Mafia In The School

Mafia In The School
Taruhan



Claudia menghampiri Kinara yang berdiri di samping murid laki-laki yang sudah ketakutan pada mereka berdua.


"Apa Kinara akan benar-benar menyuruhku melakukan apa yang sudah aku katakan," batinnya melihat Claudia dan Kinara yang memainkan alisnya melihat ke arah mereka.


Claudia sedikit berjongkok menepuk pundak murid laki-laki itu.


"Lain kali kalau kau ingin berkata sesuatu pikirlah pakai otakmu," ucap Claudia menunjuk otak murid laki-laki tersebut menunjuk di area pelipisnya, " Jangan pernah meremehkan orang lain hanya dengan melihat luarnya saja. Terimalah hukum atas kesombonganmu," ucapnya menyeringai merendahkan kemudian kembali duduk diatas bangku di mana tadi Kinara mengerjakan soal-soalnya.


Claudia juga penasaran apa yang akan Kinara lakukan pada anjing kesayangannya itu.


"Apa kau mau berkenalan dulu dengannya?" tanya Kinara mendekatkan wajah pinky pada murid laki-laki yang sedang berlutut tak berani berdiri walau kakinya sudah kesemutan.


"Murid laki-laki itu sedikit menjauhkan wajahnya saat Kinara terus saja mendekatkan wajah anjing itu ke wajahnya.


Dalam hati murid laki-laki itu sudah mengumpat, mencela Kinara. Namun, semua itu hanya bisa dilakukan di dalam hati, tak sedikitpun terbesit keberaniannya untuk menantang Kinara.


Kinara bisa melihat wajah kekesalan dan tatapan tajam yang ditujukan kepadanya.


Namun, Kinara tak menghiraukannya.


Kinara kemudian menempatkan anjing itu di depannya, tepat di hadapan murid yang sedang berlutut itu.


"Pinky, maukah kau membuang kotoran mu sekarang," ucap Kinara mengelus-ngelus Anjing kesayangan Claudia itu, "Ayo dong pinky, udah ada yang nungguin nih," ucapnya terus mengusap Pinky, beberapa detik kemudian anjing itu benar-benar mengeluarkan kotorannya.


Semua disana terheran-heran dibuatnya termasuk murid laki-laki yang masih berlutut, matanya tertuju pada apa yang baru saja dikeluarkan oleh Pinky.


"Apa ini, apa Kinara sehebat itu, dia bahkan bisa mengontrol anjing itu untuk membuang kotorannya," batin mereka semua terheran-heran.


Bukan cuman mereka saja Claudia yang tadinya duduk di atas meja kini beranjak turun dan berjalan menuju ke anjing kesayangannya, ia tak kalah herannya dan melihat ternyata benar pinky anjing itu melakukan apa yang diminta oleh Kinara.


Walau tak percaya. Namun, itulah yang dilakukan Kinara, Claudia kembali mengambil anjingnya.


Kinara berdiri sambil menepuk-nepuk tangannya seolah membersihkannya dari bulu-bulu pinky.


"Ayo lakukan, tempati kata-katamu," ucap Kinara menunjuk apa yang baru saja dikeluarkan pinky.


Murid laki-laki itu tidak melakukan apa-apa, dengan susah ia menelan ludahnya.


"Kenapa, Ayo silahkan!" Ucap Kinara bernada lembut, tapi dengan tatapan mematikan. Bukannya takut anak itu justru menatap menantang pada Kinara.


"Kau ingin makan sendiri atau mau aku bantu?! tanya Kinara memberi dua pilihan kepada murid laki-laki itu.


"Kinara kamu jangan keterlaluan mana mungkin aku …" ucapnya terpotong saat Kinara sudah menendangnya.


[BIP, Skor transformasi bertambah 10]


Semua terkejut melihat apa yang dilakukan Kinara, mereka semua berbisik-bisik mengenai tindakan Kinara yang menurut mereka sudah kelewat.


Kinara sama sekali tak menghiraukan mereka semua.


Laki-laki itu berhasil menahan wajahnya dengan kedua tangan sehingga ia masih terhindar dari kotoran pinky.


Laki-laki tersebut baru percaya jika Kinara benar-benar akan melakukan sesuai dengan perkataannya, ia ingin meminta maaf. Namun, baru saja ia berbalik Kinara langsung menekan kepalanya. Beberapa orang menutup Mata saat adegan itu berlangsung.


Beberapa orang bahkan ingin muntah melihat langsung apa yang Kinara lakukan pada murid laki-laki tersebut.


Mereka semua melihat Kinara yang tersenyum puas dengan apa yang ia lakukan.


[Bip, Skor transformasi bertambah 15 pont].


