Mafia In The School

Mafia In The School
Hanya ingin berteman



Senin pagi Kinara yang bosan di rumah memilih untuk joging di taman dekat rumahnya. Taman itu merupakan taman favoritnya. Udaranya masih sangat segar. Banyak pepohonan yang menjulang tinggi membuat udara terasa sejuk, sungguh indah dan nyaman.


"Hay, Kinara 'kan," sapa seseorang yang tiba-tiba menghampirinya, ikut berlari di sampingnya.


Kinara sedang memakai earphone, melihat orang yang di samping seakan menyapanya Kinara membuka earphonenya.


"Siapa ya?" tanya Kinara memperhatikan pria tampan yang menyapanya. Pria tersebut juga sedang joging dan ikut berlari di sampingnya.


"Kamu nggak ingat siapa aku?" tanyanya, mereka menghentikan larinya dan berdiri saling berhadapan. Kinara membersihkan keringatnya dengan handuk kecil yang di bawahnya.


"Nggak, aku ga tau, siapa ya?" tanya Kinara cuek.


"Aku sering melihatmu, benarkan namamu Kinara?"


"Iya, aku Kinara. Aku sama sekali tak mengingatmu. Apa kamu mengenalku? Apa kita pernah bertemu sebelumnya?" tanya Kinara menunjuk dirinya sendiri, mengerutkan keningnya mencoba mengingat siapa pria yang menyapanya, seingatnya ia tak pernah bertemu dengan pria itu.


"Ya udah, kita kenalan lagi. Namaku Vano," mengulurkan tangannya. Namun, Kinara hanya melihatnya. "Kita satu sekolahan, mungkin kamu memang nggak mengenalku, tapi aku sering melihatmu di sekolah. Apalagi saat kamu menjadi juara umum ujian akhir kemarin. Aku yakin semua murid-murid di sekolah pasti mengenalmu."


"Maaf ya, aku bener-bener nggak mengenalmu, aku permisi dulu. Aku masih ingin berlari lagi," ucap Kinara kembali berlari.


Vano yang merasa belum puas dengan perkenalan mereka ikut berlari di samping Kinara.


Kinara terus berlari tak mempedulikan Vano yang juga ikut berlari di sampingnya, Ia memakai earphone membuat ia lebih fokus pada musik yang ia dengarkan.


"Kamu ngapain sih, di sini?" tanya Kinara yang merasa risih saat Vano terus saja mengikutinya.


"Aku hanya ingin joging denganmu, Aku tak akan mengganggu," ucapnya, membuat Kinara mempercepat larinya, berharap Vano menyerah dan meninggalkannya, tapi dugaannya salah, Vano masih setia mengikuti Kinara.


Kinara menghentikan larinya dan membuka kasar earphonenya.


"Apa kau kesini memang untuk joging atau ada keperluan lain?" tanyanya lagi Kinara melihat Vano dengan jengah.


"Iya tentu saja aku ingin joging, Aku memang sering joging di sini, tadi aku tak sengaja melihatmu, makanya aku samperin, aku pikir aku salah orang, Ternyata kamu menang Kinara. Kamu baru ya disini?" tanya santai tak memperdulikan raut wajah kesal Kinara.


"Aku memang tinggal di sini, tapi selama ini aku tinggal di Asrama, kamu sendiri apa tinggal di kompleks ini juga? Jadi memilih joging disini?"


"Enggak, tapi aku senang joging di sini lebih nyaman nggak terlalu ramai, tak seperti di taman kota," ucapnya.


Kinara hanya mengangguk dan kembali melanjutkan berlari kecil di sekitaran taman tersebut.


Suasana di taman itu tidak begitu ramai membuat orang-orang yang joging merasa lebih tenang ditambah pemandangannya juga sangat indah, banyak pohon-pohon dan bunga-bunga di sepanjang jalan membuat mereka bisa olahraga sambil menikmati pemandangan.


Vano adalah juara umum disekolah sebelum Kinara merebut posisinya, selain pintar bisa dibilang Vano pria tertampan di sekolah mereka, Vano terkenal sangat dingin dan jarang bergaul dengan orang-orang membuat tak banyak murid perempuan yang mendekatinya berbeda dengan Revan.


