
Semua terdiam dalam kelas. Tak ada satupun yang berani menjawab pertanyaan Kinara. Kinara kembali menggebrak meja membuat mereka semakin bungkam.
"Jangan mengulangi kesalahan yang sama!"
Disaat mereka semakin takut karena Kinara terus mengintimidasi mereka dengan tatapan matanya, bel tiba-tiba berbunyi membuat mereka langsung bernafas lega dan berlarian mengambil tas dan keluar dari kelas.
Hanya beberapa detik kelas kosong, hanya tersisa Kinara dan Claudia saja.
Claudia menahan tawanya melihat tingkah teman kelasnya, mereka sangat suka mencari masalah, tapi nyali mereka langsung menciut dengan sekali gertakan.
"Apa kau mau langsung pulang?" tanya Claudia.
"Mau apa lagi, bukankah ini sudah jam pulang," ucap Kinara yang juga mengambil tasnya dan berjalan keluar kelas.
"Kita makan dulu," ajak Claudia.
"Boleh, aku juga Sudah lapar."
Mereka kemudian berjalan ke restoran yang tak jauh dari sekolah mereka.
Beberapa murid yang mereka lewati masih memandang Pada Kinara.
Claudia menatap tajam pada mereka membuat mereka langsung pergi dari sana.
Hanya memerlukan waktu beberapa menit saja mereka sudah sampai di restoran.
"Akhirnya mereka semua bungkam, mereka memang harus diberi pelajaran agar bisa menjaga mulut mereka," ucap Claudia sambil mulai memakan makanannya yang baru di hidangkan.
"Tak usah meladeni mereka dan ini juga berlaku untukmu, jika ada kabar seperti itu sebaiknya kamu cari tahu dulu kebenarannya. Apakah kabar itu benar atau hanya fitnah belaka, yang kita lihat belum tentu itu benar adanya. Apalagi itu hanya sebuah foto yang bisa direkayasa."
Claudia hanya mengangguk mendengar ucapan Kinara, walau tak suka dengan sikap Kinara, Claudia masih tak ingin bermusuhan dengannya. Selama ini Kinara memiliki sikap kasar. Namun, ada beberapa sisi baik dari seorang Kinara yang membuatnya betah berada di dekatnya. Claudia ingin selalu bersamanya. Kinara hanya bersikap kasar dan jahat kepada orang-orang yang berniat jahat juga padanya.
Selama berteman dengan Kinara Claudia banyak mengambil pelajaran hidup. Dia yang selama ini selalu bersikap manja menjadi lebih mandiri dan peduli terhadap orang-orang di sekitarnya, semua itu didapatkannya dari melihat Kinara.
Tak lama kemudian Vano menghampiri mereka, "Apa aku boleh duduk di sini?" tanyanya pada Claudia dan Kinara.
Kinara hanya melihat Vano dan kembali fokus pada makanannya.
Sedangkan Claudia hanya mengangguk samar dan menunjuk kursi kosong yang ada di depan mereka dengan dagunya.
Vano yang mendapat persetujuan dari Claudia duduk dan meletakkan makanan yang dibawanya di depan mereka.
Lama mereka terdiam, Vano ingin bicara, tapi ia ragu dan tak tau harus mulai dari mana.
"Vano, itu semua akal-akalan kamu 'kan? Kamu yang merekayasa semuanya agar kamu bisa terkenal di sekolah? Atau kamu ingin membalas Kinara? Secara Kinara sekarang lagi di kenal daripada kamu. Kinara bahkan mengalahkan nilaimu. Apa itu sebabnya kamu menyebarkan rumor rendahan seperti itu?" sindir Claudia.
"Kau salah, aku sama sekali tak menyebarkan foto itu dan tak tahu siapa yang melakukannya," jelas Vano berkata jujur.
Kinara hanya mendengar pembicaraan mereka dan tak berniat ikut berbicara.
Claudia menatap tak percaya pada Vano, mengedikkan bahunya memilih untuk tak bertanya lagi. Jika Kinara saja bisa bersikap tenang untuk apa dia mencoba mencari tahu kebenarannya. Toh itu juga bukan masalahnya.
"Kinara, aku minta maaf, jika tindakanku menemuimu semalam membawa rumor yang tidak baik," ucap Vano memberanikan diri berbicara pada Kinara yang terlihat mengabaikannya.
