
Kinara berlari mengelilingi taman tersebut melihat Vano yang masih duduk di kursi taman tempat mereka tadi, Kinara pun menghampirinya.
Vano yang mendapat penolakan dari Kinara tak bisa berbuat apa-apa, jika memang Kinara tak mau berteman dengannya. Vano tak mungkin memaksa.
"Aku pikir kamu sudah pergi dari taman ini?" kata Kinara menghampirinya dan duduk disamping Vano.
"Kamu itu larinya cepat sekali sih! Aku saja yang sering berlari tak bisa mengimbangimu. Aku tuh hanya ingin berteman denganmu apa salah? Aku sama sekali tidak memiliki niat buruk padamu."
Kinara memperhatikan Vano mencoba membaca mimik wajahnya, dalam hati ia merasa ragu, tapi dia kembali berpikir untuk apa dia takut berteman dengan Vano, dia bisa menjaga dirinya sendiri.
"Mengapa kau ingin berteman denganku? Kamu pasti tau juga kalau di sekolah aku tak begitu di terima oleh beberapa teman, dulu mereka sering membullyku tak ada yang mau berteman denganku, sekarang mereka takut denganku. Hanya ada beberapa murid yang mau bergaul denganku. Apa kau tak menyesal berteman denganku? Munkin saja beberapa temanmu akan menjauhimu jika mereka tau kau berteman denganku," ucap Kinara memutar mutar handuk kecilnya di tinjunya.
"Aku tak akan menyesal, sama halnya denganmu, aku juga tak memiliki banyak teman, aku tak suka berteman jika mereka hanya senang berhura-hura dan mengesampingkan pelajaran." Jawab Vano melihat kearah Kinara yang sedang memainkan handuk di tangannya, satu hal yang Vano sadari, Kinara memiliki wajah yang cantik dibalik sikap cueknya.
Kinara melihat pada Vano yang dari tadi terus memperhatikannya, "Ada apa?" tanya Kinara mengerut keningnya.
"Jika di perhatikan kau ternyata cantik juga," jawab Vano masih menelisik wajah Kinara.
"Benarkah, aku cantik?" tanya Kinara mulai menggoda Vano dengan sedikit mendekatinya dan terus menatap menggoda pada Vano.
Vano langsung memundurkan duduknya dan terlihat gugup karena ulah Kinara.
Kinara semakin mendekat dan Vano semakin menjauh hingga tanpa sadar bangku yang didudukinya telah habis dan dia pun terjatuh, Kinara tertawa terbahak-bahak di buatnya.
Vano yang melihat Kinara begitu bahagia menertawakan penderitaannya mengambil sandwich bekalnya dan menyumbat mulut Kinara yang terbuka lebar. Vano balas menertawainya.
"Hmmm, enak," ucap Kinara kembali menggigit sandwich itu.
"Enakkan? itu buatanku," ucap Vano membanggakan sandwich buatannya.
"Benarkah? Wah hebat, aku aja ga bisa masak. Kau bisa masak?" tanya Kinara mulai tertarik dengan pembahasan mereka, menurutnya laki-laki yang bisa masak itu istimewa.
"Gimana ya? Itu β¦ hmmm sebanarnya" Vano tertawa bodoh menggaruk leher belakangnya.
Kinara mengernyitkan keningnya melihat tingkah Vano, "Ada apa? Buatanmu benar enak, aku serius," puji Kinara menghabiskan sandwich Vano.
"Ibu racikan ibuku, aku hanya menyusunnya, aku tak bisa masak," jujur Vano membuat Kinara kembali melengos.
"Aku akan belajar memasak jika kamu ingin berteman denganku jika aku pandai memasak," ucap Vano cepat saat Kinara berdiri dari duduknya.
Kinara manatap Vano dan menyimpan handuk kecilnya di bahunya, melipat tangannya didada, mencoba menilai teman sekolahnya yang sangat ingin berteman dengannya itu, Kinara berpikir jika Vano anaknya lumayan seru dan menghiburnya.
"Mengapa, kau sangat ingin berteman ku?" tanya Kinara melenturkan otot-ototnya, bersiap untuk kembali berlari pulang ke rumahnya.
"Aku kagum denganmu," jawab Vano.
"Kagum?" tanya Kinara tak mengerti Vano kagum padanya karena apa.
