
Kinara melihat salep yang diberikan Vincent kemudian Vincent yang sudah keluar melalui pintu gerbang kemudian Ia pun Kembali masuk ke kamarnya, memastikan jika pintunya sudah terkunci dan mulai mengolesi lukanya dengan salep yang diberikan Vincent tadi.
"Jika Vincent tahu aku baru saja bertemu dengan Yoona apa dia juga tahu kalau aku sudah jadi bagian dari Naga Hitam, tapi dari mana dia tahu? Apa dia juga merupakan bagian dari Naga Hitam atau ada salah satu orangnya yang berada di Naga Hitam. Ah sudahlah Kenapa aku jadi memikirkan itu, mau dia itu tahu darimana juga bukan urusanku, setidaknya dia tau juga aku membutuhkan salep ini," gumamnya kembali mengolesi lukanya.
Kinara kembali menggeleng, saat tiba-tiba bayangan Vincent terlintas di pikirannya.
"Kenapa ini, ada apa denganku. Mengapa aku selalu memikirkan Vincent, Kenapa Vincent harus menggangguku aku harus fokus pada tujuan awalku," gumam Kinara yang terus berusaha mencoba melupakan Kejadian beberapa saat yang lalu dimana ia begitu dekat dengan Vincent, ia bahkan masih ingin aroma nafas dari seorang Vincent.
Kinara kemudian melihat bilah kemajuan skor transformasi yang dimilikinya, masih ada 98% berwarna abu-abu, dia pun menghela nafas.
"Beruntung banget aku memiliki ruang penyimpanan itu, kalau tidak entah apa yang terjadi denganku saat melawan Yoona tadi dengan tanpa menggunakan senjata apapun yang aku gunakan, syukurlah aku bisa mengambil dengan cepat senjata yang bisa melindungi diriku dan ruang. Ini sungguh sangat berguna," ucap Kinara mengakui ruang penyimpanan yang disiapkan oleh sistem.
Kinara mengakui Yoona merupakan lawan yang terkuat, Yoona bahkan berhasil melukainya. Namun, itu tak membuatnya takut mendapat lawan yang kuat itu malah lebih menantang bagi seorang Kinara.
"Apa aku salah ya tentang pemilik motor biru itu, tapi jelas aku melihat jika itu adalah Vincent. Apakah aku salah ya," lirih nya kembali mengingat sosok pemilik motor biru yang hampir saja mencelakainya. Sepintas Ia melihat jika itu lelaki itu Vincent. Namun, tadi Vincent tak mengerti apa maksud pertanyaanku, apa kali ini aku salah tentang dia, tapi kalau itu Vincent Kenapa dia ingin mencelakakan ku dan sekarang dia malah memberiku obat ini," gumamnya lagi bertanya-tanya dan terus bertanya dengan dirinya sendiri mengenai siapa sosok Vincent. Baginya Vincent masih sangat misterius, mengapa Vincent mendekatinya itupun masih misterius.
Keesokan harinya wali kelas masuk ke kelas dalam suasana hati yang baik, terlihat dari senyum yang terus mengembang di bibirnya saat memasuki ruang kelas.
Anak-anak yang sedang bercanda dan membuat keributan langsung terdiam dan duduk tenang saat wali kelas mereka masuk.
Seorang pemimpin di kelas itu memberi aba-aba untuk memberi hormat kepada wali kelas mereka yang baru.
"Selamat pagi, Pak," seru mereka semua.
"Selamat pagi semuanya. Bapak hari ini datang dengan membawa kabar baik untuk kelas kita," ucap wali kelas tersebut membuat yang lainnya langsung kasak-kusuk, Mereka saling bertanya-tanya apa kabar baik yang di maksud wali kelas mereka, Apakah itu untuk mereka semua.
Wali kelas meminta mereka untuk kembali tenang dengan menggunakan isyarat tangannya.
Setelah semua kembali tenang dan fokus mendengarkan apa yang akan dibicarakan nya. Wali Kelas tersebut berdiri di depan anak muridnya.
