
"Oh jadi kau adalah orang Vincent? Apa maumu? ucapnya masih menantang sekretaris tersebut, walau menyembunyikan rasa takutnya dialil bentakannya sekretaris tau jika pria berkepala botak itu sudah bergetar dengan membaca ekspresi ketakutannya.
"Nyawamu," ucapnya dengan enteng masih dengan memainkan pisau itu di jarinya.
Pria kepala botak tersebut berbinar saat melihat beberapa anak buahnya berjalan mendekati mereka. Itu semakin muatnya percaya diri kembali.
"Sebelum kau mencabut nyawaku, sepertinya nyawamu yang harus lebih dulu melayang," ucapnya membuat asisten Vincent melihat kebelakang dan melihat beberapa anak buah pria berkepala botak tersebut sudah mendekat.
Asisten Vincent tak gentar, ia justru berjalan mendekati mereka dan begitu mereka bertemu Asisten Vincent langsung menggunakan pisau yang ada di tangannya untuk menyambut mereka semua. Sabetan terus dilayangkannya, hanya dengan waktu 30 menit mereka sudah terkapar bersimbah darah, asisten Vincent membabi buta membantai mereka semua tanpa belas kasihan.
Pria kepada botak yang tadinya mendapatkan keyakinan akan selamat Kembali menciut.
Asisten Vincent berjalan mendekatinya, memainkan pisau yang berlumuran darah yang ada di tangannya.
"Apa hanya ini yang kau punya?" tanya ucapnya kembali berjalan menghampiri pria kepala botak tersebut dengan darah yang sudah menetes di mata pisaunya, membuat pria berkepala botak tersebut semakin ketakutan bahkan sudah berlutut.
"Aku mohon jangan bunuh aku, apapun akan kulakukan asal kau tak mengambil nyawaku, aku akan menjadi bawahan dari Vincent. Kamu boleh membawa, aku bersamamu aku akan menjadi pengikutmu," ucapnya masih terus berlutut dan memohon.
"Kami tidak membutuhkan sampah sepertimu, Kau hanya akan menyusahkan geng kami," ucapnya dengan seringai licik yang terbit di bibirnya.
"Kau telah salah memilih lawan mu," ucapnya membersihkan darah yang ada di pisaunya pada baju pria kepala botak tersebut membuat pria kepala botak itu terus mengikuti kemana arah pisau itu tertuju.
"Aku tak pernah mencari masalah dengan Vincent," jawabnya dengan suara yang bergetar, keringat mulai bercucuran menetes di dagunya.
"Tapi, kau mencari masalah dengan orang yang memiliki hubungan dengan Vincent dan itu adalah kesalahan yang fatal," ucapnya dengan ekspresi penuh kemarahan.
Pria kepala botak tersebut membulatkan matanya saat merasakan sesuatu yang menancap di perutnya, begitu yang melihat kebawah pisau asisten Vincent sudah tertanam di sana. Kalian mencabut dan menancapnya lagi. Dilakukan berulang-ulang.
"Pergilah memimpin anak buahmu," seru asisten Vincent mendorong tubuh yang sudah tak bernyawa itu menjauh darimu.
Setelah memastikan semua pekerjaannya telah selesai asisten Vincent pun meninggalkan mereka semua tergeletak di sana. Ini kemudian menemui Vincent yang ada di atas puncak gunung sedang memandang ke arah lembah yang ada di bawahnya.
"Aku sudah menyingkir mereka semua," lapornya pada Vincent. Namun, Vincent hanya terdiam tak memberikan tanggapan.
Sepertinya Kinara masuk ke gang Naga Hitam, apa kita harus menariknya, aku bisa mengatur siasat agar dia mau bergabung dengan geng kita."
"Jangan coba-coba melakukan apa yang tak kuperintahkan. Jangan ikut campur masalah Kinara, lakukan saja apa yang Aku minta, jangan bertindak sesuka hati mu," ucap Vincent kemudian berjalan meninggalkan asistennya yang kini menunduk dan minta maaf, tak berani menatap tatapan tajam Vincent padanya.
Melihat Vincent sudah turun Ia pun ikut turun mengikutinya kemanapun Vincent.
"Aku ingin sendiri, jangan mengikutiku!" ucapnya menghentikan langkahnya membuat asisten itu ikut menghentikan langkahnya dan membiarkan Vincent melangkah tanpa mengikutinya lagi.