Bersamaan dengan itu bel masuk pelajaran siang sudah berbunyi, mereka dengan cepat menuju ke bangku mereka masing-masing,


Murid laki-laki tersebut langsung keluar dari kelas, tentu saja ia harus membersihkan wajahnya.


Kelas terasa tenang tak ada yang bersuara satu kata pun mereka masih mengingat kejadian yang baru saja terjadi. Kinara benar-benar melakukan hal itu, ia benar-benar menghukum orang yang telah merendahkannya selamat ini.


Murid laki-laki tersebut sudah sedari dulu selalu membully Kinara.


Mereka yang awalnya berpikir bahwa Kinara hanya menggertak, Semua hanya bisa terkagum-kagum melihat tindakan Kinara. sementara Tiara sudah sangat gugup dan ketakutan, jika Kinara bisa melakukan itu kepada murid tadi, ia pasti bisa melakukannya juga padanya.


"Sial, Kenapa aku harus melakukan pertaruhan itu, bagaimana ini, aku sudah kalah sekarang, apakah aku juga harus menerima hukuman dan menjalani taruhan kita. Yang benar saja mana mungkin aku harus berlari sambil memakai singlet," batin Tiara mulai gusar, itu sama saja dengan mempermalukan dirinya sendiri.


"Aku harus pergi dari sini," batinnya.


Saat melihat fokus Kinara ke tempat lain.


Melihat semua sibuk dengan kegiatannya masing-masing, Tiara mencoba untuk pergi dari sana. Namun, ternyata Kinara melihatnya.


"Wah … wah ... ternyata ada yang ingin lari dari pertaruhan ini, sungguh sangat memalukan, seorang Tiara murid teladan di sekolah kita mengingkari janjinya," ucap Kinara menyindir Tiara yang sudah setengah berjalan ingin keluar.


Kinara sengaja mengucapkan kata-katanya dengan nyaring. Mendengar itu, semua orang langsung melihat ke arah Tiara.


Tiara yang sudah tak bisa mengelak lagi mau tak mau akhirnya menerima hukuman pertaruhan mereka.


Kinara berjalan mendekati Tiara.


"Kau tak lupakan akan taruhan kita ?"


Tiara hanya terdiam, ia benar-benar sudah kalah telak dari Kinara. Ia sudah tak bisa membuktikan keyakinannya akan tuduhan kecurangan Kinara, ditambah Tiara merasa takut melihat tingkah Kinara hari ini, ia melihat kotoran pinky yang masih ada di sana.


"Apa ada yang masih mengingat taruhan kami?"


"Lari keliling lapangan," Teriak seseorang.


"Memakai singlet," teriak yang lainnya lagi.


"Meneriakkan kata kalau dia itu murid terbodoh," ucap mereka bersamaan dan semua suara-suara itu berasal dari tim Kinara sementara tim Tiara hanya diam, mereka harap-harap cemas semoga saja Kinara melupakan kata-kata yang pernah keluar dari mulut mereka sebelumnya.


"Kau dengar sendiri 'kan! Apa harus ku ulangi lagi apa taruhan kita. Jangan bilang kau ingin ingkari janjimu sama waktu itu, kau memang bisa mengingkari janjimu karena tak ada saksi, kau bisa mengelabui ku, tapi lihatlah berapa banyak saksi yang mendengar taruhan kita. Jangan bilang kau ingin mengatakan kalau kau tak pernah mengatakan hal itu, sama saat kau mengingkari janjimu dulu padaku."


"Kinara. Baiklah aku akan menepati janjiku, tapi aku mohon biarkan aku memakai baju. Kau tak akan sejahat itu 'kan padaku, aku ini adikmu," ucap Tiara memelas, ,memasang wajah menyesal.


"Bukankah hari itu kau sudah menyetujuinya, jika kamu hanya akan menggunakan singlet?"


"Kinara, aku mohon biarkan aku memakai baju. Tolong hargai persaudaraan kita, kau tak akan mempermalukanku 'kan," ucap Tiara terus memohon.


"Baiklah, kau benar kita ini adalah saudara walaupun hanya saudara tiri, aku akan mengizinkan memakai baju dalam menjalani hukumanmu, tapi ada syaratnya," ucap Kinara.


"Syarat? Apa syaratnya?" tanya Tiara cepat, ia akan melakukan apa saja asalkan ia tidak berlari sambil menggunakan singlet, itu sangat memalukan. Pikirnya.


Tiara termasuk salah satu idola, gadis yang cantik di sekolahnya membuat banyak temannya mengaguminya. Berlari sambil mengenakan singlet Pasti bisa menurunkan reputasinya.


💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖


Terima kasih sudah membaca 🙏


Jangan lupa like, vote dan Komennya 🙏


Salam dariku Author M ANHA 🤗


💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