'Kinara pasti marah padaku,' batin Vano, ia kembali terdiam menunggu respon dari Kinara.
"Untuk apa Kau minta maaf kalau memang bukan kau yang menyebarkannya dan saat di perpustakaan kita juga tak melakukan hal yang mengharuskan mu minta maaf 'kan? Kita hanya belajar aku rasa itu bukanlah berbuat jahat," ucapnya tanpa melihat Vano.
"Berciuman," Sahut Claudia, dan kembali memakan makanannya.
Vano menatap Claudia dengan kesal.
"Apa?" tanya Claudia tanpa bersuara.
"Aku tahu pasti banyak yang menghinamu karena foto itu 'kan? Itulah sebabnya aku minta maaf."
"Sudahlah, aku sudah melupakannya itu semua. Bagiku itu tak penting, nanti mereka akan melupakan semua dengan sendirinya. Jangan membuat orang yang melakukannya merasa menang."
Vano kembali melihat sisi lain dari seorang Kinara.
Mereka tak berbicara sepatah kata lagi dan fokus menghabiskan makanan mereka masing-masing.
Kinara langsung berdiri dan membereskan alat makannya.
"Claudia, aku sudah selesai. Aku pulang dulu," ucap Kinara kemudian meninggalkan mereka.
"Vano, aku peringatkan kepadamu sebaiknya kamu jangan mencari masalah dengan Kinara. Kinara itu bukanlah orang seperti yang ada dalam pikiranmu." Claudia memperingatkan Vano.
"Apa maksudnya?" tanya vano mengerutkan keningnya mendengar apa yang dikatakan oleh Claudia.
Claudia berdiri dan juga merapikan alat makannya.
"Aku hanya memperingatkanmu," ucapnya kemudian berlalu pergi dari sana.
"Apa maksud Claudia," gumam Vano melihat Claudia yang sudah berjalan menjauh kemudian ia melihat Kinara yang juga sudah semakin jauh.
Vano memutuskan untuk mengikuti Kinara.
Di luar restoran ada danau buatan dengan jembatan di atasnya yang langsung mengarah ke gedung sekolah. Kinara duduk santai di paviliun yang ada di jembatan tersebut, tak lama kemudian seorang gadis datang menghampirinya.
'Bukankah itu gadis hari itu? Punya nyali juga dia kembali mendatangiku,' batin Kinara saat melihat Gadis itu berjalan ke arahnya dengan wajah sinisnya melihat Kinara.
Gadis itu adalah Kayla salah satu murid di sekolahnya dari kelas lain. Sepertinya ia masih menyimpan rasa benci pada Kinara karena pernah memaksanya untuk memakan lipan beberapa bulan yang lalu.
"Tumben kamu datang sendiri, biasanya kamu akan dikawal oleh gerombolan tak jelasmu itu. Dimana mereka sekarang? Apa mereka sudah meninggalkanmu?" sindir Kinara.
"Untuk apa aku membawa mereka hanya untuk menghadapimu, aku pikir kau itu hebat ternyata kau sama saja dengan anak-anak yang lainnya yang mengidolakan Vano, berkedok belajar malam, tapi ternyata," Kayla menghentikan ucapnya dan menggelang menatap Kinara sambil memperlihatkan fotonya Kinara yang sedang berciuman dengan Vano.
"Aku yakin kau pasti tahu jika foto itu tak benar," ucap Kinara memainkan kukunya.
"Benarkah? Fotoin ini terlihat nyata! Untuk apa kau mengelak jika semua sudah pasti._
"Kau melakukan kesalahan jika kau berani padaku, aku tahu kau masih marah padaku 'kan?.Dengan kejadian beberapa waktu yang lalu," ucap Kinara berjalan mendekat pada Kayla membuat Kayla semakin memundurkan langkahnya. keberanian tiba-tiba menguap melihat tatapan Kinara.
"Dengar Keyla, aku tahu kebanyakan anak di sekolah ini takut padamu, tapi bagiku kau bukan apa-apa jadi jangan coba mencari gara-gara denganku. Aku bukanlah lawanmu," ucap Kinara menyeringai menatap Kayla.
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
Terima kasih sudah membaca 🙏
Salam dariku Author M Anha 🥰🤗
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