Mafia In The School

Mafia In The School
Misi Pertama



Kinara mendapat telepon dari geng Naga Hitam jika ia harus bersiap untuk melakukan misi pertamanya. Kinara juga mendapat identitas orang yang akan mereka jadikan terget mereke.


Mendapat kabar tersebut Kinara langsung mencari tahu alamat dari target misi yang akan mereka tuju. Kinara tak ingin membuat kesalahan dengan gagal dalam tugas pertamanya, kata gagal tak ada dalam kamus Kinara.


Kinara mengambil laptop dari ruang penyimpanan kemudian ia langsung mencari alamat dan siapa target mereka, mencari tau


seberapa kuat kekuatan musuh dan apa saja titik kelemahannya.


Kinara mencari semuanya informasi dengan sangat hati-hati. Namun, ada satu hal yang membuatnya resah, saat mencari tahu jika kelemahan musuhnya adalah pada anaknya, setelah mencari tahu siapa anak dari target mereka foto Vano muncul di layar.


"Apa? Vano? Apakah kami akan menyerang keluarga Vano," gumamnya dengan cepat kembali mencocokkan data Vano dengan data yang dikirim oleh tim Naga Hitam dan benar saja data mereka cocok, Vano adalah anak yang mereka maksud.


Kinara memainkan jarinya di meja, mengetuk-ngetuknya sambil memikirkan sesuatu, "Aku bisa minta bantuan pada Vincent," gumamnya kemudian langsung menghubungi Vincent.


Keesokan harinya ia kembali mendatangi markas tersebut di sana mereka sudah mengatur siasat apa saja yang akan dilakukannya, lawan mereka bukanlah orang sembarangan, mereka juga dari sebuah geng walau tak sekuat gang Naga Hitam.


"Dengar lakukan ini secara hati-hati dan kalian harus melakukannya secara benar aku tak ingin ada kata gagal dalam misi ini," ucap Ayah Natasha memberi pengarahan kepada tim yang akan menjalankan misi.


"Kinara, ini misi pertamamu, kamu tak harus turun tangan langsung kau cukup memperhatikan bagaimana cara kerja mereka!"


"Kita hanya akan menghabisi ketua geng dan kelompoknya 'kan? Bukan keluarga merek," tanya kinara. Dulu Kinara merupakan Mafia terkuat. Namun, ia punya aturan sendiri, ia tak ingin menyakiti orang yang bersalah.


"Benar, kita hanya akan menghabisi ketua geng dan kelompoknya saja, tapi jika ada keluarga yang menghalangi, kalian boleh ikut menghabisinya. Pastikan tak ada saksi yang melihat kalian, dan jika ada, singkirkan!" tegas ayah Natasha.


Semua mengangguk mengerti termasuk Kinara dan mereka kembali ke kediaman masing-masing, Kinara sendiri kembali ke apartemennya Vincent..


"Ada apa? kenapa kau terlihat sangat gelisah?" tanya Vincent yang baru saja masuk dan memperhatikan kinara yang sudah bersiap dengan pakaiannya, kinara memakai pakaian serba hitam dan juga memakai ransel, tapi terlihat jelas di wajahnya wajah kebingungan.


"Ini misi pertamamu, aku rasa mereka tak akan membebanimu dengan misi malam ini, jadi untuk apa kau cemas, cukup ikuti mereka dan pastikan kau selamat," ucap Vincent.


"Jika kau membutuhkan sesuatu kau bisa bilang padaku, aku akan menolongmu dan jika kau merasa misi itu terlalu berat kamu bisa mengajukan untuk mundur."


"Misi ini samasekali tidak terberat, aku hanya sedang mengkhawatirkan sesuatu, khawatir jika kita juga menghabisi orang-orang yang tak bersalah, misalnya dia memiliki keluarga."