Sebelumnya Vano sama sekali tak mengenal Kinara. Namun, setelah Kinara merebut posisinya sebagai juara umum, Vano mulai memperhatikannya, mencari tahu seperti apa sosok Kinara dan menurutnya Kinara adalah sosok yang menarik.


Setelah berlari beberapa putaran Kinara akhirnya beristirahat di salah satu bangku taman, Vano juga ikut duduk di sampingnya.


"Apa aku boleh menjadi salah satu temanmu?" tanya Vano dengan gaya gentlenya.


"Aku juga bukan orang yang suka berteman tapi …." Menyandarkan bahunya menaikkan satu kakinya ke kaki lainnya. "Aku merasa kita akan jadi teman baik, Bagaimana kamu mau 'kan bertemu denganku, Kinara?" ucap kembali mengulurkan tangannya ingin menjabat tangan kinara.


"Maaf, aku tak tertarik," ucap Kinara berdiri dari duduknya.


Kinara tak menggubris ucapan Vano, dan kembali ingin melanjutkan larinya. Namun, Vano langsung menarik tangannya membuat Kinara kembali duduk.


"Jangan sentuh aku," Menepis tangan Vano yang masih memegang pergelangan tangannya. "Aku tak suka disentuh oleh orang yang tak kukenal. Kita baru bertemu jadi jaga sikapmu," kesal Kinara memandang tak suka pada Vano.


"Maaf, aku tak bermaksud kurang ajar." Vano mengangkat tangan melepas tangan dari pergelangan tangan Kinara. "Aku hanya ingin berteman denganmu, aku rasa itu bukan sebuah kejahatan," tambahnya berusaha meyakinkan Kinara kalau Ia memang benar berkenalan nya untuk berteman, bukan untuk macam-macam.


"Aku 'kan sudah bilang, aku tak suka memiliki banyak teman jadi aku mohon jangan ganggu aku. Aku ingin kembali joging, dan jangan mengikutiku aku benar-benar merasa terganggu dengan kehadiranmu," jujur Kinara kemudian kembali memakai earphonenya dan berlari meninggalkan Vano yang hanya berdiri mematung melihat Kinara yang semakin menjauhinya.


Kinara merasa ilfil pada Vano, yang terkesan memaksa ingin berteman dengannya padahal ini adalah pertemuan pertama mereka. Sangat mengganggu menurutnya. Walaupun tampan Kinara tetap mengabaikannya. Sekarang ia hanya fokus pada misinya mengumpulkan point untuk membantu Kinara tempat ia menumpang hidup, entah sampai kapan ia sendiri tak tau.


Kinara membatasi pertemanannya, ia harus lebih berhati-hati kali ini, ia membawa tubuh orang lain.


Ia tak ingin percaya dengan sembarang orang, Kinara pernah percaya dengan orang melebihi dirinya sendiri sehingga orang tersebut menghianatinya hingga ia meninggal.


Sampai saat ini Kinara masih sangat kesal dan kecewa dengan Semua orang-orang dimasa lalunya, yang tega mengkhianatinya setelah ia melakukan apa saja untuk mereka, termasuk menjadi mafia yang kejam dan ditakuti.


Sekarang Kinara lebih berhati-hati dalam memilih teman, ia tak ingin kejadian sebelumnya terulang kembali pada Kinara gadis remaja ini.


"Kinara tunggu!" teriak Vano kembali mengajar Kinara.


"Apa benar tak ada kesempatan untukku menjadi salah satu temanmu?" tanya Vano berlari mundur agar bisa melihat pada Kinara yang berlari-lari kecil.


Kinara hanya melirik Vano dan mempercepat larinya meninggalkan Vano yang terus memanggil namanya.


"Apa dia sudah tak sanggup berlari?" gumam Kinara yang berbalik dan melihat Vano yang tadi mengejarnya kini terlihat duduk di jalan karena kelelahan.


"Dasar manja," teriak Kinara pada Vano mengacungkan jempolnya dan memutarnya mengarahkan ke bawah kemudian kembali berlari memutari taman itu.


💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖


Terima kasih sudah membaca 🙏


Jangan lupa like, vote dan komennya 🙏


Salam dariku Author M Anha ❤️🤗


💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖


Mampir yuk ke karya temanku 🙏