Mafia In The School

Mafia In The School
Keistimewaan Nama Vincent



Kinara dan Claudia memutuskan untuk pulang. Namun, saat berbalik mereka melihat Vano mendekat.


"Dia lagi," ucap Claudia jengah. Semenjak kejadian rumor foto itu Claudia tak respek lagi pada Vano.


"Kalian kemana saja sih? Aku mencari kalian dari tadi. Maaf ya aku terlambat Aku sampai tak bisa menyaksikan penampilan kalian berdua. Oh ya Kinara kudengar penampilanmu sangat keren, kamu kok nggak bilang sih kalau daftar, Jika aku tau kau akan tampil juga aku bisa datang lebih Awal," ucapan Vano kecewa karena tak bisa menyaksikan penampilan Kinara.


"Lebay banget sih, kamu 'kan bisa lihat di rekaman anak-anak, banyak tuh yang merekamnya," ucap Claudia melipat tangannya didada, menatap Vano dengan kesal, itu berarti dia juga tak melihat penampilannya dan hanya ingin melihat penampilan Kinara sajam


"Kamu benar juga, nanti aku minta ke anak-anak. Aku yakin penampilan kalian berdua pasti yang terbaik malam ini," ucapnya memuji.


Claudia bernafas jengah mendengar pujian dari Vano.


Mereka terus berbincang-bincang membahas masalah penampilan Claudia dan juga Kinara, Vano juga menjelaskan Kenapa ia datang terlambat tanpa ditanya.


Tak lama kemudian Vincent masuk, semua melihat ke arah Vincent yang berjalan ke arah mereka.


"Ada apa lagi?" tanya Kinara.


Jika Kinara menatap biasa saja pada Vincent berbeda dengan Claudia, terlihat jelas bahwa Claudia sangat mengagumi sosok Vincent, ia bahkan nyaris tak berkedip saat menatap wajah Vincent yang begitu tegas dan berwibawa.


Vincent tak menjawab pertanyaan Kinara, langsung membuka jaketnya dan memakaikannya kepada Kinara.


"Udaranya semakin dingin, sebaiknya kau pakai jaket saat pulang," ucapnya kemudian berlalu dari sana, tatapannya dan Vano saling bertemu, keduanya saling menatap dengan tatapan tak suka.


Kinara ingin memberikan kembali jaketnya. Namun, Vincent yang sudah pergi menjauh dari mereka. Kinara yang memang kedinginan akhirnya memakai jaket tersebut.


Claudia kita pulang sekarang yuk! Aku sudah malas disini," ajak Kinara.


"Kalian kok mau pulang, aku baru saja sampai dan masih ingin bersama dengan kalian," ucap Vano menatap Kinara dan Claudia bergantian.


"Ya udah, kamu nganterin kita pulang aja supirku sedang ada urusan," ucap Claudia lalu menarik Kinara menuju ke pintu keluar, dimana tadinya Vincent juga keluar melewati pintu yang Sama.


Mau tak mau akhirnya Vano juga ikut dan mengantar mereka hingga ke asrama.


"Kinara, apa aku bolehkan menginap di tempatmu?" tanya Claudia menatap Kinara dengan penuh harapan..


"Tentu saja, masuklah" ucap Kinara.


Claudia yang mendengar persetujuan dari Kinara langsung melompat dan berlari masuk ke asrama meninggalkan Vano dan juga Kinara yang masih di luar gerbang.


"Terima kasih ya tumpangannya, Aku mau masuk dulu untuk istirahat. Aku juga sangat gerah." Kinara langsung berbalik dan berjalan menyusul Claudia


"Kinara, tunggu," panggilan Vano menghentikan langkah Kinara, Kinara berbalik dan melihat Vano yang berjalan mendekat.


"Ada apa?" tanya Kinara kembali melihat pada Vano sambil memasukkan tangannya di kedua kantong jaket Vincent.


"Yang tadi siapa? Yang memberimu jaket itu?" tunjuk Vano pada jaket yang dipakai oleh Kinara.


"Bukan siapa-siapa, nggak penting," ucap Kinara kembali berbalik untuk jalan masuk ke asrama, ia tak ingin membahas masalah Vincent dengan Vano.


"Kinara, bagaimana dengan perjanjian kita waktu itu? Apakah masih dihitung?" tanya Vano meneriaki Kinara yang sudah hampir masuk ke gerbang.


