Mommy, My Angel

Mommy, My Angel
bonus bab part dua.



"Jadi โ€ฆ."


"Iya, mom. Dia yang memberikan kedua matanya kepadaku," Aurora menyela ucapan mommynya yang terlihat begitu syok. Mata wanita itu tidak hentinya mengeluarkan air mata.


"Aku tidak pernah membencinya, karena mommy tidak mengajariku soal itu. Aku hanya mencontoh, apa yang selama ini mommy lakukan kepada orang-orang yang menyakitimu." Aurora remaja menatap lekat, wajah mommynya yang begitu lemah.


Sandra meraih telapak tangan Aurora dan mengecupnya penuh kebahagiaan juga rasa syukur.


Ia bersyukur teramat sangat atas, kesempatan sekali lagi ia alami. Bisa keluar dari kematian dan kini ia mendapati putrinya bisa melihat dunia.


"Dia mengirimkan permintaan maaf kepada, mommy," ucap Aurora yang juga ikut menitikkan air mata. Mengingat momen kebersamaannya bersama daddy biologis-nya sebelum meninggal.


Pria itu menitipkan kedua matanya kepada putrinya, atas penebusan dosa yang ia lakukan kepada putrinya itu. Kendrick sendiri menghembuskan nafas terakhirnya di pelukan putrinya โ€” Aurora.


Sementara Stella, sudah mendapatkan hukumannya dengan sebuah hukuman seumur hidup di penjara.


______


"Brak." Pintu kamar perawatan Sandra terbuka dengan kasar dari luar. Tampak seorang pria dengan keadaan tubuhnya yang juga semakin mengurus dan tidak terawat, berdiri dengan tatapan berkaca-kaca.


"Sayang!" Serunya lirih, suaranya tercekat sesak, melihat wanita yang begitu dicintainya.


Sandra yang masih terbaring lemah, menolehkan wajah pucatnya. Wanita itu bisa melihat dengan jelas, suaminya menatap penuh kerinduan.


"Sayang!" Austin segera melangkah lebar mendekati istrinya.


Wajah tampan itu terlihat begitu bahagia, melihat istrinya bangun dari koma selama Lima tahun.


Selama itu juga, Austin tetap setia mendampingi istrinya, setia menunggu dan menjaga hati dan perasaan demi wanita yang sangat ia cintai itu.


Austin selalu meyakinkan dirinya, kalau istrinya pasti akan terbangun suatu saat nanti.


Kini ia bisa melihat istrinya kini membuka kedua matanya yang berkaca-kaca.


Austin juga mengabaikan segala urusan perusahaan dan melakukan semua di samping istrinya itu.


Dia begitu berterimakasih, kepada seorang yang sudah menyelamatkan nyawa istrinya dalam waktu yang begitu tepat dan berharga untuknya.


Pria itu segera memeluk istrinya dengan tangisan yang begitu pilu, penantian juga tekadnya kini memberikan hasil yang begitu membahagiakan.


Austin tidak dapat berkata-kata, selain memeluk tubuh ringkih istrinya dengan begitu erat.


Aurora meninggalkan kedua orang tuanya itu, ia berjalan menuju sebuah taman di belakang rumah sakit.


Austin mengangkat wajah, ia menatap lekat wajah pucat istrinya itu. salah satu tangannya, membelai wajah tirus sang istri dengan begitu lembut.


Sandra membalas tatapan penuh haru dan cinta kepada suaminya, mata indah itu masih terus mengalir air mata.


"Berhentilah, menangis! Kau membuatku begitu bersalah. Lihat, kau begitu tidak terawat," pungkas Sandra yang menatap penuh lekat suaminya.


Sandra merasa begitu bersalah dan tidak pantas, mendapat kesetiaan seorang pria yang begitu sempurna baginya.


Austin hanya tersenyum sambil menciumi punggung tangan istrinya berkali-kali. Air mata pria itu bahkan masih terus menetes.


"Jangan membuatku takut kehilanganmu lagi," gumam pria itu dengan suara serak.


"Kau tahu, aku merasa kehilangan separuh jiwaku. Aku bahkan tidak begitu memikirkan sesuatu selain dirimu."


"Terimakasih, kau ingin bertahan dan sadar kembali, aku berharap kau tidak akan pernah seperti ini lagi. Sungguh, ini begitu menyakitkan bagiku." Ucapan tulus seorang suami mampu membuat perasaan Sandra teriris pilu.


Seharusnya ia berjuang hidup, demi putri dan suaminya, yang begitu mencintai juga setia menjaga hati hanya untuknya.


"Maaf!" Ujar Sandra dengan iringan tangis pilu.


Austin segera mengusap lelehan air mata di kedua pipi istrinya, pria itu begitu bahagia atas kesembuhan istrinya.


"Aku bersumpah dengan orang yang sudah menyelamatkanmu, sayang," pungkas Austin yang setia mengusap-usap puncak kepala istrinya.


Sandra menatap sangat lekat wajah suaminya itu, ia binggung maksud perkataan โ€” Austin.


"Siapa yang sudah menolongku?" Tanya Sandra penasaran.


"Entah, semua pihak rumah sakit menutupi identitas orang itu. Namun hanya keluarga terdekat yang mampu menyelamatkanmu," terang Austin.


"Apa dia yang melakukannya?" Wanita itu kembali bertanya dengan kening berkerut.


