Mafia In The School

Mafia In The School
Merasa kehilangan setelah tak bersama.



Di kediaman keluarga Kinara.


Ayah Kinara selama ini terus mencari putrinya. Namun, tak ada jejak sedikitpun kemana Kinara pergi. Ayah Kinara mendapatkan informasi jika Claudia lah yang selama ini bergaul dengannya. Ayah Kinara sampai ke luar negeri menemui keluarga Claudia menanyakan perihal Kinara, yang menurut informasi dari teman-temannya Kinara sangat dekat dengan Claudia. Namun, Claudia juga tak tahu menahu tentang Kinara. Yang ia tahu saat keluar dari asrama Kinara pergi dengan seorang yang bernama Vincent. Hanya itu informasi yang di dapatkannya.


Ayah Kinara mendatangi markas Vincent. ia mengetahui jika Vincent adalah salah satu pemimpin sebuah geng mafia. Dia memang pernah melihat Kinara bersama dengan Vincent saat menghadiri pesta beberapa bulan yang lalu, jadi ia tak heran saat Claudia mengatakan jika Kinara pergi bersama Vincent.


Ayah Kinara pernah sekali menggunakan jasa geng mafia tersebut untuk melancarkan bisnisnya. Ia kembali mendatangi markas tersebut, ia tak mendapatkan informasi apapun mereka yang ada disana tak tahu dimana bos mereka sekarang.


"Apa kalian tak tahu di mana Kinara putriku? Menurut informasi yang kuketahui ia pergi bersama dengan ketua kelompok kalian, Vincent," ucap Ayah memelas kepada salah seseorang yang dipercayakan Vincent untuk menjalankan geng mereka saat ia tak ada di tempat.


"Maaf, Pak. kami sama sekali tak mengetahui Putri bapak. Kami mendengar jika Vincent pergi bersama dengan seorang gadis dalam menjalankan sebuah misi, tapi kami benar-benar tak tahu dimana Vincent membawa Putri bapak."


Ayah Kinara mengeluarkan sebuah kartu nama dan memberikannya kepada orang tersebut.


"Saya mohon, jika Vincent datang membawa Kinara. Tolong beritahu jika saya datang mencarinya dan tolong minta Vincent untuk membujuk anak saya untuk kembali ke rumah."


"Baik, Pak. Akan kami usahakan, jika Vincent datang kami akan langsung menghubungi bapak, jika memang kami tak bisa membujuk anak bapak. Silahkan bapak datang dan membujuknya," ucap orang tersebut yang juga merupakan seorang ayah dari seorang putri, ia tahu benar bagaimana perasaan ayah Kinara saat ini.


Sementara itu di luar negeri, Claudia yang mendengar Kinara belum kembali sampai saat ini merasa gelisah, dia bahkan merengek kepada ayahnya untuk kembali dan ingin mencari tahu sendiri keberadaan Kinara.


Ayah Kinara kembali tanpa informasi apapun, dia kembali ke kediamannya dan memanggil istrinya dengan emosi yang meluap-luap. karena istrinya yang tak berhasil membujuk Kinara waktu itu, Kinara harus bersama seorang mafia dan entah bagaimana kondisinya saat ini.


"Lihatkan sekarang! kita jadi kehilangan Kinara, tak ada sedikitpun jejak keberadaannya. Jika sudah seperti ini, apa yang harus kita lakukan?" bentaknya pada istrinya.


"Kenapa Ayah jadi perhatian seperti ini kepada Kinara? Selama ini kemana perhatian ayah! selama ini Kinara juga selalu tinggal di asrama kan, tak pernah tinggal dirumah bersama kita. Anggap saja Kinara sekarang sedang berada di tempat lain Sama halnya dengan berada di asramanya dulu, tak usah terlalu memikirkannya! Jika memang ia menganggap kita keluarga dia pasti akan kembali dengan sendirinya, Kinara bukan anak usia 5 tahun lagi yang tak tahu kemana harus kembali."


"Tutup mulutmu! Semua tak seperti yang kau bayangkan, Kinara ingin kembali ke asrama itu karena permintaannya sendiri, sebenarnya selama ini Ayah sudah Kembali memintanya untuk tinggal bersama kita, tapi Kinara menolak. Sekarang aku yakin alasan Kinara ingin tinggal di asrama itu pasti karena kalian. Memang aku yang menyuruhnya tinggal di asrama karena hukuman aku rasa dia merasa lebih nyaman tinggal di asrama daripada di rumahnya sendiri."


"Jadi ayah menyalahkanku atas semua kejadian ini? Aku sudah membesarkan Kinara seperti anakku sendiri, memberinya makan dan juga pakaian. Mengurusnya selama Ayah tak ada di rumah, apakah salah jika aku tak bisa menganggapnya sebagai anak kandung sendiri? Tentu saja aku akan membedakan mereka, Tiara adalah anak kandung kita sedangkan Kinara hanyalah anak kandungmu."


Plak...


"Kau ... keterlaluan," ucap Ayah nampar isterinya dengan tangan bergetar dan mata merah menatap Diana, menahan emosi yang semakin memuncak.


Diana yang tak terima, tak berkata apapun dan langsung berlari ke kamarnya, memasukkan semua barang-barangnya kedalam koper dan berniat ingin pergi dari sana.


"Ibu, ibu mau mana?" tanya Tiara menghampiri ibunya yang terlihat menangis dan mengepak barang-barangnya.


"Kita akan pergi dari sini, kemasih barang-barangmu."


