
Alunan musik biola terdengar begitu merdu. Membuat para pengunjung museum menikmati Alunan musik merdu itu dengan perasaan sejuk dan tenang.
Kedua mata indah gadis itu terpejam, untuk menghayati setiap gesekan biolanya yang menghasilkan musik indah.
Senyum rupawan gadis kecil itu, mampu membuat para pengunjung museum terpesona. Bahkan dari mereka mencium kedua pipi gadis cantik itu. Mereka juga kagum atas bakat yang dimiliki si gadis kecil rupawan, di saat gadis itu, memiliki kekurangan ia mampu menunjukkan bakat dan kreativitasnya dengan sikap percaya diri.
Tepuk tangan terdengar bersorak saat musik biola itu berhenti di mainkan. Aurora membungkukkan tubuh mungilnya tanda terima kasih atas apresiasi diberikan untuknya.
Orang-orang pun menjauh dari gadis kecil itu dengan memberikan uang tip di kotak biola Aurora. Mereka juga meninggalkan cubitan gemas di kedua pipi mulusnya.
"Terimakasih!" Ucap gadis itu. Ia juga tersenyum manis.
Aurora masih terdiam di tempatnya, menunggu Jastin yang sedang mencari sarapan untuk mereka berdua.
Dari jarak 3 meter, seorang pria dengan wajah tertutup sejak tadi mengintai Aurora. Pria itu memusatkan perhatiannya ke arah kotak biola Aurora yang terdapat banyak uang tip.
Pria itu berjalan mendekat sambil melemparkan sisa rokoknya. Pria itu juga mengetahui, kalau Aurora tidak dapat melihat.
Pria yang berniat jahat itu, memperhatikan sekitarnya yang terlihat ramai orang berlalu lalang.
Ia semakin mendekat kepada Aurora, sekali lagi ia mencoba memindai sekitar gadis kecil itu dan menatap Aurora yang hanya bisa terdiam dengan pandangan kosong.
Di saat merasa aman, pria itu segera meraih semua uang tip yang di dapat Aurora dari hasil kerja kerasnya.
Pria itu berlalu dengan cepat, tanpa memperdulikan gadis kecil malang itu. Namun sebuah kaki menghalangi langkahnya, hingga pria itu jatuh terjungkal.
"Hey, apa masalahmu!" Hardik pria itu.
Sosok remaja di atas kursi roda tidak menyahut, ia dengan segera menginjak tangan pria jahat itu dan mengambil kembali uang hasil curiannya.
"Jangan pernah memanfaatkan kekurangan seseorang, apalagi seorang anak kecil," ucap remaja itu dengan tatapan mata dingin.
"Jangan ikut campur!" Pria itu tidak terima dengan tindakan remaja itu.
Pria jahat yang berpenampilan berantakan itu, berdiri dan memindai kondisi Erland yang hanya sosok remaja cacat.
"Cih! Kamu hanya anak ingusan yang ikut campur urusanku," desis pria itu dengan berludah ke arah samping.
"Lihatlah, kau hanya remaja cacat," cibir pria jahat itu.
Pria itu juga tertawa mengejek kepada Erland dan mengolok-olok nya. Erland hanya diam dengan tatapan mata tajamnya. Wajah remaja itu begitu dingin dan tanpa ekspresi.
"Pergilah!" Usir pria itu sambil berusaha mendorong kursi roda Erland.
Namun pria itu terkejut, saat kursi roda itu seperti tertahan dengan seseorang. Ia mengangkat pandangannya dan melihat sosok pria bertubuh kekar berdiri di belakang remaja tersebut.
"Kembalikan!" Pinta Erland sambil mengedikkan kepalanya ke arah Aurora.
Dengan wajah pucat, pria jahat itu mengembalikan uang Aurora kembali.
Namun hal mengejutkan membuat, Erland, pria jahat dan pengawal pribadi Erland terkejut, saat mendengar penuturan lembut dari — Aurora.