"Tuan Winston?" Tebak Austin.


Sandra menganggukkan kepalanya menjawab tebakan suaminya itu.


"Tidak, bukan dia yang melakukannya. Karena dia pun, dalam keadaannya tidak baik-baik saja sekarang," jawab Austin.


Sandra semakin penasaran, siapa gerangan yang sudah memberikan dia kesempatan untuk hidup, meskipun harus terbaring koma selama Lima tahun, namun Sandra begitu diberkati umur panjang.


"Sebaiknya, kita tidak perlu memikirkannya, karena kami pun tidak mengetahui orang tersebut, sepertinya dia bukanlah seorang yang sembarangan, menyembunyikan identitas serapi itu," jelas Austin yang terus menempelkan wajahnya di dekat ceruk leher istrinya itu, dengan posisi duduk di kursi di samping istrinya.


Sandra hanya tersenyum tipis, nyatanya ia begitu memikirkan orang yang memiliki hati yang sama dengannya. Ia berpikir, siapa yang sudah melakukan semua untuknya yang sedang sekarat.


Apakah ayah biologis putrinya? Namun itu mustahil, karena ia tidak memiliki sampel DNA yang sama. Ayah biologisnya? Tapi โ€ฆ keadaannya jauh memperhatikan untuk melakukan, transputasi hati.


Lalu siapakah orang itu? Apakah dia keluarga yang tidak diketahui olehnya? Namun setahu dirimu, ia tidak lagi memiliki siapapun di masa kecilnya, selain orang tua angkatnya.


Tapi keduanya pun sudah meninggal dalam peristiwa kecelakaan puluhan tahun lalu, saat usianya menginjak remaja.


"Apakah dia?" Batin Sandra, melintas di dalam benak dan pikirannya sosok yang sudah melahirkannya.


Namun segera Sandra, menepis pikiran itu. Karena ia sendiri tidak yakin dengan nasib sosok wanita yang sudah melahirkannya dan membuang dirinya, sehingga ia harus hidup sulit dan sengsara.


Sandra tersenyum, ketika ia merasa suaminya mengubah posisi dan pria itu kini memeluknya begitu erat. Suaminya itu memeluknya begitu posesif, hingga ia begitu kesusahan untuk bernafas.


Austin bahkan tidak hentinya menciumi pipi istrinya itu, sisa tangisan masih terdengar di telinga Sandra, membuatnya begitu bersyukurlah, menjadi wanita beruntung yang menjadikan istri dari pria seperti suaminya ini.


Tiba-tiba kembali pintu terbuka, Sandra menoleh lemah dan melihat seorang dokter yang ia kenali adalah sahabat sang suami.


Diikuti oleh dua suster dan seorang wanita cantik yang sedang menggendong seorang gadis kecil berisi 3 tahun.


"Cindy!" Serunya lirih dengan tatapan penuh penilaian kepada Cindy.


"Sandra!" Cindy segera mendekat kepada Sandra.


Austin terpaksa memisahkan diri dari istrinya dengan wajah tidak rela. Ia menoleh ke arah sahabatnya yang kini tersenyum puas.


Kedua wanita itu saling berpelukan. Cindy juga menitikkan air mata begitu terharu, atas Sandra yang sudah sadar.


"Ehem." Dokter tampan itu berdehem.


Kedua wnqita itu pun menolehkan wajah dan menatap dokter tampan itu dengan wajah berbeda.


Sandra menatap lekat Cindy yang terlihat tersenyum malu-malu kepada dokter di depannya.


"Tenyata begitu banyak kejadian yang aku lewatkan," batin wanita itu, saat melihat dokter tersebut menyerahkan gadis kecil itu kepada Cindy. Dan ia mendengar jelas, dokter itu menyebutkan daddy.


"Mereka sudah menikah," bisik Austin tiba-tiba, membuat Sandra menoleh seketika ke samping.


"Mereka menikah, 3 tahun lalu," lanjut Austin.


Sandra diam, ia tidak menyangka dan bersyukur, kebahagian juga kini dirasakan oleh Cindy.


_____


"Sekarang tidak ada yang perlu dikhawatirkan, semua sudah membaik dan kondisi nyonya Cooper sudah pulih sepenuhnya. Tinggalkan menyembuhkan fisik yang lemah dan melakukan terapi untuk tubuh yang masih kaku." Dokter itu pun menjelaskan dengan begitu ramah.


Austin dan Aurora begitu bahagia, mendengar kabar membaiknya kondisi Sandra.


Austin bahkan tidak hentinya, untuk berada di sisi istrinya. Pria itu masih tidak menduga, Sandra bisa kembali tersadar.


Suasana terlihat begitu haru dan senyum bahagia terlihat di wajah mereka. Semua masa-masa menegangkan dan kekhawatiran kini berubah dengan kebahagiaan.


Terutama Aurora, yang begitu bersyukur, masih di beri kesempatan untuk bersama dengan wanita terhebatnya.


Juga Austin, yang begitu bahagia mendapat kesempatan untuk menjaga dan membahagiakan istri tercintanya.


Sandra lebih begitu bersyukur, mendapatkan cinta istimewa dari putri dan suaminya. Wanita itu berjanji, akan selalu kuat untuk kebahagiaan keluarga kecilnya itu.


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒนtamat ๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน