Mafia In The School

Mafia In The School
Saling mengagumi.



Kinara dan ayah Natasha mengelilingi ruang senjata tersebut dan Kinara mengenali semua jenis senjata di sana membuat ayah Natasha semakin bangga dan percaya jika Kinara memang bukanlah orang yang sembarangan.


'Terlalu banyak kejutan yang belum aku ketahui tentang anak ini, apa dia sudah paham tentang dunia Mafia,' batin Ayah Natasha saat melihat Kinara mengetahui dan sangat cekatan menggunakan senjata yang ada di ruangan itu. Ada beberapa senjata yang baru mereka datangkan. Namun Kinara sudah bisa menguasainya.


Setelah melihat-lihat seluruh ruangan itu ayah Natasha dan Kinara kembali, mereka masuk ke mobil dan meminta supir untuk mengantar Kinara langsung ke asramanya mengingat hari sudah semakin larut dan Kinara sama dengan Natasha mereka harus bersekolah keesokan harinya.


Mobil sudah sampai di depan asrama, "Kinara, Aku sangat bangga padamu kau ternyata lebih dari ekspektasiku, kau bisa mengenali beberapa senjata tanpa harus diajari, jika suatu saat nanti kau dalam masalah dan membutuhkan bantuan katakan saja, aku akan membantumu," ucap ayah Natasha.


"Tentu saja, Terima kasih atas kepercayaannya," ucap Kinara kemudian turun dari mobil dan berlari menuju ke gerbang asrama.


Mobil baru meninggalkan depan gerbang setelah memastikan Kinara benar-benar masuk dalam asramanya.


"Tuan, Apa Anda tak terlalu berlebihan dengan Kinara, dia masih baru dalam geng apa Anda yakin menawarkannya bantuan seperti itu?"


"Tentu saja, kau tahu sendiri kan aku tak pernah mengingkari janjiku, Kinara sudah membuatku kagum hari ini, tak ada salahnya jika aku membantunya dalam menyelesaikan masalahnya. Sudahlah, sekarang kita kembali!"


Sang supir tak bisa berkata apa-apa, semua keputusan ada di tangan bosnya, Ia hanya mengangguk dan kembali menjalankan mobil.


Sepanjang perjalanan ayah Natasha terus berpikir siapa sebenarnya Kinara seberapa kuatkah anak itu, semua itu terus berputar di kepalanya sedangkan dalam informasi yang dicarinya Kinara bukanlah siapa-siapa, ia hanyalah gadis biasa sama seperti gadis seusianya sama seperti Natasha. Hanya informasi belakangan ini Kinara banyak berubah dan hanya itu informasi yang mereka dapatkan.


"Apa menurutmu dia pernah masuk dalam sebuah geng mafia lainnya?" tanya ayah Natasha tiba-tiba membuat sang sopir tersebut langsung menoleh dan kembali fokus pada kemudinya.


"Apa maksud anda?"


"Tidakkah kamu melihat semua tingkah Kinara sangat brutal, caranya menghabisi lawannya, caranya menakuti Yoona bukankah itu cara seorang mafia papan atas yang sudah sangat berpengalaman? Menurutku semua tingkah laku Kinara merupakan tingkah laku seorang mafia tidak mungkin seorang gadis biasa memiliki kemampuan dan keberanian sebesar itu, aku bisa melihat kemarahan di matanya kemarahan yang siap menghancurkan sesuatu yang menghalanginya. Ia juga pernah membahas masalah penghianatan apakah menurutmu dia dikhianati dan ingin balas dendam dengan masuk ke dalam geng kita?" ucapnya terus mengingat beberapa kejadian tentang Kinara dan ucapan-ucapan Kinara yang mengandung beberapa makna yang baru disadarinya.


"Jika memang ia bermaksud untuk menghancurkan geng mafia lainnya apakah Anda masih ingin membawanya ke dalam gen kita?" tanya sang sopir.


Ayah Natasha tertawa, "Jika memang seperti itu lebih bagus, jika ia berhasil nama kita akan semakin melambung dan disegani, aku bisa melihat darah pembunuh dalam dirinya dan aku yakin dia akan berhasil. Kita lihat saja sebenarnya apa maunya anak itu."


Sementara itu Kinara dengan santainya masuk asramanya, yang merasa lega tujuannya sudah tercapai sekarang hanya tinggal menjalankan beberapa rencananya.


Iya masuk ke kamarnya dan kembali menutup pintu, "Huff, akhirnya semuanya sudah beres, tinggal kita lihat apa yang akan terjadi selanjutnya," ucapnya membuka jaketnya dan saat berbalik ia terkejut saat melihat Vincent ada di dalam kamarnya.