"Iya, aku kagum padamu karena selama ini aku yang selalu memegang juara umum di sekolah dan sekarang kau yang menempati posisiku," mengacaukan jempol pada Kinara. "Yang paling membuatku kagum kudengar sebelumnya kau tak sepintar itu, nilaimu tak sebagus ujian kali ini."
"Owww, apa kau pernah dengar kata tak ada yang tak mungkin jika kita memiliki niat dan tekad? Itu yang aku lakukan, aku berniat menjadi juara dan bertekad mengalahkan mereka yang selama ini merendahkanku," jawabnya asal.
"Sudahlah, aku mau pulang," ucap Kinara berbalik ingin pergi.
"Tunggu! Apa kita sudah berteman?" tanya Vano menghentikan langkah Kinara.
Kinara berbalik dan melihat Vano, 'Ternyata anak ini tak menyarah juga ingin berteman denganku.' batin Kinara.
"Apa kau tau taruhanku dengan Tiara beberapa waktu yang lalu?"
"Kau mau taruh denganku?" tantangan Kinara.
"Boleh, taruhan apa?" tanya Vano menerima tantangan Kinara.
"Baiklah, taruhannya sangat mudah. Jika nilai ulanganmu selanjutnya lebih tinggi dariku maka kita akan berteman! Bagaimana? Kau setuju?"
Vano mengangguk, dia yakin kali ini ia akan mengalahkan Kinara dan mengambil kembali posisinya sebagai juara umum.
"Setuju," jawabnya menjabat tangan Kinara.
Kinara tertawa mendengar jawaban bersemangat dari Vano. Kinara hanya menjadikan taruhan itu sebagai alasan untuk menolak berteman dengannya.
"Baiklah, kita sepakat. Aku pulang dulu," ucap Kinara dan kembali berlari pulang. Vano terus memperhatikan Kinara yang semakin menjauh dan hilang saat berbelok.
Vano juga meninggalkan taman ia merasa tertantang untuk bisa mengalahkan Kinara agar bisa menjadi temannya.
Kinara sampai kerumah dan langsung masuk ke kamarnya, melewati Tiara yang terus menatapnya sinis.
"Kenapa saat pulang kerumah ini aku meresa berada di markas musuh," gumam Kinara berjalan ke kamar mandi.
Kinara mengganti kostumnya dengan pakaian serba hitam, warna favoritnya. Ia bersiap untuk keluar. Tak tahan bereda di rumahnya sendiri.
Kinara turun ia sudah berpakaian dan siap untuk pergi.
Kinara menghampiri Tiara yang sedang duduk di meja makan, mengambil buah apel.
"Aku mau keluar," pamit Kinara.
"Ada ya orang yang gak tahan tinggal di rumah? taunya keluyuran terus," sindir Tiara.
"Gimana mau tahan kalau di rumah ada nenek sihir, mending juga aku jalan-jalan sama Claudia, kita mau shopping. Udah nggak sabar mau ditraktir Claudia," ucap Kinara sengaja memanas-manasi Tiara, ia mengambil buah apel dan menggigitnya berjalan keluar dengan gaya santainya.
"Kamu mau jalan sama Claudia?" teriak Tiara berdiri dari duduknya ia baru mencerna apa yang baru saja Kinara katakan.
"Iya aku ada janji dengan Claudia bertemu di mall," jawabnya berbalik sambil terus berjalan mundur.
"Kamu pasti bercanda 'kan? Kamu bohongin aku 'kan?" tanya Tiara semakin berjalan mendekati Kinara yang terus berjalan mundur sambil tertawa mengejeknya.
"Ngapain juga aku bohong, emang aku diajak Claudia kok. Kenapa? Kamu mau ikut? Sorry ya, udah nggak ada lowongan," ucapnya tertawa nyaring dan berjalan cepat keluar, tak ingin membuat masalah pada Tiara.
Tiara yang kesal sampai menghentak-hentakkan kakinya merasa kesal dengan Kinara. Tadinya dia ingin mengganggu Kinara dengan menyindirnya, tapi malah dia yang kesal sendiri mendapat balasan Kinara.
ππππππππππππππ
Terima kasih sudah membaca π
jangan lupa like vote dan komennya π
Salam dariku Author M Anha π₯°π€
ππππππππππππππ
Mampir kak ke karya temankuπ