
Sorak tepuk tangan kini menggema di ruangan aula di sekolah berbasis internasional itu. Kini para murid dari tingkatan sekolah dasar khusus kelas musik, berada di aula. Untuk mengikuti seleksi perlombaan musik untuk ikut dalam lomba pencarian bakat.
Terlihat para murid sudah duduk rapi untuk memulai penyeleksian Tampak tiga guru yang akan menjadi juri pada kegiatan tersebut.
Aurora juga tampak antusias mengikuti seleksi tersebut bersama kedua sahabatnya, yang masing-masing memamerkan keahlian mereka dalam memainkan alat musik lainnya
Ditemani oleh sang mommy dan Austin yang menjadi daddynya mulai sekarang. Senyum kebahagiaan terus terlihat, di wajah cantik gadis pintar itu. Sandra bahkan baru pertama kali melihat putri bersorak kegirangan yang membuat senyum terukir indah di wajahnya.
"Kau terlihat cantik, bila terus tersenyum." Tiba-tiba bisikan lembut terdengar di telinganya.
Sandra terkejut seketika memutar kepalanya dan ia hampir saja bibir indahnya menempel di bibir seksi, pria rupawan di sebelahnya.
"Cup!" Tanpa permisi, Austin mengecup sudut bibir Sandra yang tampak melongo.
"Lembut dan manis," bisik Austin kembali. Pria itu tidak merasa bersalah, bahkan tersenyum penuh kemenangan dan terus merangkul pundak Sandra yang berdiri di sampingnya.
"Apa yang anda lakukan?" Sandra yang tersadar segera memasang wajah tidak suka. Ia bahkan menjauhkan tubuhnya dari rangkulan pria tampan itu. Namun Austin membalas dengan mengaitkan sebelah tangannya di bagian pundak depan — Sandra.
"Tuan, lepaskan aku!" Pinta Sandra dengan berbisik.
"Diamlah, honey. Semua mata melihat ke arah kita. Apa kata mereka melihatmu memberontak seperti ini. Mereka akan menuduhku melakukan pelecehan." Kembali Austin berbisik dan mendekatkan kembali wajah Sandra ke arahnya.
Ia seakan tidak terima Sandra terus memberontak dan mengatakan takut dinilai melakukan pelecehan. Padahal yang terjadi memang seperti itu.
"Nyatanya, anda sudah melakukan pelecehan," bisik Sandra yang menekan nada suaranya.
"No! Tidak ada istilah, melakukan pelecehan kepada wanitanya," balas Austin yang menempelkan hidung mancungnya di telinga Sandra yang terhalang rambut.
"Tuan!" Sentak Sandra bersamaan tatapan tajam.
"Sayang, panggil aku sayang. Apa kata anak kita mendengar panggilanmu, honey," sahut Austin yang begitu agresif kepada wanita pujaan.
"Gila!" Gumam Sandra yang hanya bisa memutar bola matanya dan berusaha melepaskan diri dari rangkulan hangat pria tampan di sebelahnya.
"Yap, aku begitu tergila-gila kepadamu honey," bisik Austin dengan wajah menunduk sedikit dan setelah itu, Austin terus mengecup puncak kepala — Sandra.
Keduanya terlihat begitu romantis di pandangan para orang tua murid di dalam aula dan merupakan pasangan begitu serasi.
Bahkan para orang tua murid, kagum kepada mereka. Apalagi sikap romantis Austin yang tidak melepaskan tubuh Sandra yang hanya sebatas dadanya saja.
"Mommy!" Aurora berteriak dan mencoba mencari sang mommy dengan meraba-raba di depannya.
Gadis itu yang berdiri di depan bersama murid lainnya begitu gugup dan membutuhkan mood booster dari sang mommy.
Namun salah satu murid yang tidak menyukainya, tersenyum licik dan mencoba mempermalukan Aurora juga ingin Aurora terluka dan mundur dari lomba.
Murid perempuan itu, mengarahkan salah satu kakinya saat Aurora berjalan di sampingnya. Membuat salah satu kaki Aurora tersandung dan hampir terjatuh ke lantai.
Beruntung, dengan sigap, Austin menangkap tubuh mungil Aurora dan menatap tajam murid perempuan itu.
"Kamu tidak apa-apa princess?" Tanya Austin yang segera menggendong tubuh mungil Aurora.
"Hum!" Aurora bergumam serta diikuti angkukan.
"Sayang!" Seru Sandra.
"Ya." Sahut Aurora dan Austin bersamaan.