'Kenapa kau bisa kalah dalam lomba balap tersebut? Apa kau bisa saja menjadi pemandangan dengan sangat mudah, ada apa denganmu,' batin asisten tersebut memandang bosnya yang berjalan semakin jauh. Belakangan ini Bosnya itu sudah sangat banyak berubah, apakah semua itu disebabkan oleh kehadir Kinara. Pikirnya.
Pagi hari Kinara dan yang lainnya belajar seperti biasanya, sepulang sekolah Kinara dan Claudia berjalan secara terpisah, Kinara memilih untuk kembali ke asramanya begitu juga dengan Claudia, ia memilih untuk kembali ke rumah. Mereka sedang bersiap-siap untuk mempersiapkan diri mengikuti ujian. Saat akan masuk ke dalam pintu gerbang ponselnya berdering.
"Natasha," ucapnya saat melihat nama yang tertera di layar ponselnya adalah nomor kontak Natasha.
"Iya, Natasha. Ada apa?" tanyanya.
"Kamu lagi di mana?"
"Aku ingin mengajakmu makan malam di rumahku, Kau mau 'kan?" tanyanya.
"Makan malam? di rumahmu?" tanya Kinara memastikan.
"Iya, Ayah juga ingin mengajakmu makan malam, untuk meredakan kemenanganmu, aku akan meminta supir untuk menjemputmu, kamu datang lebih awal ya biar kita bisa bermain bersama."
"Baiklah, aku tunggu jemputanmu," ucapnya kemudian masuk ke dalam asrama.
Tak Sampai 20 menit sopir yang disuruh menjemput Kinara pun datang. Kinara langsung diantar ke rumah Natasha.
Begitu ia sampai Natasha sudah menunggunya dan langsung menyambutnya, ia menggandeng Kinara masuk ke dalam.
"Makasih ya, kamu mau datang. Aku senang banget kamu datang lagi ke rumahku," ucap Natasha sambil mengajak Kinara untuk masuk kedalam menuju ke meja makan.
Ayah Natasha yang duduk di ruang tamu merasa senang saat melihat hubungan Natasha dan juga Kinara. Dia pun berdiri dan menghampiri mereka.
"Kinara kamu sudah datang, ya Sudah sebaiknya kita makan malam." Ayah Natasha membawa kedua Gadis remaja itu menuju ke meja makan.
Mereka makan bersama, Natasha terus saja berbicara ia bertanya ini dan itu kepada Kinara, Kinara hanya menjawab seadanya. Ayah Natasha hanya tersenyum melihat tingkah putrinya. Begitulah Natasha dia akan terus bertanya jika ada sesuatu yang membuatnya penasaran.
Setelah makan malam Natasha ngajak Kinara kamarnya, ia perlihatkan semua koleksi dan barang-barang kesayangannya, Kinara tak tertarik dengan Semua itu. Namun, Ia terus merespon apa yang dilakukan oleh Natasha.
Tak lama kemudian Ayah Natasha menghampiri mereka.
"Natasha, Ayah ingin berbicara dengan Kinara, apa boleh?"
"Mau bicara apa Ayah?" tanya Natasha seolah tak rela Kinara keluar dari kamarnya.
"Ayah ingin mengajaknya ke suatu tempat, kami tak lama kok."
"Apa aku boleh ikut?" Pinta Natasha merengek.
"Tidak, kau tunggu saja di rumah Kami tidak akan lama," ucap ayah, walaupun tak terima Natasha tak bisa berbuat apa-apa dan membiarkan Kinara pergi dari kamarnya menyusul ayahnya yang lebih dulu berjalan.
"Mereka ada urusan apa sih? Kenapa Ayah selalu berurusan dengan Kinara, apa mereka merahasiakan sesuatu dariku." Natasha terus menggerutu sendiri di kamarnya.
"Kita mau kemana?" tanya Kinara saat mereka masuk ke dalam sebuah hutan.
"Nanti kamu akan tau sendiri," jawab ayah Natasha tanpa menoleh kearah Kinara.
Ayah Natasha membawa Kinara ke sebuah pabrik tua yang sudah lama tak beroperasi, begitu sampai Kinara bisa melihat gedung tua itu. Disana tak ada siapapun kecuali mereka.
Mereka jauh masuk ketengah hutan
Kinara sedikit heran mengapa Ayah Natasha membawanya ke sana, ia meningkatkan kewaspadaannya. Kinara tak ingin percaya pada siapapun saat ini. Baginya tak ada kawan Semua hanya lawan. Ia akan menjadi kawan jika menguntungkan baginya.
🌹🌹 Terima kasih sudah membaca 🌹🌹