
Natasha dan Claudia tak membuang waktu, setelah mencocokan pakaian tersebut di badannya, mereka langsung ikut bergabung dengan yang lainnya. Dengan pakaian ubah di kenalannya mereka berbaur tanpa di ketahui. anggota geng yang lainnya juga sudah menggunakan pakaian yang yang sama dengan geng masing-masing.
Awalnya mereka ingin berangkat ke sana dengan cara rahasia. Agar kedatangan mereka tak diketahui oleh musuh. Misi mengintai.
Mereka hanya memastikan kondisi ketua geng mereka yang masuk ke kandang musuh. Namun, saat akan berangkat orang kepercayaan Ayah Natasha mendapat pesan dari ayah Natasha meminta bantuan mereka.
"Sudah kuduga, pasti ada masalah. Cepat! kita harus pergi ke sana secepatnya," ucap kepercayaan Ayah Natasha kemudian langsung mengubah rencana mereka. Ia melakukan gerakan tangan sebagai isyarat jika misi mereka diubah dari mengintai jadi menyerang.
Semua sigap berlari keruang senjata dan mengambil perlengkapan mereka, Claudia dan Natasha yang melihat itu semua langsung mengikuti apa ya mereka tanpa tau apa yang terjadi. Mereka juga mengambil senjata sama seperti yang lainnya.
Mereka semua langsung bergerak menuju ke markas musuh dengan menggunakan helikopter. Begitu juga dengan anggota Vincent, walaupun tak mendapat perintah, melihat pesan dari ayah Natasha, orang kepercayaan Vincent pun langsung menggerakkan orang-orangnya untuk ikut menyerang.
"Tunggu. Bukankah mereka akan menyerang?" bisik Claudia pada Natasha.
"Aku juga tak tau, bagaimana ini? Apa kita mundur saja?"
"Kita sudah sampai di sini, bagaimana jika kita ikut saja." usul Claudia dimana mereka sudah dalam barisan untuk naik ke Helikopter, mereka yang awalnya hanya ingin melakukan misi pengintaian ternyata salah. Rencana mereka di ubah di detik akhir sebelum mereka berangkat.
"Hai kalian berdua! Kenapa kalian tidak mengambil senjata kalian," seru salah satu anggota geng yang melihat Natasha dan juga Claudia yang berjalan tanpa memegang senjata apapun.
Mereka tak menjawab dan langsung kembali mengambil senjata dan ranselnya mereka yang mereka letakkan di sudut ruangan.
Helikopter pun segera membawa mereka ke markas Mawar Hitam.
Orang kepercayaan Vincent mendapat kabar jika ayah Natasha mengirim pesan memberi perintah kepada kelompoknya untuk menyerang itu berarti Vincent juga sedang dalam masalah saat ini. Mereka pun ikut menyerang.
Mereka sudah sampai di markas Mawar Hitam beberapa helikopter langsung disambut dengan tembakan.
Saling balas menembak langsung terjadi sesaat setelah mereka mendarat.
Mereka saling melindungi satu sama lain hingga mereka semua berhasil mendarat dengan sempurna dan mulai melakukan perlawanan.
Namun, semua tak semudah itu. Mereka cukup kesulitan masuk ke dalam markas saat anggota geng Mawar Hitam menjaga markas mereka agar tak didekati oleh para anggota geng lawan.
Mereka membagi tugas memukul mundur pasukan yang ada di luar dan mempertahankan benteng pertahanan mereka dan yang lainnya mengalahkan musuh yang sudah menerobos markas mereka.
"Vano, di mana Vincent dan Kinara? Sudah tadi aku tak melihat mereka. Mereka juga sudah tak terhubung dengan alat komunikasi," ucap Ayah Natasha kembali berlindung di balik tembok mengistirahatkan tangannya yang sudah kelelahan menarik pelatuk senjatanya.
"Tadi aku melihat mereka ke arah sana," ucap Vano menunjuk ke arah di mana tadi Kinara dan Vincent pergi.