"Kau, apa yang kau lakukan disini," pekik Kinara yang hampir saja membuka bajunya.


Vincent berjalan menghampiri Kinara, terus berjalan dan semakin dekat hingga kita harus mundur Karena Vincent terus maju.


"Jangan mendekat," ucap Kinara Saat dia tak bisa memundurkan lagi langkahnya, tubuhnya sudah terbentur pintu.


Vincent terus maju hingga Kinara memberi jarak dengan mendorong dada Vincent.


Kinara bisa merasakan betapa kuatnya otot dada Vincent, Kinara ingin melepaskan tangannya namun Vincent menahannya, membiarkan tangan Kinara di dadanya, ia kemudian sedikit menunduk, mensejajarkan wajahnya dengan wajah Kinara.


Mereka terdiam sesaat saling mengagumi wajah masing-masing. Kinara terpukau dengan ketampanan Vincent dan begitu pula sebaliknya, Vincent terpukau dengan kecantikan yang dimiliki oleh Kinara.


Mereka terdiam beberapa menit, larut dalam debaran yang menghanyutkan mereka.


Sedetik kemudian mereka sama-sama tersadar akan keterpesonaan masing-masing. Vincent langsung melepaskan genggaman tangannya pada tangan Kinara yang di tempatkannya di dadanya, ia menggaruk tengkuknya.


Kinara juga salah tingkah dibuatnya, ia memegang pintu yang ada di belakangnya wajahnya memerah dan mencoba mengalihkan pandangannya ke arah lain.


"Kau dari mana? Aku sejak tadi menunggu," tanya Vincent mengalihkan perhatian mereka.


"Itu bukan urusanmu. Apa yang kau lakukan disini?" tanya balik Kinara yang sudah bisa menguasai debaran jantungnya.


Kinara sedikit malu saat Vincent melihat kondisi kamarnya yang bak kapal pecah, ia belum sempat membereskan kekacauan kamarnya setelah Claudia mengacau semuanya.


Kinara berjalan ke lemarinya dan mengambil jaket Vincent yang diberikan Vincent saat malam gala seni beberapa malam yang lalu.


"Apa kamu kau ikut dalam balapan kemarin?"


"Balapan apa?" tanyanya berpura-pura tak mengerti maksud pembicaraan Kinara.


"Kau yakin bukan kau pemilik motor biru?" tanyanya lagi masih penasaran.


"Motorku berwarna hitam, apa kau mau jalan-jalan dengan motorku?"


"Sudahlah, lupakan saja," ucapnya, Kinara tak ingin membahas.


Vincent tersenyum melihat wajah bingung Kinara.


"Aku sudah mencucinya," ucap Kinara berjalan mendekat memberikan jaket pada Vincent.


Vincent merasa ada yang mengganjal di bawahnya, ia merasa ada sesuatu yang di dudukinya.


Vincent mengambil benda itu, dan melihatnya.


Kinara melempar jaket itu tepat di wajah Vincent, saat melihat Vincent memegang bra-nya.


Dengan gerakan kilat Kinara menyambar benda Keramat itu dan menyembunyikannya di bagian belakangnya.


"Ini sudah malam, sebagai kau pulang!"


"Aku sangat mengantuk, bolehkan malam ini aku tidur di sini?" ucap Vincent merebahkan tubuhnya.


"Jangan mengada-ada, cepat keluar dari sini!" Kinara menarik Vincent dan mendorongnya keluar kamarnya.


"Jangan masuk ke kamar orang tanpa izin," tunjuk Kinara pada wajah Vincent, ini kedua kalinya Vincent masuk ke kamarnya tanpa izinnya.


"Bagaimana jika aku kembali masuk tanpa mu?"


"Akan kupastikan kau akan sangat merindukan memiliki kaki."


Vincent tertawa mendengar ucapan yang bernada ancaman dari Kinara.


Kinara ingin memukul Vincent. Namun Vincent dengan cepat menghindar.


Vincent melemparkan salep pada Kinara.


"Tubuh Yoona penuh dengan racun. Obat lukamu, itu bisa sangat berbahaya," ucapnya sebelum pergi.


Kinara tercengang, dari mana Vincent tau tentang pertarungan dengan Yoona, bukankah itu tempat rahasia gang Naga Hitam.


Kinara semakin dibuat penasaran Siapa dibalik nama Vincent. Siapa dia sebenarnya.


🌹🌹 Terima kasih sudah membaca 🌹🌹


🌹Ig: anha5569🌹