"Kenapa, Paman mengembalikannya?" Tanya Aurora yang pandangannya tepat mengarah kepada pria jahat itu.
Pria itu terkejut, mengira Aurora bisa melihatnya, tapi saat mencoba memperhatikan lagi dan membuat gerakan di depan mata Aurora, gadis kecil itu tidak merespon.
Pria itu menghela nafas lega dan ingin meletakkan kembali uang Aurora, tapi … lagi-lagi gadis kecil itu mengurungkan niatnya.
"Paman bisa mengambilnya!" Seru Aurora dengan wajah sungguh-sungguh.
Pria itu dan Erland terkejut dengan ucapan Aurora. Sekali lagi pria itu ingin memastikan, Aurora dalam keadaan buta atau tidak.
"Saya tahu, paman sangat membutuhkan uang," sela Aurora lagi.
"Ambillah, gunakan untuk mengobati ibu anda," lanjut Aurora sambil mengambil sesuatu di saku gaunnya.
"Ini, ambillah! Maaf saya hanya memiliki ini," ujar Aurora lembut sembari menyerahkan uang kepada pria itu.
Wajah pria itu tiba-tiba berubah sedih, dengan tangan bergetar dan mata berkaca-kaca, ia berlutut di hadapan Aurora.
"Terimakasih!" Ucap pria itu dengan air mata membasahi kedua pipinya.
"Semoga ibu paman cepat sembuh," doa Aurora tulus.
Pria itu memeluk Aurora dan mengusap pipi gadis cantik baik hati itu. Gadis kecil yang memiliki hati yang mulia dan peka terhadap keadaan. Ia pantas disebut anak jenius. Disaat Memiliki kekurangan ia lebih terbuka dengan keadaan sekitarnya dan lebih peka.
Pria itu segera meninggalkan Aurora dengan senyum mengembang. Ia tidak dapat mengucapkan kata-kata atas kebaikan gadis kecil itu.
"Dari mana kamu tahu dia sangat memerlukan uang?" Erland kini sudah berada di hadapan Aurora.
Aurora tidak terkejut, karena ia sudah tahu keberadaan Erland sejak tadi. Ia bisa tahu dari indera penciumannya.
"Saya juga tahu, kalau kakak sejak tadi berada di sini," sahut Aurora yang membuat Erland terkejut.
"Benarkah!" Sentak remaja itu kaget.
"Kamu juga tahu aku seorang remaja?" Erland begitu kagum dengan kepekaan Aurora.
"Tahu, saya menebaknya dari intonasi suara anda," sahut Aurora.
"Kamu sungguh genius," puji Erland yang wajahnya sungguh terkejut.
Aurora terkekeh menggemaskan, membuat Erland tidak dapat menahan perasaannya untuk mengusap rambut panjang — Aurora.
"Saya tidak dapat melihat, namun saya bersyukur, indera pendengaran dan penciuman saya begitu tajam," seloroh Aurora. Gadis itu kini terduduk di tanah berumput sambil tatapannya lurus ke depan.
Erland terhanyut oleh tatapan mata berkilau Aurora, remaja 16 tahun itu terus memamerkan senyum tampannya di tempat umum.
"Kakak, pasti berasal dari orang kaya?" Tanya Aurora tiba-tiba.
"Kenapa kamu bisa menilai seperti itu?" Erland kembali bertanya.
"Itu karena parfum yang kakak pakai, begitu wangi dan mewah. Pasti hanya orang-orang yang tertentu yang bisa memilikinya." Aurora memangku kedua pipinya dan tatapannya masih tertuju kepada — Erland.
"Kamu sungguh hebat," sekali lagi Erland dibuat kagum.
"Saya hanya menebak," celetuk Aurora.
Erland lagi-lagi tersenyum, ia begitu beruntung bisa menjadi Aurora pendampingnya kelak.