"Enggak, Bu. Tiara nggak mau meninggalkan rumah ini. Ini rumah kita," seru Tiara dengan suara bergetar menahan isakannya.


"Kau salah, rumah ini atas nama Kinara, ayahmu selama ini tak menyayangi kita, dia lebih berpihak pada Kinara, dan hanya memanfaatkan kita. Sebaiknya kita pergi dari sini."


"Aku memang memberikan rumah ini kepada Kinara, tapi aku juga memberikan aset lainnya kepada Tiara, dan itu juga lebih besar dari harga rumah ini. Bagaimana mungkin kau bisa mengatakan jika aku tak menyayangi Tiara," seru Ayah Kinara yang baru datang dan masuk ke kamar.


"Tiara, kau putuskan! Kau ingin tinggal di sini bersama dengan ayahmu atau ikut ibu. Ibu muak dengan ayahmu."


Tiara bingung, ia ingin tinggal bersama dengan ibunya. Namun, ia yakin jika memilih tinggal dengan ibunya ia akan hidup menderita dan entah mereka akan tinggal di mana. Jika tinggal dengan ayahnya, tak akan ada lagi ibu yang selalu membelanya.


"Bisakah kalian tak berpisah? Aku tak ingin memilih antara kalian berdua. Aku ingin kalian berdua. Ayah, Ibu, aku mohon jangan seperti ini," ucap Tiara menangis meraung-raung.


"Jika kau tak bisa memilih, tinggal saja bersama ayahmu. Ibu akan kita pergi dari sini," ucap Diana mengambil kopernya dan menyeretnya keluar. Ayah Kinara tak ada niat sedikitpun untuk menghentikan istrinya itu untuk pergi dari rumah, ia sangat kesal dengan tindakannya yang menyepelekan keberadaan Kinara.


Tiara terus mengikuti ibunya sambil terus menangis dan menahan ibunya agar tetap tinggal bersama dengan mereka. Namun, Ibunya tak bergeming dan tetap pergi dari sana melajukan mobilnya meninggalkan Tiara yang terus menangis memanggil ibunya. Sekarang ia mengerti bagaimana perasaan Kinara selama ini, saat tak ada satupun orang tua yang menyayanginya sepenuh hati. Baik itu Ayah maupun ibunya, dia seperti merasa berada di posisi Kinara.


"Sebaiknya kita menyebar. kita tak boleh berkumpul seperti ini, terlalu berbahaya," ucap Kinara yang semakin terdesak saat musuh mereka semakin banyak dan memfokuskan tembakannya ke arah mereka bertiga.


"Kinara bener, kita harus mencoba menyebar dan sebisa mungkin menghabisi mereka secepatnya."


Merekapun akhirnya berpencar.


Vincent memilih berlari ke arah luar markas menyambut mereka dari belakang sedangkan Kinara sendiri memilih tempat yang tinggi.


Sementara Ayah Natasha coba melindungi disekitaran Vano.


Kinara yang sudah tahu kekuatan semua anggota geng tersebut mengarahkan tembakannya pada orang-orang yang dikenalnya memiliki keahlian menembak, membidik mereka menggunakan sniper.


Suara tembakan tak berhenti dari senjata mereka baik Vincent, Kinara dan juga Ayah Natasha.


"Mereka terlalu banyak, Sepertinya kita akan kewalahan," Seru Vincent melalui alat komunikasi yang menempel di telinga mereka.


"Kita tak punya pilihan lain selain terus melawan mereka," sahut Kinara.


"Jangan banyak bicara, fokus aja menghabisi musuh kalian."


"Aaaaaarg." terdengar suara Kinara yang meringis kesakitan.


"Kinara ada apa?" tanya Vincent khawatir.


"Aku tak apa-apa, ada peluru yang mengikis kulitku, tapi aku baik-baik saja jangan khawatirkan aku, pikirkan keselamatanmu sendiri." Kinara kembali menembakkan peluru dari senjatanya membalas orang yang berhasil melukainya. Mereka benar-benar kewalahan menghadapi perlawanan dari geng Mawar Hitam. Tapi, semua itu tak membuat Kinara takut, tekadnya dan tujuannya untuk menghabisi geng Mawar Hitam lebih besar dari rasa takut akan kegagalan yang mungkin saja akan mereka dapatkan.


"Kinara mengganti posisinya, yang tadinya hanya menembak dari ketinggian kini ia mengambil senjata lain dan maju menghampiri mereka semua. Menembakkan senjata tepat sasaran. Vincent yang melihat apa yang kita lakukan, dan terheran-heran melihat tindakan kinara.


[Bip Skor transportasi 300+400+500]


Vincent tak tinggal diam, Ia juga maju menghampiri musuh, tak membiarkan Kinara melakukannya sendiri. tindakan itu merupakan tindakan sangat berbahaya itu merupakan cara yang cepat untuk menjangkau musuh.


"Apa yang kalian lakukan," seru ayah Natasha yang melihat kelakuan mereka berdua.


"Mempersingkat waktu," jawab Kinara kemudian membuka alat komunikasi di telinganya, ia tak ingin lagi mendengar ocehan dari mereka berdua. Tak mempedulikan darah yang sudah menetes di kakinya. Pinggang Kinara terkikis peluruh musuh. Namun, itu tak membuatnya goyah.


🌹🌹 Selamat membaca 🌹🌹


Yuk mampir ke karya ku yang lainnya.



Pilihan ku ( Tamat)


My Papa My Boss.( tamat)


Mencinta Diriku dan Dirinya.( tamat)


Possessive Brother.( on going)


🙏