Claudia dan Natasha yang meresa syok langsung berlari mencari perlindungan mereka sangat terkejut dengan apa yang mereka alami. Mereka berdua sama sekali tak memiliki kemampuan menembak. Sambil memegang senjata mereka bersembunyi di balik tembok dan mencoba melihat situasi di luar sana. Mereka melihat orang-orang yang datang bersama dengannya ada beberapa yang sudah tewas terkena tembakan.
"kita harus mencari tempat yang aman," ucap Claudia kemudian menarik Natasha yang sudah ketakutan. Kali ini Natasha benar-benar menyesal karena telah melanggar perintah ayahnya untuk meminta izin sebelum keluar dari kediamannya.
Claudia menarik Natasha masuk ke sebuah ruangan dan bersembunyi di ruangan tersebut, hanya itu salah satu cara mereka untuk bertahan hidup. Mereka sama sekali tak bisa melawan musuh-musuh mereka walaupun senjata ada di tangan mereka.
"Bagaimana ini, aku takut. Apa yang akan kita lakukan?" tanya Natasha.
"Kita akan bersembunyi di sini sampai keadaan aman, kau tenang saja kita pasti akan baik-baik saja," ucap Claudia menenangkan Natasha walaupun sebenarnya ia juga merasa takut.
Mereka terus saling tembak.
"Sebaiknya kita menyebar, usahakan kalian masuk ke dalam markas tersebut pasti ada jalan lain."
"Baik," ucap mereka dan langsung mencoba menyelinap dan saling melindungi. Benar saja mereka bisa masuk ke dalam melewati Claudia dan juga Natasha yang sudah bersembunyi di balik tembok tersebut.
Tembakan saling sahut menyahut, tak terhitung berapa nyawa yang melayang karena perang tersebut . Baik kawan maupun lawan.
Ayah Natasha dan Vano berhasil menyusuri tempat tersebut. "Di mana mereka? Mereka suka sekali mencari masalah," gerutu Ayah Natasha. Mereka berjalan semakin dalam hingga mereka menemukan tetesan darah yang terlihat menuju ke suatu tempat.
"Mungkin saja ini adalah darah Kinara. tadi Kinara terkena luka tembak. Sebaiknya kita ikuti darah ini!" Mereka akhirnya mengikuti jejak tersebut, sepanjang perjalanan mengikuti jejak tersebut beberapa musuh mereka sudah tergeletak bersimbah darah. Mereka yakin mereka mengambil jalan yang benar.
Walaupun takut Vano terus mengikuti ayah Natasha sambil memegang senjatanya erat. Ia tak ada pilihan lain selain membunuh. Dalam hal ini jika ia tak membunuh musuhnya, musuhnya lah yang akan membunuhnya.
Jejak darah itu berhenti. Namun, Vincent dan Kinara tak ada di sana.
"Kemana mereka pergi, jejaknya hanya sampai disini," gumam Ayah Natasha berjongkok dan menyentuh darah tersebut. ia melihat sekelilingnya.
"Apa mungkin di sini ada jalan rahasia." Ayah Natasha mencoba untuk mencari sesuatu yang mungkin saya bisa membuka pintu jalan rahasia seperti tombol, lukisan atau tanda-tanda lainnya, tempat mereka sekarang adalah jalan buntu dan tak ada kelak kembali.
Vano ikut mencari apa yang dicari oleh ayah Natasha. Mereka mencari hingga tanpa sengaja Vano menekan sebuah pena dan sebuah pintu Rahasia terbuka..
Ayah Natasha melihat Vano, Vano hanya memperlihatkan apa yang tadi dilakukannya. ia mengangkat pena itu dan memperlihatkannya kepada ayah Natasha.
Perlahan pintu rahasia itu menutup. Sepertinya pintu itu menutup secara otomatis setelah dibuka membuat Ayah Natasha dan juga Vano bergegas masuk dan pemandangan lagi-lagi sama, di sisi kiri dan kanan tergeletak anggota geng Mawar Hitam dengan peluru yang bersarang di tubuh mereka.
🌹🌹 Terima kasih sudah membaca 🙏🌹🌹