Mafia In The School

Mafia In The School
Mulai Tertarik.



Tiara yang mendengar keributan mencoba mencari tahu apa yang terjadi, Mereka baru sampai dan sudah mendengar ada yang membuat masalah di Pesta itu.


Tiara mendengar kasak-kusuk jika seorang pria telah mengganggu seorang wanita dan mendapat balasan dari kekasihnya.


Tiara yang penasaran mencoba mencari tahu siapa apa yang mereka maksud, siapa gadis yang sudah membuat keributan di perta yang istimewa itu.


"Revan," pekik Tiara dalam hati, ia membekap mulutnya, Tiara tak percaya saat melihat orang yang disebut-sebut mendapat ganjaran karena telah mengganggu kekasih orang lain ternyata adalah Revan kekasihnya.


Tiara melihat wanita bergaun merah yang disebut-sebut sebagai wanita yang telah diganggu oleh Revan.


"Siapa sih wanita yang telah membuat Revan sampai seperti itu," kesal Tiara ingin menghampiri gadis berbaju merah yang berdiri tak jauh darinya.


"Kamu mau kemana?" tanya Ibu menghentikan Tiara dengan menarik tangannya.


"Aku ingin memberi pelajaran gadis itu, seperti apa sih dia beraninya dia membuat Revan terluka seperti itu," geram Tiara menatap gadis berbaju merah dan ingin membalas perbuatan kekasihnya yang telah menyakiti Revan.


"Kamu jangan macam-macam, gadis itu datang bersama Vincent," ucap ibu.


"Vincent? Siapa Vincent?" tanya Tiara tak mengerti.


"Sudah kamu jangan cari masalah dengannya, Ibu juga tak tau dia siap, yang jelas orang tuanya sangat berpengaruh di kota ini," ucap Diana menarik Tiara agar tidak melakukan hal bodoh.


Ayah datang menghampiri mereka,


"Ada apa? Apa yang kalian lakukan disini?" tanya Ayah yang sudah dari tadi mencari mereka.


"Ini Tiara, hampir saja mencari masalah dengan gadis yang datang bersama Vincent," ucap ibu menjelaskan dan menunjuk gadis yang berdiri membelakangi mereka.


"Kinara," panggil Tiara saat menyadari jika gadis yang berbaju merah tersebut adalah Kinara.


"Kinara? Dimana Kinara?" tanya ayah, setaunya ia tak mengajak Kinara, berhubung undangan yang ayah dapatkan hanya 3 dan itu hanya cukup untuk mereka bertiga.


"Bukankah itu Kinara," tunjuk Tiara adalah gadis yang sedang menjadi topik di pesta itu.


"Ayah melihat pada arah yang di tunjuk Tiara, dan benar saja ternyata gadis itu adalah Kinara. Dia terlihat begitu berbeda dan yang paling membuat Ayah bangga Kinara mampu datang ke pesta itu dengan kemampuannya sendiri, di mana tak sembarang orang bisa datang kesana, ayah saja dengan bersusah payah mendapatkan undangan agar bisa menghadiri pesta tersebut.


"Dengan siapa Kinara ke pesta ini?" tanya ayah.


"Jangan bilang Kinara datang bersama anak itu, Vincent," ucap Ibu tak percaya, tapi memang itulah kenyataannya.


"Kinara, apa yang kamu lakukan disini?" ucap Ayah menghampiri Kinara.


Kinara yang mendengar panggilan ayahnya berbalik, dia juga terkejut tak menyangka jika ayah, ibu dan Tiara juga ada di pesta itu.


"Ayah, Ayah juga ada di pesta ini?" tanya Kinara saat Ayahnya menghampirinya.


Ayah merasa tak enak dia mengajak Tiara, tapi tidak mengajaknya.


Diana dan Tiara ikut berjalan di belakang ayah, menghampiri Kinara yang berdiri di tengah kerumunan orang-orang yang menyaksikan kejadian tadi.


"Ada apa ini? Kenapa kamu bisa ada di sini?" tanya ayah balik tanpa menjawab pertanyaan Kinara sebelumnya.


Kinara baru saja ingin menjawab. Namun, Vincent langsung menghampiri mereka.


"Kinara. Ayo kita pergi dari sini," panggil Vincent langsung menggandeng tangan Kinara meninggalkan pesta itu, mereka berjalan keluar dengan tatapan berbeda-beda dari semua tamu yang hadir.


Ada yang menatapnya kagum dan ada yang menatapnya tak suka dan iri.


"Lihatlah tatapan mereka, ingin rasanya aku mengeluarkan mata mereka dengan tangan ku sendiri," gumam pelan Kinara.


