istrinya itu. Yah, Austin sudah mengesah' kan hubungan mereka di catatan sipil.
"Berkas yang kau tandatangani adalah, berkas pernikahan kita." Austin pun menjelaskan kepada Sandra, sambil merapikan rambut istrinya dan mengecup telapak tangan Sandra yang merah, bekas menampar wajah istri Kendrick.
Sandra tercengang, memandangi wajah Austin yang terlihat tersenyum manis. Pria itu juga menyerahkan sebuah berkas pengesahan pernikahan mereka.
"Kau …?"
"Aku melakukannya, karena sudah mengetahui semua ini akan terjadi," ujar Austin, menatap pasangan di depannya dengan tajam.
"Tidak ada yang bisa menyentuh keluargaku, kalian akan berhadapan langsung denganku," ucap Austin dengan nada penuh penekanan.
Sang pengacara Stella kini bergetar ketakutan, ternyata ia salah menyetujui kasus yang diberikan Stella.
"Aku tidak peduli, gadis itu harus menjadi milik kami!" Stella berteriak nyaring dan dengan sombongnya ingin mengambil Aurora.
"Wanita murahan sepertinya, tidak berhak mengasuh seorang anak," lanjut Stella.
"Tutup mulutmu, kalau tidak, aku berjanji akan memusnahkan kalian semua hingga semua keluarga kalian tidak tersisa."