
Kinara terus memukul mundur musuh-musuhnya, ia tak peduli lagi dengan yang lainnya. Yang ada dalam pikiran Kinara sekarang adalah mencari pemimpin geng tersebut. Sebelum membunuhnya ia ingin tahu alasannya terlebih dahulu mengapa Ia melakukan semua itu padanya, alasan apa yang membuatnya setega itu sampai menjebaknya setelah apa yang selama ini dilakukan untuk mereka.
Kinara dengan gesit sampai pada salah satu musuhnya, menodongkan senjatanya ke kepalanya.
"Katakan di mana pemimpin kalian?" tanya Kinara yang yakin jika orang itu tak mengenalnya dengan wajahnya sekarang.
"Kau takkan tahu di mana dia, silakan kau bunuh aku," tantang orang tersebut membuat kenari benar-benar menarik pelatuknya dan membunuh orang tersebut.
Salah seorang yang mengintip dari balik tembok melihat apa yang dilakukan Kinara, membuat ia dengan cepat mengarahkan senjatanya pada Kinara. Namun, Vincent lebih cepat, sebelum ia menarik pelatuk senjatanya peluru Vincent bersarang di tubuh orang tadi.
Kinara kembali maju dan mencari orang yang ia tahu bisa memberikan informasi tentang keberadaan pemimpin mereka. Namun, tetap saja setiap orang yang dijumpainya tak ada yang mengatakan di mana pemimpin mereka.
Vincent hanya melihat bagaimana cara Kinara membantai mereka satu persatu saat tak ada yang mau menjawab pertanyaannya. Tak ada belas kasihan.
"Kenapa kau terus mengikutiku, ini sangat berbahaya," suruh Kinara berbalik melihat Vincent yang kini berdiri di belakangnya.
"Aku 'kan sudah mengatakan, jika aku akan selalu melindungimu dan ingat kau masih punya janji padaku kau harus menepatinya!"
"Jangan bercanda dalam situasi seperti ini. Aku akan mencari Bos mereka di tempat persembunyiannya, aku tahu beberapa tempat di sini yang mungkin di pakai untuk menyembunyikan dirinya. Semua itu sangat berbahaya sebaiknya kau tetaplah disini membantu menghabisi yang lainnya."
Setelah mengatakan itu kinara langsung melompat ke salah satu tembok membuat Vincent tak lagi bisa melihatnya.
Vincent Yang melihat lubang yang Kinara dilewati kinara tadi tak bisa berbuat apa-apa ukuran tubuhnya membuat ia harus mencari jalan lain.
"Sial! Ke mana Kinara pergi," ucap Vincent setelah berhasil menyusul Kinara dibalik tembok tersebut. Namun, Kinara sudah tak ada disana. Di tempat itu terlalu bayar lorong-lorong membuat ia tak tahu harus pergi ke arah mana.
"Kinara Kenapa kau begitu keras kepala, aku tak akan membiarkanmu dalam bahaya, aku akan selalu melindungimu dan menagih taruhan kita," ucap Vincent.
Vincent ingin melangkah ke salah satu ruangan yang ada di sana. Namun, langkahnya terhenti saat melihat tetesan darah yang mengarah ke arah lain. Ia pun mendekati tetesan darah tersebut dan mencoba mengeceknya. Darah itu baru saja menetes di sana, 'Apakah Kinara terluka,' batinnya bertanya-tanya kemudian bergegas mengikuti arah darah tersebut.
Sementara itu Ayah Natasha tak tinggal diam, ia terus menghujani para musuhnya dengan senjatanya sampai ia kewalahan di buatnya. ia akan menggunakan bom granat jika sudah sangat mendesak.
"Kenapa mereka terlalu banyak, seakan tak ada habisnya," gumamnya.
Tiba-tiba, Vano menghampirinya.
"Apa yang kau lakukan disini? kenapa kau keluar dari tempat persembunyian mu?" bentak Ayah Natasha. Saat ini mereka sedang berlindung di balik tembok, berlindung dari balasan peluru dari musuh.
"Aku sudah baik-baik saja, aku akan membantu. Aku tak bisa tinggal hanya melihat kalian berjuang," ucapnya yang walaupun ia tak memiliki kemampuan khusus dalam menembak. Namun, ia sesekali pernah menggunakan tembak itu dalam sesi latihan saat mengikuti ayahnya.
Ayah Natasha tak punya pilihan lain. ia memang membutuhkan bantuan , ia memberikan senjata kepada Vano.
"Gunakan senjata itu, jangan terlalu memaksakan diri lakukan apa yang kau bisa," serunya yang membuat Vano mengangguk dan mulai mencoba menembak ke arah musuh.
Ayah Natasya yang sudah merasa lebih baik dan mengumpulkan tenaganya kembali mencoba membalasnya, mereka semua ikut bergerak maju disusul oleh Vano di belakangnya. Mereka saling melindungi."
Sementara itu suasana tak kalah kacau nya di kedua Geng. Mereka menunggu dengan gelisah saat pemimpin mereka tak ada kabar.
