
Di sebuah ruangan ICU.
Suara alat monitor memenuhi ruangan tersebut. Semua terdiam dan hanya mendengar suara monitor itu yang terus berbunyi secara beraturan yang menandakan pasien tersebut masih hidup. Semua bergantian masuk ke ruangan itu.
Ayah Natasha hanya bisa berdiri mematung melihat Vincent yang kini terbaring di ranjang Rumah sakit, ia tak bisa berbuat apa-apa. Ia sudah mengeluarkan semua yang ia bisa untuk mengobatinya. Namun, tetap saja Vincent tak mau membuka matanya.
Dokter mengatakan kondisinya sudah pulih sepenuhnya. Namun, entah mengapa sepertinya Vincent tak ada keinginan untuk kembali bangun, mereka hanya meminta orang-orang terdekatnya memberikan semangat dan dukungan agar Vincent ingin kembali menjalani kehidupannya.
Sudah 5 bulan ini Vincent di ruang ICU tersebut. Namun, tak ada tanda-tanda akan kesembuhannya.
Ayah Natasha mengambil alih geng Vincent untuk sementara waktu. Dimana Selama ini gang tersebut tak punya ketua. Asisten Vincent yang bisanya menjaga geng tersebut saat Vincent tak di tempat tewas dalam pertempuran terakhir mereka. Ayah Natasha yang baru mengetahui cara kerja tim Vincent juga mengubah pola pikir gengnya dan mengikuti kegiatan geng Vincent. Di mana mereka bekerja sebagai mafia, tapi tak menikmati apa yang mereka dapatkan sendiri, mereka membagi-bagikannya kepada orang yang lebih membutuhkan, membangun yayasan, panti asuhan dan beberapa tempat amal lainnya.
Ayah Natasha benar-benar merasa bersalah dengan apa yang terjadi pada Vincent. Vincent dan Kinara telah menyelamatkan putrinya. Namun, ia justru membahayakan nyawa mereka.
Perlahan Ayah Natasha mendekat Vincent,
"Vincent, aku minta maaf karena aku kamu menjadi terbaring seperti ini. Apa kamu tak rindu dengan kehidupanmu? Dengan kebaikan yang selama ini kau lakukan? Banyak orang-orang yang telah kau bantu, mereka mencari dan ingin berterima kasih padamu. Tak maukah kau menemui mereka?" ucap Ayah Natasha mencoba untuk membujuk Vincent membuka matanya, tapi tetap saja tak ada pergerakan sedikitpun, tak ada tanda-tanda kehidupan yang diperlihatkan oleh Vincent.
Setelah berjam-jam mengajak Vincent berbicara ayah Natasha pun Kembali keluar dari ruangan ICU tersebut. Setiap hari dia akan menghabiskan waktu di ruangan itu hanya untuk mengajak Vincent berbicara sesuai dengan arahan dokter.
Ayah Natasha menghampiri ruangan dokter,
"Dokter ini sudah 5 bulan, mengapa Vincent sama sekali tak ada tanda-tanda jika ia akan sadar? Tolong lakukan yang terbaik, berapapun biayanya aku akan membayarnya."
"Tanpa Anda minta pun kami akan melakukan yang terbaik untuk Vincent, tapi kami sudah melakukan semua yang kami bisa. Menurut hasil pemeriksaan medis Ia juga sudah sembuh total, luka di dadanya sudah sembuh dan tak ada masalah. Semua sudah normal Seperti yang sudah saya katakan. Sekarang kesembuhan Vincent tergantung dari kemauannya sendiri, kamu hanya membantu dengan obat-obatan, ia seolah menolak untuk hidup dan ingin terus berada di situasinya sekarang," jelas Dokter.
"Lalu apa yang harus kita lakukan dokter ?Apakah kita hanya akan terus melihatnya seperti itu tanpa melakukan apa-apa?"
"Sama yang telah saya sarankan. Kita bisa mengajaknya berbicara, memotivasinya untuk tetap memilih hidup, untuk melawan dirinya sendiri untuk kembali, hanya itu cara satu-satunya untuk memberikan peningkatan pada kesembuhannya."
Setelah mendengar penjelasan dokter Ayah Natasha pun kembali ke kediamannya, sebelum pulang biasanya ia akan menitipkan Vincent pada perawat yang telah dibayarnya untuk menjaga Vincent selama 24 jam.
Ayah Natasha langsung di sambut putrinya saat pulang.
"Ayah! Bagaimana keadaan Vincent?" tanya Natasha yang tahu jika ayahnya itu pasti habis dari menjenguk Vincent di rumah sakit.
"Keadaannya masih sama, tak ada tanda-tanda akan sadar."
Natasha juga sangat berterima kasih dan meminta maaf kepada Vincent, jika ayahnya tak sempat datang menjenguknya dialah yang datang ke rumah sakit untuk mengajak Vincent berbicara. Jika bukan karena Vincent dan Kinara entah apa yang akan terjadi padanya saat itu, bahkan sampai saat ini Natasha terkadang bermimpi mengingat kejadian itu. Semua terlihat jelas dalam mimpinya, layaknya sebuah kaset yang diputar ulang dan terus mengganggunya.
"Bagaimana dengan Kinara? Apa ingatanya sudah kembali?"