"Yes, yes, yes," ucap Vano kegirangan. "Akhirnya aku bisa menjadi teman Kinara, aku akan semakin dekat dengannya," ucap Vano melihat ke arah gerbang tempat Kinara tadi menghilang dan memegang dadanya yang berdebar kencang kemudian Ia masuk ke dalam mobilnya dan pergi dengan hati yang sangat senang.


Vano mengira jawaban iya dari Kinara berarti dia sudah menjadi sahabatnya sudah menjadi teman dekatnya. Namun, ternyata Vano salah sangka, kata iya yang dikeluarkankan oleh Kinara sesuai dengan perjanjian mereka jika Vano bisa mengalahkan nilainya berarti ia bisa menjadi teman baiknya.


Begitu masuk ke kamarnya Kinara melihat Claudia sedang asyik bermain game.


Kinara hanya melewatinya dan menuju ke kamar mandi, membersihkan dirinya yang terasa gerah. Kinara meletakkan jaket Vincent di atas tempat tidur.


Claudia menatap jaket Vincent.


"Kinara beruntung banget sih, apa Vincent menyukainya juga, Vincent bahkan tak menatapku sedikitpun," kesalnya menghela nafas, mengedikkan bahunya dan kembali bermain game di ponselnya.


Kinara yang sudah selesai membersihkan badannya keluar dan mengambil jaket Vincent dan ingin menyimpannya ke dalam lemari pakaiannya.


"Kinara sebenarnya apa hubunganmu dengan Vincent? Jangan bilang kalau kalian tak punya hubungan apa-apa?" tanya Claudia dengan pandangannya tak lepas dari ponselnya.


"Memangnya hubungan apa yang kau maksud, kami memang tak punya hubungan apa-apa selain hanya saling mengenal."


"Tapi, sepertinya dia menyukaimu," tebak Claudia yang kini melihat ke arah Kinara.


"Aku tak merasa jika dia menyukaiku, dia bersikap biasa saja padaku. Lagian aku sama sekali tak menyukainya, Aku bahkan tak ingin menjadi temannya, dia seperti orang yang berbahaya. Aku masih banyak misi yang harus aku selesaikan.


"Kamu benar sih kita masih harus banyak belajar," jawab Claudia yang menganggap misi yang dimaksud Kinara itu adalah belajar, misi mereka sebagai seorang pelajar.


Kinara hanya tersenyum mendengar jawaban Claudia, belum saatnya Kinara mengatakan apa sebenarnya misinya dan Sebaiknya ia tak melibatkan siapapun. Misinya sangat berbahaya, dunia mafia menganggap nyawa tak ada harganya.


"Oh ya. Apa kau tahu jika murid yang tadi bersamamu itu adalah Vincent?"


"Iya aku tahu namanya Vincent, emang siapa sih Vincent? Kenapa banyak orang yang mengagumi namanya?" tanya Kinara yang kembali duduk sambil memeluk jaket Vincent.


"Vincent itu ketua kelompok di SMA dan yang kudengar anggota gengnya itu bukan hanya anak SMA, ada beberapa di antara mereka merupakan mafia yang kejam.


"Mafia? Vincent ketua dari geng Mafia?" tanya Kinara terkejut dengan informasi yang baru saja didengarnya.


"Aku tak tahu pasti, aku hanya mendengar dari beberapa siswa lainnya, tapi sepertinya info itu memang benar, apa kau tak melihat pengamanan di gedung tadi, dia tak datang seorang diri 'kan? Ada beberapa yang mengawalnya bukankah itu bisa menegaskan jika dia memang bukan orang sembarangan," tambah Claudia.


Kinara hanya mengangguk-angguk mendengar penjelasan Claudia tentang Vincent.


"Kau bilang tak menyukai Vincent 'kan? Apa boleh jaket itu buatku saja?" tanya Claudia menaik-turunkan alisnya dan menunjuk jaket yang ada di pelukan Kinara.


Kinara menunduk melihat jaketnya kemudian ia kembali berdiri berjalan menuju ke lemari pakaiannya.


"Kau urus saja game online itu Sepertinya kau sudah kalah."


Mendengar kata-kata Kinara Claudia baru tersadar jika ia sedang bermain game online dan saat melihat ponselnya ia sudah kalah membuat ia menjerit kesal.


🌹🌹🌹🌹🌹🌹 Terima kasih 🌹🌹🌹🌹🌹