Vincent hanya tersenyum mendengar gumaman konyol Kinara.


Ayah hanya melihat Kinara yang berjalan sambil bergandengan dengan Vincent keluar meninggalkan acara tersebut.


"Siapa gadis itu?" Pertanyaan itu langsung memenuhi ruangan.


"Gadis itu sungguh beruntung bisa hadir di pesta ini bersama tuan muda Vincent."


"Gadis itu sungguh beruntung menjadi pilihan Tuan muda Vincent Pasti orang tuanya sangat bangga," ucap para tamu lainnya membuat ayah tersenyum merasa bangga. Berbeda dengan Diana dan Tiara yang semakin kesal mendengar itu semua.


'Bagaimana bisa Kinara mengenal Vincent.' Batin Diana.


"Apakah dia kekasih Tuan muda Vincent?" bisik-bisik para tamu.


"Dari mana wanita itu, dari kalangan mana dia?"


"Memangnya siapa mereka? Siapa Tuan muda Vincent?" tanya beberapa orang yang tak mengerti siapa pasangan yang baru datang dan membuat kerusuhan tadi.


Begitu Kinara dan Vincent keluar dari ruangan itu, para tamu mulai berani angkat bicara mendiskusikan latar belakang mereka, siapakah mereka berdua, siapakah gadis yang bersama Tuan muda Vincent. Menjadi bahan mereka.


Semua itu membuat Tiara semakin kesal pada Kinara.


Revan yang terluka langsung sudah di oleh beberapa temannya ke ruang istirahat.


"Maaf semuanya silahkan lanjutkan jamuan dan nikmati pestanya, maaf karena sudah mengganggu kalian dengan ulah anak saya," ucap pak Handoko minta maaf kepada semua tamu kemudian menuju ke ruang istirahat dimana Revan berada, ia benar-benar malu karena perbuatan anaknya itu.


Handoko dengan marah terjalan menghampiri Revan dan teman-temannya yang berada di ruang istirahat, Revan meringis merasa sakit di area tangannya yang pernah dipatahkan oleh Kinara.


"Revan kamu ini benar-benar ya, bisa-bisanya kau menggoda wanita tadi. Ayah tahu kau suka membuat onar, tangan mu patah karena mengoda para gadis 'kan?! Jika kau ingin berulah harus melihat situasi juga, pesta ini dari kalangan elite, banyak orang penting yang datang kepesta ini, kau benar-benar memalukan. Sikapmu itu mempermalukan Ayah didepan mereka semua."


"Ayah aku hanya menyapanya," jawab Revan.


"Hanya menyapa katamu? kamu menyapa kekasih orang lain, tentu saja dia akan marah dan melihat apa yang dilakukannya padamu. Beruntung ia tak mematahkan tangan mu seperti yang dilakukan Kinara."


"Gadis tadi adalah Kinara Ayah, aku hanya menyapa Kinara," ucap Revan.


"Apa maksudmu Kinara?" tanya ayah tak mengerti apa yang dikatakan oleh putranya.


"Iya, Ayah. Gadis yang bergaun merah tadi adalah Kinara, anaknya ibu Diana, kakaknya Tiara. Tentu saja Revan menyapanya."


Pak Handoko kaget mendengar penjelasan dari Revan, jadi gadis yang bersama Vincent tadi adalah Kinara.


Kinara dan Vincent pergi meninggalkan pesta dengan mobil mewahnya, sepanjang perjalanan Kinara terus menggerutu tak jelas saat orang-orang menatapnya seperti itu.


"Kau mau ke mana?" tanya Vincent menghentikan gumaman tak jelas Kinara.


"Ke mana saja yang bisa membuatku bahagia, aku sedang membutuhkan hiburan sekarang," ucap Kinara melipat tangannya di dada terlihat jelas raut wajah kesalnya. Namun, wajah cantiknya tetap terlihat jelas. Bahkan semakin cantik menurut Vincent.


"Baiklah aku akan membawamu ke sebuah tempat yang pastinya kau akan senang dengan tempat itu," ucap Vincent memikirkan sebuah tempat.


"Bawa kami ke tempat biasa," ucapnya pada sang supir.


"Baik Tuan muda," jawab sopir tersebut dan membawa mereka ke tempat yang tuannya perintahkan.


"Tempat biasa? Memangnya kamu sering pergi kemana?" tanya Kinara penasaran.


"Kau ikut saja, aku jamin kamu pasti suka," ucap Vincent. Kinara pun menunggu dengan tak sabar kemana mobil mewah itu membawanya.