"Jika mereka memiliki keluarga dan mengetahui tindakan penyerangan itu maka mereka juga akan mendapat bahaya itulah yang akan mereka lakukan. Bahkan anak kecil pun akan di dianggapnya sebagai musuh," jelas Vincent. "Itulah salah satu penyebabnya aku keluar dari geng Naga Hitam, mereka tak memiliki aturan dan hanya membantai apa saja yang ada di depannya." Vincent kembali mengingat di mana saat melakukan misi bersama dengan Naga hitam mereka bahkan bisa menghabisi anak kecil hanya karena anak itu melihat tindakan mereka."


Vincent keluar dari tim tersebut dan memilih membentuk tim lain yang menjalankan misi sesuai aturannya. Namun, ia tetap menjadi anggota geng Naga Hitam, ia memiliki keistimewaan dari anggota lainnya.


Vincent hanya menggunakan senjata jika mereka juga memegang senjata. berlaku untuk anggota timnya, mereka tak akan menghabisi nyawa orang yang dianggap tak membahayakan misi mereka.


Sementara itu di kediaman keluarga kinara,


Ayah kinara sangat marah kepada istri dan anaknya, terakhir ia meminta kepada istrinya untuk membawa pulang Kinara. Namun, sampai saat ini kinara tak juga pulang dan yang paling membuat ayah khawatir, ponselnya sudah tidak aktif lagi. Ayah juga sudah menghubungi pihak sekolah dan mereka mengatakan jika Kinara sudah tak asrama lagi.


"Bukankah sudah aku bilang padamu untuk meminta kinara pulang dan mulai sekarang ia juga akan tinggal bersama dengan kita. Apa kau tak mengatakannya pada kinara?" tanya ayah pada Diana dengan kesal.


"Tentu saja aku sudah mengajaknya, aku juga sudah mengatakan jika itu adalah perintahmu, tapi kau tahu sendiri 'kan anakmu belakangan ini sangat keras entah apa yang merasuki nya dia bahkan berani kurang ajar padaku," jelas Diana mengingat bagaimana kinara menantangnya di sekolah. Diana tak takut sedikitpun dengan kemarahan suaminya karena ia sendiri yakin kali ini itu bukanlah kesalahannya, ia sudah mengajak kinara untuk kembali, tapi emang kinara yang tak ingin pulang, " Aku bahkan sedikit memaksanya untuk kembali tinggal bersama dengan kita," jelas ibu.


"Aku sudah mencari kinara dan menanyakannya kepada guru dan teman-temannya, tapi tak satu dari yang tau keberadaan Kinara," ucap ayah yang tak mendapat respon dari istrinya dan hanya fokus pada makeup nya.


Ayah yang kesal langsung mengambil Makeup Diana dan membantingnya, "Aku sibuk mencari kinara dan kamu enak-enak kan memakai make up, apa kamu tak punya rasa khawatir sedikitpun? Ha? Kinara menghilang, aku tahu kinara hanyalah anak tirimu, tapi selama ini kau yang merawatnya, apa tak ada rasa sayang sedikit pun hatimu, kamu ini keterlaluan," bentak ayah yang sudah di luar batas kesabaran menghadapi istrinya.


"Kinara itu sudah besar, ia sudah tahu mana yang buruk dan mana yang baik. Jika dia memang mau pergi berarti dia memang tak ingin tinggal dengan kita, itu adalah keputusannya kita hargai saja apa yang dia putuskan. Kenapa kamu sibuk mencarinya aku yakin jika dia sudah merasa sendiri di luar sana dia akan kembali bersama kita. kemana lagi dia akan pergi selain kembali ke rumah," ucap Diana melipat tangannya di dada dan duduk di disisi tempat tidur. Membuang merasa kesal karena dibentak oleh suaminya, terlebih lagi melihat alat make up yang sudah berserakan di lantai.


"Percuma saja bicara denganmu. kau ibu yang tak punya tak punya hati dan perasaan," ucap ayah kemudian keluar dari kamar dengan tak kalah kesalahannya disusul oleh ibu yang masih protes, ia tak terima dianggap penyebab Kinara pergi.


🌹🌹🌹 Terima kasih sudah membaca 🌹🌹