Dua orang kepercayaan geng tersebut saling bertemu dan membahas apa yang harus mereka lakukan, mereka tak mungkin hanya tinggal saja dan menantikan kabar dari bos mereka.
"Bagaimana ini? Tak ada kabar sedikitpun dari mereka. Apa sebaiknya kita ikut menyerang?" kata orang kepercayaan Vincent.
" Tapi kami di diperintahkan untuk tetap berada di markas dan baru ikut membantu besok."
"Besok? Apa kau yakin akan menunggu besok? Bagaimana kalau tak ada besok untuk mereka," ucap orang kepercayaan Vincent yang sudah yakin jika mereka harus pergi menyusul bosnya.
Asisten Ayah Natasha berpikir sejenak benar apa yang dikatakan oleh orang itu, mereka tak boleh berdiam diri saja setidaknya mereka harus menghampiri markas tersebut untuk mengecek bos mereka. walaupun tak ikut bertarung langsung setidaknya mereka tahu kondisi Bos mereka saat ini.
"Baiklah, kalau begitu kita pergi." ucap asisten Ayah Natasha, ia mengumpulkan para anggotanya menjelaskan apa misi mereka kali ini apa yang harus mereka lakukan saat sampai di markas Mawar Hitam, bukan hanya itu orang kepercayaan Ayah Natasha tersebut juga menerangkan bahwa geng mawar hitam juga memiliki kemampuan yang cukup tangguh dan meminta mereka untuk melakukan tindakan secara hati-hati.
Orang kepercayaan Vincent juga sudah menggerakkan orang-orang kepercayaannya. Orang-orang tangguh yang ada di geng tersebut dan tak menunggu waktu mereka langsung mulai mengatur rencana, membentuk kerjasama mereka. Mengatur bagaimana cara mereka mengakses markas sebut tanpa diketahui musuh mereka kali ini hanya untuk mengintai dan baru ikut membantu saat dibutuhkan sesuai dengan perintah ayah Natasha sebelum pergi.
Percakapan mereka tak sengaja didengarkan oleh Natasha, sejak semalam Ia dan Claudia saling kontekan menanyakan keberadaan Kinara.
Claudia yang sudah sampai di rumah lamanya bergegas menuju ke rumah Natasha saat mendengar kabar jika para anggota ayah Natasha akan pergi mencari keberadaan Vincent, yang Claudia ketahui Kinara ada bersama Vincent saat ini.
"Kamu gila ya?" seru Natasha. "Itu sangat berbahaya, aku tak mau. Aku tak seberani itu," ucap Natasha saat Claudia mengusulkan agar mereka ikut secara diam-diam pada rombongan tersebut.
"Bukankah mereka hanya mengintai saja? Mereka tak akan menyerang kan jadi kita akan tetap aman, takkan terjadi apa-apa pada kita. Apa kamu tak ingin melihat kondisi Kinara dan juga ayahmu," ucap Claudia menatap mata Natasha.
"Aku tak berani, ayahku bisa marah."
"Ya Sudah, jika kau tak ingin ikut, tapi bisa kan kau bantuku bagaimana caranya aku bisa ikut."
"Mereka mempunyai baju khusus. Apa kau mau aku mengambilkannya untukmu?" tanya Natasha, Claudia mengangguk cepat. kemudian Natasha mengendap-endap masuk ke ruang kerja ayahnya diikuti oleh Claudia.
"Kita mau kemana?" tanya Claudia tak mengerti saat Natasha menekan sebuah tombol dan sebuah ruangan layaknya Ruangan Rahasia terbuka.
"Sudah jangan banyak tanya, ikut saja," ucap Natasha menarik Claudia agar ikut bersamanya. Mereka masuk ke salah satu ruangan, di ruangan itu termasuk terdapat banyak peralatan seperti senjata api, peluru bom dan masih banyak lagi. Natasha berjalan ke arah salah satu lemari dan membukanya. Disana terlihat banyak pakaian yang yang memiliki motif yang sama.
"Ayo kita ambil, Kita sesuaikan ukuran kita mereka biasanya pakai ini, aku yakin juga kita ikut memakai dan berbaur dengan mereka mereka takkan ada yang tahu," ucap Natasha mengambil dua baju dan memberikannya 1 kepada Claudia.
"Bukannya kau tak akan ikut" tanya Claudia.
"Aku ingin ikut, aku juga penasaran seperti apa sih pekerjaan ayah ku yang lainnya selama ini dirahasiakan dari ku. Aku sering bertanya mengapa ayah memiliki senjata dan yang lainnya, ayahnya menjawab aku akan tahu suatu saat nanti mungkin saat ini adalah saat yang dimaksud Ayah," ucapnya kemudian mereka kembali keluar dari ruangan tersebut sebelum ada yang melihat mereka. Keduanya kembali mengendap-endap menuju ke kamar Natasha.
🌹🌹 Terima kasih sudah membaca 🌹🌹