Mafia In The School

Mafia In The School
Kemenangan yang Sempurna



Kelas menjadi terganggu karena masalah itu, para murid berhenti mengerjakan soal-soal ujian mereka dan fokus kepada Kinara, Jenika dan juga Tiara.


"Kinara, kalau kau tak menyontek, Kenapa kertas ini ada padamu?" tanya guru pengawas tersebut sambil membuka kertas yang dibuat hingga menyerupai bola


"Bukan aku, Bu. aku sama sekali tak mencontek, aku hanya memungutnya. Tadi ada yang melempar ku dengan kertas itu, aku sudah sedari tadi selesai mengerjakan soal-soal ku," jawab Kinara.


"Kamu selesai dengan cepat karena kamu mengerjakannya dengan cara menyontek 'kan!" tuduh Tiara.


"Benar, Bu. Aku benar-benar melihat Kinara mengambil kertas itu tadi," ucap Jenika.


Ibu guru mengambil kertas jawaban Kinara dan mencocokkannya dengan kertas contekan yang ada di tangannya, dan melihat hasilnya sangat berbeda. Jawaban Kinara 99% benar sedangkan jawaban yang ada di kertas contekan itu semuanya salah. Itu semua sudah bisa dipastikan Kinara tak mencontek dari kertas tersebut.


"Katakan! siapa yang sengaja melakukan ini?" melihat Tiara dan Jenika secara bergantian.


"Itu semua ulah Kinara, Bu guru. Kenapa ibu malah melihat kearah kami?" jawab Jenika.


"Kinara sama sekali tidak menyontek, dia berkata jujur. Bagaimana mungkin dia menyontek jawaban yang salah sedangkan jawabannya sendiri sempurna. Sudah dipastikan dia tak menyontek seperti yang kalian tuduhkan sekarang ibu tanya pada kalian berdua siapa yang memulai keributan ini dan dari mana kertas ini," tanya Guru pengawas dengan serius. kejadian itu sudah mengganggu jalannya ujian dan tindakan itu akan mendapatkan hukuman.


Jenika dan Tiara terdiam mereka merasa malu dengan teman-temannya. Kinara lagi-lagi lolos dari jebakan mereka.


"Baiklah kalau kalian tidak mau ngaku, ibu akan memeriksanya sendiri," ucap guru tersebut memanggil guru lain untuk membantu mengawasi ruangan tersebut sementara dia sendiri pergi mengecek CCTV dan disana terlihat jelas jika Jenika lah yang melempar kertas tersebut pada Kinara.


Setelah mengeceknya CCTV, guru tersebut tersebut kembali ke kelas dan memarahi Jenica. Tiara melarang Jenika menyebutkan namanya. Jennie mendapat hukuman dikeluarkan dari ruangan ujian dan bisa dipastikan ia tak akan lolos dalam ujian untuk masuk SMA.


"Kinara kamu sudah bisa mengumpulkan soal ujian mu dan kamu bisa istirahat. Yang lainnya lanjutkan, waktu kalian masih beberapa menit lagi, kerjakan dengan cepat dan tepat!" ucap ibu guru.


"Ini Peringatan buat kalian juga, jangan pernah melakukan hal yang merugikan orang lain, sebaiknya kalian fokus pada diri kalian sendiri untuk saat ini. Kerjakan soal-soal dengan baik, pikirkan masa depan kalian. Jangan hanya karena hal sepele merusak cita-cita kalian," ucapnya kembali mengawasi jalannya ujian.


Tiara kembali mengerjakan soal ujiannya sementara Jenika harus mengiklaskan kan kertas ujiannya yang tidak selesai tersebut, ia merasa sangat menyesal karena menuruti apa yang Tiara minta dan sekarang ia berada di luar dan Tiara masih berada di dalam.


Tiara belum selesai mengerjakan semua soal-soalnya, tapi saat waktu jam pelajaran sudah selesai ia harus mengumpulkan lembar jawabannya.


Tiara keluar dari kelas dengan wajah cemberut, menghampiri ibunya.


"Sayang, kamu kenapa?" tanya ibu yang masih setia menunggu putrinya itu melaksanakan ujiannya.


"Ibu semua ini gara-gara Kinara, Kinara membuat keributan di kelas sehingga fokusku jadi terbagi. Aku tak menjawab beberapa pelajaran, Bu. Bagaimana ini nilaiku pasti rendah," kesal Tiara.