Kini tatapannya tertuju ke arah galung Aurora. Ia bisa melihat liontin pemberiannya masih dipakai oleh gadisnya.
"Kamu mengetahui sesuatu tentang pria tadi?" Erland mencoba mencairkan suasana yang tiba-tiba hening.
"Saya mendengar paman tadi bercerita dengan ibunya yang kesakitan. Saya juga menandai bau parfumnya," jelas Aurora.
"Saat kakak menghalanginya dan ia membuka suara, saya semakin yakin," lanjutnya lagi.
Erland tidak dapat mengatakan apapun lagi, atas kebaikan dan kecerdasan gadisnya ini.
"Tapi, uang itu hasil kerja keras kamu," timpal Erland.
Aurora kembali tersenyum, hingga memperlihatkan dua gigi kelincinya, yang menambah kesan imut wajah — Aurora.
"Kenapa kamu tersenyum?" Erland tidak bisa memalingkan perasaan kagumnya.
"Saya hanya melakukan apa yang sering mommy contohkan kepada saya. Mommy juga sering mengatakan untuk selalu berbuat baik kepada orang yang membutuhkan bantuan dan kita tidak boleh melihat kondisi orang itu. Siapapun yang membutuhkan bantuan, kita hari segelas membantu." Aurora menerangkan panjang lebar.
Erland terdiam, ia hanya bisa diam membisu mendengar ucapan Aurora. Keduanya kini saling mengobrol dengan akrab. Erland bahkan membawa Aurora berjalan-jalan.
Mereka berdua seakan saling melengkapi, Aurora yang berjalan dengan kedua matanya buta dan Erland yang duduk di kursi roda canggih.
Erland dengan setia menemani Aurora mengelilingi taman luas museum dan menerangkan keadaan di sekitar mereka.
Aurora merasa nyaman dengan pria yang baru saja ia kenal, begitu juga dengan Erland.
"Apa harapan terbesarmu saat bisa melihat?" Keduanya kini berhenti di bawah pohon tinggi dan rimbun, Erland ingin mengetahui keinginan terbesar gadis kecilnya itu.
"Melihat wajah mommy. Saya hanya ingin melihat wajah mommy. Seandainya saya diberikan kesempatan melihat hanya satu detik saja, saya hanya ingin melihat wajah mommy." Mimik wajah keseriusan terlihat jelas di wajah gadis kecil itu
"Dia pasti wanita cantik, bisa melahirkan gadis cantik seperti kamu," timpal Erland.
"Tidak," sahut Aurora sambil tersenyum.
"Apa maksud kamu?" Tanya Erland bingung.
"Saya tidak mirip dengan, mommy." Aurora menjawab dengan sendu.
"Jadi kamu lebih mirip …." Erland yang mengerti arti tatapan sendu Aurora, menghentikan ucapannya.
"D-daddy," sela Aurora dengan nada tercekat.
Erland menggertakkan giginya saat melihat tatapan berkaca-kaca — Aurora.
"Kamu mengetahui tentangnya?" Erland berusaha untuk mencari tahu kedekatan Aurora dengan daddynya.
Aurora menggeleng dan membuang pandangannya ke samping. Ia mengusap ekor matanya yang berair.
"Kamu tidak pernah menyinggung kepada mommy, kamu?"
"Tidak! Saya tidak akan membuat mommy menitikkan air mata hanya karena dia," balas Aurora. Dada gadis kecil itu seakan terhimpit sesuatu berat.
"Kamu membencinya?" Erland kembali bertanya.
"Tidak! Saya bersyukur, karena nya saya bisa terlahir dari rahim mommy. Saya juga tidak membutuhkannya, cukup dengan mommy, saya sudah merasakan kehangatan seorang daddy." ungkapan perasaan gadis kecil itu membuat Erland merasakan kesedihan.
"Tapi aku mengenal pria itu, pria yang sudah menyia-nyiakan kalian."