"Oh betapa merdunya suara mommy saat memanggil sayang kepada, daddy," celetuk Austin dan mengedipkan matanya ke arah Sandra.
Sandra hanya mendelik kesal dan memeriksa putrinya. "Kamu terluka sayang?" Tanyanya khawatir.
"Hatiku yang berdenyut ngilu mendengar suaramu memanggil, sayang." Austin yang menjawab dengan bisikan.
"Tidak apa-apa, mommy," sela si cantik Aurora.
Sandra bisa bernafas lega dan ia terkejut, saat sebuah tangan kini melingkar di pinggangnya.
Sandra yang ingin protes segera terhalang oleh panggilan putrinya yang terdengar lirih.
"Mommy!" Panggil si cantik Aurora. Gadis itu masih berada di gendongan — Austin.
"Yah, sayang," sahut Sandra.
Wanita itu memegang wajah putrinya dan mengecup kening sang putri. Ia memahami perasaan putrinya itu.
"Kamu pasti bisa, sayang. Mommy akan selalu mendukungmu," ujar Sandra.
"Daddy juga akan selalu mendukungmu," timpal Austin dengan sebuah kecupan ia hadiahi di kedua pipi lembut — Aurora.
"Buktikan, kepada mereka yang selalu mengunjungimu. Kalau kamu mampu menjadi juara. Buktikan, kekurangan tidak akan menghalangi kamu menjadi yang terbaik dan seorang bintang." Dengan kelembutan, Sandra memberikan kata-kata penyemangat kepada putrinya yang tatapannya hanya tertuju ke arahnya.
Sandra juga tidak hentinya membelai wajah cantik putrinya itu dengan tatapan penuh kasih sayang.
"Kamu pasti bisa," lanjut Sandra dengan suara lantang.
Aurora pun kembali bersemangat dengan kepercayaan diri juga kembali bangkit.
"Sekarang bergabung ke depan dengan wajah percaya diri," sela Austin. Membawa Aurora menuju panggung di depan sana. Dimana para murid akan memulai unjuk bakat mereka.
Sandra juga ikut ke depan panggung, meninggalkan kecupan di kening Aurora dan berdiri tepat di bawah panggung dan berteriak memanggil putrinya.
Austin bahkan tidak melepaskan genggaman tangannya di telapak tangan Sandra. Kemana wanita itu bergerak, maka pria rupawan itu ikut bergerak juga. Ia seakan kehilangan sesuatu kalau tidak menyentuh sedikitpun kulit mulus Sandra. Hingga tidak bisa memegang telapak tangan Sandra, maka Austin akan menggenggam pakaian — Sandra.
Keduanya terus bersorak memberikan semangat kepada Aurora yang menunggu giliran untuk memperlihatkan bakat bermusiknya.
"Kakak!" Seorang gadis manis, mendekati Sandra dan Austin.
"Gracia." Sandra terkejut melihat adiknya berada di sini.
"Maaf, aku telat," ujar Gracia.
"Tidak, Aurora belum mulai. Seharusnya, kamu lebih memprioritaskan pekerjaan," saran Sandra yang merangkul pundak gadis manis itu.
"Aku sudah berjanji kepada, Aurora untuk menyaksikannya hari ini," sahut Gracia.
Sandra pun diam dan tersenyum, kini mereka bertiga terus memberikan semangat untuk — Aurora.
Gadis itu bahkan tidak berhentinya memamerkan senyum terbaiknya dan kegugupannya kini menghilang. Meskipun tidak melihat langsung keluarganya yang memberikan dukungan, Aurora bisa merasakan semangat mereka.
"Aku berjanji, akan memenangkan lomba ini." Aurora berkata dalam hati dan menggenggam kuat stik biolanya.
"Kenapa biola putriku begitu buruk?" Tanya Austin, saat tersadar melihat biola Aurora yang sudah begitu kusut dan tua.
"Dia sudah nyaman dengan itu," sahut Sandra cuek dan berusaha melepaskan tangan Austin di pinggangnya.
"Aku bahkan bisa membeli banyak untungnya, kalau perlu aku bisa memberikan dengan tokonya," celetuk Austin kesal. Melihat biola Aurora yang begitu membuatnya kesal.
Pria itu mengambil ponselnya dan menelpon seseorang di seberang sana. Sandra bahkan melongo tidak percaya bersama dengan Gracia.
"Aku menginginkan, toko biola termewah di kota ini," ucap Austin sekenanya dan Tanpa berpikir panjang.
"Apa yang anda lakukan?" Tanya Sandra yang masih terkejut.
"Apa salah melakukannya untuk putri kita?" Tanya Austin kembali.