"Apalagi yang diperbuat anak itu, dia memang selalu saja membuat keributan. Dasar Kinara, lihat saja nanti Ibu akan memberinya pelajaran."


Sesaat kemudian Kinara berjalan melewati mereka.


"Kinara, hari ini kamu pulang ke rumah. Tak usah ke asrama lagi, ini perintah ayahmu." ucap ibu dengan judes nya.


"Aku ingin mempersiapkan ujian berikutnya di asrama saja," balas Kinara yang kembali ingin melanjutkan jalannya.


"Kinara. Apa kamu tak mendengar apa yang ibu Katakan ini, kamu diminta pulang itu perintah ayah," ucap Tiara.


"Apa alasanmu tak mau pulang? ayahmu terus menanyakan mu,"


"Aku tidak mau pulang, aku akan menyelesaikan ujian ku terlebih dahulu. Aku yakin jika aku pulang aku tak akan konsentrasi dalam belajar," jawabnya.


"Kinara bisakah kau menurut apa yang Ibu katakan?" ucap ibu yang mulai terbawa emosi, suaranya juga sudah mulai meninggi membuat beberapa siswa yang ada di sana berbalik melihat ke arah mereka..


"Untuk apa aku menuruti mu? lagi pula kau bukan siapa-siapa," ucapnya kembali berjalan tak menghiraukan ucapan ibu tirinya


"Dasar ya kamu, tidak tahu diri, tidak tahu diuntung. Sudah syukur Aku membesarkan mu selama ini, tapi apa balasan darimu," ucapnya menyindir Kinara.


Kinara menghentikan langkahnya, ia kesal mendengar ucapan ibu tirinya kemudian menghampirinya.


"Dengar ya, Bu. Aku tidak pernah memintamu membesarkan ku, aku yakin aku akan tumbuh lebih baik tanpa kau menjagaku. Lagian kalian itu jangan terlalu percaya diri. Kalian itu hanya menumpang Rumahku. Kalianlah yang datang dan mengajarkan semuanya, kalian itu hanya menumpang di sana jadi jangan berpura-pura menjadi tuan rumah," ucap Kinara, tanpa sengaja ia menemukan surat wasiat ayahnya dan ternyata Rumah mewah itu atas nama dirinya dan kekayaan yang lainnya di bagi tatapan.


"Itu rumah kita, lihat saja suatu saat nanti aku akan menendangmu dari rumah." Tiara balas menatap kesal kepada Kinara.


Ibu tiri Kinara pemanggil sopir agar memaksa Kinara untuk pulang bersama mereka. Namun, ia tak bisa berbuat saat mendapat penolakan dari Kinara.


"Ayo Untuk Apa lagi, bawa dia ke mobil," ucap ibu pada sopir pribadinya, tetapi dirinya merasa enggan untuk menyeret Kinara.


Perdebatan kembali terjadi,"


"Ibu tiri ingin menampar, Kinara langsung menangkap tangannya dan menghabiskan ibu dengan sangat kuat membuat Ibu langsung terhempas dan jatuh ke lantai.


"Bu, kau tak apa-apa?" Tiara dengan cepat membantu ibunya untuk berdiri, keributan terjadi di antara mereka. kepala sekolah mendengar keributan itu dan menghampiri mereka.


"Ada apa ini?" tanya kepala sekolah.


"Ini bukan urusan Bapak, aku hanya meminta Kinara untuk pulang, sesuai pesan ayahnya, tapi sepertinya dia menolak," seru Ibu Tiara.


"Ayah memintanya untuk pulang sehari saja, besok kau bisa kembali bersekolah dan bisa kembali ke asramamu," tambah Tiara.


Kepala sekolah sudah diminta oleh walikota untuk menjaga Kinara sampai Ia selesai ujian. Ia tak ingin sesuatu terjadi sebelum ujian berakhir.


Kepala sekolah meminta satpam untuk membawa ibu Tiara keluar dari sekolah. Ia terlalu banyak membuat keributan dan mengganggu jalannya ujian.


Ibu terus memberontak, saat satpam mencoba menyeretnya,


"Aku pikir apa yang mereka lakukan saat ini sangat keterlaluan. Ternyata mereka belum sadar akan kesalahannya pada Kinara," gumam Claudia.


Sementara itu Tiara hanya menunduk sambil berjalan mengikuti ibunya, ia benar-benar malu dengan kelakuan Ibunya. Mereka jadi pusat perhatian semua murid dan orang tua yang hadir menemani anak-anak mereka.