"Bapak ingin menyampaikan kabar baik, dalam lomba malam gala seni beberapa malam yang lalu kelas kita memenangkan dua penghargaan," ucap wali kelas tersebut mengeluarkan dua piala yang di dibawanya," semua langsung bersemangat dan bersorak.
Mereka semua kembali membuat keributan melampiaskan rasa senang mereka.
"Kita memenangkan penghargaan apa saja, Pak?" tanya salah satu murid.
"Ya, kamu benar, Kinara salah satunya kita yang memenangkan juara pertama kategori penampilan terbaik. Selamat Kinara ya Kinara penampilan kamu memang sangat baik, Bapak sendiri tidak menyangka kamu bisa menampilkan hal yang luar biasa Seperti malam itu," ucap wali kelas memberikan 2 jempolnya kepada Kinara.
Kinara hanya mengangguk dan tersenyum pada wali kelasnya atas pujian yang diberikan untuknya.
"Penghargaan yang lainnya, kelas kita mendapat penghargaan sebagai peserta yang mendapat dukungan terbanyak dan penghargaan itu jatuh pada Tiara," Wali kelas tersebut menunjuk pada ke Tiara. Semua kembali bertepuk tangan memberikan selamat pada Tiara. Tiara sama sekali tak menyukai kategori yang dimenangkannya, Ia menginginkan kategori yang dimenangkan oleh Kinara.
"Ya sudah, bapak keluar dulu, teruslah semangat dan pantang menyerah. Lanjutkan perjalanan kalian, Bapak kali ini kembali bangga atas pencapaian kalian. Selamat atas Kinara dan juga Tiara," ucapnya memberikan 2 buah piala kepada Kinara dan juga Tiara sebelum ia keluar meninggalkan kelas.
Tak lama kemudian Guru yang akan mengajar mereka kembali masuk hari ini mereka akan belajar bahasa Inggris. Kinara dan Claudia duduk sebangku.
"Selamat ya, Kinara. Aku sudah yakin sejak awal jika kamu yang akan memenangkannya," bisik Claudia.
"Coba kau lihat wajah Tiara, Aku yakin dia pasti sangat kesal mengetahui jika aku yang menangnya," ucap Kinara balas berbisik.
Claudia yang mendengar itu langsung melirik kearah Tiara dan benar saja, Tiara terlihat sangat kesal.
"Biarkan saja, aku yakin waktu itu dia yang mendaftarkan secara diam-diam, ia 'kan? kamu nggak mendaftar sendiri?" tanya Claudia yang ngasih merasa curiga saat itu dan yakin bukan kita sendiri yang mendaftarkan dirinya.
"Sudah lah, anggap saja itu kebaikan Tiara, jika bukan karena Tiara aku tak akan mungkin mendapatkan piala ini."
"Kau tahu, penampilanmu hari itu sangat bagus aku seperti melihat konser seorang diva," ucap Claudia, Kinara langsung tertawa mendengar ucapan Claudia yang terus memujinya terlalu berlebihan.
"Sudah jangan memujiku terus, aku bisa melambung tinggi," ucap Kinara, ia yang merasa sangat bahagia berteman dengan Claudia. Hal-hal kecil yang Claudia lakukan sering membuatnya merasa bahagia berbeda saat dulu yang memiliki banyak teman. Namun, tak pernah sebahagia saat memiliki Claudia..
"Kau sudah membuatku bahagia, piala ini untukmu." Kinara memberikan piala kepada Claudia.
"Kamu yakin memberikan kepada aku?" tanya kalau dia mengambil piala tersebut.
"Iya, ambil saja. itu tak ada gunanya untuk ku anggap saja kaulah yang memenangkan untuk acara malam itu.
"Ya, tetap saja walau aku mengambil piala ini kau tetap menjadi juaranya, tapi tak apalah Terima kasih. Anggap saja ini adalah kenang-kenangan darimu , kenang-kenangan dari persahabatan kita," ucap Claudia langsung mengambil piala tersebut dan memasukkannya ke dalam lacinya dan mereka berdua kembali fokus pada pelajaran bahasa Inggris yang sedang diterangkan oleh guru mereka.
🌹🌹🌹🌹Ig: anha5569🌹🌹🌹