Natasha menggeleng, "Tidak, Ayah. Kinara juga tidak mengingat apapun, Claudia sudah mencoba membawanya ke tempat yang sering mereka datangi, melakukan hal-hal yang mereka lakukan bersama selama ini. Namun, ia tetap saja Kinara tak mengingat sedikitpun kejadian 1 tahun belakangan ini. Kinara hanya mengingat saat dia masih sering dibully oleh Tiara."
"Apa saat itu Kinara mengalami benturan ya?" gumamnya berjalan beriringan dengan putrinya.
Sementara itu di tempat lain Claudia dan Vano terus mencoba membantu Kinara mengingat masa lalu mereka.
"Kinara, Kau ingat ini anjing kesayanganku? Pungky!" Claudia memberikan Pungky pada Kinara. Kinara justru ketakutan dan menjauh.
"Kamu takut?" tanya Claudia heran padahal jelas-jelas waktu itu dia sangat berani dengan Pungky, dia bahkan seakan bisa mengendalikannya.
Vano dan Claudia saling tatap dan mengangkat bahu mereka.
"Kinara, waktu itu kau jelas-jelas berani dengan Pungky. Apa kamu ingat saat kamu menyuruh salah satu siswa di kelas kita untuk memakan kotorannya?"
"Apa? Aku menyuruh seseorang makan kotoran anjing? Apa kamu nggak salah? Mana mungkin aku berani melakukannya," ujar Kinara merasa jijik mendengar apa yang Claudia katakan.
"Ya sudah kalau kau tak ingat tentang masalah Pungky. Apa kau ingat saat taruhan dengan Tiara kau bahkan memenangkan uang 22 miliar dan berhasil membuat Tiara berlari 10 putaran keliling lapangan?"
Kinara kembali menggeleng, ia sama sekali tak mengingat hal itu. Ia memang tahu di rekeningnya ada uang 22 miliar. Namun, ia sama sekali tak tahu mengapa uang itu ada di sana.
"Oh ya! Apa kau mengingat saat balapan? Kamu terlihat sangat keren dan kau memenangkannya!"
"Aku tak bisa membawa motor," jawabnya singkat dengan ekspresi bingungnya.
"Sudahlah aku antar kamu kembali saja," ucap Claudia frustasi. Ia menyerah untuk hari ini. "Sudah cukup sampai di sini, kita lanjutkan besok," seru Claudia berjalan kembali ke mobilnya. Kinara dengan bingung mengikut Claudia sementara Vano mengikut dari belakang, ia melihat sisi lain dari Kinara. Gadis polos dan lugu. Senyum terbit di bibirnya.
Dalam perjalanan, Claudia dan Vano menjelaskan secara detail pertarungan terakhir mereka Saat memasuki markas Mawar Hitam. Namun hasilnya juga Sama, Kinara sama sekali tidak mengingatnya.
Claudia membawa Kinara kembali ke rumah Natasya. Ayah Natasya yang tahu kelakuan kedua orangtua Kinara memutuskan untuk meminta izin kepada ayah Kinara untuk Kinara tinggal di kediamannya dengan alasan dia ingin Kinara mengajari Natasha, dan tentu saja Ayah Kinara mengizinkannya. Ia juga merasa bersalah dengan apa yang selama ini dilakukannya pada putrinya.
Mereka sudah sampai di kediaman Ayah Natasha, Claudia langsung pulang tanpa turun dari mobil, sedangkan Vano sendiri menuju ke salah satu mension yang ada di sana. Ayah Natasha juga memintanya untuk tinggal dan memimpin gang Naga Hitam.
Kinara masuk ke dalam rumah, tanpa sengaja ia mendengar Ayah Natasha berbicara dengan seseorang di balik telepon.
"Lakukan apa saja yang bisa membuat Vincent kembali tersadar, bawa dokter-dokter handal untuk memeriksanya berapapun biayanya akan aku tanggung," ucapnnya pada seseorang di balik sana, dia mencoba untuk meminta dokter dari luar negeri untuk mengobati Vincent.
"Vincent?" ucap Kinara yang merasa nama itu tak asing baginya.
"Kinara kamu sudah pulang?" sapa Ayah Natasha yang melihat Kinara berjalan masuk dan tersenyum padanya.
"Claudia dan Vano mana?" tanya.
"Claudia sudah pulang dan Vano ke mansion belakang," jawabnya.
"Naik lah kamar! Bersihkan badanmu dan kita makan malam," ucapnya yang dijawab anggukan oleh Kinara kemudian berjalan menuju ke kamarnya. Ayah Natasha melihat punggung Kinara yang berjalan menaiki tangga, Ia seperti melihat sosok yang lain. Kinara yang begitu lemah lembut sangat berbeda dengan Kinara yang dikenalnya arogan dan juga selalu berkata tegas.
"Vincent," gumamnnya dalam hati dan terus mencoba mengingat nama itu.
******
Di sebuah Desa kecil sebuah keluarga terus mencoba merawat salah satu anggota keluarga mereka. Putrinya sudah setahun tak sadarkan diri, tapi mereka tak pernah menyerah, mereka terus berusaha. Keterbatasan biaya membuat mereka hanya mampu membawa gadis itu ke sebuah rumah sakit di desanya.
🌹🌹 Terima kasih sudah membaca 🌹🌹